11.2.09

Siapakah Pemegang Tongkat Estafet Pak Yadi, Selanjutnya?

Rembang - KeSEMaTBLOG. Pada saat KeSEMaTOUR (7-8/02), kami kembali bertemu dengan Bapak kami, seorang Pahlawan Mangrove dari Rembang. Bapak Suyadi (baca: Pak Yadi) yang telah dikenal luas secara nasional berkat keberhasilannya dalam merehabilitasi kawasan pesisir Rembang, semenjak tahun 1964 sampai dengan sekarang ini, terlihat masih bersemangat dalam mengelola hutan mangrove buatannya. Di rumah beliau yang sederhana, kami menginap selama satu malam. Kami berbincang banyak hal mengenai ekosistem mangrove berikut tata cara pengelolaannya.

Pada saat berdiskusi di acara sarasehan mangrove, salah satu yang menjadi topik terhangat adalah masalah tongkat estafet. Siapakah yang akan menggantikan Pak Yadi di masa mendatang? Beliau mengakui, mengingat usianya yang sekarang, sudah seharusnya beliau digantikan oleh penerusnya. Namun, karena kendala belum adanya SDM yang bersedia untuk menggantikan beliau, maka sampai dengan hari ini, Pak Yadi masih saja memimpin kelompok tani mangrove beliau, itu.

Beliau bercerita bahwa dulu memang beliau sudah pernah digantikan oleh penerusnya. Namun demikian, karena ada sedikit permasalahan dalam konsep kepemimpinan yang diterapkan oleh penerus beliau tersebut, pada akhirnya Pak Yadi kembali yang diminta oleh kelompok beliau, untuk memimpin mereka.

Tak adanya para generasi muda yang mau dan mampu meneruskan jejak beliau, kiranya menjadi permasalahan serius dan sebuah kendala yang terus saja menghantui Pak Yadi. Beliau agak khawatir dengan keberlanjutan kelestarian hutan mangrove buatan beliau, yang sudah sedari 1964 dipelihara dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Hubungan KeSEMaT dengan Pak Yadi sudah terjadi sejak tahun 2005, pada saat KeSEMaTOUR pertama kali diadakan di hutan mangrove Pasar Banggi, Rembang. Setelah KeSEMaT berhasil mempertemukan beliau dengan DPR RI dan Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Rembang di Sarasehan Akbar Mangrove (SAM) untuk menyatukan silang pendapat anatara Pak Yadi dengan PEMKAB-nya, maka sejak saat itulah hubungan manis kami terus terjalin. Maka, setiap kali kami berkunjung ke beliau, curahan hati beliau yang seolah tak pernah habis, selalu diutarakan beliau kepada kami yang sudah dianggap sebagai putra pertamanya.

Untuk membesarkan hati Bapak kami yang sedang sedih ini, kami berkata kepada beliau bahwa kami, para KeSEMaTERS inilah, yang akan meneruskan perjuangan beliau dalam mengelola ekosistem mangrove di Rembang dan di semua tempat, dimanapun mangrove bisa hidup dan tumbuh. Beliau setuju, mengiyakan, menganggukan kepala dan tersenyum, sembari memberikan ucapan terima kasih beliau, kepada kami.

Di akhir pertemuan kami dengan beliau, kami kembali memberikan dukungan kepada beliau dengan berujar, “Jangan takut Pak Yadi, kamilah yang akan menjadi pemegang tongkat estafet Pak Yadi, selanjutnya.” Senang rasanya, karena setelah kami berujar seperti itu, sedetik kemudian, wajah beliau kembali ceria. Salam MANGROVER!