24.8.26

Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Mangrove

Semarang – KeSEMaTBLOG. Mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove merupakan pendekatan pengurangan emisi dan peningkatan penyerapan karbon dengan mempertahankan, memulihkan, serta mengelola ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam biomassa tumbuhan sekaligus mengakumulasikannya dalam tanah dan sedimen pesisir selama periode yang panjang.

Kemampuan tersebut menempatkan mangrove sebagai salah satu ekosistem penting dalam konsep blue carbon atau karbon biru. Namun, kontribusi mangrove terhadap mitigasi perubahan iklim tidak cukup dipahami hanya melalui kegiatan penanaman. Perlindungan mangrove yang masih baik, pemulihan hidrologi, regenerasi alami, restorasi ekosistem, pengelolaan tekanan, serta pemantauan karbon dalam jangka panjang merupakan bagian yang sama pentingnya.

Dengan demikian, mitigasi berbasis mangrove harus dipandang sebagai upaya menjaga keseluruhan fungsi ekosistem, bukan sekadar meningkatkan jumlah pohon di kawasan pesisir.

Apa Itu Mitigasi Perubahan Iklim?

Mitigasi perubahan iklim adalah berbagai tindakan yang dilakukan untuk mengurangi sumber emisi gas rumah kaca atau meningkatkan kemampuan penyerapannya dari atmosfer.

Dalam konteks ekosistem mangrove, mitigasi dapat dilakukan melalui dua jalur utama. Pertama, mencegah pelepasan karbon yang telah tersimpan melalui perlindungan mangrove dari deforestasi dan degradasi. Kedua, meningkatkan kembali kemampuan ekosistem dalam menyerap dan menyimpan karbon melalui rehabilitasi dan restorasi kawasan yang mengalami kerusakan.

Mitigasi berbeda dengan adaptasi perubahan iklim. Mitigasi berupaya mengurangi penyebab perubahan iklim, sedangkan adaptasi bertujuan mengurangi kerentanan manusia dan ekosistem terhadap dampaknya.

Pada mangrove, keduanya sering berlangsung secara bersamaan. Perlindungan mangrove dapat mempertahankan karbon sekaligus membantu meredam gelombang, mengurangi erosi pesisir, menyediakan habitat biota, dan mendukung penghidupan masyarakat.

Mengapa Mangrove Penting bagi Mitigasi Perubahan Iklim?

Mangrove memiliki produktivitas biologis tinggi dan tumbuh pada lingkungan pesisir yang secara berkala tergenang. Kondisi tanah yang jenuh air dan relatif rendah oksigen menyebabkan proses penguraian bahan organik berlangsung lebih lambat dibandingkan banyak ekosistem daratan.

Daun, ranting, akar, kayu mati, serta material organik lainnya dapat terakumulasi dan terkubur di dalam sedimen. Proses tersebut memungkinkan karbon tersimpan dalam jangka panjang.

Penelitian Donato et al. (2011) pada kawasan Indo-Pasifik menunjukkan bahwa mangrove termasuk hutan tropis dengan cadangan karbon ekosistem yang sangat tinggi, dengan sebagian besar karbonnya berada di bawah permukaan tanah.

Hal tersebut penting karena kerusakan mangrove tidak hanya menghentikan proses penyerapan karbon pada masa mendatang. Perubahan tata guna lahan, pengeringan, penggalian, atau gangguan terhadap sedimen juga berpotensi melepaskan karbon yang sebelumnya telah tersimpan.

Mangrove sebagai Ekosistem Blue Carbon

Istilah blue carbon merujuk pada karbon yang ditangkap dan disimpan melalui proses biologis pada ekosistem laut dan pesisir yang dapat dikelola, terutama mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut.

IPCC menempatkan mangrove sebagai salah satu ekosistem vegetasi pesisir yang memiliki kemampuan penyimpanan dan penguburan karbon serta dapat berkontribusi terhadap mitigasi berbasis alam.

