Semarang - KeSEMaTBLOG. Berapa karbon yang diserap satu pohon mangrove? Pertanyaan ini sering muncul dalam kampanye lingkungan, program penanaman, laporan keberlanjutan perusahaan, hingga promosi donasi mangrove. Jawabannya kerap disederhanakan menjadi satu angka tertentu, misalnya satu pohon mangrove dianggap mampu menyerap sekian kilogram karbon atau karbon dioksida setiap tahun.
Angka tersebut terlihat praktis. Perusahaan dapat menghitung jumlah pohon yang perlu ditanam, penyelenggara program dapat membuat sertifikat, sedangkan publik memperoleh gambaran yang mudah dipahami.
Namun, dari sudut pandang ilmiah, klaim karbon per pohon mangrove tidak dapat diperlakukan sebagai angka yang berlaku universal.
Kemampuan mangrove dalam menyimpan dan menyerap karbon dipengaruhi oleh umur, jenis, diameter batang, tinggi pohon, kerapatan tegakan, kondisi hidrologi, salinitas, karakteristik sedimen, ketersediaan unsur hara, gangguan lingkungan, hingga riwayat penggunaan lahan.
Lebih penting lagi, karbon mangrove tidak hanya tersimpan pada batang, cabang, daun, dan akar. Sebagian besar karbon dalam ekosistem pesisir justru dapat tersimpan di dalam tanah dan sedimen selama waktu yang sangat panjang.
Karena itu, pertanyaan mengenai karbon mangrove seharusnya tidak berhenti pada:
“Berapa kilogram karbon yang diserap satu pohon?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa perubahan stok karbon seluruh ekosistem mangrove dalam periode tertentu dibandingkan dengan kondisi tanpa program?”
Perbedaan tersebut sangat penting agar mangrove tidak hanya diperlakukan sebagai kumpulan pohon, angka penanaman, atau alat pembenaran klaim pengurangan emisi.
Mengapa Klaim Karbon per Pohon Mangrove Sangat Populer?
Klaim karbon per pohon populer karena sederhana, mudah dikomunikasikan, dan mudah digunakan dalam kegiatan pemasaran.
Informasi seperti “satu pohon mangrove menyerap sekian kilogram karbon” dapat dengan cepat diubah menjadi berbagai bentuk komunikasi:
- satu pembelian setara dengan satu pohon;
- satu peserta menanam satu mangrove;
- satu produk mengimbangi sejumlah emisi;
- seribu bibit dianggap menghasilkan seribu unit penyerapan karbon;
- jumlah pohon langsung dikonversi menjadi ton karbon dioksida.
Model komunikasi tersebut memberikan kesan bahwa hubungan antara jumlah pohon dan pengurangan emisi bersifat pasti, linear, serta mudah dihitung.
Padahal, pohon bukan satuan baku kredit karbon.
Dua pohon mangrove dengan jenis yang sama belum tentu menyimpan karbon dalam jumlah yang sama. Pohon yang tumbuh pada lokasi berbeda dapat memiliki diameter, tinggi, percabangan, biomassa akar, tingkat pertumbuhan, dan peluang hidup yang berbeda.
Bahkan dua pohon yang ditanam pada hari yang sama dapat mengalami perkembangan yang sangat berlainan akibat perbedaan elevasi, frekuensi genangan, energi gelombang, salinitas, sedimentasi, kompetisi, hama, sampah, dan gangguan manusia.
Karena itu, angka rata-rata dari suatu penelitian tidak boleh langsung dipindahkan ke setiap pohon pada semua lokasi.
Satu Pohon Mangrove Tidak Memiliki Angka Karbon yang Tetap
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan pesisir yang sangat beragam. Setiap jenis memiliki karakter pertumbuhan, bentuk batang, sistem perakaran, kerapatan kayu, toleransi salinitas, dan respons lingkungan yang berbeda.
Kandungan karbon suatu pohon biasanya tidak diukur dengan hanya menghitung keberadaan pohon tersebut. Peneliti terlebih dahulu memperkirakan biomassa pohon menggunakan pengukuran lapangan dan persamaan alometrik.
Apa yang Dimaksud dengan Persamaan Alometrik?
Persamaan alometrik adalah persamaan yang digunakan untuk memperkirakan biomassa pohon berdasarkan karakteristik yang dapat diukur di lapangan.
Variabel yang sering digunakan meliputi:
- diameter batang;
- tinggi pohon;
- jenis mangrove;
- kerapatan kayu;
- bentuk pertumbuhan;
- kondisi tegakan.
Setelah biomassa diperkirakan, sebagian dari nilai biomassa tersebut kemudian dikonversi menjadi kandungan karbon.
Metode ini jauh lebih ilmiah dibandingkan sekadar mengalikan jumlah pohon dengan satu angka karbon yang dianggap berlaku umum.
Penelitian mengenai biomassa mangrove juga menunjukkan bahwa ketepatan estimasi sangat bergantung pada kesesuaian persamaan alometrik yang digunakan. Persamaan yang dikembangkan untuk satu jenis atau wilayah belum tentu menghasilkan estimasi yang tepat apabila digunakan pada jenis dan kondisi lingkungan yang berbeda.
