18.7.10

Mengare, Pulau Seribu Tambak!

Mengare - KeSEMaTBLOG. Di sela-sela kunjungan kerja kami ke Surabaya dan Gresik, untuk memberikan pelatihan dan penyuluhan mangrove kepada warga pesisir di sana (lihat foto di samping), kami menyempatkan diri untuk mengamati Mengare. Mengare begitu istimewa bagi kami, karena keberadaannya sekarang, telah membuat kami merinding dan ketakutan akan nasibnya di masa mendatang. Konversi lahan mangrove menjadi area pertambakan dan pemukiman, mulai terjadi begitu hebatnya, hingga kami tak bisa membayangkan lagi, apabila Mengare akan bernasib sama dengan Bulak Lama di Jepara, Bedono di Demak dan Tugu di Semarang, yang telah habis lahan mangrove dan warganya karena tertelan laut sehingga harus dibedol dan diungsikan ke lokasi yang lebih aman.

Mengare pada awalnya adalah sebuah pulau yang terpisah. Namun demikian, karena proses pendangkalan akibat sedimentasi selama bertahun-tahun, maka kini Mengare menjadi satu bagian dengan Pulau Jawa. Mengare merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Untuk menuju ke Mengare, maka kita bisa menggunakan transportasi darat berupa mobil atau motor, dan menempuh jalan setapak-berpaving sejauh 9 km dengan kanan kiri diapit oleh tambak bandeng dan tambak garam.

Begitu banyaknya tambak yang ada di tempat ini hingga menjadikan Mengare juga dikenal sebagai Pulau Seribu Tambak! Memang, sebagian besar mata pencaharian penduduk Mengare adalah sebagai petani tambak dan nelayan. Di Mengare terdapat tiga desa, yaitu Watu Agung, Tanjung Widoro dan Kramat, dimana jumlah penduduk di ketiga desa tersebut mencapai 10.000 jiwa. Yang unik dari kaum pria Mengare adalah mereka selalu menggunakan sarung untuk aktivitas sehari-hari.

Jenis mangrove yang terdapat di pulau nan eksotis ini antara lain adalah Rhizophora apiculata, R. mucronata, Sonneratia alba, Avicennia marina, Ceriops tagal, C. decandra dan lain-lain. Di Mengare, juga terlihat “burung mangrove” dan monyet yang nampak mendiami pepohonannya yang masih lebat. Namun sayang, keanekaragaman hayati mangrove di Mengare mulai terancam dengan pertambakan bandeng yang mulai merajalela.


Sebagai informasi, Bandeng Mengare merupakan salah satu bandeng tambak dengan kualitas nomor satu di Indonesia. Untuk itulah, maka permasalahan pesisir Mengare, yaitu gejala abrasi karena rusaknya mangrove sehingga berakibat pada hilangnya tambak oleh gempuran air laut, adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindari lagi. Kami hanya berdoa dan berharap, semoga Mengare tidak akan menjadi Bulak Lama, Bedono dan Tugu yang kedua. Amin. Semangat MANGROVER!