Semarang – KeSEMaTBLOG. Kualitas air mangrove merupakan gambaran kondisi fisik dan kimia perairan yang berinteraksi dengan ekosistem mangrove dan dapat diketahui melalui pengukuran parameter seperti suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, padatan tersuspensi, serta nutrien. Data kualitas air penting untuk memahami kondisi habitat, pengaruh pasang surut, masukan air tawar, potensi pencemaran, serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi vegetasi dan organisme yang hidup di kawasan mangrove.
Namun, kualitas air pada ekosistem mangrove tidak dapat dipahami hanya melalui satu angka.
Mangrove berada pada lingkungan intertidal yang sangat dinamis. Air laut masuk ketika pasang, air tawar dapat datang dari sungai atau limpasan daratan, evaporasi dapat meningkatkan salinitas, sementara dekomposisi bahan organik dapat memengaruhi pH dan oksigen terlarut.
Akibatnya, nilai kualitas air dapat berubah:
antarjam;
antara pasang dan surut;
antara musim hujan dan kemarau;
antara saluran dengan bagian dalam mangrove;
serta:
antarzona dalam satu kawasan.
Variasi salinitas akibat pasang surut dan masukan air tawar memang merupakan salah satu karakter fisik utama ekosistem mangrove.
Karena itu, pengukuran kualitas air mangrove harus selalu disertai informasi waktu, lokasi, kondisi pasang surut, metode, satuan, dan alat yang digunakan.
Apa Itu Kualitas Air Mangrove?
Kualitas air mangrove adalah kondisi fisik, kimia, dan apabila diperlukan biologis dari perairan yang berada di dalam atau berhubungan dengan ekosistem mangrove.
Dalam bahasa Inggris, istilah yang umum digunakan adalah water quality.
Parameter yang sering diukur antara lain:
- suhu;
- salinitas;
- pH;
- oksigen terlarut;
- kekeruhan;
- padatan tersuspensi total;
- konduktivitas;
- nutrien;
- bahan organik;
- parameter pencemaran tertentu.
Pemilihan parameter harus mengikuti tujuan penelitian.
Jika penelitian ingin memahami pengaruh hidrologi terhadap regenerasi, pengukuran:
salinitas + suhu + pH + genangan
mungkin lebih relevan.
Jika penelitian ingin menilai pencemaran:
parameter seperti:
TSS, BOD, nutrien, minyak, logam berat, dan mikrobiologi
dapat diperlukan.
Jangan mengukur sebanyak mungkin parameter tanpa mengetahui pertanyaan yang ingin dijawab.
Mengapa Kualitas Air Mangrove Penting?
Kualitas air dapat membantu menjelaskan kondisi habitat yang tidak terlihat hanya dari vegetasi.
Misalnya dua lokasi mempunyai kerapatan mangrove sama.
Namun:
Lokasi A mempunyai salinitas relatif stabil.
Lokasi B mengalami salinitas sangat tinggi pada musim kemarau.
Dalam jangka panjang, perbedaan tersebut dapat memengaruhi:
- pertumbuhan;
- regenerasi;
- komposisi jenis;
- kondisi fisiologis.
Parameter kualitas air juga berguna untuk mendeteksi pengaruh:
- sungai;
- limbah;
- tambak;
- permukiman;
- industri;
- perubahan hidrologi.
Dengan demikian, kualitas air menjadi salah satu komponen untuk memahami mengapa struktur mangrove pada suatu lokasi berbeda dengan lokasi lainnya.
Kualitas Air Tidak Sama dengan Kesehatan Ekosistem Secara Keseluruhan
Misalnya pH, suhu, dan salinitas berada dalam rentang tertentu.
Apakah berarti seluruh mangrove sehat?
Belum tentu.
Kondisi ekosistem juga dipengaruhi:
- hidrologi;
- elevasi;
- struktur vegetasi;
- regenerasi;
- sedimentasi;
- gangguan;
- penggunaan lahan.
Sebaliknya, satu pengukuran DO rendah juga tidak otomatis berarti seluruh kawasan rusak.
Nilainya mungkin dipengaruhi:
- waktu pagi;
- pasang;
- lokasi;
- dekomposisi organik.
Karena itu, kualitas air harus dibaca sebagai bagian dari sistem ekologis, bukan sebagai satu-satunya diagnosis.
Parameter Kualitas Air Mangrove
Suhu Air Mangrove
Suhu menunjukkan kondisi termal perairan.
Satuan:
°C
Suhu memengaruhi berbagai proses seperti:
- metabolisme organisme;
- kelarutan oksigen;
- aktivitas mikroorganisme;
- reaksi kimia.
Suhu air dapat berubah berdasarkan:
- waktu;
- kedalaman;
- tutupan kanopi;
- pasang surut;
- cuaca;
- masukan air.
Air yang terbuka terhadap matahari dapat memiliki suhu berbeda dari air di bawah kanopi rapat.
Cara Mengukur Suhu Air Mangrove
Suhu dapat diukur menggunakan:
- termometer;
- multiparameter water quality meter;
- data logger.
Probe dimasukkan ke air sesuai prosedur alat.
Tunggu sampai nilai stabil sebelum dicatat.
Jangan:
mengangkat probe;
membaca angka beberapa detik kemudian;
dan mencatat suhu ketika sensor sudah terkena udara.
Baku Mutu Suhu untuk Mangrove
Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021 memuat Baku Mutu Air Laut dan mencantumkan suhu untuk peruntukan biota laut mangrove sebesar:
28–32°C
dengan ketentuan terkait kondisi alami sebagaimana dicantumkan dalam lampiran tersebut. PP Nomor 22 Tahun 2021 masih berstatus berlaku dan mengatur perlindungan serta pengelolaan mutu laut.
Namun, nilai tersebut merupakan baku mutu dalam konteks regulasi, bukan berarti setiap pengukuran ekologis di luar rentang tersebut otomatis membuktikan kerusakan mangrove.
Kondisi alami lokal dan temporal tetap perlu dipahami.
Salinitas Mangrove
Salinitas menunjukkan konsentrasi garam terlarut dalam air.
Satuan yang umum digunakan:
ppt
atau:
‰
Dalam pengukuran modern juga dapat digunakan:
PSU
tergantung alat dan standar pelaporan.
