26.7.26

Panduan Lengkap Rehabilitasi Mangrove di Indonesia

Semarang - KeSEMaTBLOG. Rehabilitasi mangrove di Indonesia tidak cukup dilakukan dengan menanam ribuan bibit dalam satu hari. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan lokasi, kesesuaian jenis, kondisi pasang surut, keterlibatan masyarakat, perlindungan kawasan, serta pemeliharaan jangka panjang setelah kegiatan penanaman selesai.

Prinsip tersebut telah diperkenalkan secara sistematis oleh Aris Priyono, Bapak Mangrove Indonesia, Pendiri KeSEMaT, melalui buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia yang diterbitkan KeSEMaT pada 2010.

Buku ini disusun berdasarkan pengalaman lapangan KeSEMaT dalam mendampingi rehabilitasi mangrove di berbagai kawasan pesisir, terutama Demak, Semarang, Jepara, Rembang, dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia. Materinya tidak hanya membahas cara menanam mangrove, tetapi juga menjelaskan keseluruhan tahapan rehabilitasi, mulai dari pembentukan tim, penelitian awal, sosialisasi masyarakat, pembibitan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, hingga publikasi hasil program.

Lebih dari satu dekade setelah diterbitkan, berbagai prinsip dalam buku tersebut tetap relevan. Bahkan, banyak gagasannya semakin kuat dalam pendekatan restorasi modern, terutama mengenai pentingnya memahami hidrologi, melibatkan masyarakat, memilih jenis berdasarkan karakter lokasi, dan menempatkan penanaman hanya sebagai salah satu bagian dari proses pemulihan ekosistem.

Rehabilitasi mangrove bukan sekadar kegiatan penanaman. Pemulihan aliran pasang surut, kondisi sedimen, regenerasi alami, perlindungan kawasan, serta partisipasi masyarakat merupakan bagian penting dari restorasi ekologis.

Artikel ini mengembangkan kembali pemikiran dan pengalaman lapangan Aris Priyono menjadi sebuah panduan rehabilitasi mangrove Indonesia yang lengkap, praktis, kontekstual, dan mudah diterapkan oleh masyarakat, pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, serta organisasi lingkungan.

Mengenal Aris Priyono dan Perannya dalam Rehabilitasi Mangrove

Aris Priyono merupakan Bapak Mangrove Indonesia sekaligus Pendiri KeSEMaT, organisasi mangrove yang tumbuh dari lingkungan akademik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.

Melalui KeSEMaT, ia bersama para anggota dan jejaring masyarakat pesisir mengembangkan berbagai kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, kampanye, pembibitan, penanaman, serta pemantauan mangrove.

Pengalaman tersebut kemudian dirangkum dalam buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia. Buku ini tidak disusun hanya berdasarkan teori, tetapi bertumpu pada pengalaman KeSEMaT selama bertahun-tahun dalam mengelola kawasan mangrove di pesisir Jawa Tengah dan wilayah lainnya.

Lokasi yang menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut antara lain:

  • Surodadi, Bedono, dan Morodemak di Kabupaten Demak.
  • Tugu, Mangunharjo, Tugurejo, Tapak, dan Trimulyo di Kota Semarang.
  • Teluk Awur, Semat, Tanggul Tlare, dan Ujung Piring di Kabupaten Jepara.
  • Pasar Banggi dan Kaliuntu di Kabupaten Rembang.
  • Berbagai kawasan pesisir lain di Indonesia yang menjadi lokasi pendidikan, penelitian, konservasi, dan rehabilitasi mangrove.

Buku tersebut juga dikembangkan dari materi pelatihan Program Ayo Tanam Mangrove di Pekalongan pada 18–19 Maret 2010. Program tersebut melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, KeSEMaT, Mangroves for the Future, IUCN, pemerintah daerah, masyarakat, serta berbagai mitra kerja lainnya.

Posisi penting buku ini terletak pada kemampuannya menerjemahkan pengetahuan teknis menjadi panduan yang dapat dipahami masyarakat. Rehabilitasi mangrove tidak ditempatkan sebagai kegiatan eksklusif para peneliti, tetapi sebagai kerja bersama antara masyarakat, pemerintah, akademisi, perusahaan, organisasi lingkungan, dan kelompok pesisir.

Mengapa Buku Ini Tetap Relevan sebagai Rujukan Lintas Dekade?

Buku panduan rehabilitasi mangrove karya Aris Priyono diterbitkan pada 2010. Walaupun telah berusia lebih dari satu dekade, prinsip-prinsip utamanya masih relevan karena rehabilitasi mangrove tetap menghadapi persoalan mendasar yang sama.

Berbagai program rehabilitasi mangrove masih mengalami kegagalan akibat:

  • Lokasi penanaman tidak sesuai.
  • Jenis mangrove dipilih tanpa kajian ekologis.
  • Penanaman dilakukan di area yang terlalu terbuka terhadap gelombang.
  • Saluran pasang surut tidak berfungsi.
  • Bibit tidak sesuai dengan kondisi substrat.
  • Masyarakat hanya dilibatkan sebagai tenaga penanam.
  • Tidak terdapat pemantauan setelah kegiatan.
  • Keberhasilan hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
  • Program berhenti setelah seremoni selesai.
  • Penyebab awal kerusakan tidak pernah diselesaikan.

Sejak awal, buku ini telah mengingatkan bahwa rehabilitasi mangrove merupakan program multistakeholder. Artinya, keberhasilannya memerlukan kerja sama banyak pihak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja.

Buku ini juga menempatkan masyarakat sebagai subjek program. Prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan community-based ecological mangrove restoration atau restorasi ekologis mangrove berbasis masyarakat.

Pendekatan tersebut bertujuan membangun kembali ekosistem yang lebih beragam, tahan terhadap gangguan, dan didukung partisipasi masyarakat dalam jangka panjang.

Relevansi lainnya terletak pada penekanan buku terhadap penelitian awal. Sebelum menanam, pelaksana harus memahami kondisi sosial, ekonomi, budaya, mata pencaharian, keanekaragaman jenis, substrat, salinitas, pasang surut, dan permasalahan lingkungan setempat.