Dengan demikian, angka karbon satu pohon sebenarnya merupakan hasil estimasi yang memiliki asumsi dan ketidakpastian, bukan angka mutlak yang melekat pada setiap mangrove.
Faktor yang Memengaruhi Karbon Satu Pohon Mangrove
Umur Pohon
Bibit mangrove yang baru ditanam memiliki biomassa yang sangat kecil dibandingkan dengan mangrove yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Ketika pohon tumbuh, diameter batang, tinggi, jumlah cabang, luas tajuk, dan biomassa akar bertambah. Peningkatan tersebut menyebabkan kandungan karbon dalam jaringan tumbuhan ikut meningkat.
Namun, pertumbuhan mangrove tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Pada fase tertentu, pertumbuhan dapat berlangsung cepat, kemudian melambat ketika pohon memasuki usia tertentu atau menghadapi keterbatasan lingkungan.
Karena itu, angka karbon pohon berumur satu tahun tidak dapat disamakan dengan pohon berumur lima, sepuluh, atau puluhan tahun.
Jenis Mangrove
Setiap jenis mangrove memiliki karakteristik yang berbeda.
Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia marina, Avicennia alba, Sonneratia alba, dan jenis mangrove lainnya tidak selalu memiliki pola pertumbuhan serta kerapatan kayu yang sama.
Perbedaan tersebut memengaruhi jumlah biomassa dan karbon yang dapat tersimpan pada ukuran pohon yang terlihat serupa.
Jenis yang tumbuh cepat belum tentu memiliki kerapatan kayu yang sama dengan jenis yang tumbuh lebih lambat. Demikian pula, jenis yang memiliki batang besar belum tentu menyimpan karbon bawah tanah dalam proporsi yang sama dengan jenis lainnya.
Kajian terhadap penanaman mangrove menunjukkan bahwa pemilihan jenis dan kesesuaian habitat dapat memengaruhi kemampuan tegakan dalam mengakumulasi karbon pada vegetasi maupun tanah.
Diameter Batang
Diameter batang merupakan salah satu variabel penting dalam pendugaan biomassa pohon.
Secara umum, pohon berdiameter lebih besar memiliki biomassa lebih tinggi dibandingkan dengan pohon berdiameter kecil. Akan tetapi, hubungan antara diameter dan biomassa tidak selalu bersifat linear.
Pohon dengan diameter dua kali lebih besar tidak otomatis hanya memiliki biomassa dua kali lebih banyak. Struktur pohon, tinggi, percabangan, kerapatan kayu, dan persamaan alometrik yang digunakan ikut menentukan hasil estimasi.
Inilah alasan mengapa penghitungan karbon tidak cukup dilakukan dengan menghitung jumlah pohon.
Seribu bibit kecil dan seribu pohon dewasa merupakan dua kondisi yang sangat berbeda.
Tinggi dan Struktur Pohon
Selain diameter, tinggi pohon dan struktur percabangan dapat memengaruhi total biomassa.
Dua pohon dengan diameter batang serupa dapat memiliki tinggi, jumlah cabang, luas tajuk, dan sistem perakaran yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menghasilkan kandungan karbon yang berbeda pula.
Mangrove yang tumbuh pada lokasi terbuka dan terkena angin kuat mungkin memiliki bentuk lebih pendek dan melebar. Sementara itu, mangrove yang tumbuh dalam tegakan rapat dapat berkembang lebih tinggi karena berkompetisi memperoleh cahaya.
Kondisi Lokasi
Lokasi menentukan apakah mangrove dapat tumbuh, bertahan hidup, dan membentuk ekosistem yang stabil.
Faktor lokasi meliputi:
- elevasi;
- lama dan frekuensi genangan;
- pasang surut;
- salinitas;
- gelombang;
- arus;
- sedimentasi;
- erosi;
- ketersediaan unsur hara;
- kualitas air;
- gangguan antropogenik.
Mangrove yang ditanam pada lokasi yang tidak sesuai mungkin tetap hidup selama beberapa bulan, tetapi kemudian mengalami pertumbuhan lambat, stres, kerusakan, atau kematian.
Sebaliknya, mangrove yang tumbuh pada habitat sesuai dapat berkembang, beregenerasi, menangkap sedimen, dan membangun stok karbon dalam jangka panjang.
Oleh sebab itu, angka penyerapan karbon tidak dapat dilepaskan dari kesesuaian ekologis lokasi.
Salinitas
Mangrove mampu hidup di lingkungan asin, tetapi bukan berarti seluruh mangrove tumbuh optimal pada tingkat salinitas yang sama.
Salinitas yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan fisiologis terhadap tumbuhan. Mangrove harus menggunakan energi untuk mengatur kadar garam, mempertahankan keseimbangan air, dan menjalankan proses metabolisme.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan batang, daun, akar, dan biomassa secara keseluruhan.
