8.2.13

Reportase MONEV Kelulushidupan Bibit Mangrove di Tanggul Tlare, Jepara

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 1 Februari 2013, KeSEMaT yang diwakili oleh Sdr. Aris Priyono (DK), Sdr. Handung Nuryadi (IKAMaT), Sdr. Ganis Riyan Efendi (DP), Sdr. Cahyadi Ade Kurniawan (IKAMaT), Sdri. Sayyidah Fatchiyyah (DP), Sdr. Amrullah Rosadi (Presiden), Sdri. Siti Nurhidayati (MENWEBNET) dan Sdr. Galih Eko Nugroho (MENKOMSI) bersama dengan KeMANGTEER Jakarta, yang terdiri dari Sdri. Tuti Alawi, Sdr. Edy Rahmanto dan Sdri. Kiki, mengunjungi lokasi penanaman mangrove di desa Tanggul Tlare, Jepara untuk melakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV). Dalam kegiatan tersebut, hadir pula para CSR perusahaan, pejabat dan dinas terkait, selaku mitra kerja KeSEMaT.

Pada saat MONEV, terlihat kondisi desa Tanggul Tlare yang sangat memprihatinkan. Daerah tersebut mengalami abrasi yang cukup parah, terlihat dari meluasnya daerah yang terkikis oleh kuatnya gelombang dan minimnya bangunan pantai dan tumbuhan mangrove untuk mengantisipasi abrasinya.

Dari kegiatan MONEV tersebut, Sdri. Tuti dari KeMANGTEER Jakarta sangat kaget dan sedih akan dampak yang terjadi. “Astaga, abrasinya udah parah kayak, gini. Kita harus kerja keras, nih. Mangrove harus terus ditanam di sini,” ujarnya.

Lokasi perbatasan dua desa, yaitu Tanggul Tlare dan Bulak Baru, Jepara kondisinya sangat gersang. Pohon mangrove telah ditebangi untuk pertambakan tanpa kompensasi yang layak. Area pertambakan masih menguasai hampir 90% daerah pesisirnya.

Untuk itulah, memang diperlukan kegiatan penanaman-kembali bibit mangrove dan dibangunnya bangunan pantai, untuk mengantisipasi abrasi yang semakin menjadi.

Sebagai informasi, abrasi di desa Tanggul Tlare ternyata mempengaruhi kegiatan perkonomian para nelayan dan petambak yang berada di sekitarnya. Banyak nelayan yang mengeluh karena hasil tangkapan ikan mereka semakin menipis, sebagai akibat dari rusaknya ekosistem mangrove di sekitarnya.

Setelah melakukan MONEV, kegiatan dilanjutkan dengan memantau kondisi mangrove di sekitar daerah MECOK (Mangrove Education Center of KeSEMaT) yang berada di belakang kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro di Jepara.

Hasil MONEV di ketiga lokasi menunjukan bahwa baik di Tanggul Tlare, Bulak Baru dan Teluk Awur, ketiganya memiliki kelulushidupan bibit mangrove yang bervariasi, antara 40% – 100%. Bahkan di Tanggul Tlare, bibit Rhizophora bisa tumbuh dengan baik hingga 100%! Kecuali jenis Rhizophora, beberapa mangrove asosiasi yang ditanam, seperti Nyamplung dan Cemara Laut, masih menunjukkan pola adaptasinya dengan cara menggugurkan daunnya, namun mulai nampak daun-baru yang bertunas.

Setelah melakukan MONEV di desa Tanggul Tlare dan MECOK, para KeSEMaTER dan KeMANGTEER Jakarta melakukan gathering di beberapa lokasi di kota Jepara. MONEV ditutup dengan foto bersama.