Demak – KeSEMaTBLOG. Pemulihan Pesisir Demak menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Rapat Teknis bersama Pemerintah Daerah dan Instansi/Lembaga Terkait yang diselenggarakan oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Jawa Tengah. (14/10/2026).
KeSEMaT turut menghadiri pertemuan tersebut untuk mendukung kolaborasi lintas sektor dalam penanganan persoalan lingkungan pesisir, sekaligus persiapan kegiatan edukasi dan aksi lingkungan di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Dalam pertemuan tersebut, KeSEMaT diwakili oleh Sdr. Bambang J. Laksono dari IKLIMaT (PT Inovasi Karya Lestari KeSEMaT). Rapat melibatkan berbagai unsur pemerintah, instansi teknis, organisasi lingkungan, dan kelompok masyarakat untuk membahas dukungan serta masukan terhadap rencana kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026.
Sdr. Bambang menjelaskan bahwa Pusdal LH Jawa merencanakan rangkaian kegiatan yang memadukan aksi bersih-bersih pantai, bimbingan teknis (Bimtek) mengenai dampak sampah terhadap ekosistem mangrove, serta pengenalan budidaya kepiting bakau.
“Secara garis besar, Pusdal LH Jawa berencana menyelenggarakan kegiatan di Timbulsloko, Sayung, pada 27–28 Oktober 2026. Agenda ini akan melibatkan berbagai pihak untuk mendukung pelestarian lingkungan pesisir,” kata Sdr. Bambang, menjelaskan rencana kegiatan yang dibahas dalam rapat.
Aksi Bersih Pantai dan Edukasi Mangrove
Pada 27 Oktober 2026, Pusdal LH Jawa merencanakan kegiatan bersih-bersih pantai di Timbulsloko dengan target sekitar 400 peserta. Kegiatan tersebut dirancang sebagai aksi bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sampah di kawasan pesisir.
Setelah aksi bersih pantai, kegiatan direncanakan berlanjut dengan Bimtek bertema “Dampak Sampah terhadap Keberlangsungan Ekosistem Mangrove”, dengan KeSEMaT sebagai pemateri.
“Untuk kegiatan tanggal 27 Oktober, rencananya akan dilaksanakan bersih-bersih pantai dengan sekitar 400 peserta, kemudian dilanjutkan Bimtek mengenai dampak sampah terhadap keberlangsungan ekosistem mangrove yang akan diisi oleh KeSEMaT,” jelas Sdr. Bambang lebih lanjut.
Materi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta mengenai hubungan antara pengelolaan sampah dan kesehatan ekosistem mangrove. Sampah yang terakumulasi di kawasan mangrove berpotensi mengganggu pertumbuhan vegetasi, memengaruhi kondisi habitat, dan menurunkan kualitas lingkungan pesisir.
Melalui pendekatan edukasi, KeSEMaT berupaya mendorong kesadaran bahwa pelestarian mangrove tidak hanya dilakukan melalui penanaman, tetapi juga membutuhkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk pengurangan dan penanganan sampah.
Budidaya Kepiting Bakau sebagai Potensi Pesisir
Rangkaian kegiatan direncanakan berlanjut pada 28 Oktober 2026 melalui Bimtek mengenai budidaya kepiting bakau yang akan melibatkan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara sebagai pemateri.
Pembahasan budidaya kepiting bakau menjadi salah satu bagian penting dalam agenda tersebut karena berkaitan dengan potensi pemanfaatan sumber daya pesisir dan pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat.
Bambang menyampaikan bahwa dalam rapat teknis, dirinya bersama perwakilan BBPBAP Jepara juga diminta memberikan pandangan mengenai budidaya kepiting bakau dan kondisi ekosistem mangrove di Kabupaten Demak, khususnya kawasan Timbulsloko, Sayung.
“Kami bersama BBPBAP Jepara diminta memberikan pandangan mengenai budidaya kepiting bakau dan kondisi mangrove di Demak, khususnya di Timbulsloko, Sayung,” ungkap Sdr. Bambang.
Menurut Bambang, pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif konservasi lingkungan dengan pengembangan potensi perikanan pesisir. Keduanya perlu dipertimbangkan secara terpadu agar pemanfaatan sumber daya alam tetap memperhatikan kondisi dan daya dukung ekosistem.
Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis penting sebagai habitat berbagai jenis biota perairan, termasuk kepiting bakau. Karena itu, pengelolaan mangrove dan pengembangan budidaya perikanan perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keberlanjutan fungsi ekologis kawasan.
Pusdal LH Jawa Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Selain membahas rencana kegiatan lapangan, rapat teknis juga menjadi forum koordinasi untuk menghimpun dukungan dari berbagai dinas, instansi, organisasi, dan kelompok masyarakat yang diundang.
Pusdal LH Jawa meminta saran, arahan, serta masukan dari para pihak sebagai bahan pertimbangan dalam mempersiapkan kegiatan di Timbulsloko. Pembahasan tersebut mencakup peluang kolaborasi, dukungan kelembagaan, dan aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan.
“Dalam rapat, Pusdal LH Jawa meminta dukungan, saran, dan arahan dari dinas maupun pihak lain yang diundang untuk mempersiapkan kegiatan tersebut,” terang Sdr. Bambang.
Pertemuan ini melibatkan unsur Pemerintah Kabupaten Demak, pemerintah provinsi, instansi vertikal, serta organisasi masyarakat dan lingkungan. Sejumlah lembaga yang diundang antara lain Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah, BBPBAP Jepara, Wetland Demak, OISCA, dan KeSEMaT.
Kolaborasi multipihak dinilai penting mengingat persoalan pesisir Demak tidak dapat ditangani melalui satu pendekatan saja. Abrasi, banjir rob, perubahan kondisi lingkungan, pengelolaan sampah, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat merupakan persoalan yang saling berkaitan.
Upaya pemulihan pesisir Demak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan, terutama dalam penanganan sampah, konservasi mangrove, dan penguatan kapasitas masyarakat. Rencana kegiatan di Timbulsloko menjadi salah satu langkah untuk mendorong kepedulian lingkungan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan kolaboratif.
KeSEMaT Perkuat Peran Edukasi dan Konservasi
Keikutsertaan KeSEMaT dalam rapat teknis tersebut merupakan bagian dari dukungan organisasi terhadap penguatan kerja sama konservasi mangrove di kawasan pesisir Demak.
Sebagai organisasi yang berfokus pada edukasi, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat, KeSEMaT terus mendorong pendekatan pengelolaan ekosistem mangrove berbasis pengetahuan ilmiah dan partisipasi masyarakat.
Melalui jejaring ekosistem KeSEMaT, termasuk IKAMaT, IKLIMaT, Mangrove Map, dan Mangrove Tag, berbagai inisiatif konservasi dapat didukung melalui kegiatan edukasi, rehabilitasi, survei, pemetaan, serta pemantauan kondisi ekosistem mangrove.
Rencana keterlibatan KeSEMaT sebagai pemateri Bimtek mengenai dampak sampah terhadap keberlangsungan ekosistem mangrove menjadi salah satu bentuk kontribusi organisasi dalam memperluas pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan pesisir.
KeSEMaT berharap rangkaian kegiatan yang direncanakan oleh Pusdal LH Jawa pada 27–28 Oktober 2026 dapat memperkuat kepedulian lingkungan, membuka peluang kolaborasi berkelanjutan, dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara kesehatan ekosistem mangrove dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga teknis, organisasi lingkungan, dan masyarakat, upaya menjaga mangrove diharapkan terus berkembang menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan pesisir Demak yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (ADM/BJL).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar