1.10.13

Hybrid Engineering, Metode Baru Atasi Abrasi Pantai!

Demak - KeSEMaTBLOG. Pada bulan Maret – Juni 2013, bertempat di Desa Timbul Sloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Sdri. Vera Chandra Puspitasari (MENPUSMAT) mengikuti “Baseline Assessment for Hybrid Engineering Experiment”. Kegiatan tersebut merupakan penelitian awal sebelum pembangunan Hybrid Engineering (HE). Proyek yang diselenggarakan dalam rangka Mangrove Capital Project oleh Wetlands International – Indonesia Programme tersebut bekerjasama dengan Deltares Belanda dan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta KeSEMaT untuk implementasi lapangannya.

Dalam proyek ini, Sdri. Vera Chandra P. (KeSEMaT) dan Mr. Stefan Verschure (Utrecht University, Belanda) tinggal di rumah Bapak Nadhiri (Kepala Desa Timbul Sloko, Demak ) selama empat bulan untuk implementasi program.

Banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari kegiatan tersebut, diantaranya dapat bertemu dan berdiskusi dengan Prof. Han Winterwerp (peneliti Deltares) yang merupakan dosen dari Delft University), Prof. Bregje K. van Wesenbeeck PhD (Deltares), Mrs. Femke Tonneijck, PhD (Wetlands International), Bapak Audrie J. Siahainenia (Wetlands International), Ibu Etwin K. Sabarini dan Bapak Apri Susanto (Wetlands International-Indonesia Programme). Sdri. Vera Chandra Puspitasari dan KeSEMaTER juga mendapatkan Pelatihan Monitoring dan Perawatan Strukture HE pada tanggal 12-13 Juli 2013 di Semarang oleh Prof. Bregje dan Mr. Stefan Vershure.

Sebagai informasi, HE merupakan konsep inovatif yang berusaha bekerjasama dengan alam untuk mengembalikan proses hilangnya sedimen, bukan melawannya. Saat ini, banyak ditemukan pantai Indonesia yang tererosi secara dramatis. Konversi hutan mangrove menjadi tambak ikan atau udang telah menyebabkan hilangnya fungsi perlindungan pesisir. Di Timbul Sloko misalnya, garis pantai telah hilang antara 200 – 900 meter antara tahun 2003 – 2012. Di daerah ini, tambak telah hilang, pemukiman penduduk tergenang air laut dan insfrastruktur penting rusak parah.

Umumnya praktisi pesisir mencoba untuk melawan erosi pantai dengan bangunan keras, semisal Alat Pemecah Gelombang (APO) beton. Padahal, hal tersebut mengakibatkan terganggunya keseimbangan pantai. HE memiliki struktur yang terbuat dari kayu dan ranting-ranting yang didesign khusus oleh engineer Belanda. HE memungkinkan dilalui oleh air dan lumpur, mampu memecahkan namun tidak memantulkan gelombang, sehingga sedimen dapat terperangkap di dalamnya.

Bangunan yang menganut sistem perakaran mangrove ini, dalam jangka panjang akan ditanami oleh mangrove setelah sedimennya terkumpul.

Sampai dengan artikel ini ditulis, konstruksi HE sudah dibangun di Demak oleh warga setempat, dengan pengawasan langsung dari Tim KeSEMaT. Semoga saja, dengan adanya pilot project HE ini, maka akan memberikan alternatif pengetahuan baru bagi pembangunan mangrove dan pesisir di Indonesia. Amin. Semangat MANGROVER!