Mangrove hidup pada lingkungan yang dapat mengalami perubahan salinitas besar akibat interaksi antara:
- air laut;
- air sungai;
- hujan;
- evaporasi;
- pasang surut.
Ekosistem mangrove dapat ditemukan dari lingkungan hampir tawar sampai salinitas air laut bahkan kondisi hipersalin pada lokasi dengan evaporasi tinggi.
Karena itu:
tidak terdapat satu nilai salinitas yang menjadi “angka ideal” untuk seluruh mangrove dunia.
Cara Mengukur Salinitas Mangrove
Salinitas dapat diukur menggunakan:
- refractometer;
- salinity meter;
- conductivity meter;
- multiparameter probe.
Pada refractometer manual:
- kalibrasikan alat;
- ambil sedikit air;
- tempatkan pada prisma;
- baca skala;
- bersihkan setelah digunakan.
Jika menggunakan sensor elektronik, ikuti prosedur kalibrasi pabrikan.
Kalibrasi Refractometer
Sebelum digunakan:
refractometer perlu diperiksa menggunakan air atau larutan standar sesuai spesifikasi alat.
Jangan berasumsi:
angka 0 selalu benar
hanya karena alat baru dinyalakan.
Kristal garam, air kotor, atau perubahan temperatur dapat memengaruhi pembacaan.
Baku Mutu Salinitas Mangrove
Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan salinitas untuk biota laut mangrove hingga:
34‰
dengan ketentuan kondisi alami yang dijelaskan dalam baku mutu tersebut.
Namun, secara ekologis, salinitas mangrove dapat berfluktuasi secara luas menurut lokasi dan musim. Karena itu, data lapangan tetap perlu dianalisis berdasarkan konteks hidrogeomorfologi kawasan.
pH Air Mangrove
pH menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan.
Skala:
0–14
Secara sederhana:
pH <7 = asam
pH 7 = netral
pH >7 = basa.
Namun, pH merupakan skala logaritmik.
Perubahan:
7 menjadi 6
bukan perubahan kecil sebesar satu unit secara kimia.
Mengapa pH Mangrove Berubah?
pH dapat dipengaruhi:
- fotosintesis;
- respirasi;
- dekomposisi bahan organik;
- air laut;
- air tawar;
- karakter sedimen.
Penelitian estuari mangrove menunjukkan pH dapat berubah menurut musim dan siklus pasang, antara lain akibat fotosintesis, masukan air tawar, dan proses dekomposisi.
Karena itu, waktu pengukuran sangat penting.
Cara Mengukur pH Mangrove
Alat:
pH meter
atau:
water quality multiparameter.
Sebelum digunakan:
kalibrasi menggunakan larutan buffer.
Biasanya digunakan larutan standar sesuai rentang alat, misalnya:
pH 4
pH 7
pH 10.
Namun, ikuti rekomendasi alat dan protokol laboratorium.
Jangan mengandalkan pH meter yang belum dikalibrasi selama berhari-hari.
Baku Mutu pH
Untuk biota laut, Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan:
pH 7–8,5.
Gunakan nilai tersebut sesuai konteks penilaian mutu air laut.
Untuk penelitian ekologis, hasil sebaiknya juga dibandingkan dengan:
- variasi lokal;
- pasang-surut;
- musim;
- lokasi referensi.
Oksigen Terlarut Mangrove
Oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen disingkat:
DO
merupakan jumlah oksigen yang terlarut dalam air.
Satuan:
mg/L
DO sangat penting bagi organisme akuatik.
Namun, pada kawasan mangrove, DO dapat berubah secara signifikan secara temporal karena interaksi antara:
- pasang;
- respirasi;
- fotosintesis;
- dekomposisi;
- suhu;
- sirkulasi air.
Penelitian menunjukkan dinamika DO mangrove dapat sangat kompleks dan bahkan berubah selama satu periode genangan pasang.
Cara Mengukur DO Mangrove
Gunakan:
DO meter
atau:
multi-parameter probe.
Sensor DO modern dapat menggunakan teknologi:
- elektrokimia;
- optik.
Ikuti prosedur alat untuk:
- kalibrasi;
- kompensasi suhu;
- stabilisasi;
- pemeliharaan sensor.
USGS menekankan kalibrasi, pemeliharaan, troubleshooting, dan prosedur pengukuran sebagai bagian penting penggunaan instrumen multiparameter untuk kualitas air.
Jangan Mengukur DO Sekali Lalu Menganggap Stabil
Misalnya:
06.00 = 3,8 mg/L
18.00 = 6,2 mg/L.
Kedua hasil dapat berasal dari lokasi yang sama tetapi waktu berbeda.
Studi pada sistem silvofishery di Delta Mahakam juga menunjukkan perbedaan DO antara pagi dan sore.
Karena itu, jika penelitian membandingkan antarstasiun:
usahakan waktu pengukuran sebanding.
Baku Mutu DO
Untuk biota laut, PP Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VIII mencantumkan:
DO >5 mg/L.
Namun, nilai lapangan tetap perlu ditafsirkan sesuai waktu, pasang, serta lokasi pengukuran.
Kekeruhan Air Mangrove
Kekeruhan menggambarkan banyaknya partikel yang menyebabkan air menghamburkan cahaya.
Istilah Inggris:
turbidity.
Satuan yang umum:
NTU
atau Nephelometric Turbidity Unit.
Kekeruhan dapat meningkat akibat:
- sedimen tersuspensi;
- erosi;
- resuspensi;
- limpasan;
- aktivitas manusia.
Mangrove sendiri berada pada lingkungan yang secara alami dapat mempunyai banyak sedimen.
Karena itu, air keruh tidak otomatis berarti tercemar.
Cara Mengukur Kekeruhan
Gunakan:
turbidity meter
atau:
nephelometer.
Pengukuran visual seperti:
“air terlihat keruh”
tidak dapat menggantikan data NTU jika penelitian membutuhkan nilai kuantitatif.
Warna air dan kekeruhan juga bukan parameter identik.
TSS Mangrove
TSS atau Total Suspended Solids adalah jumlah padatan tersuspensi di dalam air.