Perubahan salinitas akibat musim, aliran sungai, pembangunan pesisir, penutupan saluran, atau perubahan hidrologi juga dapat memengaruhi produktivitas ekosistem.
Kondisi Tanah dan Sedimen
Mangrove tidak tumbuh pada ruang kosong. Mangrove berkembang pada sistem tanah dan sedimen yang dipengaruhi oleh pasang surut, bahan organik, mineral, mikroorganisme, serta proses pengendapan.
Tekstur sedimen, kandungan bahan organik, kedalaman tanah, kepadatan tanah, kondisi anaerobik, dan laju sedimentasi dapat menentukan besarnya karbon yang tersimpan di bawah permukaan.
Kajian pada berbagai ekosistem mangrove menunjukkan bahwa kondisi hidrologi, sedimentasi, iklim, dan karakter lokasi dapat menyebabkan perbedaan besar dalam penyimpanan karbon tanah.
Dengan demikian, menyamakan karbon seluruh mangrove hanya berdasarkan jumlah pohon dapat mengabaikan komponen terbesar dari sistem penyimpanan karbon pesisir.
Karbon Pohon Berbeda dari Karbon Ekosistem Mangrove
Salah satu kesalahan paling umum dalam komunikasi karbon adalah menyamakan karbon pohon dengan karbon ekosistem.
Karbon pohon hanya mencakup karbon yang tersimpan dalam jaringan tumbuhan tertentu. Sementara itu, karbon ekosistem mangrove mencakup beberapa tempat penyimpanan karbon atau carbon pools.
Karbon Biomassa di Atas Permukaan
Karbon biomassa atas permukaan tersimpan pada:
- batang;
- cabang;
- ranting;
- daun;
- bunga;
- buah;
- propagul;
- bagian tumbuhan hidup lainnya.
Komponen ini merupakan bagian yang paling mudah dilihat. Akibatnya, kampanye publik sering menjadikan batang dan daun sebagai gambaran utama penyimpanan karbon mangrove.
Namun, bagian yang terlihat tersebut hanyalah salah satu komponen ekosistem.
Karbon Biomassa di Bawah Permukaan
Karbon bawah permukaan tersimpan dalam akar.
Mangrove memiliki sistem perakaran yang kompleks. Akar tidak hanya menopang tumbuhan, tetapi juga membantu pertukaran udara, menangkap sedimen, memperlambat arus, dan menstabilkan substrat.
Biomassa akar sering kali lebih sulit diukur dibandingkan biomassa atas permukaan. Karena itu, pengukurannya dapat menggunakan persamaan alometrik atau metode pengambilan sampel tertentu.
Ketidakpastian pada estimasi akar perlu disampaikan secara terbuka karena persamaan alometrik dapat kurang menggambarkan kontribusi akar halus pada beberapa kondisi mangrove.
Karbon pada Kayu Mati dan Serasah
Ekosistem mangrove juga menyimpan karbon dalam material organik mati, seperti:
- batang tumbang;
- cabang mati;
- akar mati;
- daun gugur;
- serasah;
- bahan organik yang mengalami dekomposisi.
Sebagian material tersebut terurai dan kembali ke atmosfer. Sebagian lainnya dapat tertahan, terkubur, atau masuk ke dalam sedimen.
Proses ini menunjukkan bahwa dinamika karbon mangrove tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan pohon hidup.
Karbon Tanah dan Sedimen
Tanah merupakan komponen yang sangat penting dalam karbon mangrove.
Ekosistem mangrove dapat menangkap material organik yang berasal dari tumbuhan setempat maupun material yang terbawa oleh air. Dalam kondisi tanah yang kekurangan oksigen, proses penguraian dapat berlangsung lebih lambat sehingga karbon dapat tersimpan dalam waktu panjang.
The Blue Carbon Initiative menjelaskan bahwa sebagian besar karbon pada ekosistem karbon biru pesisir dapat berada di bawah permukaan tanah. Proporsinya dapat sangat besar dan kedalaman penyimpanannya dapat mencapai beberapa meter, bergantung pada kondisi ekosistem.
NOAA juga menjelaskan bahwa karbon biru merupakan karbon yang ditangkap oleh organisme pesisir dan laut, kemudian disimpan dalam biomassa serta lingkungan ekosistem pesisir.
Karena itu, klaim karbon yang hanya menghitung pohon dapat mengabaikan karbon tanah yang justru sangat penting.
Stok Karbon Berbeda dari Laju Penyerapan Karbon
Istilah stok karbon dan penyerapan karbon sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Padahal, keduanya mengacu pada hal yang berbeda.
Apa yang Dimaksud dengan Stok Karbon?
Stok karbon adalah jumlah karbon yang tersimpan pada suatu tempat dalam waktu tertentu.
Stok tersebut dapat berada dalam:
- biomassa atas permukaan;
- biomassa akar;
- kayu mati;
- serasah;
- tanah;
- sedimen.
Stok karbon dapat diibaratkan sebagai jumlah air yang telah terkumpul di dalam sebuah waduk.
