15.11.13

Profil Rina S. S., KeSEMaTER Peraih IPK Tertinggi se-Ilmu Kelautan UNDIP 2013!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Bangga sekali, salah satu KeSEMaTER, yaitu Sdri. Rina S. S. berhasil meraih IPK tertinggi se-Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) tahun 2013 ini sehingga berpredikat cumlaude, di periode wisuda November 2013. Berikut ini cuplikan wawancara kami dengannya, yang sangat menginspirasi, terutama dalam menanamkan sikap positif menjalankan organisasi dengan kuliah sehingga didapatkan hasil yang optimal. Selamat membaca.

Keluarga Mbak Rina?
Nama saya Rina Setyowati Sulistiyoningrum, lahir di Semarang, 11 September 1991. Saya berasal dari keluarga biasa saja bahkan orang tua bukan sarjana, tapi mereka selalu bersemangat untuk menyekolahkan saya.

Awal titik balik membangun sikap mental positif sehingga meraih IPK tertinggi se-Ilmu Kelautan UNDIP?
Berawal dari hasil ujian SMA saya yang jelek, salah seorang teman saya pernah berkata, “Yakin kamu bawa nilai segitu ke UNDIP, saya saja yang nilainya bagus, masih bingung mau masuk ke mana.” Dalam hati, saya berkata, “Itu teman saya, bukan saya. Kita punya cerita sendiri.” Jadi, tidak ada yang tidak mungkin jika, Allah SWT menghendaki.

Awal bertemu dengan KeSEMaT?
Tahun 2009 saya diterima di Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Disinilah kisah saya sebagai KeSEMaTER dan MANGROVER berawal. Berawal dari pendaftaran KeSEMaT yang awalnya saya pesimis dengan semua keadaan, namun teman-teman saya selalu memberi dukungan dan bantuan, hingga akhirnya saya berhasil menjadi Anggota Keluarga Besar KeSEMaT. Bangga sekali.

Cara membagi waktu antara kuliah dan organisasi?
Waktu di KeSEMaT, saya juga menjadi anggota organisasi lainnya. KeSEMaT memang tak membatasi anggotanya untuk beraktivitas di luar. Otomatis, waktu saya habis dengan organisasi. Tapi, tak apa, kuliah saya tidak terpengaruh. IP pertama saya 3,86 dan stabil sampai selesai wisuda.

Tak ada hubungan antara organisasi dengan IP turun, ya?
Benar sekali. Jadi janganlah suka mengkaitkan antara kesibukan organisasi dengan hasil kuliah, karena semua kembali ke diri kita masing-masing. Bagaimana cara kita kuliah, masihkah seperti anak SMA, masihkah menyalahkan kesibukan, padahal kalau di organisasi, tanggung jawab kita kepada masyarakat jauh lebih penting. Dimana tanggung jawabmu? Itu, yang selalu saya tanamkan dalam benak saya, sehingga saya bisa membagi antara kuliah dan organisasi sesuai porsinya, dengan baik.

Tips membagi kuliah dengan bekerja di KeSEMaT yang sangat padat jadwalnya?
Nilai kuliah pasang surut itu wajar. Target kita tidak selamanya tercapai dengan mulus, bahkan saya pernah mendapat IP 3,00. Bolos kuliah sepertinya sudah tidak tabu lagi untuk orang seperti saya, karena saya harus profesional di KeSEMaT sehubungan dengan tanggung jawab saya kepada masyarakat pesisir langsung. Tapi, jika saat sedang bebas dari tanggung jawab organisasi, tidak ada kata malas untuk masuk kuliah. Jika bolos-pun, kita tidak boleh cuek. Cari tahu apa yang dibahas hari itu, tugas apa yang diberikan dosen, selesaikan saat itu juga, jangan menunda waktu sehingga kita bisa cepat fokus lagi dengan urusan lain.

Cara belajar Mbak Rina?
Percaya atau tidak, saya bukanlah kutu buku, apalagi seorang yang rajin belajar. Cukup tahu, kata itulah yang pas untuk saya. Menurut saya, antara ilmu satu dengan lainnya itu saling berkaitan, tergantung cara berpikir kita. Pada saat ujian, jika saya tidak sempat belajar, yang saya lakukan adalah bertanya dan menyimpan poin dari jawaban teman-teman saya. Kemudian, jika hal tersebut muncul dalam pertanyaan ujian yang saya lakukan adalah merangkumnya jadi satu.