Dengan demikian, rehabilitasi tidak dimulai dari pertanyaan, “Berapa bibit yang akan ditanam?”, tetapi dari pertanyaan yang lebih mendasar:

  • Apa penyebab kerusakan mangrove di lokasi tersebut?
  • Apakah kondisi hidrologinya masih memungkinkan mangrove tumbuh?
  • Jenis mangrove apa yang secara alami terdapat di lokasi?
  • Apakah masyarakat mendukung program?
  • Bagaimana status kepemilikan lahannya?
  • Siapa yang akan memelihara tanaman setelah kegiatan selesai?
  • Apakah penanaman benar-benar diperlukan?
  • Apakah regenerasi alami masih dapat berlangsung?

Inilah yang membuat panduan karya Aris Priyono tetap relevan: buku tersebut tidak mereduksi rehabilitasi mangrove menjadi kegiatan tanam massal.

Apa Itu Rehabilitasi Mangrove?

Rehabilitasi mangrove adalah upaya untuk memperbaiki struktur, fungsi, tutupan vegetasi, konektivitas hidrologis, serta kemampuan ekologis suatu kawasan mangrove yang telah mengalami kerusakan atau penurunan kualitas.

Rehabilitasi dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

  • Melindungi regenerasi alami.
  • Membuka kembali saluran pasang surut.
  • Memperbaiki kondisi hidrologi.
  • Mengendalikan gangguan manusia.
  • Menata pemanfaatan kawasan.
  • Mengurangi pencemaran dan sampah.
  • Menanam bibit atau propagul pada lokasi yang sesuai.
  • Melakukan penyulaman dan pemeliharaan.
  • Memperkuat kelembagaan masyarakat.
  • Melindungi kawasan dari konversi lahan.

Dengan pengertian tersebut, penanaman hanyalah salah satu metode rehabilitasi mangrove. Pada lokasi tertentu, mangrove dapat pulih secara alami apabila faktor penghambatnya dihilangkan.

Dalam kondisi yang tepat, pemulihan aliran air dapat mendorong regenerasi alami sehingga penanaman intensif tidak selalu diperlukan.

Mangrove sendiri merupakan kelompok pohon dan semak berkayu yang hidup di kawasan tropis dan subtropis serta dipengaruhi pasang surut air laut. Tumbuhan ini mampu hidup pada lingkungan yang sulit bagi sebagian besar tumbuhan darat, termasuk tanah bersalinitas tinggi, sedimen miskin oksigen, serta penggenangan berulang.

Fungsi Ekologis dan Sosial Ekonomi Mangrove

Rehabilitasi mangrove penting dilakukan karena ekosistem ini menyediakan berbagai fungsi bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.

1. Melindungi Garis Pantai

Struktur batang, akar, dan tajuk mangrove dapat membantu mengurangi energi gelombang, menahan sedimen, serta memperlambat proses erosi pada kondisi tertentu.

Namun, mangrove bukan tembok beton yang dapat langsung menghentikan seluruh gelombang. Efektivitas perlindungannya dipengaruhi oleh:

  • Lebar vegetasi.
  • Kerapatan pohon.
  • Jenis mangrove.
  • Umur tegakan.
  • Topografi pantai.
  • Kedalaman perairan.
  • Karakter gelombang.
  • Kondisi sedimen.
  • Keberlanjutan tutupan vegetasi.

Karena itu, bibit yang baru ditanam belum dapat langsung berfungsi sebagai pelindung pantai. Dibutuhkan waktu hingga akar, batang, dan tajuk berkembang dengan baik.

2. Menjadi Habitat Biota Pesisir

Mangrove menyediakan habitat pemijahan, pengasuhan, perlindungan, dan pencarian makan bagi berbagai jenis ikan, udang, kepiting, moluska, burung, reptil, serta organisme lainnya.

Serasah daun dan bahan organik mangrove juga menjadi bagian dari rantai makanan pesisir. Daun yang gugur akan mengalami penguraian dan menyediakan bahan organik bagi berbagai organisme.

3. Menyimpan Karbon

Ekosistem mangrove menyimpan karbon dalam biomassa pohon dan lapisan sedimennya. Kemampuan tersebut membuat mangrove memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Karbon mangrove tidak hanya tersimpan pada batang, cabang, daun, dan akar, tetapi juga pada sedimen yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Akan tetapi, program karbon mangrove harus dibangun di atas prinsip kehati-hatian. Perlindungan ekosistem yang masih sehat harus tetap menjadi prioritas, sedangkan kegiatan rehabilitasi perlu memastikan keberlanjutan ekologis dan sosial.

4. Mendukung Mata Pencaharian Masyarakat

Mangrove dapat mendukung perikanan, ekowisata, pendidikan, penelitian, produksi pangan olahan, pembibitan, serta berbagai kegiatan ekonomi pesisir.

Pemanfaatan tersebut harus dikembangkan tanpa merusak fungsi utama ekosistem.

5. Meningkatkan Ketahanan Pesisir

Mangrove merupakan bagian dari sistem perlindungan pesisir berbasis alam. Ekosistem ini dapat berkontribusi dalam menghadapi abrasi, banjir pesisir, cuaca ekstrem, serta perubahan iklim.

Keberadaan mangrove juga dapat memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dengan mempertahankan habitat sumber daya perikanan dan mengurangi paparan langsung terhadap gelombang.

Prinsip Dasar Rehabilitasi Mangrove

Sebelum membahas tahapan teknis, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami oleh setiap pelaksana program.

Memahami Penyebab Kerusakan

Rehabilitasi harus diawali dengan diagnosis masalah. Kerusakan mangrove dapat disebabkan oleh:

  • Konversi menjadi tambak atau permukiman.
  • Penebangan.
  • Perubahan aliran air.
  • Pembangunan infrastruktur.
  • Abrasi.
  • Penurunan muka tanah.
  • Pencemaran.
  • Sampah.
  • Gelombang ekstrem.
  • Gangguan hama.
  • Konflik pemanfaatan ruang.
  • Pembangunan tanggul yang menghambat pasang surut.
  • Penutupan saluran air.
  • Perubahan penggunaan lahan di wilayah pesisir.

Menanam tanpa mengatasi penyebab kerusakan hanya akan mengulangi kegagalan yang sama.

Mendahulukan Kesesuaian Lokasi

Tidak semua pesisir dapat ditanami mangrove. Pantai berpasir terbuka, zona dengan energi gelombang tinggi, perairan yang terlalu dalam, atau dataran lumpur yang tidak memiliki kondisi ekologis sesuai belum tentu merupakan habitat mangrove.