Hutan mangrove dewasa dapat memiliki stok karbon tinggi karena karbon telah terakumulasi selama bertahun-tahun atau bahkan jauh lebih lama, terutama pada tanah dan sedimennya.
Apa yang Dimaksud dengan Laju Penyerapan Karbon?
Laju penyerapan atau sekuestrasi karbon menunjukkan pertambahan karbon bersih dalam suatu periode.
Nilainya biasanya dinyatakan berdasarkan satuan luas dan waktu, misalnya:
ton karbon per hektare per tahun atau ton karbon dioksida ekuivalen per hektare per tahun.
Laju penyerapan dapat diibaratkan sebagai jumlah air baru yang masuk ke dalam waduk setiap tahun.
Ekosistem yang memiliki stok karbon besar belum tentu sedang mengalami laju penyerapan tertinggi. Sebaliknya, tegakan muda dapat mengalami pertumbuhan biomassa cepat, tetapi stok karbon keseluruhannya masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekosistem mangrove dewasa.
Mengapa Perbedaannya Penting?
Kesalahan membedakan stok dan laju penyerapan dapat menghasilkan klaim yang menyesatkan.
Sebagai contoh, jumlah karbon yang tersimpan pada pohon saat ini tidak boleh langsung disebut sebagai jumlah karbon yang diserap setiap tahun.
Apabila sebuah pohon diperkirakan mengandung sejumlah kilogram karbon, angka tersebut merupakan akumulasi karbon dalam biomassa selama masa pertumbuhannya. Nilai itu bukan berarti pohon tersebut menyerap jumlah yang sama setiap tahun.
Pertumbuhan pohon berubah seiring waktu. Laju pertumbuhan pada fase bibit, pancang, tiang, dan pohon dewasa tidak selalu sama.
Karena itu, klaim tahunan membutuhkan pengukuran berulang atau model pertumbuhan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karbon Tidak Sama dengan Karbon Dioksida
Kesalahan lain terjadi ketika istilah karbon dan karbon dioksida digunakan secara bergantian.
Karbon biasanya ditulis sebagai C, sedangkan karbon dioksida ditulis sebagai CO₂.
Keduanya memiliki massa molekul yang berbeda. Untuk mengubah massa karbon menjadi karbon dioksida, nilai karbon umumnya dikalikan dengan perbandingan berat molekul karbon dioksida terhadap karbon, yaitu 44/12 atau sekitar 3,67.
Artinya:
1 kilogram karbon setara dengan sekitar 3,67 kilogram karbon dioksida.
Namun, konversi tersebut hanya mengubah satuan. Konversi tidak memperbaiki kelemahan data awal.
Apabila estimasi biomassa atau karbon tidak akurat, mengubahnya menjadi CO₂ tetap akan menghasilkan angka yang tidak akurat.
Karena itu, setiap klaim perlu menjelaskan dengan tegas apakah angka yang digunakan mengacu pada:
- biomassa;
- karbon;
- karbon dioksida;
- karbon dioksida ekuivalen;
- stok;
- laju penyerapan;
- emisi yang dihindari.
Tanpa penjelasan satuan, angka karbon dapat dengan mudah disalahartikan.
Mengapa Angka Rata-Rata Tidak Boleh Diubah Menjadi Kepastian?
Rata-rata penelitian berguna untuk memahami pola umum. Namun, nilai rata-rata tidak selalu mewakili setiap pohon, setiap lokasi, dan setiap periode.
Misalnya, sebuah penelitian memperoleh nilai rata-rata biomassa dari sejumlah pohon pada lokasi tertentu. Hasil tersebut dipengaruhi oleh:
- jenis yang diteliti;
- rentang diameter;
- umur tegakan;
- kondisi tanah;
- iklim;
- salinitas;
- metode pengambilan sampel;
- persamaan yang digunakan;
- batas wilayah penelitian.
Mengambil nilai rata-rata tersebut lalu menggunakannya untuk semua bibit mangrove di Indonesia merupakan bentuk generalisasi yang berlebihan.
Estimasi Bukan Fakta yang Pasti
Penghitungan karbon hampir selalu melibatkan estimasi.
Beberapa sumber ketidakpastian meliputi:
- kesalahan pengukuran diameter;
- kesalahan identifikasi jenis;
- ketidaksesuaian persamaan alometrik;
- variasi kerapatan kayu;
- estimasi biomassa akar;
- variasi kandungan karbon jaringan;
- kedalaman sampel tanah;
- variasi kepadatan tanah;
- keterbatasan jumlah petak sampel;
- perubahan kondisi dari waktu ke waktu.
Estimasi tetap dapat digunakan, tetapi harus disertai penjelasan mengenai metode, asumsi, batasan, dan tingkat ketidakpastiannya.
Bahaya muncul ketika estimasi dipromosikan sebagai kepastian.
Bibit yang Ditanam Belum Tentu Menjadi Pohon
Klaim karbon per pohon juga sering mengabaikan tingkat kelangsungan hidup.
