21.7.26

Mitos Angka Kebijakan: Mengapa Klaim Kelulushidupan Mangrove 80% Bisa Semu, dan 10% Pun Belum Tentu Gagal

Semarang - KeSEMaTONLINE. Kelulushidupan mangrove atau mangrove survival rate sering menjadi salah satu angka yang paling cepat digunakan untuk menilai keberhasilan program rehabilitasi mangrove. Semakin tinggi persentasenya, semakin mudah sebuah kegiatan dianggap berhasil. Angka 70%, 80%, bahkan mendekati 100% terdengar meyakinkan dalam laporan program, presentasi perusahaan, maupun publikasi kepada masyarakat.

Namun, apakah kelulushidupan mangrove 80% selalu berarti sebuah ekosistem berhasil dipulihkan?

Jawabannya: belum tentu.

Sebaliknya, kelulushidupan yang jauh lebih rendah juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh proses rehabilitasi mangrove telah gagal.

Persoalannya terletak pada cara kita mendefinisikan keberhasilan.

Mangrove bukan tanaman perkebunan yang keberhasilannya cukup dihitung berdasarkan berapa batang yang masih berdiri setelah ditanam. Mangrove merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang sangat dinamis, dipengaruhi pasang surut, gelombang, sedimentasi, salinitas, elevasi, hidrologi, suplai propagul, interaksi biota, serta aktivitas manusia.

Karena itu, keberhasilan rehabilitasi mangrove seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Berapa persen bibit yang masih hidup?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Apakah proses ekologis yang memungkinkan hutan mangrove tumbuh dan mempertahankan dirinya sendiri telah kembali?”

Kelulushidupan Mangrove 80% Belum Tentu Berarti Restorasi Berhasil

Angka survival rate memang penting.

KeSEMaT tidak berpandangan bahwa kelulushidupan bibit tidak perlu diukur. Sebaliknya, pengukuran kelulushidupan merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pemantauan rehabilitasi mangrove.

Masalah muncul ketika satu angka tersebut dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan restorasi.

Sebagai contoh, sebuah kegiatan dapat melaporkan tingkat kelulushidupan sebesar 80% pada beberapa minggu atau beberapa bulan pertama setelah penanaman. Secara administratif, hasil tersebut terlihat sangat baik.

Namun, mangrove tersebut masih harus melewati berbagai tekanan lingkungan dalam jangka lebih panjang.

Bibit harus menghadapi:

  • perubahan pasang surut;
  • gelombang dan arus;
  • perubahan musim;
  • sedimentasi atau erosi;
  • perubahan salinitas;
  • serangan herbivora;
  • sampah yang terbawa arus;
  • kompetisi vegetasi;
  • hingga berbagai gangguan antropogenik.

Karena itulah, waktu pengukuran sangat menentukan arti sebuah angka kelulushidupan.

Angka 80% tiga minggu setelah penanaman jelas tidak dapat langsung dibandingkan dengan 80% setelah satu atau dua tahun.

Lebih jauh lagi, sebuah tegakan yang menunjukkan kelulushidupan tinggi belum tentu telah berkembang menjadi ekosistem mangrove yang berfungsi, beragam, dan mampu beregenerasi secara mandiri.

Pedoman restorasi mangrove modern semakin menekankan bahwa tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan kumpulan pohon, tetapi membangun kembali hutan mangrove yang memiliki struktur, fungsi ekologis, keanekaragaman, dan kemampuan mempertahankan dirinya sendiri.

Fakta Menarik: Median Kelulushidupan dalam Sebuah Studi Hanya 10%

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wodehouse dan Rayment (2019) terhadap 119 upaya rehabilitasi mangrove pada 74 lokasi di 13 desa di Asia Tenggara menemukan bahwa rata-rata kelulushidupan propagul hanya mencapai sekitar 20%, dengan nilai median sebesar 10%. Bahkan, sekitar 66% upaya rehabilitasi yang dianalisis memiliki tingkat kelulushidupan di bawah 20%.

