19.3.22

KeSEMaT Narasumber Talkshow Mangrove Week 2021 BRGM di Jakarta Convention Center

Jakarta – KeSEMaTBLOG. KeSEMaT kembali didaulat sebagai narasumber, kali ini, dalam kegiatan talkshow Mangrove Week (MW) 2021 dengan tema "Jelajah Rasa dan Karya: Serba-Serbi Produk Mangrove” yang diselenggarakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), mulai pukul 15.30 - 17.00 WIB . (20/12/21).

Sebagai informasi, Presiden Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden No. 120 Tahun 2020 telah melakukan perubahan nomenklatur, tugas, fungsi, target, dan jangka waktu pelaksanaan tugas pada Badan Restorasi Gambut (BRG) menjadi BRGM.

Salah satu tugas dari BRGM adalah melakukan percepatan rehabilitasi mangrove di 9 (sembilan) provinsi prioritas rehabilitasi mangrove, yaitu Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papura Barat dengan luasan 600.000 ha dari tahun 2021 hingga 2024.

Salah satu bentuk penyebarluasan informasi, edukasi dan sosialisasi kepada publik terkait pelaksanaan percepatan rehabilitasi mangrove, maka BRGM menginisiasi kegiatan MW 2021 yang diselenggarakan secara offline di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Kegiatan talkshow ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan di hari pertama, yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai dari tanggal 20 hingga 22 Desember 2021.

Selain didaulat untuk menjadi narasumber, KeSEMaT juga memamerkan produk olahan mangrovenya di stand pameran toko mangrove daringnya, yaitu KeMANGI bersama warga binaannya.

Acara talkshow yang dihadiri secara offline oleh ratusan orang ini, juga dapat ditonton live secara online via YouTube.

Dipandu oleh Ibu Prita Laura sebagai pemantik diskusi, talkshow menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Sdr. Ghifar Naufal Aslam (Presiden KeSEMaT), Bpk. Abdul Latief (Ketua Kalompok Mina Mangrove Persada) dan Ibu Pudji Hariana (Owner Somano).

Sdr. Ghifar menyampaikan visi dan misi KeSEMaT dalam upaya membangun industri mangrove di Indonesia melalui pengolahan aneka produk olahan mangrove non kayunya, dengan membentuk tiga warga binaannya yang mengolah batik, jajanan dan kopi mangrove.

"Warga binaan kami bernama Srikandi Pantura, Bina Citra Karya Wanita dan Arjuna Berdikari, yang masing-masing mengolah batik, jajanan dan kopi dari mangrove," jelas Presiden.

Dalam sesi diskusi, Presiden menjawab beberap pertanyaan seputar pemasaran produk mangrove secara daring dan luring.

"Selain memiliki toko luring di Semarang, kami juga membuat toko daring bernama KeMANGI, dimana pelanggan kami dari Indonesia bahkan dunia dapat membeli produk-produk olahan mangrove kami secara daring di website," terang Sdr. Ghifar.

Presiden juga menjelaskan mengenai permasalahan utama dalam pengembangan mangrove di Indonesia, yaitu ketiadaan industrinya. Untuk itulah, sejak tahun 2001, KeSEMaT berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkannya tanpa meninggalkan sisi ekologinya. 

"Sejak tahun 2001, kami mulai mengembangkan industri mangrove di Indonesia. Selain produk-produk mangrove non kayu, kami juga mendirikan industri mangrove kreatif digital, seperti galang dana mangrove online dan pemantauan mangrove online yang dapat menyerap tenaga kerja lulusan S1 hingga S3," kata Presiden. 

Presiden menambahkan bahwa saat ini, industri mangrove sudah mulai berkembang apabila dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, di awal KeSEMaT berdiri.

"Kami senang, industri mangrove yang kami kembangkan mulai sukses menampakkan hasilnya di tahun 2021 ini," terang Sdr. Ghifar. "Namun demikian, masih perlu diatur regulasinya di tingkat pusat, agar produksi dan pemasarannya dapat lebih optimal dan melindungi hak-hak kami, selaku pelaku UMKM di bidang mangrove," pungkasnya. (GNA/AP/ADM).

No comments:

Post a Comment