4.6.11

Kelomang Atraktif, Tak Konservatif!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Adalah Sdri. Rina Setyowati Sulistiyoningrum, salah seorang KeSEMaTER yang telah mengirimkan artikel pandangan matanya yang unik nan menarik, mengenai Kepiting Pertapa (Hermit Crab) atau yang lebih umum dikenal dengan Kelomang atau Pong-pongan. Jenis krustasea-mangrove unik dari infra ordo Brachyura, berjenis Coenobita sp ini, telah menarik minatnya, di saat berkunjung ke sebuah pasar malam di Banyumanik, Semarang. Dibalik warna cangkang palsunya yang telah dilukis sedemikian rupa sehingga menarik minat pembeli, kiranya kita lupa akan bahaya kehidupan dan konservasinya. Selamat membaca.

Sekilas, apabila kita melihat gambar di atas, maka kita akan melihat berbagai jenis permen warna-warni yang sedang digemari oleh anak-anak, saat ini. Padahal, apabila kita perhatikan lebih lanjut foto tersebut, maka kita akan menyadari bahwa ini bukanlah permen, melainkan fauna penghuni ekosistem mangrove, bernama Kelomang! Kelomang merupakan salah satu binatang yang “masih bersaudara” dengan kepiting, dari keluarga krustasea. Sejak lahir, dia memang tidak memiliki rumah atau cangkang ditubuhnya. Untuk itulah, dia memanfaatkan rumah atau cangkang keong untuk dijadikan “Tempat-Tinggal-Berjalannya” (TTB).

Selanjutnya, cangkang TTB tersebut, warna-sebenarnya tidaklah seperti permen berwarna-warni, melainkan seperti cangkang keong biasa yang berulir. Namun, setelah dilukis dengan cat tertentu oleh sang Penjual, maka berubahlah cangkang-cangkang Kepiting Pertapa ini, menjadi “permen warna-warni”. Berdasarkan hasil pengamatan dari tempat yang saya kunjungi, Hermit Crab ini dijual dengan harga Rp 5.000,-. Sementara itu, “tempat kue” sebagai kemasannya (lihat foto di atas), dijual dengan harga yang sama. Harga yang relatif murah dan barang yang unik, tak ayal lagi membuat banyak diserbu oleh konsumennya, terutama anak-anak.

Dibalik fakta keberadaan Kelomang di pasar malam ini, sebenarnya ada hal negatif yang patut dikhawatirkan. Memperjualbelikan Kelomang tanpa dibudidaya, adalah sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak konservatif. Dilihat dari sisi ekologis, Coenobita memiliki peranan penting dalam turut serta menjaga aliran energi yang terjadi di rawa mangrove. Ketiadaan Kelomang dalam sebuah ekosistem mangrove, sebagai akibat dari perbuatan kita yang menjualnya ke pasar malam, akan membahayakan kehidupannya dan kelestarian mangrove di masa depan.

Terlebih lagi, para pedagang ini, kiranya juga tidak melakukan penangkaran Kelomang sendiri, melainkan langsung mengambilnya dari alam. Maka, jika Pong-pongan diambil secara terus-menerus secara berlebihan, maka populasinya akan semakin menipis. Hal ini, tentu saja akan mengakibatkan pada ketidakseimbangan ekosistem mangrove. Semoga saja, kedepan kita lebih bijak dan arif lagi dalam menyikapi fenomena ini. Amin. Semangat MANGROVER!