Satuan:
mg/L
TSS dapat berupa:
- lumpur;
- lanau;
- partikel organik;
- material tersuspensi lainnya.
Berbeda dengan turbidity yang mengukur sifat optik air, TSS mengukur massa padatan tersuspensi.
Dengan demikian:
turbidity ≠ TSS
meskipun keduanya dapat berkorelasi.
Cara Mengukur TSS
Secara umum, sampel air:
- diambil dengan volume tertentu;
- difiltrasi;
- residu ditahan pada filter;
- filter dikeringkan;
- perubahan massa digunakan menghitung konsentrasi.
Analisis dilakukan di laboratorium menggunakan metode yang ditetapkan.
Jangan menggunakan pembacaan turbidity meter lalu langsung menuliskannya sebagai TSS tanpa model atau kalibrasi.
Baku Mutu TSS Mangrove
Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021 secara spesifik mencantumkan TSS untuk mangrove sebesar:
80 mg/L.
Ini menjadi salah satu parameter yang relevan ketika mengevaluasi mutu perairan berdasarkan regulasi Indonesia.
BOD dalam Perairan Mangrove
BOD adalah Biochemical Oxygen Demand atau Kebutuhan Oksigen Biokimia.
Parameter ini menggambarkan kebutuhan oksigen oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang dapat terdegradasi dalam kondisi pengujian tertentu.
BOD berbeda dengan DO.
DO = oksigen yang saat ini tersedia dalam air.
BOD = kebutuhan oksigen untuk proses biologis penguraian bahan organik.
Air dapat mempunyai:
DO rendah
dan:
BOD tinggi
ketika terdapat beban bahan organik besar.
Namun, hubungan di ekosistem alami tetap harus dianalisis berdasarkan konteks.
BOD Tidak Diukur dengan Sensor DO Sekali Celup
Pengujian BOD memerlukan prosedur laboratorium dengan waktu inkubasi tertentu sesuai metode.
Jangan mencatat:
DO = 5 mg/L
kemudian menyebut:
BOD = 5 mg/L.
Keduanya bukan parameter yang sama.
Nutrien dalam Perairan Mangrove
Parameter nutrien dapat mencakup:
- nitrat;
- nitrit;
- amonia;
- fosfat.
Mangrove merupakan ekosistem produktif dengan siklus nutrien yang kompleks.
Nutrien berasal dari:
- dekomposisi;
- sungai;
- sedimen;
- aktivitas manusia;
- budidaya;
- limpasan.
Konsentrasi nutrien yang meningkat belum tentu selalu berarti ekosistem lebih produktif.
Peningkatan berlebihan dapat menjadi tanda pengayaan nutrien atau pencemaran.
Amonia
Amonia dapat berasal dari:
- ekskresi organisme;
- pembusukan;
- limbah domestik;
- kegiatan budidaya.
Toksisitasnya dipengaruhi antara lain oleh:
- pH;
- suhu.
Karena itu, interpretasi amonia sebaiknya tidak dilepaskan dari parameter lain.
Nitrat
Nitrat merupakan salah satu bentuk nitrogen anorganik yang dapat dimanfaatkan produsen primer.
Namun, konsentrasi tinggi dapat menunjukkan masukan nutrien dari luar.
Fosfat
Fosfat merupakan salah satu unsur penting dalam produktivitas perairan.
Sumbernya dapat berasal dari:
- bahan organik;
- sedimen;
- limbah;
- pupuk.
Jika penelitian bertujuan mengidentifikasi eutrofikasi, nutrien perlu dibaca bersama parameter seperti:
- klorofil-a;
- DO;
- kondisi perairan.
Konduktivitas
Konduktivitas atau electrical conductivity menggambarkan kemampuan air menghantarkan listrik akibat keberadaan ion terlarut.
Dalam perairan pesisir:
konduktivitas berkaitan erat dengan salinitas.
Namun, keduanya bukan istilah yang sama.
Sensor multiparameter sering mengukur:
specific conductance
kemudian memperkirakan salinitas melalui hubungan tertentu.
Karena itu, periksa apakah alat menampilkan:
µS/cm
mS/cm
atau:
ppt/PSU
sebelum mencatat data.
ORP atau Potensial Redoks
ORP atau Oxidation-Reduction Potential menunjukkan kondisi oksidatif atau reduktif.
Parameter ini lebih sering digunakan untuk memahami:
- kondisi air;
- sedimen;
- lingkungan anaerob.
Tanah mangrove sering berada pada kondisi jenuh air dengan oksigen rendah dan potensial redoks yang rendah.
Namun, ORP sangat sensitif terhadap:
- posisi elektroda;
- kedalaman;
- waktu stabilisasi.
Karena itu, metode harus jelas.
Sulfida dalam Mangrove
Lingkungan sedimen mangrove yang miskin oksigen dapat mendukung proses reduksi sulfat.
Salah satu hasilnya adalah sulfida.
Pada konsentrasi tertentu sulfida dapat menjadi toksik bagi organisme.
Jika penelitian fokus pada:
- kualitas sedimen;
- pencemaran;
- kondisi anaerob;
parameter sulfida dapat relevan.
Namun, tidak setiap penelitian vegetasi perlu mengukur sulfida.
Parameter Logam Berat
Pada kawasan yang menerima tekanan:
- industri;
- pelabuhan;
- pertambangan;
- perkotaan;
analisis dapat mencakup:
- Hg;
- Pb;
- Cd;
- Cu;
- Zn;
- Ni;
- Cr.
Pengukuran parameter ini membutuhkan:
- prosedur pengambilan sampel;
- botol khusus;
- preservasi;
- laboratorium;
- metode analitik.
Jangan mengukur logam berat hanya menggunakan multiparameter probe biasa.
Mikroplastik Bukan Parameter Kualitas Air Konvensional
Mikroplastik semakin banyak diteliti di ekosistem pesisir.
Namun, mikroplastik bukan parameter yang dapat digabung begitu saja dengan:
pH;
DO;
salinitas.
Metodenya berbeda dan membutuhkan prosedur khusus untuk:
- pengambilan;
- filtrasi;
- identifikasi;
- kontrol kontaminasi.
Jika penelitian membahas mikroplastik, jadikan sebagai subkajian tersendiri.
