8.9.26
Mengapa 30 Persen Bibit Mangrove Sebaiknya Disimpan untuk Penyulaman
Semarang – KeSEMaTBLOG. Penyulaman mangrove sebaiknya sudah direncanakan sejak awal program penanaman, bukan baru dipikirkan ketika banyak tanaman mati. Penanaman mangrove tidak berhenti pada kegiatan memasukkan seluruh bibit ke dalam substrat dalam satu hari, tetapi perlu dilanjutkan dengan pemantauan kelulushidupan dan penyulaman terhadap tanaman yang tidak mampu bertahan pada masa awal pertumbuhan.
2.9.26
Survival Rate Mangrove 0%: Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan CSR?
Semarang - KeSEMaTBLOG. Program CSR penanaman mangrove sering dimulai dengan tujuan yang sangat positif: membantu memulihkan kawasan pesisir, memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat komitmen lingkungan perusahaan, hingga mendukung agenda ESG dan perubahan iklim. Namun situasinya menjadi jauh lebih kompleks ketika hasil monitoring menunjukkan survival rate atau tingkat kelulushidupan mangrove sangat rendah, bahkan mencapai 0%. Bagi perusahaan, kondisi ini wajar menimbulkan pertanyaan besar.
Kegagalan Penanaman Mangrove: Mengapa Survival Rate Bisa 0%?
Semarang - KeSEMaTBLOG. Kegagalan penanaman mangrove hingga menghasilkan survival rate 0% bukan persoalan sederhana. Menanam ribuan bibit mangrove, melakukan asesmen lokasi, menentukan jenis yang dinilai sesuai, melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan, menjalankan pemantauan, bahkan melakukan penyulaman, tetapi beberapa bulan kemudian mendapati seluruh tanaman mati tentu bukan situasi yang mudah diterima.
28.8.26
Hilirisasi Mangrove: Pengertian, Produk, Manfaat, dan Inovasi KeSEMaT
Semarang - KeSEMaTBLOG. Mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung alami wilayah pesisir. Ekosistem ini juga memiliki potensi untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, ekonomi kreatif, pendidikan, inovasi, hingga pengembangan jasa lingkungan apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Langganan:
Postingan (Atom)

