4.2.12

Kisah Tragis, Mangrove dan Pesisir Trimulyo, Semarang

Trimulyo – KeSEMaTBLOG. Salah seorang KeSEMaTER, yaitu Sdr. Rohimat, telah menulis sebuah reportase mangrove menarik mengenai kegiatan mangrovingnya yang beberapa saat lalu, telah dilaksanakan di pesisir terabrasi di Semarang. Berikut ini adalah reportasenya, semoga bisa menginspirasi kita semua. KeSEMaT melakukan survei pertamanya untuk kegiatan Mangrove Restoration (MANGRES) 2012 di Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 2012 yang lalu.

Kegiatan survei ini bertujuan untuk mencari lokasi yang cocok untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan mangrove, sekaligus mencari informasi tentang perizinan yang harus dilakukan. Kegiatan survei ini dilakukan oleh dua orang KeSEMaTER, yaitu Sdr. Rohimat (Staf Ahli MENDIKTAN) dan Sdr. Galih Suci (Staf Ahli MENWIRA).

Kelurahan Trimulyo merupakan salah satu tempat yang sering dijadikan sebagai tempat penanaman dan pemeliharaan mangrove, baik itu oleh perusahaan, mahasiswa, instansi, lembaga pemerintahan maupun kelompok lain yang peduli akan mangrove. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Kantor KeSEMaT di Ngesrep, Semarang, akhirnya para KeSEMaTER tiba di Kelurahan Trimulyo.

Sesampainya di sana, para KeSEMaTER langsung dihadapkan dengan pemandangan yang sangat miris. Ternyata, di kelurahan dan jalan menuju lokasi untuk penanaman mangrovenya, terkena air rob yang menyebabkan banyak bagian jalan yang telah rusak tersebut, terendam. Bahkan, salah satu rumah yang berada di dekat kantor kelurahan, nampak tidak ada penghuninya karena terendam (lihat gambar di atas). Hal ini membuat para KeSEMaTER penasaran, untuk mengetahui kondisi pesisirnya.

Perjalanan KeSEMaTER ke lokasi penanaman dan pemeliharaan mangrovepun dilanjutkan, dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Sesampainya di lokasi, pemandangan yang didapatkan tidak kalah miris dengan pemandangan sebelumnya di sekitar kelurahan. Di sana ada beberapa rumah warga yang berbatasan langsung dengan laut, yang hampir membuat rumah tersebut tenggelam dan terbawa ombak. Hal ini dikarenakan, di belakang rumah-rumah tersebut, tidak terlindungi pohon-pohon mangrove. Vegetasi mangrove muda yang nampak tipis, hanya terlihat di bagian pinggir sebelah kanan dan kirinya saja. Kemungkinan, inilah salah satu penyebab, banjir rob bisa masuk ke kelurahan dan rumah warga, dan menenggelamkannya.

Selanjutnya, di samping kanan rumah-rumah tersebut, terdapat vegetasi mangrove yang cukup banyak tapi tipis, berderet mengikuti arah pematang yang merupakan pembatas antara aliran sungai dan laut. Keberadaan sungai tersebut sangat miris, selain keruh dan kotor, airnya nampak tidak mengalir, karena ketinggian air sungai sama dengan ketinggian air laut, sehingga air tersebut terlihat diam. Di laut, terbentang banyak sekali jaring hitam yang ketika ditanya kepada warga setempat, ternyata itu merupakan batas tambak mereka.

Jenis substrat di lokasi tersebut, adalah lumpur yang diduga hasil dari penggerusan daratan yang terabrasi. Sementara itu, banyak ditemui jenis mangrove Rhizophora spp. Mangrove yang tumbuh di sana sudah cukup bagus, dan terlihat sangat hijau berderet sepanjang pematang. Tapi, sayangnya jumlahnya masih sedikit. Namun demikian, kabar baiknya adalah, di lokasi ini, tetap dilakukan program penanaman dan pemeliharaan mangrove secara kontinyu oleh warga setempat dan organisasi lainnya, tak terkecuali KeSEMaT. Variasi tanaman mangrove juga bisa dengan mudah ditemukan. Hal ini terlihat dari perbedaan mangrove yang tumbuh di sana. Ada yang terlihat masih kecil dan diperkirakan baru ditanam sekitar 2-3 bulan yang lalu.

Keberadaan mangrove yang masih kecil ini, di sepanjang pematang, tentu saja tidak bisa langsung melindungi daratan dari terpaan ombak yang datang, karena pada keadaan seperti itu, mangrove belum dapat memberikan fungsi perlindungan yang optimal, ditambah lagi dengan ketebalan mangrovenya yang masih tipis. Hal inilah yang diduga menyebabkan tingkat abrasinya masih cukup tinggi, yang dibuktikan dengan banyaknya tanah yang ambruk di sekitar pematang tambak, tergerus ombak (lihat gambar di atas).

Dengan demikian, ini merupakan pekerjaan rumah besar untuk kita, agar terus berupaya menyelamatkan lingkungan pesisir di Trimulyo, bisa tetap terjaga. Marilah kita bersama-sama untuk menjaga dan melindungi mangrove dan pesisir kita, dengan mulai peduli terhadap mangrove, baik itu dengan melakukan penanaman dan pemeliharaan mangrove di sekitar pesisir ataupun dengan hal lain yang setidaknya dapat menyelamatkan dan melindungi pesisir kita. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Semangat MANGROVER!