22.4.15

Fahmi A. B.: 90% Hutan Mangrove Semarang Rusak

Semarang - KeSEMaTBLOG. Ditemui pada saat Kampanye Simpatik Mangrove Restoration (MANGRES) 2015 di CFD Simpang Lima, Semarang (12/4/15), Presiden KeSEMaT, Sdr. Fahmi A. B. mengatakan bahwa 90% hutan mangrove yang berada di kawasan pesisir Semarang sudah rusak. Dalam wawancaranya dengan salah satu wartawan, dia juga menyebutkan bahwa kawasan mangrove di Semarang banyak dikonversi menjadi pertambakan, daerah industri dan peruntukan lainnya.

"Sesuai dengan kebijakan pesisir di Semarang, maka kawasan konservasi mangrove hanya ada di Tugu, Mangunharjo, Mangkang Wetan dan Kulon. Itupun, sudah ada beberapa titik yang akan direklamasi. Kawasan mangrove hanya ada di situ, persentasenya tinggal 10% saja. Data ini kami dapat dari Dinhut Jateng. Kami dan penggiat mangrove di Semarang dan Jateng, berusaha sekuat tenaga mempertahankannya. Jangan sampai dijamah lagi," jelasnya.

Menurutnya, KeSEMaT sedang berupaya untuk mengkampanyekan fungsi dan manfaat mangrove ke berbagai eleman masyarakat, salah satunya dengan mengadakan MANGRES 2015 yang bertema MANGROVERRUN.

"Tak hanya itu, kami juga sudah bekerjasama dengan banyak mitra kerja dan berusaha menembus birokrasi penentu kebijakan di Semarang, Jateng bahkan sampai tingkat pusat agar peraturan mengenai sabuk hijau pantai bisa disesuaikan dan lebih ditegakkan lagi. Keterlibatan kami sebagai anggota dan pengurus tiga jaringan mangrove di Indonesia, yaitu KKMKS, KKMD dan KKMN semoga makin bisa berkontribusi," tambahnya.

Masih menurut Presiden KeSEMaT, selain kerusakan mangrove, pesisir Semarang juga terancam keberadaannya karena gejala penurunan tanah dan naiknya permukaan laut. Menurutnya, di jaman Hindia Belanda, pesisir Semarang berada di sekitar Kuil Sam Po Kong yang berada di Simpang Lima.

"Karena ditimbun tanah, maka garis pantainya sampai ke Marina. Jadi, bila terjadi rob, hal itu hal yang wajar. Tanah di Semarang sebagai akibat dari reklamasi itu masih labil sehingga terus turun karena tak kuat menahan berat bangunan yang ada di atasnya. Sudah menjadi tugas kita semua untuk terus menyadarkan warga Semarang dan Indonesia umumnya agar selalu peduli dengan mangrove dan kawasan pesisirnya," pungkasnya.