Lokasi penanaman harus dinilai berdasarkan:

  • Riwayat tutupan mangrove.
  • Elevasi lahan.
  • Frekuensi penggenangan.
  • Durasi genangan.
  • Salinitas.
  • Jenis substrat.
  • Energi gelombang.
  • Ketersediaan propagul alami.
  • Konektivitas saluran air.
  • Status dan kepemilikan lahan.
  • Jarak dari sumber propagul.
  • Kehadiran vegetasi referensi.

Menyesuaikan Jenis dengan Habitat

Pemilihan jenis harus meniru pola alami. Mangrove tidak boleh diperlakukan seperti tanaman perkebunan yang dapat ditanam secara seragam pada semua lokasi.

Jenis Rhizophora, Avicennia, Sonneratia, Bruguiera, Ceriops, dan jenis lainnya memiliki kebutuhan habitat yang berbeda.

Melibatkan Masyarakat sejak Awal

Masyarakat tidak seharusnya baru dilibatkan ketika hari penanaman tiba.

Mereka perlu terlibat dalam:

  • Identifikasi permasalahan.
  • Pemetaan kawasan.
  • Penentuan lokasi.
  • Pemilihan jenis.
  • Pembibitan.
  • Penanaman.
  • Pemantauan.
  • Penyusunan aturan.
  • Pengembangan manfaat ekonomi.
  • Perlindungan kawasan.

Memprioritaskan Pemulihan Ekosistem

Tujuan rehabilitasi bukan menghasilkan foto penanaman, melainkan memulihkan fungsi ekosistem.

Indikator keberhasilan tidak boleh hanya berupa jumlah bibit. Indikator lain yang harus diperhatikan meliputi:

  • Tingkat kelulushidupan.
  • Pertumbuhan tinggi dan diameter.
  • Kesehatan tanaman.
  • Regenerasi alami.
  • Perbaikan hidrologi.
  • Perkembangan tutupan vegetasi.
  • Kehadiran fauna.
  • Pengurangan gangguan.
  • Keterlibatan masyarakat.
  • Keberlanjutan kelembagaan.
  • Perlindungan jangka panjang.

13 Tahapan Rehabilitasi Mangrove Menurut Aris Priyono

Buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia menyusun rehabilitasi ke dalam 13 tahapan utama.

Rangkaian ini memperlihatkan bahwa penanaman baru dilakukan setelah berbagai persiapan sosial dan ekologis diselesaikan.

1. Rapat Pendahuluan dan Pembentukan Tim

Tahap pertama adalah membentuk tim inti yang akan menjadi tenaga pendamping masyarakat.

Tim tersebut dapat terdiri atas:

  • Tenaga teknis mangrove.
  • Peneliti.
  • Perwakilan masyarakat.
  • Pemerintah desa.
  • Kelompok pesisir.
  • Organisasi lingkungan.
  • Perguruan tinggi.
  • Perusahaan atau penyandang dana.
  • Tokoh masyarakat.
  • Kelompok nelayan atau petambak.

Rapat pendahuluan harus menghasilkan kesepakatan mengenai:

  • Tujuan program.
  • Lokasi sasaran.
  • Target ekologis.
  • Target sosial.
  • Jadwal kegiatan.
  • Pembagian tugas.
  • Anggaran.
  • Indikator keberhasilan.
  • Sistem pemantauan.
  • Rencana keberlanjutan.
  • Mekanisme penyelesaian konflik.
  • Pembagian tanggung jawab setelah penanaman.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menentukan jumlah bibit sebelum memahami kondisi lapangan.

Urutan yang benar adalah menentukan kebutuhan ekosistem terlebih dahulu. Jumlah bibit dihitung setelah luas efektif, jarak tanam, jenis, hidrologi, dan kebutuhan penyulaman diketahui.

Dokumen yang Perlu Disiapkan

Hasil rapat dapat dituangkan dalam:

  • Kerangka acuan kerja.
  • Proposal.
  • Rencana anggaran biaya.
  • Peta awal.
  • Jadwal kerja.
  • Daftar pemangku kepentingan.
  • Matriks risiko.
  • Rencana pemantauan.
  • Rencana pemeliharaan.
  • Rencana komunikasi dan publikasi.

2. Penelitian Awal

Penelitian awal bertujuan mengetahui kondisi ekologis dan sosial kawasan.

Data Ekologis

Data yang perlu dikumpulkan meliputi:

  • Jenis mangrove alami.
  • Kerapatan vegetasi.
  • Kondisi regenerasi alami.
  • Substrat.
  • Salinitas.
  • pH.
  • Elevasi.
  • Frekuensi genangan.
  • Durasi genangan.
  • Arah arus.
  • Karakter gelombang.
  • Sedimentasi.
  • Abrasi.
  • Kualitas air.
  • Kondisi saluran pasang surut.
  • Keberadaan hama atau gangguan.
  • Kondisi garis pantai.

Data Sosial Ekonomi

Kajian sosial mencakup:

  • Jumlah penduduk.
  • Mata pencaharian.
  • Kepemilikan lahan.
  • Pola pemanfaatan pesisir.
  • Konflik kawasan.
  • Pengetahuan masyarakat.
  • Kelompok lokal.
  • Tokoh masyarakat.
  • Ketergantungan terhadap sumber daya.
  • Potensi usaha.
  • Persepsi terhadap mangrove.
  • Riwayat program sebelumnya.

Data primer dapat diperoleh melalui observasi, pengukuran, wawancara, diskusi kelompok, dan kuesioner. Data sekunder dapat bersumber dari pemerintah, perguruan tinggi, citra satelit, laporan penelitian, serta dokumen perencanaan wilayah.

Menentukan Apakah Penanaman Diperlukan

Penelitian awal harus menjawab apakah kawasan membutuhkan penanaman aktif.

Apabila propagul tersedia, hidrologi berfungsi, dan regenerasi alami tumbuh dengan baik, intervensi terbaik mungkin berupa perlindungan kawasan.

Sebaliknya, penanaman dapat dipertimbangkan apabila:

  • Sumber propagul sangat terbatas.
  • Regenerasi alami tidak terjadi.
  • Jenis lokal telah berkurang.
  • Kawasan telah stabil secara fisik.
  • Hidrologi sesuai.
  • Penyebab kerusakan telah dikendalikan.
  • Area tersebut sebelumnya merupakan habitat mangrove.
  • Tidak terdapat konflik kepemilikan lahan.

3. Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat

Setelah penelitian awal, hasilnya harus disampaikan kepada masyarakat secara terbuka.

Buku Aris Priyono merekomendasikan pendekatan Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan objek proyek.

Kegiatan Sosialisasi

Sosialisasi dapat dilakukan melalui:

  • Sarasehan.
  • Diskusi desa.
  • Pemetaan partisipatif.
  • Kunjungan lapangan.
  • Kelompok diskusi.
  • Pertemuan petambak.
  • Pertemuan nelayan.
  • Kegiatan keagamaan atau sosial.
  • Musyawarah desa.
  • Pertemuan kelompok perempuan.

Pendamping harus memahami cara komunikasi masyarakat setempat. Pada beberapa lokasi, pendekatan melalui tokoh desa, kelompok nelayan, kelompok perempuan, pengajian, atau pertemuan rutin warga lebih efektif dibandingkan seminar formal.

Pemetaan Partisipatif

Masyarakat dapat diajak membuat:

  • Peta kondisi sebelum rehabilitasi.
  • Peta penggunaan lahan.
  • Peta abrasi.
  • Peta kepemilikan.
  • Peta saluran air.
  • Peta lokasi pembibitan.
  • Peta target pemulihan.
  • Peta wilayah konflik.
  • Peta sumber propagul.

Proses ini membantu menyatukan pengetahuan teknis dengan pengalaman masyarakat.

Pembentukan Tim Pelaksana Lokal

Tim pelaksana lokal bertugas melaksanakan pembibitan, penanaman, pengamanan, pemantauan, dan pemeliharaan.

Kelembagaan lokal sangat penting karena pihak eksternal tidak akan selalu berada di lokasi.

4. Pembuatan Bedeng Persemaian

Bedeng merupakan tempat penyemaian propagul hingga menjadi bibit siap tanam.

Lokasinya sebaiknya:

  • Dekat dengan lokasi penanaman.
  • Terhubung dengan pasang surut.
  • Terlindung dari gelombang kuat.
  • Mudah dipantau.
  • Aman dari gangguan ternak.
  • Memiliki akses distribusi.
  • Tidak terkena pencemaran.
  • Memiliki sirkulasi air yang baik.

Bedeng Bertingkat

Bedeng bertingkat memiliki dasar yang ditinggikan. Model ini dapat membantu mengurangi gangguan kepiting atau genangan yang tidak terkontrol.

Kelebihannya:

  • Konstruksi lebih kuat.
  • Pengaturan bibit lebih mudah.
  • Perlindungan lebih baik.
  • Pemantauan bibit lebih teratur.

Kekurangannya:

  • Membutuhkan biaya lebih besar.
  • Memerlukan lebih banyak material.
  • Harus dirawat secara berkala.
  • Pembangunannya membutuhkan tenaga lebih banyak.

Bedeng Tanpa Tingkat

Bedeng dibuat langsung di atas permukaan sedimen.

Kelebihannya:

  • Lebih murah.
  • Mudah dibangun.
  • Dapat memanfaatkan material lokal.
  • Cepat disiapkan.

Kekurangannya adalah bibit lebih mudah dijangkau kepiting atau hama lain apabila lokasi tidak dikelola dengan baik.

Persemaian Tanpa Bedeng

Pada kawasan yang terlindung, propagul dapat disemaikan di bawah tegakan induk.

Metode ini harus mempertimbangkan:

  • Risiko terbawa arus.
  • Gangguan kepiting.
  • Naungan.
  • Kepadatan.
  • Kemudahan pemindahan.
  • Keamanan lokasi.

Pengaturan Naungan

Bibit muda tidak boleh langsung mengalami tekanan panas berlebihan. Naungan dapat menggunakan daun kelapa, paranet, bambu, atau material lokal.

Namun, naungan juga tidak boleh terlalu rapat karena bibit tetap membutuhkan cahaya dan sirkulasi udara.

5. Survei Sumber Propagul

Sumber propagul sebaiknya berasal dari lokasi terdekat dan memiliki kondisi ekologis serupa dengan lokasi penanaman.

Survei perlu mencatat:

  • Jenis pohon induk.
  • Jumlah pohon.
  • Musim berbuah.
  • Kualitas propagul.
  • Status kepemilikan lokasi.
  • Izin pengambilan.
  • Jarak pengangkutan.
  • Kondisi kesehatan pohon induk.
  • Potensi regenerasi alami.

Pengambilan propagul tidak boleh merusak tegakan induk dan tidak boleh menghabiskan seluruh buah yang tersedia. Sebagian harus dibiarkan untuk regenerasi alami.

Musim Buah Mangrove

Musim buah dapat berbeda antarwilayah. Oleh sebab itu, kalender buah harus dibuat berdasarkan pengamatan lokal.

Dalam pengalaman KeSEMaT di Jepara, beberapa jenis memiliki musim kematangan berbeda. Informasi seperti ini penting untuk menyusun jadwal pembibitan dan penanaman.

6. Pemilihan dan Pengambilan Propagul

Propagul harus dipilih dari pohon induk yang sehat dan telah matang.

Ciri Propagul Rhizophora Matang

Propagul yang matang umumnya ditandai oleh:

  • Kotiledon atau cincin yang mulai menguning atau kecokelatan.
  • Ukuran telah berkembang sempurna.
  • Tidak berlubang.
  • Tidak terserang hama.
  • Tidak patah.
  • Jaringan masih segar.
  • Mudah terlepas dari pohon induk.

Propagul yang belum matang memiliki cadangan makanan dan kesiapan fisiologis yang lebih rendah.

Vivipari dan Kriptovivipari

Mangrove memiliki mekanisme perkecambahan yang unik.

Vivipari adalah kondisi ketika embrio telah berkecambah saat masih menempel pada pohon induk dan bagian kecambah telah keluar dari buah.

Kriptovivipari adalah kondisi ketika biji mulai berkecambah saat masih menempel pada induk, tetapi kecambah masih tertutup bagian buah.

Istilah tersebut menjelaskan mengapa bentuk alat regenerasi mangrove berbeda dari biji tumbuhan darat pada umumnya.

