7.5.09

Tua dan Muda Tanam Mangrove Bersama

Semarang – KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping ini. Tiga orang manusia dari tiga generasi yang berbeda, terlihat sedang asyik menanam bibit-bibit mangrove Rhizophora, di pematang tambak-bagian-dalam. Foto ini diambil oleh KeSEMaT pada tanggal 6 Mei 2009 di Kelurahan Mangkang Kulon, Semarang, tepat pada pukul 10.30 WIB. Ketiganya melakukan penanaman mangrove dalam rangka menyukseskan program rehabilitasi mangrove yang diinisiasi oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Pusat Jakarta yang bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota (DKP PEMKOT) Semarang, LSM LEPASS Semarang, KeSEMaT dan Kelompok Tani Tambak FORMATA Mangkang Kulon.

Program rehabilitasi mangrove ini, diharapkan bisa berhasil dengan sukses. Konsep pembuatan lokasi mangrove percontohan seperti yang telah dilakukan oleh KeSEMaT di Teluk Awur Jepara akan diadopsi di Mangkang Kulon, ini. Program penanaman mangrove yang tidak berpindah-pindah sebelum satu buah lokasi tertanami mangrove dengan baik dan berhasil, memang sengaja akan diterapkan di sebuah lokasi di Kecamatan Mangkang Semarang, ini. Penetapannya sebagai daerah percontohan tak lepas dari sudah baiknya partisipasi masyarakat Mangunharjo, Mangkang Wetan dan Mangkang Kulon terhadap pencegahan ekosistem pesisirnya dari kerusakan.

Kembali ke tiga orang di atas. Ketiga orang di foto ini, masing-masing adalah Bapak Iwan Setiawan dari DKP Pusat Jakarta (bertopi putih merah), Bapak Kyai dari FORMATA (berbaju batik warna biru putih) dan Abdul Muis Syaifudin dari KeSEMaT (ber-Pakaian Seragam Lapangan KeSEMaT warna hijau). Diantara puluhan orang yang terlibat dalam penanaman mangrove di siang itu, ketiganya terlihat sangat menikmati pekerjaannya. Sambil bercanda dan bertukar cerita, Pak Iwan, Pak Kyai dan Muis begitu bersemangat menanam satu persatu bibit-bibit Rhizophora-nya.

Memang, untuk menanam mangrove, tak diperlukan batasan umur. Setidaknya, inilah yang dicontohkan dengan baik oleh Pak Iwan, Pak Kyai dan Muis. Tak pandang usia, ketiganya dengan asyiknya bertelanjang kaki, berjalan dan menceburkan kedua kakinya ke lumpur-lumpur tambak yang kotor. Tak hanya itu, teriknya sang Mentari yang sedang “getol-getolnya” membakar tanah di sepanjang jalan pematang, seolah tak dirasakan oleh telapak kaki mereka.

Bahkan, Pak Kyai yang sudah 80-an dan Pak Iwan yang juga telah seusia orang tua kita, setelah beberapa waktu berkubang di lumpur tambak, akhirnya berhasil menanam puluhan Rhizopora muda. Pertanyaannya sekarang, bila Pak Kyai dan Pak Iwan yang sudah tidak muda lagi, begitu peduli dan sangat bersemangat sekali dalam menanam mangrove di pesisir kita, bagaimana dengan kita yang masih muda-muda ini. Adakah kita juga memiliki semangat dan kepedulian yang sama layaknya kedua “orang tua” kita, itu? Semoga. Salam MANGROVER!

No comments:

Post a Comment