Temuan tersebut tentu tidak berarti bahwa angka 10% harus dijadikan sebagai standar keberhasilan rehabilitasi mangrove. Menyimpulkan bahwa “target kelulushidupan mangrove cukup 10%” juga merupakan interpretasi yang keliru.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa tingkat kelulushidupan yang rendah merupakan realitas yang banyak ditemukan dalam praktik rehabilitasi mangrove, terutama apabila kegiatan penanaman dilakukan tanpa mempertimbangkan kesesuaian lokasi, jenis mangrove, kondisi hidrologi, elevasi, serta potensi regenerasi alami.

Penelitian yang sama juga menemukan bahwa penanaman pada mudflat atau dataran lumpur tertentu hanya menghasilkan kelulushidupan propagul sekitar 1,4%. Salah satu penyebabnya adalah kegiatan penanaman dilakukan pada lokasi yang secara ekologis memang tidak sesuai bagi jenis mangrove yang digunakan.

Lebih jauh lagi, berdasarkan keberadaan dan potensi regenerasi alami pada lokasi penelitian, hanya sekitar 16% dari seluruh upaya penanaman yang dianalisis dinilai benar-benar diperlukan.

Artinya, persoalan utama dalam rehabilitasi mangrove bukan sekadar menentukan apakah target kelulushidupan harus berada pada angka 10%, 50%, atau 80%.

Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah mangrove ditanam atau dipulihkan pada lokasi yang secara ekologis memang memungkinkan mangrove untuk hidup, tumbuh, dan beregenerasi secara berkelanjutan.

Alam Tidak Mengenal Target Administratif Kelulushidupan

Di habitat alaminya, mangrove menghasilkan propagul dalam jumlah besar.

Sebagian akan jatuh di sekitar pohon induknya. Sebagian lainnya hanyut mengikuti pasang surut dan arus sebelum akhirnya terdampar pada lokasi yang memungkinkan untuk tumbuh.

Tidak seluruh propagul tersebut akan menjadi pohon dewasa.

Sebagian dapat:

  • terbawa arus;
  • terkubur sedimen;
  • mengalami kekeringan;
  • dimakan fauna;
  • terdampar pada elevasi yang tidak sesuai;
  • atau gagal membentuk sistem perakaran.

Proses tersebut merupakan bagian dari dinamika regenerasi alami mangrove.

Karena itu, menggunakan logika bahwa setiap propagul yang ditanam manusia harus menghasilkan satu pohon dewasa sebenarnya terlalu menyederhanakan proses ekologis yang jauh lebih kompleks.

Literatur mengenai Ecological Mangrove Restoration atau EMR bahkan menjelaskan bahwa penanaman mangrove sering kali tidak diperlukan apabila kondisi hidrologis telah sesuai dan tersedia sumber propagul alami.

Dalam kondisi seperti itu, mangrove dapat kembali melalui regenerasi alami.

Kesalahan Besar: Menanam Sebelum Memahami Hidrologi

Salah satu pelajaran paling penting dalam rehabilitasi mangrove adalah:

Mangrove tidak sekadar membutuhkan lumpur dan air laut.

Setiap jenis mangrove memiliki toleransi tertentu terhadap:

  • frekuensi genangan;
  • lama genangan;
  • kedalaman air;
  • salinitas;
  • elevasi;
  • energi gelombang;
  • karakteristik substrat;
  • serta dinamika sedimentasi.

FAO menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan restorasi mangrove adalah ketidaksesuaian antara jenis yang digunakan dengan kondisi hidrologi lokasi, termasuk frekuensi serta kedalaman genangan pasang surut.

Inilah alasan mengapa pendekatan:

“Ada lahan kosong, maka tanami mangrove”

tidak selalu benar.

Lahan terbuka di wilayah pesisir belum tentu merupakan habitat mangrove.

Demikian pula, kawasan berlumpur tidak otomatis harus ditanami Rhizophora.

Dalam beberapa kondisi, lokasi tersebut dapat berupa dataran pasang surut alami yang memang secara ekologis tidak seharusnya berubah menjadi tegakan mangrove rapat.