Saat di KeSEMaT, tanggung jawab yang diemban?
Saat masih menjadi anggota aktif KeSEMaT, saya pernah menjabat sebagai staf Menteri Perpustakaan dan Menteri Keuangan. Namun, bukan berarti saya hanya terfokus disitu saja. Semua yang terkait KeSEMaT juga menjadi tanggung jawab saya. Inilah yang selalu ditanamkan Alumni saya di KeSEMaT, sehingga KeSEMaT selalu bisa jadi organisasi mangrove terdepan yang terus menginspirasi.

Konsep kepemimpinan Mbak Rina?
Tahun 2011, saya dipercaya menjalankan amanah sebagai Ketua Pelaksana Mangrove Restoration (MANGRES). Acara ini berlangsung pada saat libur semester, dimana teman-teman pasti pulang. Ditinggal teman, tak lantas membuat semangat saya melemah bahkan semakin terpacu untuk membuktikan bahwa saya bisa. Saya menginap di kantor dan tidak pulang selama beberapa hari. Dikhawatirkan orang tua, itu sudah pasti. Tapi dengan memberikan penjelasan yang baik, semuanya berjalan lancar. Saya berprinsip bahwa ketua itu mengayomi dan mencari penyelesaian untuk permasalahan anggotanya. Alhamdulillah, kegiatan yang saya pimpin ini sukses besar.

Pengalaman paling berharga saat di KeSEMaT?
Dicecar senior, karena kurang detail dan lain-lain. Namun saya sadar, konsep detail seperti ini memang perlu. Hasilnya, meskipun waktu itu, saya harus menjalankan empat tanggung jawab sekaligus, saya tetap kuat bahkan tugas dan tanggung jawab yang berat di awalnya, saat dijalani dengan ikhlas dan tulus terasa sangat ringan. Kurang tidur saya dan berbagai masalah yang terjadi selama MANGRES 2011, terbayarkan dengan rasa puas karena keberhasilannya. Intinya, janganlah menjadi pribadi rapuh, yang suka mengeluh.

KeSEMaT di mata Mbak Rina?
Setelah menjadi Alumni KeSEMaT – IKAMaT, saya tergabung menjadi penerima beasiswa di salah satu perusahaan, yang juga tidak kalah sibuknya. Walaupun sudah menjadi Alumni, saya terus cinta KeSEMaT. Saya sadar, tanpa KeSEMaT, saya tak akan menjadi seperti sekarang. Satu hal yang saya curi ilmunya di KeSEMaT adalah mentalitas bertahan dan tidak lemah apalagi lembek dalam menghadapi masalah. Dengan segala kemampuan, saya menghadapinya bukan malah menjauhinya. Dengan kemampuan membagi waktu, maka saya bisa menyelesaikan semua tanggung jawab pekerjaan yang diberikan kepada saya dengan baik. Saya optimis menghadapi masa depan, karena saya sudah terbiasa bekerja di KeSEMaT yang sangat sibuk, penuh deadline dan super detail.

Orang pintar menurut Anda?
Orang pintar adalah orang yang bisa berbagi ilmu. Jika ilmu hanya terkurung di otak, maka kita hanya menjadi seorang pemikir saja. It’s about your choice. Pintar dan berguna atau hanya pemikir? Kita bisa pilih mana saja, tapi ketika semua terkalahkan dengan rasa malas, atau kegalauan karena masalah dengan dosen, pacar, teman ataupun yang lainnya, ingatlah tanggung jawab kita kepada orang tua kita, masyarakat, bangsa ini. Untuk itulah, kita wajib terus berusaha dan berdo’a kepada Allah SWT untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Pesan untuk MANGROVER Indonesia?
Jadilah MANGROVER yang berprestasi tak hanya di bangku kuliah saja, tetapi carilah ladang lain untuk menanam ilmu, untuk membuatnya tumbuh subur yang hasilnya bisa dinikmati siapa saja. Sesungguhnya, harta yang tak pernah habis apalagi berkurang jika dibagikan adalah ilmu. Jadikan sikap rendah hati sebagai sarana memperkaya diri. Semangat MANGROVER!