Warga Binaan KeSEMaT Tumbuh melalui Pendampingan Jangka Panjang
Bagi KeSEMaT, pemberdayaan masyarakat tidak dibangun melalui satu kali pelatihan. Proses tersebut membutuhkan pendampingan, praktik, evaluasi, pengembangan produk, pemasaran, hingga penguatan kelembagaan kelompok agar masyarakat mampu tumbuh secara bertahap dan mandiri. Model inilah yang telah dikembangkan KeSEMaT bersama masyarakat pesisir Semarang selama bertahun-tahun melalui berbagai kelompok warga binaan yang bergerak dalam pemanfaatan produk mangrove bukan kayu.
Bina Citra Karya Wanita mengembangkan jajanan mangrove, Srikandi Pantura mengembangkan batik mangrove, sedangkan Arjuna Berdikari berkembang melalui pengolahan kopi mangrove. Ketiga kelompok tersebut menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat yang dibangun KeSEMaT dan terhubung dengan pengembangan Sentra Produk Olahan Mangrove atau SPOM Semarang. Melalui ruang tersebut, masyarakat tidak hanya belajar menghasilkan produk, tetapi juga memahami pemilihan bahan, proses pengolahan, kualitas, pengemasan, pemasaran, hingga bagaimana pengalaman tersebut dapat diteruskan kepada kelompok masyarakat lainnya.
Dari Peserta Pelatihan Menjadi Trainer
Perubahan dari peserta menjadi trainer menjadi salah satu fase penting dalam proses pemberdayaan. Pada tahap awal, masyarakat dapat berada pada posisi penerima pengetahuan dan peserta pelatihan, kemudian berkembang menjadi produsen setelah memiliki kemampuan pengolahan dan pengalaman produksi. Ketika keterampilan, pengalaman, serta pemahaman mereka semakin matang, kelompok masyarakat memiliki peluang untuk mengambil peran baru sebagai sumber pengetahuan bagi komunitas lain.
Bagi KeSEMaT, ketika warga binaan telah mampu membagikan pengalaman dan keterampilannya kepada masyarakat lain, pemberdayaan telah memasuki tahap yang lebih matang. Pengetahuan tidak lagi bergerak hanya dari organisasi kepada masyarakat, tetapi mulai berpindah dari masyarakat kepada masyarakat. Pola inilah yang terlihat ketika pengalaman warga binaan KeSEMaT di Semarang dibawa menuju Kampung Enggros, Jayapura.
Berbagi Pengetahuan bersama KTH Ibayauw di Jayapura
Dalam pelaksanaan kegiatan di Jayapura, warga binaan KeSEMaT diwakili oleh Bapak Ferry A. Istiasmara selaku Ketua Kelompok Pengolah Kopi Mangrove Arjuna Berdikari serta Ibu Mufidah yang mewakili Kelompok Pengolah Jajanan Mangrove Bina Citra Karya Wanita dan Kelompok Pengrajin Batik Mangrove Srikandi Pantura. Keduanya mengambil peran sebagai trainer dalam pelatihan pengolahan produk berbasis mangrove kepada sekitar 30 anggota KTH Ibayauw di Kampung Enggros.
KTH Ibayauw merupakan kelompok pelestari lingkungan yang didirikan pada 2018 oleh para perempuan adat di Kampung Enggros. Kampung tersebut berada di kawasan Teluk Youtefa dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ekosistem mangrove. Kawasan mangrove yang dikenal masyarakat sebagai Tonotwiyat telah lama menjadi ruang penting yang mendukung kehidupan masyarakat, termasuk sebagai sumber hasil perikanan, kerang-kerangan, dan udang.
Pertemuan dua kelompok masyarakat pesisir dengan latar belakang berbeda tersebut menjadikan pelatihan tidak hanya sebagai kegiatan transfer teknis. Pengalaman pengolahan mangrove dari Semarang bertemu dengan pengetahuan lokal masyarakat Kampung Enggros yang telah hidup berdampingan dengan kawasan mangrove Teluk Youtefa. Dari sinilah pelatihan berkembang menjadi ruang pertukaran pengalaman antarmasyarakat pesisir.
