1.6.11

KeSEMaT dan Kelompok Kerja Mangrove Daerah Jawa Tengah Melakukan MONEV di Kabupaten dan Kota Tegal

Tegal – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 23 Mei 2011, KeSEMaT yang diwakili oleh Bapak Arief Marsudi Harjo (Direktur Eksekutif) dan Bapak Rudhi Pribadi (Pembimbing) telah melakukan monitoring dan evaluasi (MONEV) pembentukan Kelompok Kerja Mangrove (KKM) di Kota dan Kabupaten Tegal. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan MONEV dan Rapat Koordinasi (RAKOR) Sinergitas Pengelolaan Mangrove yang telah dilakukan oleh Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Jawa Tengah (JATENG) pada tahun 2010. Program ini adalah inisiasi dari KKMD JATENG sebagai wujud kepedulian terhadap pengelolaan kawasan ekosistem mangrove di pesisir Pantai Utara (PANTURA) dan Pantai Selatan (PANSEL) JATENG.


Pada kesempatan MONEV kali ini telah dilakukan RAKOR antara KKMD dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten dan Kota. Hasil rapat mendeskripsikan bahwa (1) di Kabupaten dan Kota Tegal belum terbentuk KKM dan (2) laporan dinas terkait akan ancaman abrasi yang cukup mengkhawatirkan di pesisir Tegal. Beragam upaya baik fisik maupun vegatatif telah dilakukan, namun hasilnya belum optimal sehingga perlu penanganan yang lebih serius dengan pelibataan unsur pemerintah, masyarakat dan swasta.

Pada akhir MONEV, dilakukan monitoring lapangan di Pantai Panggung Kota Tegal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi pesisir di kawasan ini memang cukup mengkhawatirkan tingkat abrasinya. Ada beberapa tambak di kawasan ini yang hancur/jebol diterjang ganasnya gelombang air laut. Upaya fisik dengan pembuatan Alat Pemecah Ombak (APO) sudah dilakukan namun belum optimal fungsinya, karena di kawasan ini tidak memiliki kawasan sabuk hijau. Upaya penanaman mangrove Rhizophora (Bakau) dan Cemara (Casuarina) sudah dilakukan namun hanya baru sebatas di pematang tambak saja.

Pada saat pengamatan, juga ditemukan adanya peternakan kambing yang menggunakan daun mangrove sebagai sumber pakannya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kelulushidupan bibit mangrove yang telah ada, maka masih diperlukan upaya keberlanjutan program dengan cara memberdayakan warga sekitar agar lebih optimal lagi dalam pemeliharaan mangrovenya, terutama dalam memberikan pemahaman terhadap warga untuk melakukan pencegahan terhadap ternak kambing yang teridentifikasi menggunakan daun mangrove dari tananam yang telah ditanam sebagai sumber pakan.

Untuk itu, kedepan, direncanakan akan diupayakan keberlanjutan program ini, dengan mengadakan RAKOR Sinergitas Pengelolaan Mangrove Tingkat JATENG kembali, dengan melibatkan unsur pemerintah, swasta dan masyarakat sehingga upaya penanganan masalah mangrove dan pesisir di Jawa Tengah dapat segera ditemukan solusinya, dengan data yang komprehesif dan dapat disikapi secara arif dan bijaksana demi kepentingan bersama.