23.5.26
Raja Mangrove Dunia: Mengintip Kekayaan Hutan Mangrove Terluas di Indonesia
Semarang - KeSEMaTBLOG. Indonesia memegang predikat sebagai raja mangrove dunia dengan menguasai sekitar 20% hingga 25% dari total luas ekosistem mangrove global. Berdasarkan data Peta Mangrove Nasional, estimasi total luas hutan mangrove di tanah air mencapai sekitar 3,36 juta hektar. Namun, status ini berada dalam ancaman serius akibat laju deforestasi pesisir, alih fungsi lahan menjadi tambak ilegal, dan proyek reklamasi yang memicu penyusutan tutupan hijau dari tahun ke tahun.
Harta Karun Hijau: Potensi Ekonomi Triliunan Rupiah dari Karbon Mangrove Indonesia
Semarang - KeSEMaTBLOG. Potensi nilai ekonomi karbon (NEK) dari hutan mangrove Indonesia diperkirakan mencapai triliunan rupiah berkat kepemilikan sepertiga cadangan karbon biru (blue carbon) dunia. Melalui penguatan regulasi Perpres Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon, tata kelola perdagangan karbon pesisir kini memiliki payung hukum yang jelas dan berkekuatan hukum tetap. Langkah percepatan ini wajib dilakukan segera karena pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) global terus memburu kredit karbon berkualitas tinggi yang diproduksi dari ekosistem pesisir Indonesia.
Tren CSR Baru: Mengapa Banyak Perusahaan Kini Berlomba Menanam Mangrove?
Semarang - KeSEMaTBLOG. Restorasi mangrove kini menjadi tren utama dalam skema Corporate Social Responsibility (CSR) karena menawarkan aset karbon biru (blue carbon) yang tinggi untuk pemenuhan target Net Zero Emission (NZE). Perusahaan sektor tambang, energi, dan manufaktur bergeser ke ekosistem pesisir karena daya serap karbonnya jauh lebih efektif daripada hutan daratan. Kolaborasi hijau ini tidak hanya memperbaiki lingkungan, tetapi juga mendongkrak skor Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan di mata investor global.
Benteng Hijau: Peran Vital Akar Mangrove dalam Meredam Amukan Tsunami
Semarang - KeSEMaTBLOG. Akar mangrove terbukti mampu meredam energi gelombang tsunami hingga 90% sebelum mencapai daratan utama. Struktur jalinan akar yang sangat rapat dan kokoh bertindak sebagai perisai hidrodinamis alami. Hal ini menurunkan kecepatan aliran air secara drastis, sehingga meminimalkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di desa pesisir.
Subscribe to:
Posts (Atom)