Parameter In Situ dan Ex Situ
Parameter dapat dibedakan berdasarkan lokasi analisis.
In Situ
Diukur langsung di lapangan.
Contohnya:
- suhu;
- pH;
- salinitas;
- DO;
- konduktivitas.
Keunggulannya:
mengurangi perubahan sampel selama transportasi.
Ex Situ
Sampel dibawa ke laboratorium.
Contohnya dapat mencakup:
- TSS;
- BOD;
- nutrien;
- logam berat;
- parameter mikrobiologi.
Namun, klasifikasi tersebut mengikuti alat dan metode yang digunakan.
Mengapa pH, DO, dan Suhu Sebaiknya Diukur In Situ?
Beberapa parameter dapat berubah setelah air diambil.
Misalnya sampel terkena:
- udara;
- perubahan suhu;
- fotosintesis;
- respirasi.
Akibatnya, nilai di laboratorium belum tentu menggambarkan kondisi lapangan saat sampling.
Karena itu, parameter yang mudah berubah sebaiknya diukur langsung ketika memungkinkan.
Cara Menentukan Lokasi Sampling Kualitas Air Mangrove
Lokasi harus mengikuti tujuan penelitian.
Misalnya:
Zona Depan
Dekat laut atau muara.
Zona Tengah
Di dalam tegakan.
Zona Belakang
Dekat daratan.
Atau berdasarkan:
Stasiun 1 — saluran utama
Stasiun 2 — saluran sekunder
Stasiun 3 — area rehabilitasi
Stasiun 4 — kawasan referensi
Jangan mengambil seluruh sampel dari satu titik dekat jalan lalu menyatakan nilainya mewakili seluruh kawasan.
Kualitas Air dan Transek Mangrove
Sampling kualitas air dapat dikaitkan dengan transek vegetasi.
Misalnya:
Plot P01 → titik air W01
Plot P02 → W02
Plot P03 → W03.
Namun, jika tidak terdapat genangan air pada semua plot, desain dapat menempatkan titik air pada saluran terdekat.
Yang penting:
hubungan spasial antara data air dan vegetasi harus diketahui.
Air Saluran Tidak Selalu Mewakili Air di Dalam Tegakan
Misalnya kualitas air diukur pada sungai:
salinitas = 25 ppt.
Kemudian angka tersebut digunakan sebagai salinitas seluruh 100 hektare hutan.
Kesimpulan tersebut dapat terlalu luas.
Di bagian interior:
- evaporasi;
- genangan;
- air tanah;
- hujan;
dapat menghasilkan kondisi berbeda.
Karena itu, skala sampling harus sesuai dengan kesimpulan.
Pengaruh Pasang Surut terhadap Kualitas Air Mangrove
Pasang surut merupakan salah satu variabel yang paling penting.
Ketika pasang:
air laut dapat masuk.
Ketika surut:
air dari kawasan dapat keluar.
Akibatnya:
- salinitas;
- DO;
- suhu;
- pH;
- kekeruhan;
dapat berubah.
Studi ekosistem mangrove menegaskan bahwa variasi salinitas dan kondisi perairan terkait erat dengan siklus pasang dan masukan air tawar.
Karena itu, tuliskan:
Pasang naik
Pasang tinggi
Surut
atau kondisi lainnya sesuai pengamatan.
Jangan Membandingkan Pasang dan Surut Seolah-olah Kondisinya Sama
Misalnya:
Lokasi A diukur pukul 08.00 saat pasang.
Lokasi B diukur pukul 14.00 saat surut.
Kemudian ditemukan:
A = 30 ppt
B = 15 ppt.
Perbedaan tersebut mungkin berasal dari lokasi.
Tetapi juga dapat berasal dari:
pasang surut.
Desain penelitian sebaiknya mengendalikan atau mencatat faktor tersebut.
Waktu Pengukuran Harus Dicatat
Minimal catat:
- tanggal;
- jam;
- kondisi pasang;
- cuaca.
Contoh:
22 Agustus 2026, 08.35 WIB, pasang naik, cerah
jauh lebih informatif daripada hanya:
Salinitas = 27 ppt
Kualitas Air Pagi dan Siang Bisa Berbeda
Suhu dapat meningkat siang hari.
Fotosintesis juga dapat meningkatkan DO pada waktu tertentu.
Sebaliknya, pada malam sampai pagi:
respirasi tetap berlangsung tanpa fotosintesis.
Akibatnya DO dapat lebih rendah.
Karena itu, monitoring jangka panjang sebaiknya menggunakan waktu yang konsisten atau data logger jika ingin menangkap dinamika harian.
Menggunakan Data Logger
Data logger dapat merekam parameter secara otomatis.
Misalnya:
setiap 15 menit.
Selama:
7 hari.
Hasilnya jauh lebih kaya dibandingkan satu pengukuran.
Data dapat menunjukkan:
- siklus pasang;
- fluktuasi harian;
- kejadian ekstrem.
Namun, sensor tetap membutuhkan:
- kalibrasi;
- pemeliharaan;
- pengecekan drift.
Lebih banyak data tidak berarti otomatis lebih akurat.
Kalibrasi Alat Kualitas Air Mangrove
Kalibrasi merupakan salah satu bagian terpenting.
Alat dapat menghasilkan angka digital yang terlihat presisi.
Contoh:
pH 7,83
Namun, jika sensor belum dikalibrasi:
dua angka di belakang koma tidak mempunyai arti besar.
USGS secara khusus menempatkan kalibrasi, pemeliharaan, dan pemeriksaan alat sebagai bagian pokok prosedur instrumen multiparameter.
Sebelum Turun Lapangan
Periksa:
- baterai;
- sensor;
- kabel;
- larutan kalibrasi;
- tanggal kedaluwarsa larutan;
- kebersihan probe.
Setelah Pengukuran
- bilas sensor;
- simpan sesuai instruksi;
- jangan biarkan sensor tertentu mengering apabila memang harus disimpan lembap.
Ikuti manual perangkat.
Jangan Mengkalibrasi dengan Air Sampel
Kalibrasi menggunakan:
larutan standar
bukan air mangrove yang nilainya tidak diketahui.