Dalam ekosistem mangrove, karbon tersimpan pada beberapa komponen utama:

  1. Biomassa di atas permukaan tanah, meliputi batang, cabang, ranting, dan daun.
  2. Biomassa bawah permukaan tanah, terutama sistem perakaran.
  3. Kayu mati dan serasah, yang menjadi bagian dari siklus bahan organik.
  4. Tanah dan sedimen mangrove, yang dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar dan dalam periode panjang.

Besarnya kontribusi setiap komponen berbeda antar lokasi. Jenis mangrove, umur tegakan, hidrologi, karakteristik sedimen, salinitas, geomorfologi, produktivitas, sejarah penggunaan lahan, hingga gangguan antropogenik dapat memengaruhi cadangan karbon suatu kawasan.

Tanah Mangrove sebagai Penyimpan Karbon Utama

Salah satu karakter penting karbon mangrove adalah tingginya proporsi karbon yang tersimpan di dalam tanah.

Bahan organik dari vegetasi dapat terperangkap bersama sedimen kemudian mengalami proses akumulasi. Kondisi tanah yang tergenang juga memperlambat dekomposisi sehingga sebagian karbon dapat bertahan dalam jangka panjang.

Donato et al. (2011) menemukan tanah dapat menyumbang sekitar 49–98% dari total cadangan karbon ekosistem pada lokasi mangrove Indo-Pasifik yang diteliti.

Karena itu, penilaian karbon mangrove yang hanya mengukur diameter dan biomassa pohon berpotensi memberikan gambaran yang tidak lengkap.

Menjaga sedimen dan proses ekologis yang mempertahankan karbon di dalamnya sama pentingnya dengan menjaga tegakan mangrove di atas permukaan tanah.

Bagaimana Mangrove Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca?

1. Mempertahankan Cadangan Karbon yang Sudah Ada

Mangrove dewasa dapat menyimpan karbon hasil akumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun. Melindungi kawasan tersebut berarti mempertahankan cadangan karbon agar tidak dilepaskan akibat konversi dan degradasi.

Dalam banyak kondisi, mencegah hilangnya mangrove yang sehat dapat memberikan manfaat mitigasi yang sangat besar, karena kerusakan dapat menyebabkan hilangnya vegetasi sekaligus mengganggu karbon tanah.

2. Menyerap Karbon melalui Fotosintesis

Mangrove mengambil karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis. Karbon kemudian digunakan untuk membentuk jaringan tumbuhan seperti batang, daun, cabang, dan akar.

Selama vegetasi bertumbuh, sebagian karbon terus terakumulasi sebagai biomassa.

3. Mengubur Karbon dalam Sedimen

Serasah dan bahan organik dapat terbawa, terperangkap, dan terendapkan di kawasan mangrove. Jaringan akar juga membantu memerangkap sedimen.

Sebagian material organik tersebut kemudian terkubur dan menjadi bagian dari cadangan karbon tanah.

4. Memulihkan Kemampuan Ekosistem Menyerap Karbon

Kawasan mangrove yang mengalami degradasi dapat kehilangan sebagian kemampuan ekologisnya. Apabila penyebab kerusakan berhasil diatasi dan proses ekologis kembali berfungsi, ekosistem dapat membangun kembali vegetasi dan cadangan karbonnya secara bertahap.

Perlindungan Mangrove sebagai Strategi Mitigasi

Mitigasi berbasis mangrove sebaiknya tidak selalu dimulai dari pertanyaan berapa banyak bibit yang akan ditanam.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah mangrove yang masih baik dapat dipertahankan.

Perlindungan terhadap kawasan mangrove alami membantu mencegah emisi dari perubahan penggunaan lahan sekaligus mempertahankan fungsi ekologis yang sudah terbentuk. Strateginya dapat mencakup pengendalian konversi kawasan, perlindungan konektivitas hidrologi, pengelolaan pemanfaatan, pengurangan pencemaran, pengendalian penebangan, dan penguatan tata kelola bersama masyarakat.

Studi mengenai mangrove Indonesia juga menunjukkan besarnya kepentingan perlindungan mangrove karena cadangan karbon ekosistemnya sangat tinggi. Murdiyarso et al. (2015) memperkirakan rata-rata cadangan karbon mangrove Indonesia sekitar 1.083 ± 378 Mg C per hektare pada lokasi yang diteliti.

Restorasi Mangrove untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Restorasi memberikan peluang untuk mengembalikan kemampuan kawasan yang rusak dalam menyimpan karbon. Namun, keberhasilannya bergantung pada pemulihan fungsi ekosistem.

Karena itu, restorasi mangrove untuk tujuan mitigasi seharusnya mengikuti prinsip pemulihan ekologis terlebih dahulu dan penanaman ketika memang diperlukan.

Pendekatan Ecological Mangrove Restoration (EMR) menekankan pemahaman terhadap ekologi jenis, hidrologi, pasang surut, elevasi, sejarah perubahan kawasan, regenerasi alami, sumber propagul, dan faktor yang menyebabkan kerusakan.

Apabila masalah utama suatu kawasan adalah terputusnya aliran pasang surut, misalnya, memperbaiki konektivitas air dapat menjadi intervensi yang lebih penting dibandingkan langsung melakukan penanaman.

Ketika kondisi ekologis telah mendukung, regenerasi alami dapat kembali berlangsung. Penanaman kemudian dapat digunakan secara selektif apabila regenerasi alami terbatas atau terdapat tujuan pemulihan tertentu.

Peran CBEMR dalam Mitigasi Berbasis Mangrove

Pendekatan Community-Based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR) mengembangkan prinsip restorasi ekologis dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, dan pemantauan kawasan.

Hal ini penting karena keberhasilan mitigasi perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh jumlah karbon yang secara teoritis dapat tersimpan. Keberlanjutan ekosistem dalam puluhan tahun mendatang juga dipengaruhi tata kelola, kepemilikan dan penggunaan lahan, mata pencaharian, penerimaan masyarakat, serta tekanan terhadap kawasan.

Program mitigasi yang tidak mempertimbangkan dimensi sosial berisiko menghadapi konflik penggunaan ruang atau kehilangan dukungan masyarakat.

Sebaliknya, keterlibatan masyarakat sejak tahap identifikasi masalah hingga pemantauan dapat memperkuat keberlanjutan program sekaligus memastikan bahwa manfaat restorasi berhubungan dengan kebutuhan masyarakat pesisir.

Tidak Semua Penanaman Mangrove Otomatis Menjadi Mitigasi Iklim

Menanam mangrove memang dapat menjadi bagian dari mitigasi perubahan iklim, tetapi aktivitas penanaman saja belum cukup untuk membuktikan terjadinya manfaat iklim.

Bibit yang ditanam dapat mengalami kematian apabila lokasi tidak sesuai. Mangrove juga dapat gagal berkembang apabila hidrologi terganggu, elevasi tidak tepat, gelombang terlalu kuat, substrat tidak sesuai, atau jenis yang digunakan tidak cocok dengan karakteristik tapak.

Bahkan apabila tanaman mampu bertahan, manfaat karbon tetap perlu dilihat dalam kerangka waktu yang panjang.

Oleh sebab itu, klaim mengenai mitigasi perubahan iklim sebaiknya didasarkan pada kondisi ekosistem, keberhasilan restorasi, perubahan cadangan karbon, keberlanjutan pengelolaan, serta sistem pemantauan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jumlah bibit bukan satuan pengukuran karbon.

Dari Jumlah Pohon ke Ton CO₂e

Dalam kajian iklim, manfaat karbon umumnya dinyatakan sebagai massa karbon atau ekuivalen karbon dioksida (carbon dioxide equivalent/CO₂e).

Penghitungan tersebut memerlukan data yang lebih lengkap daripada jumlah pohon. Pengukuran dapat melibatkan biomassa vegetasi, karbon tanah, kayu mati, perubahan tutupan lahan, tingkat pertumbuhan, serta faktor lainnya sesuai tujuan dan metodologi penelitian.

