17.8.23

Soroti Tata Kelola Air Tanah, Banjir Rob dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat dengan Mangrove, KeSEMaT Hadiri Pekan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim KEMITRAAN di Pekalongan

Semarang - KeSEMaTBLOG. KeSEMaT menghadiri Pekan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh KEMITRAAN di Pekalongan, Jawa Tengah. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Sdr. Agape Lista Anthoni (Presiden), Sdr. Makruf Ashari (MENSETSI), Sdri. Afrida Dwiyanti (MENDIKTAN) dan Sdri. Fitriya Ayu Setyani (MENKEU). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, mengangkat tema Strategi Penanganan Banjir Rob Pada Dampak Perubahan Iklim. (20-21/7/2023).

Pada hari pertama, diseleggarakan Seminar Nasional, mulai pukul 10.00 - 15.30 WIB di Kantor Sekretaris Daerah Kota Pekalongan. Kegiatan yang dihadiri oleh lembaga terkait perubahan iklim di Jawa Tengah ini, menghadirkan pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Keuangan (KEMENKEU) dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

Secara berturut-turut, pembicara menjelaskan mengenai upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim, pengalokasian anggaran dan peningkatan kapasitas pesisir sebagai bentuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pada kesempatan ini mengemuka fakta bahwa banjir rob yang terjadi di Pekalongan merupakan dampak dari perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang terjadi akibat kurangnya aturan pengelolaan air tanah, terutama pada daerah industri batik, mengingat penurunan muka tanah yang paling signifikan terjadi pada wilayah tersebut. Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperkirakan pada tahun 2035, 80% wilayah Kota Pekalongan akan tenggelam.

"Hasil dari kajian menyatakan bahwa kenaikan muka air laut hanya berkisar 0,1 sampai dengan 0,5 cm/tahun. Dengan demikian, maka penurunan muka tanah merupakan permasalahan utama yang menyebabkan banjir rob," kata Presiden. "Penurunan muka tanah ini terjadi karena pengambilan air tanah besar-besaran di daerah industri. Untuk itulah, maka diperlukan regulasi pengambilan air tanah yang tepat dari pemerintah agar bencana banjir rob tidak terjadi semakin meluas di Pekalongan," terangnya lebih lanjut.

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dimulai pada pukul 09.00 - 11.30 WIB. Pada kesempatan ini, Sdri. Afrida menyampaikan mengenai upaya adaptasi yang sudah berhasil dilakukan oleh KeSEMaT di Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng).

“Banjir rob sangat berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Hal tersebut dapat mempengaruhi perekonomian mereka,” ujar Sdri. Afrida. “Di SMC Jateng kami mendirikan tiga warga binaan yang mengolah kopi, jajanan dan batik mangrove sebagai bentuk nyata dari adaptasi perubahan iklim, dengan pengelolaan hutan mangrove untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (AD/ALA/MA/FAS/AP/ADM).

No comments:

Post a Comment