7. Perlakuan Propagul Setelah Dipanen

Setelah dipanen, propagul harus diletakkan di tempat teduh dan dijaga kelembapannya.

Buku karya Aris Priyono menjelaskan praktik perendaman sebelum penyemaian. Secara tradisional, perlakuan ini digunakan untuk membantu mengurangi zat yang menarik pemangsa tertentu dan menjaga propagul sebelum dibibitkan.

Namun, perlakuan harus disesuaikan dengan jenis. Tidak semua propagul memerlukan metode yang sama.

Prinsip utamanya adalah:

  • Hindari paparan matahari langsung.
  • Jangan biarkan propagul mengering.
  • Hindari benturan.
  • Pisahkan propagul yang rusak.
  • Jangan menyimpan terlalu lama.
  • Gunakan air dan wadah yang bersih.
  • Catat asal dan jenisnya.
  • Jaga posisi penyimpanan agar jaringan tidak rusak.

8. Pembibitan Mangrove

Pembibitan bertujuan menghasilkan tanaman yang lebih kuat sebelum dipindahkan ke lapangan.

Alat dan Bahan

Alat yang dapat digunakan meliputi:

  • Propagul.
  • Polibag.
  • Sedimen.
  • Cetok.
  • Bedeng.
  • Label jenis.
  • Alat angkut.
  • Air.
  • Bambu.
  • Tali pengikat.

Pemilihan Media

Media sebaiknya berasal dari lokasi yang memiliki karakteristik mendekati area tanam.

Penggunaan media lokal membantu mengurangi perbedaan kondisi yang terlalu besar ketika bibit dipindahkan.

Tahapan Pembibitan

  1. Siapkan polibag sesuai ukuran propagul.
  2. Pastikan polibag memiliki lubang sirkulasi.
  3. Masukkan sedimen sekitar tiga perempat bagian.
  4. Tanam satu propagul pada setiap polibag.
  5. Atur kedalaman sesuai jenis.
  6. Letakkan bibit di dalam bedeng.
  7. Kelompokkan berdasarkan jenis dan asal.
  8. Berikan label.
  9. Pantau pasang surut dan kesehatan bibit.
  10. Jaga agar bibit tidak terkena panas berlebihan.

Pembibitan Rhizophora

Propagul Rhizophora ditancapkan ke media dengan kedalaman yang cukup untuk membuatnya stabil tanpa merusak jaringan.

Apabila mudah roboh, beberapa polibag dapat diikat secara longgar. Ikatan dilepas setelah akar dan daun berkembang.

Pembibitan Bruguiera

Propagul yang digunakan harus sehat, segar, bebas hama, dan telah matang. Kelopak tidak boleh dicabut secara paksa karena dapat merusak jaringan.

Pembibitan Ceriops

Propagul dipilih berdasarkan kematangan, panjang, kesehatan, dan kondisi kotiledonnya. Teknik penyemaian dapat menyesuaikan karakter propagul yang lebih kecil.

Pembibitan Avicennia

Buah matang dipilih yang bebas hama. Kulit buah dapat terlepas setelah proses perendaman. Buah kemudian disemaikan pada media lembap dengan kedalaman yang sesuai.

Pembibitan Sonneratia

Biji Sonneratia berasal dari buah yang telah matang. Karena ukuran bijinya kecil, proses pemisahan, penyemaian, dan pemindahan harus dilakukan secara hati-hati.

Propagul atau Bibit?

Penanaman langsung menggunakan propagul lebih murah dan cepat, tetapi lebih rentan terhadap arus, gelombang, predator, serta perubahan sedimen.

Bibit hasil persemaian biasanya lebih besar dan memiliki sistem akar awal yang lebih berkembang. Namun, bibit juga lebih berat, membutuhkan biaya pembibitan, dan berisiko mengalami stres saat dipindahkan.

Pemilihan metode harus mempertimbangkan:

  • Energi gelombang.
  • Kedalaman air.
  • Jenis mangrove.
  • Ketersediaan tenaga.
  • Biaya.
  • Jarak angkut.
  • Risiko predator.
  • Kondisi sedimen.
  • Waktu pelaksanaan.

9. Perlindungan Pantai dan Pemulihan Hidrologi

Dalam buku 2010, pembangunan alat pemecah ombak atau APO ditempatkan sebagai tahapan yang dapat dilakukan apabila dibutuhkan.

Gagasan dasarnya adalah melindungi bibit dari tekanan gelombang sampai tanaman mampu berkembang.

Namun, pembangunan struktur pantai tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Hal yang Harus Dikaji

Sebelum membangun APO, diperlukan kajian mengenai:

  • Arah gelombang.
  • Arus.
  • Transportasi sedimen.
  • Kedalaman.
  • Elevasi.
  • Jarak dari garis pantai.
  • Dampak ke lokasi sekitar.
  • Jenis material.
  • Umur konstruksi.
  • Potensi pencemaran.
  • Biaya pemeliharaan.

Struktur yang salah dapat memindahkan erosi ke tempat lain, mengubah arus, atau mengganggu ekosistem.

Material Lokal dan Ramah Lingkungan

Penggunaan bambu atau material lokal dapat mendukung partisipasi masyarakat dan menekan biaya. Namun, ketahanan, efektivitas, dan dampaknya harus dinilai.

Ban bekas tidak direkomendasikan sebagai pilihan utama karena berpotensi melepaskan bahan pencemar dan menjadi sampah ketika konstruksinya rusak.

Pemulihan Hidrologi Lebih Penting daripada Sekadar Struktur

Pada kawasan bekas tambak atau lahan yang saluran airnya tertutup, membuka kembali aliran pasang surut dapat menjadi langkah yang lebih penting dibandingkan penanaman.

Hidrologi merupakan salah satu faktor utama dalam desain pemulihan mangrove. Tanpa pasang surut yang sesuai, bibit berkualitas tinggi sekalipun dapat mengalami kematian.

10. Penanaman Mangrove

Penanaman dilakukan setelah lokasi, jenis, masyarakat, bibit, perlindungan, dan rencana pemeliharaan telah siap.

Menentukan Jenis Berdasarkan Habitat

Secara umum:

  • Rhizophora sering tumbuh baik pada substrat berlumpur dan lokasi yang relatif terlindung.
  • Avicennia dapat ditemukan pada berbagai kondisi, termasuk bagian depan yang sesuai dengan toleransi jenisnya.
  • Sonneratia umumnya berhubungan dengan kawasan yang sering tergenang dan memiliki aliran air yang baik.
  • Bruguiera dan Ceriops banyak ditemukan pada zona yang lebih stabil dan tidak selalu berada di garis paling depan.