Karena itu, pemilihan tapak harus mendahului penanaman, bukan sebaliknya.

Ketika Target Jumlah Bibit Justru Menjadi Masalah

Program rehabilitasi mangrove sering memiliki target yang sangat mudah dikomunikasikan:

10.000 bibit ditanam.

100.000 mangrove ditanam.

Satu juta mangrove ditanam.

Angka tersebut memang efektif untuk komunikasi publik.

Namun, target jumlah tanaman dapat menjadi masalah ketika keputusan ekologis mulai mengikuti kebutuhan untuk memenuhi angka tersebut.

Penelitian mengenai rehabilitasi mangrove di Asia Tenggara menemukan bahwa orientasi terhadap target luas atau jumlah propagul dapat menghasilkan lokasi penanaman yang kurang optimal.

Menariknya, penelitian tersebut memperkirakan hanya sekitar 16% upaya penanaman yang dianalisis benar-benar diperlukan, apabila potensi regenerasi alami juga dipertimbangkan.

Temuan ini memperkuat satu prinsip yang semakin penting dalam restorasi mangrove modern:

Tidak semua kawasan mangrove yang rusak harus dipulihkan dengan penanaman.

Terkadang tindakan terbaik justru memperbaiki kondisi yang menghambat alam bekerja.

To Plant or Not to Plant?

Pertanyaan ini menjadi salah satu prinsip penting dalam perkembangan rehabilitasi mangrove berbasis ekologi.

Wetlands International bahkan menggunakan pendekatan To Plant or Not to Plant? untuk mendorong perubahan paradigma dari penanaman massal menuju restorasi ekologi.

Pendekatannya sederhana tetapi mendasar:

Perbaiki kondisi ekologis terlebih dahulu. Biarkan regenerasi alami bekerja apabila memungkinkan. Tanam hanya ketika memang diperlukan.

Dalam Ecological Mangrove Restoration dan Community-Based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR), perhatian diberikan pada pemulihan:

  • hidrologi;
  • aliran pasang surut;
  • dinamika sedimen;
  • kondisi tanah;
  • suplai propagul;
  • kondisi sosial masyarakat;
  • serta faktor penghambat regenerasi lainnya.

Setelah hambatan tersebut diperbaiki, mangrove dapat memiliki kesempatan untuk kembali secara alami.

Wetlands International menyebut banyak program penanaman mangrove massal mengalami kegagalan, terutama ketika dilakukan pada kawasan yang telah mengalami perubahan ekologis besar tanpa terlebih dahulu memperbaiki faktor yang menyebabkan kerusakannya.

Apakah Kelulushidupan Mangrove 10% Berarti Berhasil?

Di sinilah pembahasannya harus ditempatkan secara hati-hati.

Bayangkan terdapat 1.000 bibit mangrove yang ditanam dan setelah periode tertentu hanya tersisa 100 individu.

Secara matematis:

Kelulushidupannya adalah 10%.

Apakah proyek tersebut gagal?

Belum tentu.

Tetapi apakah otomatis berhasil?

Juga belum tentu.

Kita harus mengetahui penyebabnya.

Apabila 90% bibit mati karena lokasi yang dipilih salah, jenis mangrove tidak sesuai, atau hidrologi kawasan rusak, angka 10% tersebut merupakan tanda bahwa metode rehabilitasi perlu dievaluasi.

Namun, situasinya berbeda apabila individu yang tersisa:

  • telah tumbuh stabil;
  • beradaptasi dengan kondisi lokasi;
  • mulai memperbaiki sedimentasi;
  • menciptakan struktur habitat;
  • memfasilitasi munculnya regenerasi alami;
  • dan akhirnya berkembang menjadi tegakan yang mampu mempertahankan dirinya sendiri.

Dalam kondisi tersebut, 100 pohon yang berhasil membentuk proses regenerasi ekologis dapat jauh lebih bernilai daripada 800 bibit yang masih hidup sementara tetapi tidak pernah berkembang menjadi hutan mangrove mandiri.

Jadi, angka 10% bukan standar keberhasilan.

