24.2.14

Yuk, Kenali Flora Mangrove Indonesia!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Menurut BAKOSURTANAL (2009), flora yang ditemukan pada ekosistem mangrove Indonesia lebih kurang 189 jenis dari 68 suku. Dari jumlah itu, 80 jenis diantaranya adalah berupa pohon, 24 jenis liana, 41 jenis herba, 41 jenis epifit, dan 3 jenis parasit (Noor et al., 1995). Jenis vegetasi halopit yang sesungguhnya dianggap vegetasi mangrove hanya sekitar 75 jenis, sedangkan jenis flora lainnya yang tumbuh bersama di area mangrove digolongkan kedalam kelompok "subsidiary" mangrove spesies yang dianggap sebagai "escape species" (Sukardjo, 1996).

Menurut www.wetlands.or.id, Excoecaria agallocha (buta-buta) merupakan pohon yang meranggas kecil dengan ketinggian mencapai 15 m. Kulit kayu berwarna abu-abu, halus, tetapi memiliki bintil. Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah, seringkali berbentuk kusut dan ditutupi oleh lentisel. Batang, dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. Daunnya hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum rontok, pinggiran bergerigi halus, ada 2 kelenjar pada pangkal daun. Unit dan Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: elips. Ujung: meruncing. Ukuran: 6,5-10,5 x 3,5-5 cm.

Memiliki bunga jantan atau betina saja, tidak pernah keduanya. Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina, dan menyebar di sepanjang tandan. Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam jumlah besar. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian daratan, atau kadang-kadang di atas batas air pasang. Jenis ini juga ditemukan tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda, sebelah utara Sumbawa. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang, misalnya di Suaka Margasatwa. Karang-Gading Langkat Timur Laut, dekat Medan, Sumatera Utara.

Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Penyerbukan dilakukan oleh serangga, khususnya lebah. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun di bawah bunga.

Manfaat akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan. Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. Kayu dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang bermutu baik. Getah digunakan untuk membunuh ikan. Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya, akan tetapi wanginya akan hilang beberapa tahun kemudian. Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara, sesuai dengan namanya, yaitu buta-buta.

Menurut Noor, dkk (1999), Sesuvium portulacastrum seringkali ditemukan di sepanjang bagian tepi daratan dari mangrove, pada hamparan lumpur dan gundukan pasir, pada areal yang secara tidak teratur digenangi oleh pasang surut. Substrat tumbuh berupa pasir, lumpur dan tanah liat. Juga ditemukan di pantai berkarang, sepanjang pematang tambak dan kali pasang surut. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga diserbuki kumbang kecil pengumpul madu serta ngengat yang terbang siang. Bijinya tidak mengapung.

Bentuk bunganya kecil, warna ungu, memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm dan tabung panjangnya 3 mm. Letak bunganya di ketiak daun. Formasinya soliter. Daun mahkotanya ada 5 cuping, panjang 6-9 mm. Benang sarinya banyak, ada 3-4 tangkai putik.

Sedangkan bentuk buahnya berbentuk kapsul, bundar dan halus, panjang melintang kira-kira 8 mm. Terdapat beberapa biji hitam berbentuk kacang, halus dan panjangnya 1,5 mm. Untuk daunnya tebal berdaging. Unit dan letaknya sederhana dan berlawanan. Bentuknya bulat memanjang hingga lanset. Ujungnya membundar. Ukuran: 2,5-7 x 0,5-1,5 cm.

Secara umum tumbuhan ini menjalar, seringkali memiliki banyak cabang. Panjangnya hingga 1 m dengan batang berwarna merah cerah, halus dan ditumbuhi akar pada ruasnya. Penyebarannya tersebar pada jenis Pan-tropis, ditemukan di sepanjang pesisir Jawa, Madura, Sulawesi dan Sumatera. Manfaat dari tumbuhan ini adalah daunnya dapat dimakan setelah berulangkali dicuci dan dimasak. Juga digunakan sebagai makanan kambing.