25.6.16

KeSEMaT Trainer Pelatihan Jajanan dan Batik Mangrove di Buleleng, Bali

Buleleng - KeSEMaTBLOG. KeSEMaT kembali gencar mengkampanyekan pelestarian mangrove di Indonesia dengan hadir sebagai pembicara dan trainer pada Pelatihan Mas Jamang dan Batik Bakau di Buleleng, Bali. Pelatihan tersebut diwakili oleh Sdri. Sulistiowati (staf ahli MENDIKTAN) selaku perwakilan dari KeSEMaT dan Sdr. Cahyadi Adhe Kurniawan (CEO Batik Bakau dan Mas Jamang) yang mewakili Yayasan IKAMaT.

Pelatihan Batik Bakau dan Mas Jamang dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juni 2016, mulai dari pagi hingga sore hari, bertempat di Kantor Perbekel (Kepala Desa) Buleleng, Bali.

Hari pertama disampaikan materi mengenai pemanfaatan mangrove, sedangkan hari kedua, dilakukan praktik pembuatan Batik Bakau dan Mas Jamang. Tak hanya itu, pada pelatihan tersebut juga terdapat sesi kunjungan ke kawasan wisata mangrove yang baru saja dibangun di Bali, Desember tahun lalu.

Dalam pelatihan Batik Bakau, masyarakat diajarkan dari membuat molan (memberi pola) sampai menjadi Batik Bakau. Sedangkan pada pelatihan Mas Jamang, masyarakat dilatih membuat kue lumpur dan klepon berbahan dasar tepung mangrove.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 40 orang dari kelompok penggiat mangrove se-Buleleng, Bali. Acara yang diadakan oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Indonesia ini juga dihadiri oleh DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) setempat.

"Pemanfaatan mangrove di Bali untuk dijadikan suatu produk belum ada," jelas Sdri. Sulistiowati. Pelatihan ini, juga berguna untuk melatih skill masyarakat agar pemanfaatan mangrove di daerah ini menjadi optimal dan masyarakat merasa lebih peduli terhadap mangrove," jelasnya lebih lanjut selepas menyampaikan materi Mas Jamang.

"Saya merasa senang dengan adanya pelatihan mangrove semacam ini. Semoga saja, ini dapat diadakan di tempat lain di Bali, dan secara rutin di daerah kami ini,” ungkap salah satu warga yang hadir dalam pelatihan.

"Semoga saja, dengan kehadiran KeSEMaT di Bali ini, maka warga di sini akan dapat memanfaatkan sisi lain dari mangrove, yaitu dari segi ekonomi, tanpa merusak, melainkan dibudidaya," terang Sdri. Sulis. "Informasi mengenai pemanfaatan mangrove dan budidayanya harus disebarluaskan lebih luas lagi agar mangrove mulai dipandang sebagai salah satu sumber daya alam unggulan yang bernilai dan berdaya guna," pungkasnya. (EA).