Dalam program penanaman, jumlah bibit yang ditanam tidak selalu sama dengan jumlah pohon yang bertahan hidup.
Bibit dapat mati akibat:
- lokasi yang tidak sesuai;
- gelombang dan arus;
- erosi;
- sedimentasi berlebihan;
- kekeringan;
- salinitas ekstrem;
- sampah;
- teritip;
- hama;
- aktivitas manusia;
- perubahan hidrologi;
- kompetisi;
- pemilihan jenis yang keliru.
Karena itu, seribu bibit yang ditanam tidak otomatis berarti seribu pohon penyerap karbon.
Perhitungan yang menggunakan jumlah bibit awal tanpa memperhitungkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, kerusakan, dan kematian dapat menghasilkan klaim berlebihan.
Monitoring perlu dilakukan secara berkala agar program mengetahui:
- berapa individu yang masih hidup;
- berapa individu yang telah mati;
- bagaimana pertumbuhan diameter dan tinggi;
- apakah terjadi regenerasi alami;
- bagaimana perkembangan tutupan tajuk;
- apakah hidrologi mendukung;
- apakah sedimen stabil;
- apakah ekosistem mulai menjalankan fungsinya.
Lebih penting lagi, penurunan jumlah individu tidak selalu berarti seluruh proses rehabilitasi gagal. Dalam tegakan yang tumbuh rapat, kompetisi dan self-thinning dapat terjadi secara alami.
Keberhasilan harus dinilai melalui perkembangan ekosistem, bukan hanya mempertahankan seluruh bibit dalam jumlah yang sama sejak hari penanaman.
Mengapa Karbon Sebaiknya Dihitung per Luas Ekosistem?
Dalam kajian karbon, satuan luas seperti hektare lebih relevan dibandingkan sekadar jumlah pohon.
Pendekatan berbasis luas memungkinkan penilaian terhadap:
- kerapatan tegakan;
- variasi diameter;
- komposisi jenis;
- biomassa;
- tanah;
- sedimen;
- kayu mati;
- perubahan tutupan;
- gangguan;
- kondisi hidrologi.
Pendekatan tersebut juga dapat menangkap perubahan pada ekosistem secara keseluruhan.
Sebagai contoh, dua lokasi dapat memiliki jumlah pohon yang sama, tetapi stok karbonnya berbeda karena:
- ukuran pohonnya berbeda;
- kedalaman tanah berbeda;
- kandungan karbon organik berbeda;
- kerapatan kayu berbeda;
- kondisi hidrologi berbeda;
- riwayat penggunaan lahan berbeda.
Penelitian stok karbon ekosistem mangrove umumnya mengambil sampel dari beberapa komponen, termasuk biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, dan karbon organik tanah. Kajian di Lamu, Kenya, misalnya, menemukan adanya perbedaan kepadatan karbon antarblok pengelolaan, menegaskan bahwa kondisi wilayah sangat memengaruhi hasil penghitungan.
Hal ini memperlihatkan bahwa tidak ada satu angka karbon per pohon yang dapat menggantikan pengukuran ekosistem.
Menanam Mangrove Tidak Otomatis Menghasilkan Pengurangan Emisi
Penanaman mangrove dapat memberikan manfaat ekologis apabila dilakukan pada lokasi yang tepat, menggunakan pendekatan yang benar, dan disertai perlindungan jangka panjang.
Namun, penanaman tidak otomatis sama dengan pengurangan emisi yang dapat diklaim.
Untuk menyatakan bahwa suatu program menghasilkan manfaat iklim, diperlukan pembuktian mengenai:
- kondisi awal atau baseline;
- skenario tanpa program;
- perubahan stok karbon;
- emisi yang mungkin terjadi;
- keberhasilan pertumbuhan;
- risiko kehilangan karbon;
- permanensi;
- kebocoran;
- ketidakpastian;
- sistem pemantauan;
- kepemilikan dan hak atas lahan;
- potensi penghitungan ganda.
Pedoman IPCC untuk lahan basah pesisir menempatkan perubahan stok karbon dan emisi pada berbagai komponen ekosistem sebagai bagian dari penghitungan, bukan sekadar jumlah pohon yang ditanam.
Dengan demikian, sertifikat penanaman pohon tidak dapat disamakan dengan sertifikat pengurangan emisi.
Risiko Greenwashing dalam Klaim Karbon per Pohon
Klaim karbon per pohon dapat menjadi bagian dari greenwashing apabila digunakan untuk menciptakan kesan manfaat lingkungan yang lebih besar daripada bukti yang tersedia.
Risiko tersebut muncul ketika sebuah program:
- menggunakan angka karbon tanpa sumber;
- tidak menjelaskan apakah angka berupa C atau CO₂;
- menyebut bibit sebagai pohon dewasa;
- tidak melakukan monitoring;
- mengabaikan kematian bibit;
- tidak mengukur tanah;
- tidak menjelaskan periode perhitungan;
- menggunakan rata-rata global untuk lokasi tertentu;
- mengklaim pengimbangan emisi tanpa sertifikasi;
- tidak menjelaskan ketidakpastian;
- menghitung manfaat yang sebenarnya sudah terjadi;
- menjual klaim yang sama kepada lebih dari satu pihak.
