24.2.14

Bagaimanakah Metode Pemetaan Mangrove? Ini Jawabnya!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Menurut Saputro.G.B., dkk (2009), metode pemetaan mangrove merupakan hal yang perlu disampaikan dalam bagian tersendiri agar dapat diketahui sejauh mana tingkat kehandalan peta yang dihasilkan, termasuk kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan metode tersebut, mengingat cakupan wilayah Indonesia yang cukup luas, maka pemetaan existing mangrove Indonesia dilaksanakan dengan menggunakan metode yang secara teknis dapat dilakukan dengan cepat dan murah, serta mempunyai tingkat kedetailan informasi yang memadai dengan skala peta yang dihasilkan, yaitu 1 : 1.000.000.

Berdasarkan perbandingan di atas, maka teknologi penginderaan jauh (inderaja) dipandang sebagai metode yang sesuai dengan pemetaan mangrove Indonesia. Dewasa ini, data inderaja semakin banyak digunakan untuk berbagai kepentingan yang berkaitan dengan inventarisasi sumber daya alam dan pengembangan wilayah, karena wilayah tersebut merupakan wilayah yang luas, mutakhir, tersedia dengan berbagai tingkat kerincian dan keperluan, serta semakin mudah dan semakin murah diperolehnya.

Pertimbangan pemilihan citra INDERAJA oleh pengguna, antara lain : kesesuaian kualitas data inderaja yang cukup memenuhi data kebutuhan, cakupan wilayah, harga data , kemudaan/kecepatan memperoleh data, ketersediaan perangkat lunak dan keras pengolahan data.

Pemilihan jenis citra inderaja yang digunakan dalam pemetaan mangrove Indonesia ditentukan dengan ketersedianaan dan kemudahan dalam hal perolehannya, yaitu resolusi spektral dan resolusi spasialnya memungkinkan digunakan untuk memetakan mangrove sesuai.

Dengan demikian, citra inderaja yang digunakan dalam pemetaan mangrove dapat terdiri dari berbagai jenis citra, selama dapat memenuhi kriteria resolusi spektral dan resolusi spasial sebagaimana dijelaskan pada bagian uraian pemetaan mangrove berdasarkan skala peta.

Dengan prinsip ini diharapkan data penginderaan jauh, terutama citra satelit dapat terjamin ketersediaanya, sehingga kegiatan pemetaan dapat dilakukan secara berkelanjutan atau selalu dipetakan ulang setiap periode waktu tertentu, misalnya setiap 5 tahun.

Produk dari kegiatan pemetaan mangrove Indonesia skala 1 : 1.000.000 ini adalah peta sebaran mangrove beserta deskripsi mengenai status mangrove per provinsi. Metode yang digunakan adalah metode gabungan dari teknologi inderaja, SIG dan kajian pustaka. Teknologi inderaja digunakan untuk analisis dan ekstraksi informasi tutupan (existing) mangrove.

Dengan pendekatan ini, maka citra inderaja merupakan sumber data utama untuk menentukan batas areal mangrove. Teknologi SIG digunakan untuk visualisasi dan pembangunan basis data, dan kajian kepustakaan tentang mengrove dari berbagai hasil penelitian atau studi yang telah ada untuk mengisi deskripsi ekosistem, flora, fauna mangrove di masing-masing provinsi.