Air mangrove digunakan untuk:
pengukuran
bukan sebagai standar kalibrasi.
Tunggu Pembacaan Stabil
Jangan:
masukkan sensor selama dua detik;
lihat angka pertama;
langsung catat.
Sensor memerlukan waktu untuk mencapai kestabilan.
Catat setelah:
- pembacaan relatif stabil;
- prosedur alat terpenuhi.
Waktu stabilisasi dapat berbeda antarparameter dan perangkat.
Kedalaman Pengukuran Harus Konsisten
Misalnya:
Stasiun 1 diukur 10 cm di bawah permukaan.
Stasiun 2 di dasar saluran 1,5 meter.
Keduanya dapat menghasilkan nilai berbeda karena kedalaman.
Jika tujuan membandingkan permukaan:
gunakan kedalaman yang sama.
Jika ingin melihat profil vertikal:
buat desain seperti:
permukaan
tengah
dasar
dan laporkan secara terpisah.
Jangan Mengaduk Sedimen Sebelum Mengukur
Saat berjalan di lumpur:
sedimen dapat terangkat.
Jika probe dimasukkan tepat setelah substrat teraduk:
kekeruhan dan TSS lokal dapat meningkat akibat aktivitas enumerator sendiri.
Jika memungkinkan:
- ukur sebelum area banyak diinjak;
- pilih sisi yang belum terganggu;
- tunggu stabilisasi.
Jangan menciptakan gangguan kemudian mengukurnya sebagai kondisi alami.
Pengambilan Sampel Air untuk Laboratorium
Gunakan botol sesuai parameter.
Beberapa analisis membutuhkan:
- botol tertentu;
- pendinginan;
- preservasi kimia;
- waktu maksimum sebelum analisis.
Karena itu, prosedur harus mengikuti:
- metode laboratorium;
- standar yang digunakan;
- persyaratan parameter.
Jangan menggunakan satu botol bekas minuman untuk seluruh parameter.
Gunakan Blank dan Duplikat Jika Diperlukan
Untuk penelitian dengan kontrol kualitas tinggi dapat digunakan:
- field blank;
- trip blank;
- duplikat;
- standar.
Jenis quality assurance/quality control atau QA/QC bergantung parameter.
Pada logam berat atau parameter jejak, kontrol kontaminasi menjadi sangat penting.
Jangan Menyentuh Bagian Dalam Botol Sampel
Tangan dapat menyebabkan kontaminasi.
Pegang:
bagian luar botol.
Jangan:
- menyentuh tutup bagian dalam;
- memasukkan jari;
- membilas botol jika protokol melarangnya.
Metode laboratorium harus menjadi rujukan utama.
Data Kualitas Air Harus Memiliki Satuan
Tabel:
Salinitas = 25
DO = 6
TSS = 40
belum lengkap.
Lebih baik:
Salinitas = 25 ppt
DO = 6 mg/L
TSS = 40 mg/L
Suhu = 30°C
pH = 7,6
Tanpa satuan, data dapat mudah salah interpretasi.
Contoh Tabel Kualitas Air Mangrove
| Stasiun | Suhu | Salinitas | pH | DO | TSS |
|---|---|---|---|---|---|
| ST01 | 29,4°C | 27 ppt | 7,8 | 6,1 mg/L | 42 mg/L |
| ST02 | 30,1°C | 24 ppt | 7,6 | 5,7 mg/L | 55 mg/L |
| ST03 | 31,0°C | 18 ppt | 7,4 | 4,8 mg/L | 63 mg/L |
Angka dalam tabel tersebut hanya contoh hipotetik, bukan data suatu lokasi tertentu.
Bandingkan Hasil dengan Baku Mutu secara Hati-Hati
Misalnya hasil hipotetik ST03:
DO = 4,8 mg/L.
PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan DO biota laut:
>5 mg/L.
Maka dapat ditulis:
“Nilai DO pada ST03 sebesar 4,8 mg/L berada di bawah nilai baku mutu DO untuk biota laut yang tercantum dalam Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021.”
Lebih baik daripada:
“Mangrove ST03 rusak.”
Baku mutu air dan kondisi seluruh ekosistem merupakan dua tingkat interpretasi berbeda.
Ringkasan Beberapa Baku Mutu yang Relevan untuk Mangrove
Berdasarkan Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021, beberapa parameter untuk peruntukan biota laut yang relevan dengan mangrove antara lain:
| Parameter | Nilai dalam Baku Mutu |
|---|---|
| Suhu mangrove | 28–32°C |
| pH | 7–8,5 |
| Salinitas mangrove | sampai 34‰, dengan ketentuan kondisi alami |
| DO | >5 mg/L |
| TSS mangrove | 80 mg/L |
Lampiran tersebut merupakan bagian dari PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang berstatus berlaku.
Tabel ini bukan pengganti pembacaan Lampiran VIII secara lengkap, terutama jika penelitian digunakan untuk penilaian kepatuhan lingkungan atau kebutuhan regulatori.
Baku Mutu Bukan “Angka Optimum Tumbuh” Universal
Ini merupakan perbedaan penting.
Baku mutu digunakan dalam kerangka pengelolaan mutu lingkungan.
Rentang toleransi fisiologis membahas kemampuan organisme.
Kondisi optimum pertumbuhan merupakan konsep biologis.
Ketiganya bukan hal yang sama.
Jangan menulis:
“Salinitas maksimum mangrove hanya 34 ppt karena peraturan mengatakan demikian.”
Secara ekologis, beberapa mangrove dapat hidup pada lingkungan dengan salinitas lebih tinggi tergantung spesies dan kondisi. Literatur mencatat lingkungan mangrove dapat mengalami salinitas sangat beragam bahkan melebihi salinitas laut pada kondisi evaporasi tinggi.
Salinitas dan Zonasi Mangrove
Jenis mangrove memiliki kemampuan adaptasi berbeda.
Contohnya:
Avicennia marina
Rhizophora mucronata
Rhizophora apiculata
Sonneratia alba.
Namun, zonasi tidak ditentukan hanya oleh salinitas.
Faktor lain:
- elevasi;
- genangan;
- energi gelombang;
- propagul;
- kompetisi;
- substrat.
