13.11.09

Sekilas Ulasan Artikel Mangrove Pemenang KeSEMaTCOMPETITION 2009: Mangrove dan Ekowisata

Semarang - KeSEMaTBLOG. Di balik tuntutan rehabilitasi (ekologi) mangrove yang saat ini begitu menggebu, beberapa pihak masih menganggap bahwa usaha pelestarian mangrove di wilayah pesisir ini, masih kurang lengkap. Ada satu sisi penting lainnya yang sedikit “dilupakan” oleh para konservasionis, yaitu sisi ekonomi. Jika saja, semua wilayah mangrove di pesisir Indonesia ini berhasil dilebatkan kembali, maka apakah ada manfaat ekonomi mangrove yang secara langsung bisa didapatkan masyarakat sekitarnya untuk menghidupi keluarga mereka sehari-hari (?).

Untuk menjawab pertanyaan ini, adik-adik kita, para pelajar dari SMA Negeri 3 DENPASAR – Bali, yaitu Amanda Rizky Taufika, I Dewa Ayu Pradnyasari dan Mohammad Rizal Ngambah Sagara, telah menulis artikel mangrovenya yang berjudul Konservasi Hutan Mangrove Berbasis Ekowisata di Bali. Artikel ini, sedikit banyak mampu menjawab pertanyaan di atas, sekaligus menginformasikan kepada kita bahwa pengelolaan mangrove yang baik dan seimbang dari segi ekologi dan ekonomi akan bisa memaksimalkan upaya pelestarian mangrove di pesisir kita. Berkat artikelnya ini, maka para Dewan Juri KeSEMaTCOMPETITION (KC) 2009: Lomba Penulisan Artikel Mangrove Tingkat SMA dan SMK se-Indonesia, telah menganugerahi para siswa/sisiwi SMA Negeri 3 Denpasar ini, sebagai salah satu pemenang KC 2009.

Sebuah upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem mangrove tanpa melupakan unsur ekonomi masyarakat sekitarnya, berhasil ditulis dengan baik oleh mereka. Ketiganya menginginkan adanya sebuah perubahan konsep konservasi yang selama ini telah “biasa” dijalankan di wilayah pesisir kita. Maka, “isyu” adanya ekoswisata mangrove sengaja dimunculkan oleh mereka, agar mangrove memiliki fungsi optimal dalam turut serta meningkatkan taraf hidup dan mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Dengan adanya ekowisata mangrove ini, maka masyarakat akan bisa lebih memaksimalkan usaha dagang dan jasa mereka kepada para pengunjung yang datang ke kawasan ekowisata mangrove. Sebuah peningkatan fasilitas di dalam kawasan wisata mangrove, adalah hal yang wajib (pula) diperhatikan. Selengkapnya, silahkan mencermati tiga buah paragrap, di bawah ini.

“...perlu ada pembaharuan pada tempat-tempat konservasi mangrove. Tidak hanya terfokus pada hal-hal yang berhubungan pada usaha pengembangan mangrove saja, tapi juga harus mulai memperhatikan faktor-faktor wisata. Hal yang harus diperhatikan, utamanya adalah penyempurnaan fasilitas dan sarana prasarana. Fasilitas-fasilitas krusial semacam lahan parkir dan toliet-umum harus disediakan bagi pengunjung. Walaupun tidak berpengaruh secara langsung, namun hal-hal semacam ini turut menambah ketertarikan pengunjung. Selain hal-hal pokok tersebut, akan lebih baik lagi bila kita menambahkan fasilitas-fasilitas yang bersifat hiburan. Contohnya, membangun fasilitas permainan outbond semacam flying fox maupun menara pandang yang bisa dijadikan media untuk melihat secara keseluruhan dari kawasan hutan mangrove tersebut.”

“Selain itu, kemudahan akses untuk menjangkau kawasan hutan mangrove juga menjadi faktor pendukung lain. Yang tak kalah penting, keragaman kegiatan yang diselenggarakan di kawasan konservasi. Kita bisa menjadikan kegiatan yang terkesan ’biasa’ seperti penanaman tanaman mangrove, sehingga mampu memancing ketertarikan wisatawan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan tour keliling yang disertai pengenalan daerah sekitar mangrove. Jadi, penyosialisasian mangrove tidak semata-mata hanya dilakukan secara formal di depan para akademisi, namun masyarakat umum juga bisa mendapatkan ilmu dengan cara yang lebih menarik.”

“Tentunya, kegiatan ini harus tetap pada prinsip utama, yaitu berwawasan lingkungan. Adanya keterlibatan masyarakat setempat tentu juga diperlukan. Bahwa merekalah yang paling memahami kondisi dari kawasan tersebut, merupakan pertimbangan yang penting. Orang-orang asli inilah yang kemudian akan turut menjaga kelestarian hutan mangrove dan memberikan kesan ’hidup’. Pengelola konservasi mangrove perlu mempertimbangkan adanya satu areal khusus bagi masyarakat setempat yang ingin mengembangkan usaha di kawasan tersebut. Namun, memang harus ada hal-hal penting yang wajib diperhatikan semua pihak. Diantaranya usaha-usaha tersebut harus berorientasai pada pemberdayaan mangrove, serta tetap menjaga kelestarian dan kealamian hutan...”


Selain itu, di artikelnya, ketiga siswa/i ini juga mengkhawatirkan adanya ketidakseimbangan ekologi pesisir dengan pembangunan. Cermatilah cuplikan sebuah paragrap ini, “...sebagai contoh, sudah sering kita lihat adanya peralihan lahan pesisir pantai menjadi kawasan perhotelan. Masalah kerusakan ini bahkan juga telah menjadi isu gobal yang mendapat perhatian dunia. Di satu sisi kita mengalami perkembangan di bidang pariwisata yang mampu menambah pendapatan daerah atau negara. Namun, di sisi lain, alam kita malah mengalami kerusakan, sebagai imbas tidak langsung dari hal-hal tersebut...”

Pemahaman mangrove di tingkat SMA (terutama di SMA pesisir), ternyata sudah sedemikian baiknya. Tak hanya pengertian ekologi-mangrove-dasar saja, seperti pengertian, jenis, habitat, syarat hidup dan hal-hal mendasar mangrove lainnya yang ternyata telah diketahui dan dimengerti, permasalahan kebijakan mangrove nyatanya juga telah mulai dipikirkan oleh mereka. Hal ini menandakan bahwa di tingkat muda, mangrove terbukti (telah) mendapatkan perhatian yang cukup baik. Salam MANGROVER!

No comments:

Post a Comment