Pembagian tersebut bukan aturan mutlak. Keputusan harus berdasarkan vegetasi referensi dan kondisi lokal.

Faktor Lingkungan

Faktor yang harus dianalisis meliputi:

  • Substrat.
  • Salinitas.
  • Elevasi.
  • Pasang surut.
  • Suhu.
  • pH.
  • Musim.
  • Saluran air.
  • Gelombang.
  • Riwayat vegetasi.
  • Regenerasi alami.
  • Status lahan.

Waktu Penanaman

Penanaman lebih mudah dilakukan ketika air surut dan kondisi cuaca mendukung.

Hindari penanaman ketika:

  • Gelombang sedang tinggi.
  • Terjadi hujan ekstrem.
  • Arus terlalu kuat.
  • Sedimen sangat tidak stabil.
  • Lokasi tergenang terlalu dalam.
  • Cuaca membahayakan peserta.

Persiapan Lokasi

Sebelum penanaman:

  1. Bersihkan sampah tanpa merusak biota.
  2. Tandai jalur akses.
  3. Tentukan titik tanam.
  4. Siapkan ajir apabila diperlukan.
  5. Kelompokkan bibit berdasarkan jenis.
  6. Siapkan wadah pengumpulan polibag.
  7. Berikan pengarahan kepada peserta.
  8. Tentukan sistem pencatatan jumlah tanaman.

Cara Menanam Bibit Mangrove

  1. Bawa bibit secara hati-hati.
  2. Buka polibag tanpa merusak media dan akar.
  3. Kumpulkan polibag agar tidak menjadi sampah.
  4. Buat lubang sedikit lebih besar daripada media bibit.
  5. Masukkan bibit dalam posisi tegak.
  6. Timbun media secara perlahan.
  7. Jangan memadatkan sedimen secara berlebihan.
  8. Ikat bibit pada ajir jika benar-benar diperlukan.
  9. Catat jumlah dan jenis yang ditanam.
  10. Pastikan akar tertutup sedimen dengan baik.

Fungsi Ajir

Ajir dapat digunakan untuk:

  • Menandai titik tanam.
  • Memudahkan penghitungan.
  • Mendukung bibit pada lokasi tertentu.
  • Membantu pemantauan.
  • Mengurangi risiko bibit roboh.

Namun, ajir tidak selalu wajib. Penggunaannya harus mempertimbangkan kebutuhan lapangan, biaya, sampah material, dan potensi gangguan.

Jarak Tanam

Jarak 1 x 1 meter sering digunakan dalam berbagai program. Akan tetapi, jarak tanam tidak boleh diterapkan secara otomatis.

Jarak harus disesuaikan dengan:

  • Tujuan rehabilitasi.
  • Jenis mangrove.
  • Kondisi regenerasi alami.
  • Energi gelombang.
  • Luas efektif.
  • Kebutuhan ruang tumbuh.
  • Pola vegetasi referensi.

Menghindari Monokultur

Penanaman satu jenis dalam jumlah sangat besar dapat mengurangi keragaman dan meningkatkan risiko kegagalan serempak.

Namun, keragaman juga tidak berarti semua jenis harus dicampur secara acak. Pola penanaman harus meniru zonasi dan kelompok alami.

Prinsipnya bukan mencampurkan sebanyak mungkin jenis, melainkan menempatkan jenis yang tepat pada habitat yang tepat.

11. Penyulaman

Penyulaman adalah penggantian bibit mati atau rusak dengan bibit baru.

Tahap ini sangat penting karena mortalitas setelah penanaman merupakan bagian alami dari proses rehabilitasi.

Kapan Penyulaman Dilakukan?

Waktu penyulaman ditentukan berdasarkan pemantauan. Pemeriksaan dapat dilakukan setelah:

  • Beberapa minggu.
  • Tiga bulan.
  • Enam bulan.
  • Satu tahun.
  • Peristiwa cuaca ekstrem.

Frekuensinya menyesuaikan risiko lokasi.

Sebelum Mengganti Bibit, Cari Penyebab Kematian

Bibit dapat mati akibat:

  • Gelombang.
  • Abrasi.
  • Sedimentasi berlebihan.
  • Genangan tidak sesuai.
  • Salinitas ekstrem.
  • Hama.
  • Sampah.
  • Kesalahan jenis.
  • Kerusakan akar.
  • Gangguan manusia atau ternak.
  • Perubahan saluran air.
  • Kualitas bibit yang buruk.

Apabila penyebabnya tidak diperbaiki, penyulaman hanya akan menghasilkan kematian berulang.

Pengendalian Hama

Buku karya Aris Priyono mencatat gangguan yang dikenal masyarakat pesisir sebagai 3W:

  • Wideng, yaitu kepiting.
  • Wedhus, yaitu kambing.
  • Wong, yaitu manusia.

Gangguan lain dapat berupa ulat, teritip, serangga, ganggang, serta sampah.

Pengendalian manual dan preventif harus diprioritaskan. Penggunaan insektisida, moluskisida, atau bahan kimia di kawasan pesisir berisiko terhadap ikan, udang, kepiting, dan organisme non-target.

Langkah yang lebih aman meliputi:

  • Pemasangan pagar ternak.
  • Pembersihan ganggang secara manual.
  • Pemantauan rutin.
  • Perbaikan sirkulasi air.
  • Pengambilan hama secara terbatas.
  • Perlindungan bibit.
  • Pendidikan masyarakat.
  • Pengurangan sumber gangguan.

12. Pemeliharaan dan Pemantauan Jangka Panjang

Pemeliharaan bertujuan memastikan tanaman tumbuh menjadi tegakan yang sehat.

Kegiatan pemeliharaan meliputi:

  • Pembersihan sampah.
  • Pemeriksaan ajir.
  • Perbaikan saluran air.
  • Pengendalian gangguan.
  • Pengukuran pertumbuhan.
  • Penyulaman.
  • Pengamanan kawasan.
  • Penjarangan apabila diperlukan.
  • Dokumentasi perubahan lokasi.