Kampanye seperti “satu produk sama dengan satu pohon mangrove” masih dapat digunakan sebagai bentuk dukungan penanaman atau rehabilitasi. Namun, kampanye tersebut tidak semestinya langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa emisi produk telah dinetralkan.
Terdapat perbedaan besar antara:
mendanai penanaman mangrove,
mendukung rehabilitasi ekosistem,
memperkirakan stok karbon, dan
menghasilkan kredit karbon terverifikasi.
Keempatnya tidak boleh dicampuradukkan.
Contoh Klaim Karbon Mangrove yang Menyesatkan
“Setiap Bibit Menyerap Karbon dalam Jumlah yang Sama”
Klaim ini mengabaikan variasi umur, ukuran, jenis, lokasi, kondisi tanah, dan tingkat pertumbuhan.
“Seribu Bibit Berarti Seribu Pohon Penyerap Karbon”
Klaim ini tidak memperhitungkan kelangsungan hidup, kerusakan, kematian, dan perkembangan tegakan.
“Karbon Pohon Sama dengan Karbon Ekosistem”
Klaim ini mengabaikan akar, serasah, kayu mati, tanah, dan sedimen.
“Jumlah Karbon dalam Pohon Sama dengan Penyerapan Tahunan”
Klaim ini mencampuradukkan stok karbon dengan laju pertambahan karbon.
“Menanam Mangrove Otomatis Mengimbangi Emisi”
Klaim ini mengabaikan baseline, additionality, permanensi, kebocoran, risiko, dan proses verifikasi.
“Semua Mangrove Menyimpan Karbon dalam Jumlah yang Sama”
Klaim ini mengabaikan keragaman ekologis dan perbedaan kondisi lokasi.
Cara Menyampaikan Klaim Karbon Mangrove secara Bertanggung Jawab
Komunikasi karbon tidak harus menjadi rumit dan sulit dipahami. Namun, penyederhanaan harus tetap menjaga ketepatan makna.
Jelaskan Bahwa Angka Merupakan Estimasi
Gunakan frasa seperti:
“Berdasarkan estimasi…”
“Dengan asumsi tingkat pertumbuhan tertentu…”
“Nilai aktual dapat berbeda bergantung pada jenis, umur, lokasi, dan kondisi ekosistem.”
Hindari menyajikan angka perkiraan sebagai kepastian mutlak.
Sebutkan Satuan dengan Jelas
Jelaskan apakah angka menggunakan:
- kilogram biomassa;
- kilogram karbon;
- kilogram CO₂;
- ton karbon;
- ton CO₂e;
- nilai per pohon;
- nilai per hektare;
- nilai per tahun;
- nilai akumulatif.
Satuan yang tidak lengkap dapat mengubah arti klaim.
Jelaskan Periode Waktunya
Angka karbon harus memiliki batas waktu yang jelas.
Apakah angka tersebut menunjukkan:
- karbon yang tersimpan saat ini;
- pertambahan selama satu tahun;
- proyeksi selama lima tahun;
- proyeksi selama dua puluh tahun;
- total selama umur proyek?
Tanpa periode, klaim tidak dapat dinilai secara memadai.
Cantumkan Metode Penghitungan
Klaim yang bertanggung jawab seharusnya menjelaskan:
- sumber data;
- metode pengukuran;
- persamaan alometrik;
- komponen karbon yang dihitung;
- jumlah dan lokasi sampel;
- tahun pengukuran;
- asumsi;
- ketidakpastian.
Tidak seluruh informasi harus dimasukkan dalam materi promosi. Namun, laporan teknis yang mendasarinya harus tersedia dan dapat diperiksa.
Bedakan Bibit, Pohon, dan Tegakan
Gunakan istilah sesuai kondisi sebenarnya.
Bibit yang baru ditanam sebaiknya disebut bibit mangrove, bukan langsung dinyatakan sebagai pohon dewasa.
Program juga perlu membedakan:
- jumlah bibit yang disiapkan;
- jumlah bibit yang ditanam;
- jumlah individu yang hidup;
- jumlah individu yang tumbuh menjadi pancang;
- jumlah individu yang berkembang menjadi tegakan;
- luas ekosistem yang pulih.
Sampaikan Tingkat Kelangsungan Hidup
Apabila klaim didasarkan pada program penanaman, hasil monitoring perlu disampaikan.
Informasi tersebut setidaknya mencakup:
- waktu pemantauan;
- jumlah sampel;
- tingkat kelangsungan hidup;
- pertumbuhan;
- gangguan;
- tindakan korektif;
- keterbatasan data.
Transparansi terhadap kematian bibit justru meningkatkan kredibilitas program.
Jangan Menyamakan Donasi Pohon dengan Kredit Karbon
Namun, donasi tidak otomatis memberikan hak kepada penyumbang untuk mengklaim kredit karbon.