Namun, 10% juga tidak boleh otomatis dianggap kegagalan tanpa membaca proses ekologis di balik angka tersebut.

Pohon yang Bertahan Adalah Investasi Ekologis Jangka Panjang

Mangrove yang telah berhasil melewati fase awal pertumbuhan memiliki nilai ekologis yang semakin meningkat seiring bertambahnya umur dan ukuran.

Ketika telah mencapai fase reproduktif, mangrove dapat menghasilkan propagul yang kemudian tersebar melalui pasang surut.

Apabila kondisi hidrologi dan substrat mendukung, propagul tersebut dapat membentuk regenerasi baru tanpa harus terus-menerus bergantung pada penanaman manusia.

FAO mencatat bahwa mangrove dapat menghasilkan ratusan bahkan ribuan benih atau bibit per pohon setiap tahun, sehingga ketika kondisi hidrologinya benar, kawasan bekas mangrove dapat mengalami kolonisasi kembali secara alami.

Inilah salah satu alasan mengapa melindungi pohon yang telah berhasil tumbuh menjadi sangat penting.

Satu pohon mangrove yang matang bukan sekadar satu batang pohon.

Ia merupakan:

sumber propagul, pembentuk habitat, perangkap sedimen, penyimpan karbon, pelindung pesisir, dan bagian dari mesin regenerasi sebuah ekosistem.

Rawat yang Hidup, Jangan Hanya Mengejar Penanaman Baru

Paradigma rehabilitasi mangrove perlu bergerak dari:

berapa banyak yang ditanam

menjadi:

berapa banyak yang berhasil membentuk kembali ekosistem.

Penanaman tetap dapat menjadi salah satu metode rehabilitasi.

Namun, penanaman seharusnya bukan refleks pertama terhadap seluruh persoalan mangrove.

Dalam banyak kasus, melindungi mangrove eksisting, menghilangkan penyebab kerusakan, memperbaiki hidrologi, dan memberikan kesempatan kepada regenerasi alami dapat menjadi strategi yang lebih tepat.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika anggaran rehabilitasi terbatas.

Setiap bibit yang ditanam membutuhkan biaya:

  • pembibitan;
  • transportasi;
  • tenaga penanaman;
  • perlengkapan;
  • pemeliharaan;
  • pemantauan;
  • hingga penyulaman.

Apabila penyebab utama kegagalan ekologis belum diperbaiki, menanam kembali setiap tahun hanya akan mengulang siklus yang sama.

Tanam. Mati. Tanam kembali. Mati kembali.

Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan kekurangan bibit.

Persoalannya adalah kondisi ekologis yang tidak memungkinkan bibit tumbuh.

Mangrove Dewasa Memberikan Fungsi yang Tidak Bisa Langsung Digantikan Bibit

Melindungi mangrove yang telah tumbuh juga merupakan bagian penting dari strategi konservasi.

Mangrove dengan sistem perakaran yang berkembang dapat membantu memperlambat aliran air, menangkap sedimen, menyediakan kompleksitas habitat bagi berbagai biota, menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah, serta mendukung fungsi perlindungan pesisir.

Bibit yang baru ditanam tentu belum dapat langsung menggantikan seluruh fungsi tersebut.

Diperlukan waktu agar tanaman berkembang menjadi struktur vegetasi yang lebih kompleks.

Karena itu, logika:

“Mangrove lama ditebang, nanti bisa ditanam kembali”

merupakan penyederhanaan yang berbahaya.

Ekosistem yang telah berkembang selama puluhan tahun tidak dapat digantikan secara instan oleh ribuan propagul yang baru ditancapkan hari ini.

Konservasi mangrove eksisting harus selalu menjadi prioritas sebelum rehabilitasi.

Survival Rate Tetap Penting, tetapi Harus Dibaca Bersama Indikator Lain

Lantas, apakah survival rate tidak diperlukan?

Tentu diperlukan.

Kelulushidupan tetap menjadi indikator penting untuk mengevaluasi apakah metode rehabilitasi berjalan sesuai harapan.

Namun, evaluasi yang baik seharusnya tidak berhenti pada satu angka.

