16.11.14

Diikuti 500 Praktisi Lingkungan Dunia, KeSEMaT Hadiri The 4th Asia Pacific Adaptation Network di Malaysia

Kuala Lumpur - KeSEMaTBLOG. Pada hari Selasa, 30 September 2014, Sdri. Giovanny Eveline Wirahana (MENDIKTAN) mewakili KeSEMaT - Universitas Diponegoro (UNDIP), berangkat dari Semarang (Bandara Internasional Ahmad Yani) menuju ke Kuala Lumpur (Kuala Lumpur International Airport) untuk menghadiri Asia Pacific Climate Change Adaptation Forum 2014 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pada hari Rabu, 1 Oktober 2014, pukul 08.00 WIB, acara Asia Pacific Climate Change Adaptation Forum 2014 dibuka oleh Mr. Zakri Abdul Hamid, dari Science Advisor to the Prime Minister of Malaysia, yang dilanjutkan oleh Mr. Kaveh Zahedi dari Regional Directors and Representatives - United Nations Environment Programme (UNEP).

Berikutnya adalah Mr. Soichiro Seki, sebagai Vice-Minister for Global Environment, Ministry of the Environment, Japan, dan yang terakhir adalah Mr. Youssef Nassef, dari Adaptation Programme Coordinator, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

The 4th Asia Pasific Adaptation Network merupakan konferensi mahasiswa, aktivis, praktisi lingkungan dan kalangan profesional dari seluruh dunia yang diselenggarakan setiap tahun, mulai dari tahun 2010 dan diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara di dunia.

Tujuan penyelenggaran Asia Pasific Adaptation Network (APAN) 2014 adalah sebagai media sosialisasi untuk membangun pemahaman akan isu-isu perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia.

Konferensi APAN 2014 ini dihadiri lebih dari 500 praktisi lingkungan yang berfokus pada perubahan iklim, dan 150 pembicara profesional dengan 30 sesi pembahasan. Konferensi tahun ini adalah konferensi dengan topik perubahan iklim terbesar di Asia Pasifik!

Pada hari pertama, konsep kegiatan konferensi lebih banyak membahas mengenai bagaimana cara mengendalikan kegiatan masyarakat yang sudah mulai merusak kelangsungan hidup bagi ekosistem pesisir, akibat dampak dari perubahan iklim.

Beberapa delegasi dari Filipina dan juga Bangladesh, mengemukakan solusi yang dihadapi oleh kerusakan daerah pesisir mereka, dengan melakukan peninjauan ulang terhadap hutan mangrove sebagai sabuk pantai.

Pada hari pertama, juga dilakukan penyambutan dari Perdana Menteri Malaysia, kepada seluruh delegasi yang datang dari berbagai negara di Asia-Pasifik dengan makan malam bersama.

Hari kedua konferensi masih berlangsung dengan membahas secara spesifik, apa saja penelitian ataupun kegiatan sosial yang telah dilakukan oleh peserta APAN 2014.

Dalam forum hari kedua ini, banyak membahas mengenai dampak langsung maupun tidak langsung dari perubahan iklim global terhadap lautan dan juga ekosistem yang terkait di dalamnya. Tidak hanya itu, peserta pun aktif dalam berdiskusi dan membahas solusi yang akan dilakukan untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.

Pada The 4th Asia Pacific Adaptation Forum ini, juga berfokus pada individu yang turut serta dalam perubahan iklim dan bagaimana cara untuk bekerja sama untuk membentuk kemitraan dan jaringan.

Peserta yang hadir dalam konferensi terbesar di Asia-Pasifik ini adalah individu, organisasi atau jaringan yang berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan tindakan pengambilan berkaitan dengan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Peserta dalam konferensi telah berbagi pengalaman, cara, dan juga penyelesaian akan masalah isu-isu perubahan iklim yang dihadapi oleh bumi dalam beberapa tahun mendatang.

Hari ketiga adalah kesimpulan dan juga solusi kongkrit yang akan dijalankan di negara masing-masing, selama tiga hari materi, dan juga diskusi bersama, dari berbagai delegasi di seluruh negara Asia dan Pasifik.

Dalam kesempatan ini, KeSEMaT memberikan informasi mengenai kegiatan konservasi mangrovenya di Indonesia dan juga menyampaikan pandangannya kepada peserta ADAP 2014 yang terdiri dari peneliti, pemerintah, pihak swasta, mahasiswa dan pemegang kebijakan, agar bisa berperan lebih aktif dan ikut ambil bagian dalam menangani permasalahan perubahan iklim yang ada di dunia, begitu juga dengan peran berbagai LSM, organisasi dan juga masyarakat untuk membantu sinergisitas demi perbaikan kondisi lingkungan yang lebih baik.

Dengan berakhirnya The 4th Climate Change Adaptation Forum 2014, maka diharapkan seluruh delegasi dapat memberikan kontribusi dan juga implementasi bagi negara dan juga organisasinya masing-masing. Semangat MANGROVER!