1.12.21

KeSEMaT Narasumber Pembekalan Peserta Kelompok Tani Hutan CDK Wilayah II Jawa Tengah

Semarang - KeSEMaTBLOG. KeSEMaT kembali diundang menjadi narasumber, kali ini oleh Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah II, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dalam Pembekalan Peserta Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama, Peningkatan Kelas Kelompok Tani Hutan (KTH).

Kegiatan yang diselenggarakan di Desa Bonang, Demak mulai pukul 09.00 - 12.00 WIB dan dihadiri oleh 20 orang peserta ini, bertujuan untuk mengajarkan kepada masyarakat pesisir agar dapat mengelola sumber daya hutan pesisir sebagai sumber penghasilannya. (21/10/21). 

"Salah satu program kami, yakni mengembangkan warga desa pesisir dengan meningkatkan perekonomiannya," jelas Kepala CDK II. “Sebagai narasumber, saya memberikan materi mengenai kemudahan menjadi bagian dari KTH," tambahnya.

Sebagai informasi, Desa Bonang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Demak yang berada di pesisir pantai. Keanekaragaman jenis mangrovenya, cukup beragam. Beberapa warga telah memanfaatkan sumber daya mangrove yang ada, akan tetapi pengembangannya masih dilakukan secara individu.

"Sebagian besar warga desa kami, berprofesi sebagai nelayan dan petambak," jelas Bpk. Kuncoro, warga desa setempat. “Sebagian kecil lainnya mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengolah sumber daya mangrove yang ada, untuk dijadikan olahan makanan,” jelasnya lebih lanjut.

Kepala CDK II menambahkan bahwa telah terdapat kelompok yang secara bersama mengembangkan usahanya, yakni membuat olahan mangrove. Dia berharap bahwa kedepan, kelompok tersebut dapat terus bertahan, karena pihaknya juga akan memantau terus perkembangannya.

Sdr. Anggoro Da’an Budi Saputro (MENWIRA), selaku narasumber menyampaikan kisah sukses KeSEMaT dalam mendampingi warga binaannya, yang sudah berjalan selama sembilan tahun mengolah produk-produk mangrovenya, seperti jajanan, batik dan yang terbaru kopi mangrove.

“KeSEMaT memiliki warga binaan yang berlokasi di Semarang Mangrove Center,” jelas MENWIRA. “Untuk memproduksi olahan mangrove, kami mendirikan warga binaan yang terdiri dari ibu-ibu istri nelayan, dan bapak-bapak nelayan pesisir. Produk yang kami hasilkan adalah jajanan, batik dan kopi mangrove,” tambahnya.

Pada saat menyampaikan presentasi, MENWIRA juga memberikan contoh produk yang telah dibuat oleh warga binaan KeSEMaT.

“Ini adalah batik mangrove Mas Bamat. Batik mangrove ini, berasal dari pewarna alami yang dibuat dari buah mangrove yang telah jatuh dan membusuk di tanah,” kata MENWIRA. “Kami menggunakan pewarna dari limbah mangrove dan mengubahnya menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi,” tambahnya.

Antusiasme warga Desa Bonang dengan batik mangrove sangat tinggi, karena di desa ini belum terdapat batik, melainkan jajanan mangrove saja.

“Saya tertarik dengan batik mangrove Mas Bamat yang dipresentasikan oleh Mas Anggoro," ujar Bpk. Kuncoro. "Batik ini berasal dari limbah Bakau. Di sini cukup banyak Bakau, akan tetapi belum ada yang dapat mengolahnya menjadi batik. Ke depan, saya dan teman-teman di desa, berencana akan mengundang KeSEMaT lagi, untuk mengajarkan kepada kami, cara membuat batik mangrove,” ujarnya lebih lanjut.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan, pemberian sambutan, penyampaian materi mengenai kelembagaan oleh kepala CDK II, yang ditutup dengan pemberdayaan desa binaan oleh KeSEMaT. Keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar, yang akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan pembuatan KTH di Desa Bonang, Demak. (AP/ADBS/ADM).

No comments:

Post a Comment