Keberhasilan rehabilitasi mangrove idealnya juga mempertimbangkan sejumlah indikator lainnya, seperti:

1. Pertumbuhan

Apakah tinggi, diameter, jumlah daun, atau parameter pertumbuhan lainnya menunjukkan perkembangan yang sehat?

2. Regenerasi Alami

Apakah mulai ditemukan semai dan anakan yang muncul tanpa ditanam manusia?

3. Kesesuaian Hidrologi

Apakah pola genangan dan aliran pasang surut sudah mendukung pertumbuhan mangrove?

4. Stabilitas Sedimen

Apakah kawasan mengalami sedimentasi yang mendukung atau justru terus mengalami erosi?

5. Keanekaragaman Vegetasi

Apakah kawasan berkembang menjadi sistem yang lebih beragam atau hanya menjadi monokultur satu jenis?

6. Kehadiran Biota

Apakah ikan, kepiting, moluska, burung, dan organisme lainnya mulai memanfaatkan habitat?

7. Kemampuan Regenerasi

Apakah tegakan mangrove mulai menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan generasinya sendiri?

8. Keberlanjutan Sosial

Apakah masyarakat sekitar memiliki keterlibatan, hak akses, insentif, dan komitmen untuk mempertahankan kawasan?

FAO juga menekankan bahwa evaluasi restorasi mangrove perlu mempertimbangkan tidak hanya vegetasi, tetapi juga rekrutmen fauna, fungsi ekosistem, serta potensi pemanfaatan berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan tidak lagi direduksi menjadi satu angka.

Dari Survival Rate Menuju Self-Sustaining Mangrove Ecosystem

Pada akhirnya, tujuan rehabilitasi mangrove bukanlah mempertahankan angka kelulushidupan setinggi mungkin untuk memenuhi sebuah tabel laporan.

Tujuan sebenarnya adalah menghasilkan ekosistem mangrove yang mampu bertahan dan berkembang tanpa ketergantungan terus-menerus terhadap intervensi manusia.

Inilah yang disebut sebagai sistem yang self-sustaining.

Sebuah hutan mangrove yang berhasil dipulihkan seharusnya pada akhirnya mampu:

tumbuh, beregenerasi, beradaptasi, menjalankan fungsi ekologis, dan mempertahankan dirinya sendiri.

Jika setiap beberapa tahun sebuah kawasan masih membutuhkan ribuan bibit baru hanya untuk mempertahankan keberadaan vegetasinya, maka kita perlu bertanya kembali:

Apakah ekosistemnya benar-benar telah pulih?

Jadi, Apakah Angka 80% Itu Semu?

Tidak selalu.

Kelulushidupan 80% dapat menjadi pencapaian yang sangat baik apabila diperoleh melalui metode pemantauan yang benar, periode pengamatan yang memadai, lokasi yang sesuai, dan tanaman terus berkembang menuju ekosistem yang mandiri.

Yang menjadi semu adalah ketika angka tersebut:

  • hanya diukur sesaat setelah penanaman;
  • tidak menjelaskan periode pemantauan;
  • mengabaikan kematian setelah musim ekstrem;
  • tidak mempertimbangkan kondisi ekologis;
  • atau digunakan seolah-olah sudah membuktikan keberhasilan restorasi secara keseluruhan.

Sebaliknya, angka 10% juga bukan sesuatu yang harus dirayakan secara otomatis.

Angka rendah harus dibaca, dipahami penyebabnya, dan digunakan sebagai dasar evaluasi.

Namun, penelitian membuktikan bahwa tingkat kelulushidupan rendah memang banyak terjadi dalam rehabilitasi mangrove, sehingga menetapkan satu angka persentase sebagai standar mutlak untuk seluruh lokasi juga berisiko mengabaikan kompleksitas alam.

Keberhasilan Restorasi Mangrove Tidak Bisa Dirangkum Menjadi Satu Persentase

Perdebatan mengenai apakah kelulushidupan mangrove harus 10%, 50%, 80%, atau angka lainnya sebenarnya membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar.

