11.9.26

Warga Binaan KeSEMaT Berbagi Praktik Produk Olahan Mangrove hingga Jayapura

Jayapura – KeSEMaTBLOG. Warga binaan KeSEMaT tidak hanya berkembang sebagai kelompok pengolah produk olahan mangrove di tingkat lokal, tetapi juga mulai mengambil peran sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat pesisir di daerah lain. Pengalaman panjang dalam mengembangkan jajanan, batik, dan kopi mangrove di Semarang kini menjadi bekal untuk berbagi praktik pemberdayaan hingga Jayapura, Papua. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan KeSEMaT dalam membangun pemberdayaan masyarakat pesisir, di mana kelompok binaan tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima program, tetapi didorong tumbuh menjadi pelaku, pengembang produk, sekaligus trainer yang mampu membagikan pengalaman kepada komunitas lain.

10.9.26

Rehabilitasi Mangrove Bergeser: Ketika Survival Rate Mengalahkan Alam

Semarang - KeSEMaTBLOG. Rehabilitasi mangrove terasa sangat berbeda hari ini dibandingkan dua dekade lalu. Bukan karena ilmu pengetahuan mengenai mangrove semakin sedikit, melainkan justru karena pengetahuan, teknologi pemantauan, citra satelit, perhitungan karbon, metodologi restorasi, hingga instrumen pembiayaan lingkungan berkembang sangat pesat.

8.9.26

Mengapa 30 Persen Bibit Mangrove Sebaiknya Disimpan untuk Penyulaman

Semarang – KeSEMaTBLOG. Penyulaman mangrove sebaiknya sudah direncanakan sejak awal program penanaman, bukan baru dipikirkan ketika banyak tanaman mati. Penanaman mangrove tidak berhenti pada kegiatan memasukkan seluruh bibit ke dalam substrat dalam satu hari, tetapi perlu dilanjutkan dengan pemantauan kelulushidupan dan penyulaman terhadap tanaman yang tidak mampu bertahan pada masa awal pertumbuhan.

2.9.26

Survival Rate Mangrove 0%: Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan CSR?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Program CSR penanaman mangrove sering dimulai dengan tujuan yang sangat positif: membantu memulihkan kawasan pesisir, memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat komitmen lingkungan perusahaan, hingga mendukung agenda ESG dan perubahan iklim. Namun situasinya menjadi jauh lebih kompleks ketika hasil monitoring menunjukkan survival rate atau tingkat kelulushidupan mangrove sangat rendah, bahkan mencapai 0%. Bagi perusahaan, kondisi ini wajar menimbulkan pertanyaan besar.