5.2.11

Kami Cinta Mangrove Kami. Bagaimana Dengan Kamu?

Rembang – KeSEMaTBLOG. Kalau sudah di hutan mangrove, kami memang akan lupa segalanya. Lihatlah foto di samping ini, begitu melihat sebuah bayi mangrove, kami begitu kegirangan untuk menyempatkan diri berfoto bersamanya. Bayi Rhizophora yang baru berumur 5 bulan-an ini, langsung saja kami ambil, dan tak peduli badan kami masih belepotan dengan lumpur, kami segera meminta sang Fotografer untuk mengabadikan pertemuan kami dengan si Kecil yang baru mulai tumbuh, ini. Jepret...jepret...jepret. Kunjungan kami ke pesisir Pasar Banggi Rembang, selain untuk mengikuti acara pelantikan kami sebagai KeSEMaTER XI, juga sebagai ajang latihan kami, dalam mengidentifikasi beragam jenis mangrove, berlatih berorganisasi, bertemu masyarakat pesisir dan yang paling penting adalah memupuk rasa sayang dan cinta kami kepada mangrove.

Dan, di hari itu, kami memang begitu menggila. Di salah satu titik pesisirnya yang sangat luas, berhadapan langsung dengan Laut Jawa yang melegenda, kami bermain-main dengan ratusan bayi mangrove. Kami menancapkan mereka ke lumpur hitam, untuk memberi kesempatan kepada mereka tumbuh dan berkembang, dan tak lupa bermain lumpur ke sana ke mari.

Pesisir mangrove Pasar Banggi yang sangat luas, membuat kami terkagum-kagum. Antara percaya dan tidak, puluhan hektar kawasan mangrove hasil penanaman kembali seorang Maestro Mangrove dari Rembang, Pak Yadi, awalnya tak pernah kami sangka keberadaannya. Apa pasal (?), karena kawasan mangrove ini, tertutupi dengan area pertambakan garam dan ikan yang begitu luas.

Namun, begitu kami selesai menapaki tanah terakhirnya, kami langsung tercekat. Sebuah pemandangan mencengangkan, hutan mangrove yang sangat lebat dengan akar-akar gantungnya yang seolah menjuntai dari langit, membuat kami tak bisa berkata-kata lagi. Jajaran pepohonannya yang menjulang, menyadarkan kami begitu kuasanya, sang Pencipta.

Menurut cerita sang Maestro, semenjak tahun 1960, beliau telah mengelola hutan mangrove ini, dengan tekanan lahan dan cemoohan dari warga sekitar yang sangat tinggi. Namun, setelah Pak Yadi dengan sabar menjelaskan akan arti penting mangrove, diantaranya sebagai pelindung tambak dari abrasi dan penghalang angin yang “menyerbu” pertambakan kepada masyarakat sekitar, secara perlahan persepsi mereka berubah, dan mulai mendukung Pak Yadi, untuk terus melakukan pembibitan, penanaman dan penyulaman di pesisir Pasar Banggi.

Kini, di tahun 2011, saat kami menjejakkan kaki kami ke area kerja Pak Yadi, kami telah merasakan manfaat mangrove bagi pesisir dan masyarakat sekitarnya. Sekarang, mangrove tak hanya berfungsi sebagai pencegah abrasi, penghalau angin dan badai saja, namun lebih dari itu, juga mampu meningkatkan taraf penghidupan warga sekitar dari hasil penjualan bibit mangrove ke institusi yang membutuhkan.


Hasil dari penjualan bibit mangrove ini, nyata telah mampu menggerakkan roda kehidupan dan perkembangan kelompok tani mangrove setempat menjadi sejahtera. Melihat hal ini, kami menjadi sadar, bahwa inilah manfaat mangrove yang sebenarnya, yaitu mampu berperan di sisi ekologi dan juga ekonomi. Sungguh, ini adalah sebuah manfaat yang sangat besar bagi bumi dan umat manusia. Maka, tak salah bila kami memang benar-benar cinta dengan mangrove kami. Bagaimana dengan kamu? Semangat MANGROVER!