Kita terlalu sering mencoba membuat alam mengikuti indikator administratif.

Padahal, rehabilitasi mangrove berlangsung di bentang alam pesisir yang terus berubah.

Setiap lokasi memiliki karakteristik:

  • hidrologi;
  • geomorfologi;
  • sedimentasi;
  • salinitas;
  • spesies;
  • sumber propagul;
  • penggunaan lahan;
  • serta tekanan sosial yang berbeda.

Bahkan kajian mengenai peluang rehabilitasi mangrove di Indonesia menunjukkan bahwa faktor biogeomorfologi, perubahan penggunaan lahan, status kawasan, tata kelola, serta sistem pemantauan dan evaluasi harus dipertimbangkan untuk meningkatkan peluang keberhasilan rehabilitasi.

Karena itu, tidak ada satu angka kelulushidupan yang dapat menjelaskan keberhasilan seluruh proyek mangrove di semua tempat.

Kesimpulan: Berhenti Mengejar Angka, Mulai Memulihkan Ekosistem

Kelulushidupan mangrove adalah indikator penting, tetapi bukan satu-satunya definisi keberhasilan rehabilitasi mangrove.

Klaim survival rate 80% tidak otomatis berarti sebuah program telah berhasil memulihkan ekosistem apabila angka tersebut hanya menggambarkan kondisi jangka pendek atau tidak diikuti pemulihan fungsi ekologis.

Demikian pula, kelulushidupan 10% tidak otomatis berarti proyek gagal. Sebuah penelitian di Asia Tenggara bahkan mencatat median kelulushidupan sekitar 10% dalam berbagai upaya rehabilitasi yang dianalisis. Namun, angka tersebut bukan standar keberhasilan baru, melainkan pengingat tentang betapa kompleks dan tingginya risiko kegagalan penanaman mangrove ketika faktor ekologis tidak dipahami dengan benar.

Masa depan rehabilitasi mangrove harus bergerak melampaui obsesi terhadap jumlah bibit dan persentase kelulushidupan semata. Lindungi mangrove yang masih ada, pahami hidrologi, pulihkan kondisi ekologis, manfaatkan regenerasi alami, tanam ketika memang diperlukan, lalu pantau hingga kawasan mampu mempertahankan dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan terbesar konservasi mangrove bukan ketika kita dapat mengatakan “80% bibit kami masih hidup,” melainkan ketika kita dapat mengatakan:

“Mangrove ini sudah mampu hidup, tumbuh, beregenerasi, dan mempertahankan dirinya sendiri tanpa terus-menerus bergantung kepada kita.” (ADM).

Daftar Pustaka

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (n.d.). Mangroves Restoration and Management. Sustainable Forest Management Toolbox. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (n.d.). Ecological Mangrove Restoration. Sustainable Forest Management Toolbox. Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Lee, S. Y., Hamilton, S., Barbier, E. B., Primavera, J., & Lewis, R. R. III. (2019). Better restoration policies are needed to conserve mangrove ecosystems. Nature Ecology & Evolution, 3, 870–872.

Wetlands International. (2016). Mangrove Restoration: To Plant or Not to Plant? Wetlands International, Ede, The Netherlands.

Wodehouse, D. C. J., & Rayment, M. B. (2019). Mangrove area and propagule number planting targets produce sub-optimal rehabilitation and afforestation outcomes. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 222, 91–102. https://doi.org/10.1016/j.ecss.2019.04.003

Worthington, T. A., Andradi-Brown, D. A., Bhargava, R., Buelow, C., Bunting, P., Duncan, C., Fatoyinbo, L., Friess, D. A., Goldberg, L., Hilarides, L., Lagomasino, D., Landis, E., Longley-Wood, K., Lovelock, C. E., Murray, N. J., Narayan, S., Rosenqvist, A., Sievers, M., Simard, M., Thomas, N., van Eijk, P., Zganjar, C., & Spalding, M. (2020). Harnessing big data to support the conservation and rehabilitation of mangrove forests globally. One Earth, 2(5), 429–443.

No comments:

Post a Comment