Karena itu, hindari menyatakan:
“Jenis X ada di sini karena salinitasnya 20 ppt”
tanpa analisis tambahan.
Kualitas Air dan Regenerasi Mangrove
Jika suatu lokasi mempunyai sedikit semai, data kualitas air dapat membantu menjelaskan konteks.
Misalnya ditemukan:
- salinitas tinggi;
- genangan lama;
- pH tertentu.
Namun, regenerasi juga bergantung:
- ketersediaan propagul;
- hidrologi;
- elevasi;
- substrat;
- kanopi.
Korelasi tidak otomatis berarti sebab-akibat.
Kualitas Air dan Pertumbuhan Mangrove
Pertumbuhan dapat dianalisis bersama:
- salinitas;
- suhu;
- pH.
Misalnya penelitian mengukur:
DBH tahunan
dan:
salinitas bulanan.
Hubungan statistik dapat dianalisis.
Namun, jika salinitas hanya diukur sekali:
jangan menghubungkannya secara kuat dengan pertumbuhan selama satu tahun.
Skala waktu kedua dataset harus sesuai.
Kualitas Air dan Biomassa Mangrove
Parameter kualitas air tidak dimasukkan langsung ke rumus biomassa umum.
Misalnya persamaan:
AGB = f(DBH, wood density)
tidak mempunyai variabel salinitas.
Namun, kualitas lingkungan dapat memengaruhi pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.
Jadi:
kualitas air dapat menjadi faktor ekologis
tetapi bukan otomatis:
variabel persamaan allometrik.
Kualitas Air dan Karbon Mangrove
Hal yang sama berlaku untuk karbon.
Salinitas atau DO tidak dapat langsung dikonversi menjadi:
Mg C/ha.
Namun, kondisi hidrologi dan biogeokimia dapat berpengaruh pada:
- produktivitas;
- dekomposisi;
- akumulasi karbon sedimen.
Jika penelitian menghubungkan kualitas air dengan karbon:
dibutuhkan desain dan analisis khusus.
Kualitas Air dalam Monitoring Rehabilitasi
Monitoring rehabilitasi dapat mengukur kualitas air untuk mengetahui apakah kondisi lokasi berkembang sesuai harapan.
Parameter sederhana dapat mencakup:
- suhu;
- salinitas;
- pH;
- DO.
Tetapi keberhasilan rehabilitasi tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan parameter tersebut.
Gabungkan dengan:
- kelulushidupan;
- pertumbuhan;
- regenerasi alami;
- hidrologi;
- tutupan kanopi.
Kualitas Air dalam Pendekatan EMR
Dalam Ecological Mangrove Restoration atau EMR, fokus utama adalah memahami proses ekologis yang memungkinkan mangrove tumbuh.
Kualitas air dapat menjadi bagian dari diagnosis tersebut.
Misalnya salinitas sangat tinggi pada kawasan bekas tambak.
Pertanyaannya bukan hanya:
“berapa salinitasnya?”
tetapi:
“mengapa salinitas menjadi sangat tinggi?”
Mungkin karena:
- sirkulasi air terputus;
- evaporasi;
- pintu air;
- tanggul.
Dengan demikian, data kualitas air membantu memahami proses hidrologi.
Kualitas Air dalam Pendekatan CBEMR
Dalam Community-Based Ecological Mangrove Restoration atau CBEMR, masyarakat dapat membantu menjelaskan perubahan yang tidak tertangkap oleh satu kali pengukuran.
Misalnya masyarakat mengetahui:
- lokasi dahulu selalu mendapat air sungai;
- saluran mulai tertutup lima tahun lalu;
- air menjadi lebih asin saat kemarau;
- ikan mulai berkurang.
Data tersebut tidak menggantikan pengukuran instrumen.
Namun, dapat membantu membangun hipotesis dan memahami sejarah kawasan.
Pengukuran Sekali Bukan Monitoring
Mengambil data pada:
22 Agustus 2026
sekali
adalah:
pengukuran kondisi saat itu.
Monitoring membutuhkan:
pengukuran berulang.
Misalnya:
bulan ke-0;
bulan ke-3;
bulan ke-6;
bulan ke-12.
Atau:
musim hujan;
peralihan;
musim kemarau.
Desain mengikuti tujuan penelitian.
Time Series Kualitas Air
Data berulang dapat menunjukkan:
| Periode | Salinitas | DO |
|---|---|---|
| Januari | 12 ppt | 5,8 mg/L |
| April | 20 ppt | 5,5 mg/L |
| Agustus | 31 ppt | 4,9 mg/L |
| November | 18 ppt | 5,4 mg/L |
Contoh tersebut hipotetik.
Namun, jelas lebih informatif daripada satu nilai salinitas:
20 ppt
tanpa konteks musim.
Gunakan Plot atau Stasiun Permanen
Jika monitoring dilakukan rutin:
gunakan stasiun yang sama.
Catat koordinat.
Contoh:
WQ-ST01
WQ-ST02
WQ-ST03
Kemudian pengukuran dapat dibandingkan antarwaktu.
Jika titik terus berubah, perubahan data dapat berasal dari:
perubahan lokasi
bukan perubahan kualitas air.
Koordinat Harus Dicatat
Setiap titik kualitas air sebaiknya mempunyai:
- latitude;
- longitude;
- kode titik.
Jika GPS tidak memungkinkan di bawah kanopi rapat, gunakan titik referensi yang jelas.
Dokumentasi spasial penting terutama jika kualitas air akan dianalisis dengan:
- vegetasi;
- peta;
- penggunaan lahan.
Foto Lokasi Sampling
Ambil foto:
- arah saluran;
- kondisi air;
- vegetasi;
- sumber gangguan.
Foto tidak menggantikan data.
Namun, foto dapat membantu menjelaskan anomali.
Misalnya TSS sangat tinggi dan foto menunjukkan:
kegiatan pengerukan di dekat titik.
Catat Kondisi Cuaca
Hujan sebelum sampling dapat memengaruhi:
- salinitas;
- TSS;
- nutrien.
Karena itu, catat:
cerah;
hujan;
mendung;
hujan sebelumnya.
Untuk kajian lebih kuat, data curah hujan dapat diintegrasikan.
