8.2.12

Press Release, Pelatihan Pembuatan Kue Mangrove dan Rehabilitasi Mangrove Berbasis Pondok Pesantren di Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Berikut ini adalah Press Release, Pelatihan Pembuatan Kue Mangrove dan Rehabilitasi Mangrove Berbasis Pondok Pesantren di Semarang.

LATAR BELAKANG
Telah kita ketahui bersama bahwa rob dan abrasi pantai adalah bencana yang rutin melanda kota Semarang. Padahal, Semarang ingin mewujudkan dirinya sebagai kota religious yang berbasis jasa dan perdagangan, juga ingin layak menyandang sebutan Semarang Pesona Asia. Namun rutinitas rob dan besarnya abrasi telah membentuk citra kota yang negatif.

Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah kita bersama, yang harus sesegera mungkin kita atasi atau setidaknya dapat kita kurangi. Keberadaan vegetasi mangrove telah terbukti dapat menekan laju abrasi, dan kedepanya ikut andil dalam mengatasi rob. Namun sayangnya, fakta ini belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat khususnya warga Semarang. Sebagian besar warga masih belum mengetahui apa itu mangrove, berikut manfaat dan fungsinya. Hal ini dapat dilihat dari empat kecamatan di Semarang yang langsung berbatasan dengan laut, yaitu Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara dan Genuk, masih sedikit sekali pantai dengan mangrove dalam kondisi baik.

Rehabilitasi mangrove akan sangat efektif apabila semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi. Tidak hanya berasal dari inisiasi pemerintah sebagai pengambil kebijakan atau dikenal dengan istilah up to down, tetapi harus juga diikuti oleh lapisan masyarakat bawah atau bottom up. Salah satu motor penggerak masyarakat adalah pesantren. Tak khayal kharisma seorang kyai atau ulama masih memegang pengaruh yang cukup kuat dalam tata perilaku masyarakat. Lebih dari 70 pondok pesantren terdapat di Semarang, sebagian terletak dekat dengan pesisir di 4 kecamatan yang telah disebutkan di atas. Fenomena ini akan menjadi nilai lebih bagi kemajuan proses rehabilitasi dan pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan di Kota Semarang, apabila pesantren ikut dilibatkan secara aktif.

HASIL YANG DIHARAPKAN
Mayoritas warga Kota Semarang adalah muslim. Bagi orang Islam, pesantren merupakan pusat media pembelajaran baik rohani maupun hal-hal yang menyangkut keduniawian. Masyarakat sangat menghormati posisi para kyai atau ulama. Apa yang mereka sampaikan akan lebih mudah didengar dan dijalankan di kehidupan nyata. Pelatihan yang eco-friendly atau lebih khusus lagi, yaitu mangrove-friendly berbasis pesantren, dapat dibaratkan seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kegiatan tersebut dapat memberi pengetahuan ke warga pesantren dan masyarakat sekitar tentang pelestarian dan pemanfaatan mangrove berkelanjutan di Kota Semarang.

Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi pilot project ditengah-tengah masyarakat, tentang bagaimana usaha yang ramah lingkungan tetap bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi. Efek domino positif tidak berhenti sampai disitu. Warga pesantren pada umumnya berasal dari berbagai daerah tidak hanya dari sekitar pondok pesantren. Mereka adalah calon pendakwah yang akan sering bertemu dan berbicara dengan masyarakat. Suatu hal yang wajar, apabila pengetahuan pelestarian dan pemanfaatan mangrove berkelanjutan yang mereka dapat melalui kegiatan ini, akan mereka tularkan kelak. Karena tidak ada agama apapun di dunia ini, yang tidak menganjurkan umatnya untuk melestarikan lingkungan, termasuk lingkungan mangrove.

Atas dasar-dasar tersebut di atas, maka KeSEMaT bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Kue Mangrove dan Rehabilitasi Mangrove Berbasis Pondok Pesantren di Semarang. Pelatihan mangrove ini merupakan salah satu tahapan dari beberapa tahapan yang akan dicapai dalam mewujudkan kelestarian pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan di pesisir Kota Semarang.

TUJUAN UMUM
Lebih mengikutsertakan pesantren di daerah pesisir Semarang dalam gerakan rehabilitasi mangrove di Kota Semarang.

TUJUAN KHUSUS
1. Meningkatkan kesadaran warga Kota Semarang atas pentingnya mangrove melalui pesantren.
2. Sosialisasi cara pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan.
3. Membuat pilot project usaha kecil yang mangrove-friendly di tengah masyarakat.
4. Secara tidak langsung mengurangi abrasi dan rob pada masa yang akan datang di Kota Semarang.

BENTUK KEGIATAN
Kegiatan pelatihan mangrove akan dilaksanakan dalam bentuk (a) presentasi makalah yang disertai dengan tanya jawab antara peserta dengan pembicara, (b) praktek membuat kue mangrove. Pelatihan ini akan diikuti oleh lima puluh (50) orang yang terdiri dari santri putra dan putri dari enam pondok pesantren, dari empat kecamatan yang berada di pesisir Kota Semarang, yaitu Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara dan Genuk, para KeSEMaTER dan para KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang berasal dari universitas-universitas yang ada di Semarang dan sekitarnya.

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Sabtu, 11 Februari 2012
Waktu : 08.00 WIB – 12.00 WIB
Tempat : Ponpes Al Islah, Jl. Kyai Gilang Kauman, Mangkang Kulon, Semarang.

SUSUNAN ACARA
08:00 WIB Registrasi
09:00 WIB Pembukaan
09:15 WIB Presentasi 1 : “Apa itu Mangrove dan Kondisinya di Kota Semarang?”
10:00 WIB Presentasi 2 : “Kuliner Mangrove: Halalan Toyyiban”
10:30 WIB Demo Memasak Kue Mangrove
12:00 WIB Penutup dan Ishoma

CONTACT PERSON
Kantor KeSEMaT
Jl. Ngesrep Barat V/35
Semarang Jawa Tengah – Indonesia
P. +622470527552 F. +62247474698
CP. Sapto Pamungkas, S. Kel. HP 085 640 668 705
E. kesemat@undip.ac.id W. www.kesemat.undip.ac.id

PENUTUP
Demikian press release ini disampaikan. Semoga dapat dimengerti oleh semua pihak yang terkait, demi kelancaran acara kegiatan. Atas perhatian dan kerjasama yang diberikan, kami ucapkan terima kasih.