Hari Pertama, Berbagi Pengalaman Mengolah Jajanan Mangrove
Pelatihan hari pertama dilaksanakan di Balai Pertemuan Kantor Kampung Enggros dengan materi utama pengolahan jajanan mangrove berupa peyek dan cendol. Ibu Mufidah memulai kegiatan dengan menyampaikan materi mengenai jenis mangrove yang dimanfaatkan, alat dan bahan yang digunakan, perlakuan terhadap bahan baku, serta tahapan pengolahan sebelum peserta langsung mengikuti praktik pembuatan produk.
Salah satu bahan yang digunakan berasal dari buah Bruguiera gymnorrhiza. Buah tersebut memerlukan perlakuan tertentu melalui proses pengolahan sebelum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk adonan maupun tepung yang kemudian digunakan sebagai salah satu komponen dalam pembuatan peyek dan cendol. Pengetahuan ini merupakan bagian dari pengalaman panjang yang telah dikembangkan Bina Citra Karya Wanita sebagai salah satu warga binaan KeSEMaT dalam mengolah hasil mangrove bukan kayu menjadi produk bernilai tambah.
Respons peserta menunjukkan bahwa praktik tersebut membuka sudut pandang baru mengenai pemanfaatan buah mangrove. Salah satu anggota KTH Ibayauw, Popi C. Hababuk, menyampaikan bahwa sebelumnya kelompok belum mengetahui bahwa buah mangrove dapat diolah menjadi produk kuliner seperti cendol dan peyek. Pengalaman praktik langsung tersebut kemudian memberikan alternatif pengetahuan baru mengenai pemanfaatan hasil mangrove yang dapat dikembangkan secara bertahap di Kampung Enggros.Pengembangan produk semacam ini juga menjadi bagian dari pendekatan hilirisasi mangrove KeSEMaT yang berupaya menghubungkan konservasi dengan penciptaan nilai tambah. Pemanfaatan tidak diarahkan untuk mengeksploitasi tegakan mangrove, tetapi untuk mengembangkan hasil bukan kayu melalui pengolahan yang bertanggung jawab dan disesuaikan dengan kondisi sumber daya di masing-masing wilayah.
Kopi Mangrove Membawa Pengalaman Arjuna Berdikari ke Papua
Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut dengan pengolahan kopi mangrove yang dipandu Bapak Ferry A. Istiasmara dari Arjuna Berdikari. Materi dimulai dengan penjelasan mengenai jenis dan bagian mangrove yang dapat dimanfaatkan, peralatan yang digunakan, proses perlakuan terhadap bahan, pengeringan, penyangraian, penghalusan, hingga pemorsian antara bahan mangrove dan kopi.
Dalam praktik yang dikembangkan kelompok, bagian tertentu dari buah Rhizophora mucronata digunakan setelah melalui tahapan perlakuan, perendaman, pengeringan, penyangraian, dan penghalusan. Bahan tersebut selanjutnya dicampurkan dengan kopi sesuai komposisi yang digunakan oleh kelompok. Pengalaman Arjuna Berdikari dalam mengembangkan kopi mangrove menjadi contoh bagaimana satu kelompok masyarakat dapat membangun produk berdasarkan proses belajar dan pengembangan yang dilakukan secara bertahap.
Pelatihan tersebut mendapat perhatian peserta karena kopi mangrove merupakan sesuatu yang relatif baru bagi KTH Ibayauw. Ibu Yuli Drunyi dari KTH Ibayauw menyampaikan harapan agar pengetahuan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan suatu saat memiliki akses pasar yang lebih luas. Harapan tersebut menjadi penting karena tujuan utama pelatihan bukan sekadar menghasilkan produk pada hari kegiatan, melainkan membuka kemungkinan pengembangan keterampilan dan kegiatan produktif setelah program selesai.