Kesalahan Umum Mengukur Kualitas Air Mangrove
Tidak Mengkalibrasi Alat
Angka digital terlihat meyakinkan tetapi bisa bias.
Tidak Mencatat Pasang Surut
Perbandingan antarstasiun kehilangan konteks.
Mengukur pada Waktu Berbeda tanpa Penjelasan
DO, suhu, dan parameter lain dapat berubah secara harian.
Tidak Menulis Satuan
Data menjadi ambigu.
Mencampurkan ppt dan PSU tanpa Penjelasan
Satuan atau skala harus konsisten.
Menggunakan Air Permukaan untuk Mewakili Semua Kedalaman
Profil perairan dapat berbeda.
Menggunakan TSS dan Kekeruhan sebagai Istilah yang Sama
Keduanya merupakan parameter berbeda.
Menganggap Baku Mutu sebagai Nilai Optimum Biologis
Fungsi keduanya berbeda.
Menyimpulkan Kerusakan dari Satu Parameter
Ekosistem harus dinilai secara multidimensi.
Membandingkan Data Pagi dengan Sore tanpa Mempertimbangkan Waktu
Perubahan temporal dapat besar.
Kesalahan Menggunakan Sensor Multiparameter
Sensor menghasilkan beberapa nilai sekaligus.
Namun, bukan berarti semua sensor sedang bekerja sempurna.
Sebelum survei:
cek masing-masing:
pH sensor
DO sensor
conductivity sensor
temperature sensor.
Jika sensor DO rusak, jangan tetap menggunakan nilainya hanya karena layar masih menampilkan angka.
Data Anomali Jangan Langsung Dihapus
Misalnya salinitas biasanya:
20–25 ppt.
Satu hasil:
2 ppt.
Jangan langsung menghapus.
Periksa:
- hujan;
- air sungai;
- alat;
- kalibrasi;
- lokasi;
- kesalahan input.
Nilai ekstrem dapat merupakan:
kesalahan
atau:
kejadian ekologis penting.
Gunakan QA/QC sebelum mengambil keputusan.
Pengukuran Duplikat
Sebagian titik dapat diukur dua kali.
Contoh:
pH 1 = 7,62
pH 2 = 7,65.
Nilai relatif dekat.
Jika:
7,62
dan:
9,15
terdapat masalah yang perlu diperiksa.
Pengukuran duplikat membantu kontrol kualitas.
Cara Membuat Tally Sheet Kualitas Air
Format dasar:
| Tanggal | Jam | Stasiun | Pasang | Suhu | Salinitas | pH | DO |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 22/8/2026 | 08.30 | WQ01 | Pasang naik | 29,8°C | 25 ppt | 7,7 | 5,8 mg/L |
Tambahkan kolom:
- alat;
- cuaca;
- enumerator;
- catatan.
Metadata Alat
Catat:
Merek
Model
Nomor alat jika diperlukan
Tanggal kalibrasi
Contoh:
Multiparameter meter XYZ
Kalibrasi:
21 Agustus 2026.
Jika kemudian ditemukan sensor bermasalah, data dapat dilacak.
Jangan Hanya Menyimpan Rata-Rata
Misalnya tiga ulangan:
5,1
5,8
6,4 mg/L.
Jangan hanya menyimpan:
5,77 mg/L
dan menghapus nilai asli.
Data mentah diperlukan untuk:
- SD;
- QA/QC;
- pemeriksaan pencilan.
Simpan:
raw data → cleaned data → analysis data
secara terpisah.
Menghitung Rata-Rata
Jika DO:
5,1
5,8
6,4
maka:
(5,1 + 5,8 + 6,4) / 3
= 17,3 / 3
≈ 5,77 mg/L
Namun, rata-rata tidak cukup jika variasinya besar.
Jika memungkinkan laporkan:
rata-rata ± standar deviasi.
Grafik Kualitas Air Mangrove
Data dapat divisualisasikan dalam:
- grafik waktu;
- grafik antarstasiun;
- boxplot;
- profil kedalaman.
Contohnya:
salinitas vs waktu
atau:
DO vs stasiun.
Jangan memasukkan 10 parameter dengan skala berbeda ke satu grafik hingga sulit dibaca.
Korelasi Tidak Berarti Sebab-Akibat
Misalnya ditemukan:
salinitas meningkat
dan:
tinggi semai menurun.
Korelasi tersebut menarik.
Namun, tinggi semai juga dapat dipengaruhi:
- elevasi;
- cahaya;
- spesies;
- genangan.
Karena itu, gunakan analisis statistik dan desain penelitian untuk membangun interpretasi.
PCA untuk Kualitas Air Mangrove
Jika parameter banyak, analisis seperti:
Principal Component Analysis atau PCA
dapat membantu melihat pola multivariat.
Misalnya parameter:
- suhu;
- salinitas;
- pH;
- DO;
- TSS;
- nitrat;
- fosfat.
Namun, PCA bukan kewajiban.
Analisis sederhana dapat lebih tepat jika pertanyaan penelitian sederhana.
Jangan Menggunakan Statistik Rumit untuk Menutupi Desain Sampling yang Lemah
Seratus grafik tidak dapat memperbaiki data yang:
- titiknya bias;
- alatnya tidak dikalibrasi;
- waktunya tidak dicatat.
Kualitas analisis dimulai dari:
kualitas sampling.
Kualitas Air Mangrove dalam Perspektif KeSEMaT
Bagi KeSEMaT, kualitas air mangrove bukan sekadar tabel berisi suhu, salinitas, pH, dan DO.
Angka tersebut harus dikaitkan dengan:
waktu;
pasang surut;
hidrologi;
musim;
lokasi;
dan:
struktur ekosistem.
Salinitas 30 ppt dapat mempunyai arti berbeda apabila diukur pada:
muara saat pasang;
tambak yang terisolasi;
atau bagian dalam hutan pada puncak kemarau.
DO 4 mg/L pada pagi hari juga tidak mempunyai konteks yang sama dengan nilai yang sama pada siang hari.
Karena itu, kualitas air harus diperlakukan sebagai data dinamis.