Kredit karbon memerlukan metodologi, dokumentasi, validasi, verifikasi, pencatatan, serta pencegahan penghitungan ganda.
Gunakan Rentang, Bukan Angka Tunggal
Apabila data belum cukup rinci, penggunaan rentang sering lebih bertanggung jawab dibandingkan angka tunggal yang terlihat sangat pasti.
Rentang harus tetap disertai penjelasan mengenai:
- sumber;
- kondisi yang diwakili;
- periode;
- jenis;
- ukuran;
- tingkat ketidakpastian.
Prioritaskan Pengukuran Berbasis Ekosistem
Penghitungan sebaiknya mempertimbangkan keseluruhan ekosistem mangrove, meliputi:
- vegetasi;
- akar;
- serasah;
- kayu mati;
- tanah;
- sedimen;
- hidrologi;
- perubahan penggunaan lahan.
Pendekatan ekosistem memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan hanya mengalikan jumlah pohon.
Contoh Redaksi Klaim yang Lebih Bertanggung Jawab
Klaim yang Terlalu Pasti
“Satu pohon mangrove menyerap 20 kilogram karbon setiap tahun.”
Masalah dari klaim tersebut adalah tidak adanya penjelasan mengenai jenis, umur, lokasi, ukuran, metode, satuan, dan periode pengukuran.
Klaim yang Lebih Bertanggung Jawab
“Mangrove dapat menyimpan dan menyerap karbon dalam biomassa serta tanah. Besarnya berbeda menurut jenis, umur, diameter, kondisi hidrologi, salinitas, karakter sedimen, dan perkembangan ekosistem. Oleh karena itu, manfaat karbon program ini akan diperkirakan melalui pengukuran lapangan dan pemantauan berkala, bukan hanya berdasarkan jumlah bibit yang ditanam.”
Redaksi untuk Program yang Belum Mengukur Karbon
“Program ini mendukung rehabilitasi ekosistem mangrove. Manfaat karbon belum dinyatakan sebagai kredit karbon dan belum digunakan untuk mengimbangi emisi tertentu.”
Redaksi untuk Estimasi Awal
“Nilai karbon yang disampaikan merupakan estimasi awal berdasarkan data dan asumsi yang tersedia. Nilai aktual akan dipengaruhi oleh kelangsungan hidup, pertumbuhan vegetasi, kondisi tanah, perubahan hidrologi, dan hasil monitoring lapangan.”
Redaksi tersebut mungkin tidak sesingkat slogan pemasaran, tetapi lebih jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Apa yang Harus Diukur dalam Program Karbon Mangrove?
Program yang ingin menilai manfaat karbon secara serius perlu mengembangkan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi.
Data Vegetasi
Data vegetasi dapat meliputi:
- jenis;
- diameter;
- tinggi;
- kerapatan;
- luas tajuk;
- kelas pertumbuhan;
- regenerasi alami;
- kondisi kesehatan;
- kematian;
- gangguan.
Data Tanah
Pengukuran tanah dapat meliputi:
- kedalaman sampel;
- kandungan karbon organik;
- kepadatan tanah;
- tekstur;
- salinitas;
- kondisi sedimen;
- variasi antarpetak.
Data Hidrologi
Hidrologi memengaruhi keberhasilan rehabilitasi dan dinamika karbon.
Data yang relevan dapat mencakup:
- pasang surut;
- frekuensi genangan;
- durasi genangan;
- aliran air;
- konektivitas kanal;
- sedimentasi;
- erosi;
- perubahan elevasi.
Data Perubahan Tutupan Lahan
Citra satelit, foto udara, peta, dan pemeriksaan lapangan dapat digunakan untuk mengetahui:
- kondisi awal;
- perubahan luas mangrove;
- kehilangan tutupan;
- pertambahan tutupan;
- gangguan;
- perubahan penggunaan lahan.
Monitoring Jangka Panjang
Karbon mangrove tidak dapat dinilai hanya melalui kegiatan seremonial satu hari.
Pemantauan perlu dilakukan dalam jangka panjang karena perubahan dapat terjadi akibat:
- pertumbuhan;
- kematian;
- badai;
- abrasi;
- perubahan aliran;
- pembangunan;
- kebakaran;
- penebangan;
- konversi lahan;
- kenaikan muka laut.
Permanensi manfaat karbon bergantung pada kemampuan program menjaga ekosistem setelah kegiatan penanaman selesai.
Konservasi Mangrove Dewasa Lebih Penting daripada Sekadar Menghitung Bibit
Perhatian yang terlalu besar terhadap karbon bibit dapat mengalihkan fokus dari perlindungan ekosistem mangrove dewasa.
Mangrove dewasa telah memiliki:
- biomassa besar;
- sistem akar kompleks;
- tanah kaya karbon;
- fungsi habitat;
- sumber propagul;
- struktur tegakan;
- keterhubungan ekologis;
- kemampuan melindungi pesisir.
Apabila mangrove dewasa dibuka kemudian “diganti” dengan bibit baru di tempat lain, stok karbon yang hilang tidak otomatis dipulihkan.
Karbon tanah yang telah terakumulasi lama dapat terpapar, teroksidasi, tererosi, atau dilepaskan ketika hidrologi dan sedimen terganggu. NOAA menegaskan bahwa kerusakan ekosistem karbon biru dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun.
Karena itu, urutan tindakan yang lebih bertanggung jawab adalah:
melindungi mangrove yang masih ada, menghentikan penyebab kerusakan, memulihkan proses ekologis, kemudian melakukan penanaman apabila memang diperlukan.
Mangrove Bukan Mesin Penyerap Karbon
Mangrove adalah ekosistem hidup.
Di dalamnya terdapat hubungan antara tumbuhan, mikroorganisme, ikan, kepiting, moluska, burung, sedimen, pasang surut, air tawar, air laut, dan masyarakat pesisir.
Nilai mangrove tidak boleh dipersempit menjadi berapa kilogram karbon yang dapat dilekatkan pada satu batang pohon.
Selain menyimpan karbon, mangrove dapat:
- menyediakan habitat;
- mendukung perikanan;
- menahan sedimen;
- meredam gelombang;
- mengurangi erosi;
- menjaga kualitas perairan;
- mendukung mata pencaharian;
- menjadi ruang pendidikan;
- menyimpan pengetahuan lokal;
- menjaga keanekaragaman hayati.
UNEP menempatkan mangrove sebagai ekosistem penting yang memberikan perlindungan terhadap badai, erosi, dan banjir, sekaligus mendukung pangan, kualitas air, mata pencaharian, dan penyimpanan karbon.
Karbon merupakan salah satu fungsi penting mangrove, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Jadi, Berapa Karbon yang Diserap Satu Pohon Mangrove?
Jawaban ilmiahnya adalah:
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua pohon mangrove.
Nilainya bergantung pada:
- jenis;
- umur;
- diameter;
- tinggi;
- kerapatan kayu;
- kondisi pertumbuhan;
- lokasi;
- salinitas;
- hidrologi;
- tanah;
- sedimentasi;
- gangguan;
- waktu pengukuran;
- metode penghitungan.
Lebih jauh lagi, menghitung karbon hanya pada satu pohon tidak cukup untuk menggambarkan manfaat iklim dari ekosistem mangrove.
Penghitungan yang lebih bertanggung jawab perlu menilai perubahan karbon pada seluruh ekosistem, membedakan stok dari laju penyerapan, memperhitungkan tanah, menyampaikan ketidakpastian, dan membandingkan kondisi proyek dengan skenario tanpa proyek.
Kesimpulan
Pertanyaan “berapa karbon yang diserap satu pohon mangrove?” tidak dapat dijawab dengan satu angka sederhana yang berlaku di semua tempat.
Angka per pohon sering kali merupakan hasil estimasi berdasarkan kondisi tertentu. Nilai tersebut dipengaruhi oleh jenis, umur, diameter, tinggi, lokasi, salinitas, tanah, hidrologi, dan metode pengukuran.
Karbon pohon juga berbeda dari karbon ekosistem. Mangrove menyimpan karbon pada biomassa atas permukaan, akar, kayu mati, serasah, tanah, dan sedimen.
Selain itu, stok karbon tidak sama dengan laju penyerapan karbon. Jumlah karbon yang telah tersimpan pada pohon tidak dapat langsung dinyatakan sebagai jumlah karbon yang diserap setiap tahun.
Karena itu, klaim karbon mangrove harus disampaikan dengan hati-hati. Setiap angka perlu dilengkapi dengan sumber, satuan, periode, metode, asumsi, dan ketidakpastian.
Mangrove tidak boleh direduksi menjadi angka kilogram karbon per pohon. Mangrove harus dipahami sebagai ekosistem pesisir yang hidup, kompleks, dan hanya dapat memberikan manfaat iklim jangka panjang apabila seluruh proses ekologisnya dipulihkan serta dilindungi. (ADM).
Referensi
Blue Carbon Initiative. What Is Blue Carbon?
Howard, J., Hoyt, S., Isensee, K., Pidgeon, E., dan Telszewski, M. 2014. Coastal Blue Carbon: Methods for Assessing Carbon Stocks and Emissions Factors in Mangroves, Tidal Salt Marshes, and Seagrass Meadows.
IPCC. 2013. 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands.
Jones, A. R., Raja Segaran, R., Clarke, K. D., Waycott, M., Goh, W. S. H., dan Gillanders, B. M. 2020. Estimating Mangrove Tree Biomass and Carbon Content: A Comparison of Forest Inventory Techniques and Drone Imagery.
Kauffman, J. B., dan Donato, D. C. 2012. Protocols for the Measurement, Monitoring and Reporting of Structure, Biomass and Carbon Stocks in Mangrove Forests.
National Oceanic and Atmospheric Administration. Coastal Blue Carbon.
United Nations Environment Programme. Mangrove Forests.
No comments:
Post a Comment