Secara kimia, massa karbon dapat dikonversikan menjadi massa karbon dioksida menggunakan perbandingan berat molekul:

CO₂ = C × 44/12

Dengan demikian, 1 ton karbon setara dengan sekitar 3,67 ton CO₂.

Namun, konversi tersebut baru merupakan hubungan stoikiometrik. Dalam proyek mitigasi, masih diperlukan penentuan kondisi awal atau baseline, skenario tanpa program, batas wilayah, periode penghitungan, sumber emisi, ketidakpastian, dan metodologi lain sebelum suatu manfaat dapat dinyatakan sebagai penurunan emisi bersih.

Pentingnya Baseline dalam Program Mitigasi Mangrove

Baseline menggambarkan kondisi atau skenario yang diperkirakan terjadi apabila intervensi mitigasi tidak dilakukan.

Sebagai contoh, suatu kawasan mangrove yang sehat tetapi sebenarnya tidak menghadapi ancaman konversi tidak serta-merta dapat mengklaim seluruh karbon yang tersimpan sebagai hasil suatu proyek baru.

Demikian pula, seluruh pertumbuhan mangrove di kawasan restorasi tidak selalu dapat langsung dikategorikan sebagai manfaat tambahan dari program apabila regenerasi tersebut diperkirakan tetap terjadi tanpa intervensi.

Karena itu, analisis baseline diperlukan untuk membedakan antara cadangan karbon yang memang sudah ada, perubahan yang akan terjadi secara alami, dan manfaat tambahan yang benar-benar dihasilkan oleh suatu kegiatan mitigasi.

Additionality, Permanence, dan Leakage

Program mitigasi berbasis karbon juga perlu mempertimbangkan beberapa prinsip penting.

Additionality

Additionality berkaitan dengan pertanyaan apakah manfaat penurunan emisi atau peningkatan serapan karbon terjadi karena adanya program.

Permanence

Permanence berkaitan dengan kemampuan mempertahankan karbon dalam jangka panjang.

Kebakaran, perubahan tata guna lahan, abrasi ekstrem, gangguan hidrologi, pembangunan pesisir, maupun kematian vegetasi dapat memengaruhi keberlanjutan cadangan karbon.

Leakage

Leakage terjadi ketika aktivitas yang menghasilkan emisi tidak benar-benar dihentikan, tetapi hanya berpindah ke lokasi lain akibat suatu program.

Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove merupakan proses pengelolaan jangka panjang, bukan kegiatan sesaat.

Pengukuran dan Pemantauan Karbon Mangrove

Program mitigasi yang kredibel memerlukan sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang sesuai dengan tujuan program dan standar yang digunakan.

Pengukuran Vegetasi

Parameter yang dapat digunakan antara lain:

  • jenis mangrove;
  • diameter batang;
  • tinggi pohon;
  • kerapatan;
  • kondisi kesehatan;
  • regenerasi alami; dan
  • biomassa atas serta bawah permukaan.

Biomassa dapat diperkirakan menggunakan persamaan alometrik yang sesuai dengan jenis atau kelompok vegetasi.

Pengukuran Karbon Tanah

Karbon tanah memerlukan pengambilan sampel sedimen pada kedalaman tertentu. Analisis umumnya mempertimbangkan kandungan karbon organik, bulk density, dan kedalaman lapisan tanah.

Karena tanah merupakan komponen penting penyimpanan karbon mangrove, metode sampling harus dirancang agar dapat mewakili variasi kondisi kawasan.

Pemantauan Perubahan Kawasan

Teknologi GIS, citra satelit, dan drone dapat digunakan untuk memantau perubahan tutupan mangrove, luas kawasan, fragmentasi, serta perkembangan vegetasi.

Data spasial tersebut sebaiknya tetap dikombinasikan dengan pengamatan lapangan sehingga perubahan yang terlihat pada citra dapat diverifikasi.