Transfer Pengetahuan Tidak Berarti Menyalin Produk
KeSEMaT memandang bahwa transfer pengetahuan antarkelompok masyarakat tidak berarti seluruh praktik dari Semarang harus disalin secara identik di Jayapura. Setiap wilayah pesisir memiliki kondisi ekologis, sosial, budaya, sumber daya, dan karakter masyarakat yang berbeda. Pengetahuan yang dibawa warga binaan KeSEMaT karena itu lebih tepat ditempatkan sebagai referensi dan pengalaman yang dapat dikembangkan kembali sesuai dengan konteks masyarakat setempat.
Pemberdayaan bukan proses menggandakan produk, melainkan memperluas kapasitas masyarakat untuk mengenali dan mengembangkan potensinya sendiri. Dengan pendekatan tersebut, pengalaman dari Semarang dapat menjadi pemantik, sementara bentuk pengembangan akhirnya tetap berada di tangan masyarakat Kampung Enggros.
Batik Mangrove dan Pertemuan Pengetahuan Kreatif
Hari ketiga pelatihan diisi dengan pembuatan batik menggunakan pewarna alami berbasis mangrove. Kegiatan dilaksanakan di salah satu sentra batik di Kota Jayapura sehingga proses pembelajaran juga melibatkan pengrajin batik setempat dari Kelompok Batik Amelda. Ibu Mufidah menyampaikan materi mengenai pembuatan pewarna alami, dilanjutkan dengan praktik menggambar pola, metode cap, proses mencanting untuk batik tulis, dan tahapan pewarnaan.
Pengalaman tersebut membawa pengetahuan Srikandi Pantura sebagai salah satu warga binaan KeSEMaT ke ruang pembelajaran yang berbeda. Batik mangrove menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil mangrove bukan kayu tidak hanya dapat berkembang melalui produk pangan dan minuman, tetapi juga melalui sektor kreatif. Keterampilan membatik yang telah dimiliki masyarakat Jayapura kemudian bertemu dengan pengetahuan mengenai penggunaan pewarna alami yang dikembangkan melalui pengalaman warga binaan KeSEMaT.
Ibu Petronela Merauje dari KTH Ibayauw menyampaikan bahwa pelatihan membatik menggunakan pewarna alami mangrove memberikan pengalaman baru yang diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan kelompok. Baginya, pengetahuan tersebut juga membuka peluang untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan mulai diterjemahkan oleh peserta tidak hanya sebagai pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai potensi kegiatan produktif di tingkat rumah tangga dan kelompok.
Pemberdayaan Mangrove Tidak Berhenti pada Produk
Produk merupakan bagian yang paling mudah terlihat dari proses pemberdayaan. Jajanan dapat dikonsumsi, kopi dapat disajikan, dan batik dapat digunakan maupun dipasarkan. Namun, bagi KeSEMaT, nilai pemberdayaan tidak berhenti pada produk yang dihasilkan, karena di belakang sebuah produk terdapat proses pembelajaran yang jauh lebih panjang.
Masyarakat perlu memahami bahan baku, proses pengolahan, kualitas produk, pembagian peran, pengelolaan kelompok, pemasaran, komunikasi, hingga kemampuan untuk mengembangkan inovasi. Ketika pengalaman itu telah terakumulasi, masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan memproduksi barang, tetapi juga memiliki pengetahuan yang dapat diteruskan kepada pihak lain.
Perjalanan Bina Citra Karya Wanita, Srikandi Pantura, dan Arjuna Berdikari menjadi trainer di Jayapura memperlihatkan proses tersebut. Ketiga kelompok tidak hanya hadir membawa produk, tetapi membawa pengalaman yang dibangun dari proses panjang pendampingan dan praktik lapangan.
Masyarakat Bukan Sekadar Penerima Program
Dalam banyak program pemberdayaan, masyarakat masih mudah ditempatkan sebagai penerima kegiatan. Mereka hadir mengikuti pelatihan, menerima bantuan, kemudian hubungan dengan program berakhir ketika kegiatan selesai. KeSEMaT mencoba mendorong model yang lebih panjang dengan memberi ruang kepada kelompok masyarakat untuk belajar, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki produk, mengembangkan pasar, memperkuat kelembagaan, dan membangun kepercayaan diri.
Ketika proses tersebut berjalan, posisi masyarakat perlahan berubah. Mereka tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dapat berkembang menjadi produsen, pelaku usaha, fasilitator, bahkan sumber pengetahuan. Pada tahap inilah warga binaan mulai berubah dari objek program menjadi aktor pemberdayaan.
Dari Semarang menuju Kampung Enggros
Perjalanan warga binaan KeSEMaT menuju Jayapura memperlihatkan bagaimana pengalaman yang tumbuh di tingkat lokal dapat memiliki manfaat di luar lokasi asalnya. Di Semarang, pengembangan produk mangrove bukan kayu tumbuh bersama aktivitas edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat yang telah lama dilakukan KeSEMaT. Pengalaman tersebut kemudian berkembang melalui kelompok masyarakat dan ruang pembelajaran seperti SPOM Semarang.
Dalam kegiatan di Jayapura, proses tersebut terhubung dengan IKAMaT yang turut mendampingi pelaksanaan pelatihan bersama KeSEMaT dan warga binaannya. Dokumentasi lengkap mengenai kegiatan tersebut juga dipublikasikan melalui artikel Praktik Pemanfaatan Berbasis Ekosistem Mangrove di Jayapura.
Kolaborasi itu menunjukkan bahwa jejaring KeSEMaT dapat berkembang menjadi rantai pengetahuan. Organisasi membangun proses pendampingan, kelompok masyarakat mengembangkan keterampilan, kemudian pengalaman kelompok tersebut bergerak menuju masyarakat pesisir lainnya. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berpotensi memperluas dampak pemberdayaan tanpa menjadikan organisasi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Produk Mangrove Harus Tetap Berangkat dari Prinsip Konservasi
KeSEMaT memandang bahwa pengembangan ekonomi berbasis mangrove tidak boleh dilepaskan dari keberlanjutan ekosistem. Mangrove bukan bahan baku yang dapat diambil tanpa mempertimbangkan kemampuan lingkungan, sehingga pengembangan produk perlu diarahkan pada pemanfaatan hasil bukan kayu, pemilihan bahan yang tepat, proses pengolahan yang bertanggung jawab, dan penyesuaian terhadap kondisi sumber daya setempat.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tujuan pemberdayaan bukan sekadar meningkatkan jumlah produk yang dapat dihasilkan. Keberhasilan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan keberlanjutan sumber daya yang menjadi dasar kehidupannya.
Dalam konteks inilah konservasi dan ekonomi tidak selalu harus dipertentangkan. Dengan pendekatan yang tepat, mangrove dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Kerangka ini menjadi salah satu bagian dari perkembangan ekosistem mangrove KeSEMaT yang menghubungkan konservasi, pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan produk dan inovasi.
Warga Binaan KeSEMaT sebagai Agen Transfer Pengetahuan
Keberangkatan warga binaan KeSEMaT sebagai trainer ke Jayapura membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan melaksanakan sebuah pelatihan. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana proses pemberdayaan dapat menghasilkan siklus pengetahuan yang terus berkembang. KeSEMaT mendampingi masyarakat, masyarakat mengembangkan keterampilan, keterampilan berkembang menjadi produk, produk menghasilkan pengalaman, dan pengalaman tersebut akhirnya berubah menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kembali.
Di titik inilah dampak pemberdayaan mulai berlipat ganda. Pengetahuan tidak lagi berhenti pada satu kelompok atau satu kawasan, melainkan bergerak mengikuti orang-orang yang telah menguasai dan mempraktikkannya.
Ke depan, KeSEMaT memandang warga binaan tidak cukup hanya mampu mempertahankan produksi. Kelompok juga perlu terus berkembang dalam aspek kualitas, kelembagaan, pemasaran, inovasi, regenerasi anggota, dan kemampuan berbagi pengalaman. Semakin mandiri sebuah kelompok, semakin kecil ketergantungannya terhadap organisasi pendamping, dan pada tahap yang lebih matang kelompok tersebut bahkan dapat mengambil bagian dalam mendampingi masyarakat lain.
Dari Warga Binaan Menjadi Penggerak
Pendampingan yang baik seharusnya tidak menciptakan ketergantungan. Sebaliknya, proses pemberdayaan perlu menghasilkan kelompok yang memiliki kemampuan mengambil keputusan, mengembangkan kegiatan, mengelola pengetahuan, dan menentukan arah perkembangannya sendiri.
Kegiatan di Kampung Enggros memberi gambaran mengenai proses tersebut. Warga binaan yang sebelumnya tumbuh melalui pendampingan di Semarang kini datang ke wilayah lain membawa pengalaman mereka sendiri. Perannya bukan lagi sekadar penerima pelatihan, melainkan orang yang berdiri di depan peserta, menjelaskan proses, menjawab pertanyaan, mendampingi praktik, dan berbagi pembelajaran yang diperoleh selama bertahun-tahun.
Transformasi inilah yang bagi KeSEMaT menjadi salah satu nilai penting dari pemberdayaan masyarakat.
Pengetahuan dari Pesisir untuk Pesisir
Pengalaman di Kampung Enggros memberikan pembelajaran bahwa pengetahuan yang tumbuh dari masyarakat pesisir memiliki nilai besar ketika memperoleh ruang untuk berkembang dan dibagikan. Bina Citra Karya Wanita, Srikandi Pantura, dan Arjuna Berdikari tidak terbentuk sebagai kelompok yang langsung mampu memberikan pelatihan kepada masyarakat di daerah lain. Kemampuan tersebut tumbuh melalui proses panjang pendampingan, praktik, produksi, evaluasi, dan pengalaman lapangan.
Kini, pengalaman tersebut dapat bergerak lebih jauh, dari Semarang menuju Jayapura, dari masyarakat pesisir kepada masyarakat pesisir, dari warga binaan menjadi trainer, dan dari penerima pengetahuan menjadi sumber pengetahuan. Bagi KeSEMaT, inilah salah satu makna penting pemberdayaan masyarakat berbasis mangrove: ketika pengetahuan tidak berhenti pada organisasi yang memulai program, tetapi hidup, berkembang, dan diteruskan kembali oleh masyarakat yang pernah didampingi.
Keberhasilan pemberdayaan karena itu tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya produk yang dihasilkan atau kelompok yang dibentuk. Keberhasilan yang lebih besar muncul ketika masyarakat memiliki kapasitas, kepercayaan diri, pengalaman, dan kemandirian yang cukup untuk membantu masyarakat lain berkembang.
“Bagi kami, hal yang paling membanggakan bukan hanya ketika warga binaan mampu menghasilkan produk olahan mangrove, tetapi ketika pengalaman yang mereka bangun selama bertahun-tahun sudah dapat dibagikan kepada masyarakat pesisir lain. Dari Semarang hingga Jayapura, kami melihat bahwa pengetahuan dapat tumbuh dan bergerak bersama masyarakat,” ujar Bapak Anggoro D. B. Saputro, Staf Koordinator Operasional Media IKAMaT.
Sementara itu, Saudara Samsul Ma'arif selaku Presiden KeSEMaT menilai bahwa keterlibatan warga binaan sebagai trainer memperlihatkan perkembangan penting dalam proses pemberdayaan. “Ketika warga binaan sudah mampu berdiri sebagai narasumber dan mendampingi kelompok lain dalam praktik langsung, berarti proses pemberdayaan tidak lagi berjalan satu arah. Masyarakat yang sebelumnya menerima pengetahuan kini sudah mampu menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat lainnya,” ungkapnya.Dari warga binaan, tumbuh penggerak. Dari satu pesisir, pengetahuan bergerak menuju pesisir lainnya. (ADM).








Tidak ada komentar:
Posting Komentar