Pengukuran yang baik bukan hanya menghasilkan banyak angka, tetapi memastikan bahwa setiap angka dapat dijawab pertanyaannya:
di mana diukur?
kapan diukur?
dengan alat apa?
dalam kondisi pasang apa?
dan untuk menjawab pertanyaan apa?
Dalam pendekatan Ecological Mangrove Restoration dan Community-Based Ecological Mangrove Restoration, kualitas air dapat membantu menjelaskan proses hidrologi dan perubahan lingkungan, tetapi keputusan restorasi tetap membutuhkan pemahaman menyeluruh mengenai elevasi, konektivitas air, regenerasi alami, sejarah kawasan, vegetasi referensi, serta tekanan terhadap ekosistem.
Air menghubungkan laut, sungai, sedimen, mangrove, dan masyarakat pesisir. Mengukur kualitasnya dengan benar membantu memahami proses yang bekerja di seluruh ekosistem tersebut. (ADM).
FAQ Kualitas Air Mangrove
Apa itu kualitas air mangrove?
Kualitas air mangrove adalah kondisi fisik dan kimia perairan yang berinteraksi dengan ekosistem mangrove, yang dapat dinilai melalui parameter seperti suhu, salinitas, pH, DO, kekeruhan, dan TSS.
Apa parameter utama kualitas air mangrove?
Parameter dasar yang umum digunakan adalah:
suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut.
Parameter lain dapat ditambahkan sesuai tujuan penelitian.
Berapa suhu air yang baik untuk mangrove?
Dalam konteks Baku Mutu Air Laut Indonesia pada PP Nomor 22 Tahun 2021, suhu untuk biota laut mangrove dicantumkan 28–32°C dengan ketentuan kondisi alami.
Berapa salinitas mangrove?
Salinitas mangrove sangat bervariasi. PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan sampai 34‰ dalam baku mutu biota laut mangrove, tetapi secara ekologis mangrove dapat mengalami rentang salinitas yang jauh lebih beragam tergantung kondisi lokal.
Berapa pH air mangrove?
Baku mutu biota laut dalam PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan:
pH 7–8,5.
Berapa DO untuk perairan mangrove?
Untuk biota laut, PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan:
DO >5 mg/L.
Berapa TSS untuk mangrove?
Lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021 mencantumkan TSS mangrove:
80 mg/L.
Apa itu DO?
DO atau Dissolved Oxygen adalah konsentrasi oksigen terlarut dalam air.
Apa perbedaan DO dan BOD?
DO merupakan oksigen yang tersedia dalam air, sedangkan BOD atau Biochemical Oxygen Demand menggambarkan kebutuhan oksigen untuk penguraian biologis bahan organik berdasarkan metode pengujian.
Apa perbedaan TSS dan kekeruhan?
TSS mengukur massa padatan tersuspensi dalam mg/L, sedangkan turbidity mengukur sifat optik kekeruhan air dalam NTU.
Apa alat untuk mengukur salinitas?
Salinitas dapat diukur menggunakan refractometer, salinity meter, atau multiparameter probe.
Apa alat untuk mengukur pH?
Gunakan pH meter atau sensor pH pada multiparameter water quality meter.
Apa alat untuk mengukur DO?
Gunakan DO meter atau sensor oksigen pada multiparameter probe.
Apakah alat harus dikalibrasi?
Ya. Kalibrasi dan pemeliharaan sensor merupakan bagian penting dari prosedur pengukuran kualitas air.
Apakah kualitas air harus diukur saat pasang atau surut?
Tergantung tujuan penelitian. Namun, kondisi pasang harus dicatat dan dibuat konsisten jika hasil antarstasiun atau antarperiode ingin dibandingkan.
Apakah satu kali pengukuran cukup?
Cukup untuk menggambarkan kondisi pada waktu pengamatan, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan dinamika jangka panjang.
Mengapa salinitas berubah?
Salinitas mangrove dipengaruhi air laut, air tawar, hujan, evaporasi, serta siklus pasang surut.
Apakah salinitas tinggi berarti mangrove rusak?
Tidak selalu. Beberapa mangrove secara alami hidup pada kondisi salinitas tinggi. Interpretasi harus mempertimbangkan spesies, hidrologi, musim, dan kondisi referensi.
Apakah DO rendah selalu menunjukkan pencemaran?
Tidak selalu. DO juga dipengaruhi waktu, suhu, dekomposisi, pasang surut, dan proses alami lainnya.
Apakah data kualitas air bisa digunakan untuk menentukan lokasi penanaman?
Dapat menjadi salah satu data pendukung, tetapi tidak cukup sendirian. Kesesuaian lokasi mangrove juga membutuhkan informasi mengenai hidrologi, elevasi, regenerasi alami, substrat, dan sejarah kawasan.
Apa peraturan baku mutu air laut Indonesia yang digunakan saat ini?
PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memuat Baku Mutu Air Laut dalam Lampiran VIII dan berstatus berlaku. (ADM).
Daftar Pustaka
Pemerintah Republik Indonesia. 2021. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lampiran VIII: Baku Mutu Air Laut.
US Geological Survey. 2023. Use of Multiparameter Instruments for Routine Field Measurements. National Field Manual for the Collection of Water-Quality Data.
Alongi, D. M. 2009. The Energetics of Mangrove Forests. Springer.
Hogarth, P. J. 2015. The Biology of Mangroves and Seagrasses. Oxford University Press.
Kathiresan, K., & Bingham, B. L. 2001. Biology of Mangroves and Mangrove Ecosystems. Advances in Marine Biology, 40, 81–251.
Fahmy, K., et al. Dissolved Oxygen Availability on Traditional Pond Using Silvofishery Pattern in Mahakam Delta. International Journal of Science and Engineering.
Akhand, A., et al. 2013. Nutrient Dynamics in the Sundarbans Mangrove Estuarine System under Different Weather and Tidal Cycles. Ecological Processes, 2, 29.
Dubuc, A., et al. 2017. Patterns, Drivers and Implications of Dissolved Oxygen Dynamics in Tropical Mangrove Forests. Estuarine, Coastal and Shelf Science.
Global Mangrove Alliance. 2023. Best Practice Guidelines for Mangrove Restoration.
(Sumber gambar: Marwan Mohamad/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, dipotong ke rasio 4:3)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar