24.2.14

Mangrove Tumbuh di Empat Zona Ini!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Menurut Noor, dkk (1999), secara sederhana, mangrove umumnya tumbuh dalam empat zona, yaitu pada daerah terbuka, daerah tengah, daerah yang memiliki sungai berair payau sampai hampir tawar (daratan).

1. Mangrove terbuka 
Mangrove terbuka berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Samingan (1980) menemukan bahwa di Karang Agung, Sumatra Selatan, di zona ini didominasi oleh Soneratia alba yang tumbuh pada areal yang betul-betul dipengaruhi oleh air laut.

Van Steenis, (1958) melaporkan bahwa S. alba dan A. alba merupakan jenis-jenis yang dominan pada areal pantai yang sangat tergenang ini. Komiyama, dkk (1988) menemukan bahwa Halmahera, Maluku, di zona ini didominasi oleh S. alba.

Komposisi dari komunitas di zona terbuka sangat bergantung pada substratnya. S. alba cenderung untuk mendominasi daerah berpasir, sementara Avicennia marina dan Rhizophora mucronata cenderung untuk mendominasi daerah yang lebih berlumpur (Van Steenis, 1958).

2. Mangrove Tengah 
Untuk mangrove tengah, di zona ini terletak di belakang mangrove terbuka. Di zona ini biasanya didominasi oleh jenis Rhizophora. Namun, Samingan (1980) menemukan di Karang Agung didominasi oleh Bruguiera. Jenis-jenis penting lainnya yang ditemukan di Karang Agung adalah B. eriopetala, B. gymnorrhiza, Excoecaria agallocha, R. mucronata, Xylocarpus granatum dan X. moluccensis.

3. Mangrove Payau 
Dilanjutkan dengan mangrove payau, yaitu mangrove yang berada di sepanjang sungai berair payau hingga hampir tawar. Di zona ini biasanya didominasi oleh komunitas Nypa atau Sonneratia. Di Karang Agung, komunitas N. fruticans terdapat pada jalur yang sempit di sepanjang sebagian besar sungai.

Di jalur-jalur tersebut sering kali ditemukan tegakan N. fruticans yang bersambung dengan vegetasi yang terdiri dari Cerbera sp, Gluta renghas, Stenochlaena palustris dan Xylocarpus granatum.

Di sebagian besar daerah lainnya, seperti di Pulau Kaget dan Pulau Kembang di mulut Sungai Barito di Kalimantan Selatan atau di mulut Sungai Singkil di Aceh, Sonneratia caseolaris lebih dominan terutama di bagian yang berair hampir tawar (Giesen dan Van Balen, 1991).

4. Mangrove Daratan 
Untuk yang terakhir adalah mangrove daratan. Mangrove ini berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya. Jenis-jenis yang umum ditemukan pada zona ini termasuk Ficus microcarpus (F. retusa), Instia bijug, N. fruticans, Lumnitzera racemosa, Pandanus sp dan Xylocarpus moluccensis (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1993).

Zona ini memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. Meskipun kelihatannya terdapat zonasi dalam vegetasi mangrove, namun kenyataanya di lapangan tidaklah sesederhana itu. Banyak formasi serta zona vegetasi yang tumpang tindih dan bercampur serta sering kali struktur dan korelasi yang nampak di suatu daerah tidak selalu dapat diaplikasikan di daerah lain.

Sedangkan Tomlison, (1994) menyatakan bahwa vegetasi mangrove tersusun tiga komponen:
a). Komponen mayor, yaitu jenis yang mengembangkan karakteristik morfologi yang berupa akar udara dan mekanisme fisiologi yang berupa kelenjar garam untuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Jenis yang mempunyai kelenjar garam antara lain Rhizophora, Ceriops, Avicennia, Bruguiera dan Sonneratia.

b). Komponen minor, yaitu tumbuhan pantai yang merupakan jenis yang tidak menonjol, dapat tumbuh di sekeliling habitat. Misalnya Spinifex litorens (gulung-gulung), Ipomea-pes caprae.

c). Asosiasi mangrove, yaitu jenis yang tidak tumbuh pada komunitas mangrove sesungguhnya dan dapat tumbuh pada tanah daratan (terrestrial). Contoh, Terminalia catappa (ketapang) dan Carbera manghas (bintaro).