Mitigasi Harus Berbasis Ekosistem, Bukan Sekadar Karbon

Meskipun karbon menjadi salah satu alasan penting untuk melindungi mangrove, ekosistem mangrove tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat penyimpanan karbon.

Mangrove merupakan habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, moluska, burung, reptil, dan organisme lainnya. Ekosistem ini juga mendukung perikanan, melindungi kawasan pesisir, membantu pembentukan sedimen, berperan dalam siklus unsur hara, serta mendukung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pendekatan mitigasi yang hanya mengejar peningkatan stok karbon tanpa memperhatikan biodiversitas dan struktur ekosistem dapat menghasilkan pengelolaan yang terlalu sederhana.

Sebagai contoh, penanaman satu jenis mangrove secara seragam pada kawasan yang secara alami memiliki kondisi ekologis berbeda belum tentu mampu memulihkan fungsi ekosistem secara optimal.

Karena itu, karbon seharusnya menjadi salah satu indikator keberhasilan, bukan satu-satunya tujuan pengelolaan mangrove.

Mitigasi dan Adaptasi Dapat Berjalan Bersamaan

Salah satu keunggulan pendekatan berbasis mangrove adalah peluang menghasilkan manfaat mitigasi dan adaptasi secara bersamaan.

Ekosistem mangrove yang sehat dapat mempertahankan dan meningkatkan penyimpanan karbon sekaligus membantu meningkatkan ketahanan kawasan pesisir terhadap sejumlah tekanan lingkungan.

IPCC menegaskan bahwa ekosistem karbon biru vegetatif seperti mangrove dapat berkontribusi terhadap mitigasi sekaligus menyediakan berbagai manfaat noniklim dan mendukung adaptasi berbasis ekosistem.

Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya dapat diamati dari karbon yang tersimpan, tetapi juga dari pemulihan hidrologi, stabilitas ekosistem, biodiversitas, keberlanjutan sumber daya pesisir, serta kapasitas masyarakat dalam menjaga kawasan.

Indonesia dan Potensi Mitigasi Mangrove

Indonesia memiliki posisi penting dalam mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove karena memiliki kawasan mangrove yang luas dan cadangan karbon yang besar.

Kajian Murdiyarso et al. menunjukkan bahwa konservasi mangrove Indonesia memiliki relevansi besar terhadap strategi mitigasi perubahan iklim karena tingginya stok karbon yang tersimpan dalam ekosistem tersebut.

Potensi tersebut sekaligus membawa tanggung jawab besar.

Melindungi mangrove yang masih sehat, mengurangi laju degradasi, memulihkan kawasan yang terganggu, meningkatkan kualitas data, memperkuat keterlibatan masyarakat, serta memastikan pengelolaan jangka panjang dapat memberikan kontribusi penting terhadap agenda iklim.

Namun, potensi karbon tidak berarti seluruh kawasan mangrove otomatis sesuai untuk dikembangkan menjadi proyek karbon. Setiap lokasi perlu dinilai berdasarkan kondisi ekologis, sosial, legal, metodologis, serta kelayakan implementasinya.

Prinsip Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Mangrove

Program mitigasi mangrove yang baik setidaknya perlu memperhatikan beberapa prinsip utama:

  1. Melindungi mangrove alami yang masih sehat.
  2. Mengidentifikasi penyebab degradasi sebelum menentukan intervensi.
  3. Memulihkan hidrologi dan proses ekologis kawasan.
  4. Mendorong regenerasi alami ketika kondisi memungkinkan.
  5. Melakukan penanaman hanya ketika secara ekologis dibutuhkan.
  6. Memilih jenis berdasarkan kesesuaian tapak, bukan sekadar ketersediaan bibit.
  7. Melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan.
  8. Mengukur kondisi awal dan menetapkan baseline.
  9. Memantau vegetasi, lingkungan, dan karbon secara berkala.
  10. Menjamin keberlanjutan pengelolaan dalam jangka panjang.