Mengukur Tingkat Kelulushidupan

Tingkat kelulushidupan atau survival rate dapat dihitung menggunakan rumus:

SR = Jumlah tanaman hidup ÷ Jumlah tanaman awal × 100%

Contoh:

Apabila 1.000 bibit ditanam dan setelah enam bulan ditemukan 700 bibit hidup, maka:

SR = 700 ÷ 1.000 × 100% = 70%

Namun, nilai tersebut harus dijelaskan bersama kondisi lokasi, waktu pemantauan, jenis tanaman, dan penyebab kematian.

Parameter Pertumbuhan

Pemantauan dapat mencakup:

  • Tinggi tanaman.
  • Diameter batang.
  • Jumlah daun.
  • Jumlah cabang.
  • Kondisi pucuk.
  • Serangan hama.
  • Kondisi substrat.
  • Regenerasi alami.
  • Kondisi saluran air.
  • Tutupan vegetasi.

Keberhasilan Tidak Harus Berarti 100%

Ekosistem alami selalu mengalami mortalitas. Tidak realistis mengharapkan seluruh bibit bertahan selama puluhan tahun.

Keberhasilan lebih tepat dinilai dari:

  • Terbentuknya tegakan yang mampu berkembang.
  • Munculnya regenerasi alami.
  • Berfungsinya hidrologi.
  • Meningkatnya tutupan vegetasi.
  • Kembalinya fungsi habitat.
  • Berkurangnya tekanan terhadap kawasan.
  • Berlanjutnya pengelolaan masyarakat.
  • Terbentuknya perlindungan kawasan.

Penjarangan

Apabila tanaman tumbuh terlalu rapat, penjarangan dapat dipertimbangkan untuk memberikan ruang tumbuh.

Penjarangan harus dilakukan hati-hati berdasarkan kajian, bukan sekadar merapikan vegetasi.

13. Publikasi dan Penyebaran Pengetahuan

Tahap terakhir dalam buku Aris Priyono adalah publikasi.

Hasil rehabilitasi dapat dikembangkan menjadi:

  • Laporan.
  • Buku.
  • Artikel ilmiah.
  • Artikel populer.
  • Video dokumenter.
  • Infografik.
  • Peta digital.
  • Modul pendidikan.
  • Konten media sosial.
  • Materi pelatihan.
  • Basis data pemantauan.

Publikasi bukan hanya kegiatan promosi. Dokumentasi berfungsi untuk:

  • Menyampaikan hasil secara transparan.
  • Mencatat kegagalan dan pembelajaran.
  • Mendorong replikasi.
  • Membangun akuntabilitas.
  • Menyediakan data jangka panjang.
  • Meningkatkan literasi mangrove.
  • Menjadi dasar perbaikan program.

Program yang baik tidak hanya memublikasikan jumlah bibit, tetapi juga melaporkan tingkat kelulushidupan, pertumbuhan, kendala, penyulaman, kondisi sosial, dan perkembangan kawasan.

Kesalahan Umum dalam Rehabilitasi Mangrove

1. Menanam di Dataran Lumpur yang Bukan Habitat Mangrove

Dataran lumpur dapat menjadi habitat penting bagi burung air, bentos, ikan, dan organisme lainnya. Tidak semua area kosong harus dihijaukan.

2. Menggunakan Satu Jenis untuk Semua Lokasi

Penanaman Rhizophora di seluruh zona tanpa kajian merupakan kesalahan umum.

3. Mengabaikan Hidrologi

Saluran air tertutup, elevasi berubah, atau genangan tidak sesuai dapat menyebabkan kegagalan meskipun bibit berkualitas baik.

4. Mengejar Jumlah Bibit

Jumlah bibit sering menjadi indikator utama karena mudah dihitung. Padahal, jumlah yang besar tidak selalu menghasilkan ekosistem yang pulih.

5. Tidak Menyediakan Anggaran Pemeliharaan

Anggaran sering habis pada seremoni, konsumsi, pakaian kegiatan, panggung, dan dokumentasi. Pemantauan justru tidak memiliki dukungan dana.

6. Mengabaikan Status Lahan

Konflik kepemilikan dapat menghentikan program setelah penanaman.

7. Melibatkan Masyarakat Hanya sebagai Tenaga Kerja

Tanpa kepemilikan sosial, masyarakat tidak memiliki alasan kuat untuk menjaga hasil program.

8. Menggunakan Bahan Kimia secara Sembarangan

Pestisida dapat membahayakan biota perairan dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

9. Tidak Mendokumentasikan Kegagalan

Kegagalan harus dicatat dan dipelajari. Menutupinya hanya akan membuat kesalahan yang sama terulang.

10. Menyamakan Penanaman dengan Rehabilitasi

Menanam bibit tidak otomatis berarti ekosistem telah direhabilitasi. Pemulihan harus mencakup fungsi ekologis, sosial, dan hidrologis.

Standar Program Rehabilitasi Mangrove yang Profesional

Program rehabilitasi profesional setidaknya memiliki komponen berikut.

Dokumen Perencanaan

  • Kajian dasar.
  • Peta lokasi.
  • Analisis kesesuaian.
  • Rencana jenis.
  • Rencana sosial.
  • Rencana pemeliharaan.
  • Matriks risiko.
  • Rencana pemantauan.
  • Status dan persetujuan penggunaan lahan.

Dokumen Pelaksanaan

  • Daftar bibit.
  • Asal bibit.
  • Foto koordinat.
  • Tanggal tanam.
  • Daftar peserta.
  • Catatan cuaca.
  • Berita acara.
  • Peta titik penanaman.
  • Dokumentasi pengelolaan sampah.

Dokumen Pemantauan

  • Jumlah tanaman hidup.
  • Jumlah tanaman mati.
  • Pertumbuhan.
  • Gangguan.
  • Penyulaman.
  • Regenerasi alami.
  • Perubahan tutupan.
  • Kondisi hidrologi.
  • Rekomendasi tindak lanjut.

Indikator Sosial

  • Jumlah masyarakat terlibat.
  • Peran kelompok lokal.
  • Kesepakatan pengelolaan.
  • Manfaat ekonomi.
  • Pengetahuan masyarakat.
  • Keberlanjutan kelembagaan.
  • Tingkat penerimaan masyarakat.
  • Kejelasan pembagian tanggung jawab.

Rehabilitasi Mangrove untuk Perusahaan dan Program CSR

Perusahaan semakin banyak mendukung penanaman mangrove melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, perusahaan perlu memastikan bahwa mitra pelaksana memiliki:

  • Pengalaman teknis.
  • Data lokasi.
  • Mitra masyarakat.
  • Sistem pemantauan.
  • Rencana penyulaman.
  • Dokumentasi transparan.
  • Rencana pengelolaan jangka panjang.
  • Kemampuan menyusun laporan.
  • Pemahaman terhadap kondisi ekologis.

Pertanyaan yang perlu diajukan sebelum mendanai program antara lain:

  1. Mengapa lokasi ini dipilih?
  2. Apakah mangrove pernah tumbuh di sana?
  3. Bagaimana kondisi pasang surutnya?
  4. Mengapa jenis tersebut dipilih?
  5. Dari mana bibit diperoleh?
  6. Siapa pemilik lahannya?
  7. Siapa yang memelihara?
  8. Kapan pemantauan dilakukan?
  9. Apa indikator keberhasilannya?
  10. Apa yang dilakukan apabila tanaman mati?
  11. Bagaimana masyarakat dilibatkan?
  12. Berapa lama program akan dipantau?

CSR mangrove yang baik harus membiayai keseluruhan siklus rehabilitasi, bukan hanya hari penanaman.

Rehabilitasi Mangrove sebagai Investasi Ekologis

Rehabilitasi mangrove merupakan investasi jangka panjang.

Hasilnya tidak selalu terlihat dalam hitungan minggu. Bibit membutuhkan waktu untuk tumbuh, beradaptasi, membentuk akar, menghasilkan propagul, dan membangun interaksi dengan organisme lain.

Karena itu, program harus menggunakan perspektif tahunan, bukan sekadar agenda satu hari.

Investasi ekologis meliputi:

  • Penelitian.
  • Penguatan masyarakat.
  • Pemulihan hidrologi.
  • Pembibitan.
  • Penanaman selektif.
  • Pemeliharaan.
  • Pemantauan.
  • Perlindungan.
  • Pengembangan pengetahuan.
  • Penguatan kelembagaan lokal.

Warisan Pemikiran Aris Priyono dalam Rehabilitasi Mangrove

Nilai utama buku Aris Priyono bukan hanya terdapat pada petunjuk teknis pembibitan atau penanaman.

Warisan terpentingnya adalah cara memandang rehabilitasi mangrove sebagai proses sosial dan ekologis yang utuh.

Beberapa pemikiran penting yang tetap relevan adalah:

  • Rehabilitasi memerlukan tim dan perencanaan.
  • Penelitian harus dilakukan sebelum penanaman.
  • Masyarakat harus menjadi subjek.
  • Jenis mangrove harus sesuai habitat.
  • Pemeliharaan menentukan keberhasilan.
  • Penyulaman merupakan bagian normal dari program.
  • Hama dan gangguan harus ditangani secara hati-hati.
  • Publikasi diperlukan untuk menyebarkan pembelajaran.
  • Program harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
  • Penanaman bukan satu-satunya cara memulihkan mangrove.
  • Kesuksesan harus dinilai dalam jangka panjang.

Prinsip tersebut membuat buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia layak ditempatkan sebagai salah satu rujukan praktis rehabilitasi mangrove berbasis pengalaman lapangan di Indonesia.

Kesimpulan

Rehabilitasi mangrove bukan kegiatan menancapkan bibit sebanyak-banyaknya ke dalam lumpur.

Rehabilitasi adalah proses mengembalikan kondisi yang memungkinkan ekosistem tumbuh, berkembang, dan menjalankan fungsinya.

Panduan karya Aris Priyono menunjukkan bahwa keberhasilan harus dibangun melalui 13 tahapan, yaitu:

  1. Rapat pendahuluan.
  2. Penelitian awal.
  3. Sosialisasi masyarakat.
  4. Pembuatan bedeng.
  5. Survei sumber propagul.
  6. Pengambilan propagul.
  7. Perlakuan propagul.
  8. Pembibitan.
  9. Perlindungan pantai atau pemulihan kondisi fisik.
  10. Penanaman.
  11. Penyulaman.
  12. Pemeliharaan.
  13. Publikasi.

Dari keseluruhan tahapan tersebut, terdapat satu pesan mendasar: menanam mangrove harus diikuti komitmen untuk memeliharanya.

Satu bibit yang berhasil tumbuh dapat menyediakan ruang hidup bagi banyak organisme. Namun, satu kegiatan penanaman yang dilakukan tanpa kajian dapat menghasilkan ribuan bibit mati dan sumber daya yang terbuang.

Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove Indonesia harus beralih dari orientasi jumlah menuju kualitas, dari seremoni menuju pemeliharaan, serta dari proyek jangka pendek menuju pemulihan ekosistem jangka panjang.

Semangat yang diperkenalkan Aris Priyono bersama KeSEMaT sejak awal tetap penting untuk diteruskan: ambil pengetahuan, tanam dengan benar, pelihara secara konsisten, dan pastikan mangrove mendapatkan kesempatan untuk hidup. (ADM).

Daftar Pustaka

Anwar, J., Damanik, S., Hisyam, N., dan Whitten, A. 1984. Ecology of Sumatra. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Bengen, D. G. 2001. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kitamura, S., Anwar, C., Chaniago, A., dan Baba, S. 1997. Buku Panduan Mangrove di Indonesia: Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Japan International Cooperation Agency.

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Priyono, A. 2007. Laporan Proyek Konservasi dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. KeSEMaT, CV Mitra Adhi Pranata, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang. Semarang.

Priyono, A. 2010. Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia. KeSEMaT. Semarang.

Saenger, P., Hegerl, E. J., dan Davie, J. D. S. 1983. Status of Mangrove Ecosystems. IUCN Commission on Ecology.

Soemodihardjo, S. dan Soerianegara, I. 1989. The Status of Mangrove Forest in Indonesia. Dalam Symposium on Mangrove Management: Its Ecological and Economic Consideration. BIOTROP Special Publication.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Taniguchi, K., Takashima, S., dan Suko, O. 1999. Manual Silvikultur Mangrove untuk Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia dan Japan International Cooperation Agency.

Tomlinson, P. B. 1994. The Botany of Mangroves. Cambridge University Press. New York.

No comments:

Post a Comment