Prinsip tersebut membantu menggeser paradigma dari sekadar menanam mangrove untuk karbon menjadi memulihkan ekosistem sehingga fungsi penyimpanan karbon dapat berlangsung secara alami dan berkelanjutan.

Mangrove Bukan Solusi Tunggal Perubahan Iklim

Kemampuan mangrove menyimpan karbon tidak berarti ekosistem ini dapat menggantikan kebutuhan untuk mengurangi emisi dari energi, industri, transportasi, perubahan penggunaan lahan, dan sektor lainnya.

Restorasi ekosistem merupakan bagian dari portofolio solusi iklim, bukan alasan untuk menunda pengurangan emisi pada sumbernya.

Dengan kata lain, perlindungan dan restorasi mangrove harus berjalan berdampingan dengan dekarbonisasi dan pengurangan emisi secara langsung.

Pandangan tersebut penting agar konsep blue carbon tidak disederhanakan menjadi mekanisme kompensasi tanpa perbaikan nyata terhadap sumber emisi.

Dari Penanaman Menuju Pemulihan Ekosistem

Mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove pada akhirnya memerlukan perubahan cara pandang.

Keberhasilan tidak seharusnya hanya dilaporkan melalui jumlah bibit, jumlah peserta, atau luas area penanaman. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ekosistem kembali berfungsi, apakah mangrove mampu beregenerasi, apakah hidrologinya sesuai, apakah tekanan terhadap kawasan berkurang, apakah karbon dapat dipertahankan, dan apakah masyarakat memiliki kemampuan serta insentif untuk menjaganya.

Pendekatan EMR dan CBEMR memberikan kerangka untuk menempatkan proses ekologis dan masyarakat sebagai fondasi pemulihan tersebut.

Ketika mangrove berhasil dipertahankan dan dipulihkan sebagai sebuah ekosistem, manfaat iklim akan berjalan bersama berbagai fungsi ekologis lainnya.

Mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove bukan tentang menanam karbon. Mitigasi adalah tentang menjaga dan memulihkan ekosistem yang mampu menyerap, menyimpan, dan mempertahankan karbon secara berkelanjutan. (ADM).

Daftar Pustaka

Alongi, D. M. (2014). Carbon cycling and storage in mangrove forests. Annual Review of Marine Science, 6, 195–219.

Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., & Kanninen, M. (2011). Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience, 4, 293–297.

IPCC. (2019). IPCC Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate. Intergovernmental Panel on Climate Change.

IPCC. (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.

Kauffman, J. B., & Donato, D. C. (2012). Protocols for the Measurement, Monitoring and Reporting of Structure, Biomass and Carbon Stocks in Mangrove Forests. CIFOR Working Paper 86. Center for International Forestry Research.

Macreadie, P. I., Anton, A., Raven, J. A., Beaumont, N., Connolly, R. M., Friess, D. A., Kelleway, J. J., Kennedy, H., Kuwae, T., Lavery, P. S., Lovelock, C. E., Smale, D. A., Apostolaki, E. T., Atwood, T. B., Baldock, J., Bianchi, T. S., Chmura, G. L., Eyre, B. D., Fourqurean, J. W., Hall-Spencer, J. M., Huxham, M., Hendriks, I. E., Krause-Jensen, D., Laffoley, D., Luisetti, T., Marbà, N., Masque, P., McGlathery, K. J., Megonigal, J. P., Murdiyarso, D., Russell, B. D., Santos, R., Serrano, O., Silliman, B. R., Watanabe, K., & Duarte, C. M. (2019). The future of blue carbon science. Nature Communications, 10, 3998.

Murdiyarso, D., Purbopuspito, J., Kauffman, J. B., Warren, M. W., Sasmito, S. D., Donato, D. C., Manuri, S., Krisnawati, H., Taberima, S., & Kurnianto, S. (2015). The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation. Nature Climate Change, 5, 1089–1092.

(Sumber gambar: Diana Wahyuni/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar