Bahkan setelah pohon mencapai usia dewasa dan pertumbuhan batang mulai melambat, ekosistem mangrove masih dapat menambah simpanan karbon melalui:
- pertumbuhan akar;
- pembentukan kayu;
- jatuhan daun dan ranting;
- pengendapan bahan organik;
- penangkapan sedimen;
- serta penguburan karbon di dalam tanah.
Karena itu, pertanyaan mengenai berapa lama mangrove menyerap karbon tidak dapat dijawab dengan satu angka sederhana.
Mangrove dapat menyerap karbon selama puluhan tahun. Sementara itu, karbon yang telah terkubur di dalam tanah mangrove dapat tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun apabila ekosistemnya tidak dikeringkan, dikonversi, atau mengalami gangguan berat.
Hal yang perlu dibedakan adalah:
serapan karbon, yaitu proses pengambilan karbon dari atmosfer atau lingkungan;
stok karbon, yaitu jumlah karbon yang tersimpan pada suatu waktu;
dan penyimpanan jangka panjang, yaitu kemampuan ekosistem mempertahankan karbon agar tidak kembali dilepaskan ke atmosfer.
Ketiga istilah tersebut sering dicampuradukkan dalam kampanye penanaman mangrove.
Jawaban Singkat: Berapa Lama Mangrove Menyerap Karbon?
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Sejak fase semai: mangrove mulai menyerap karbon melalui fotosintesis.
Umur 1–5 tahun: karbon mulai bertambah pada daun, batang, cabang, dan akar.
Umur 5–20 tahun: pertumbuhan biomassa dan pembentukan tegakan dapat berlangsung cepat apabila habitat mendukung.
Umur 20 tahun ke atas: pohon dewasa tetap menyimpan karbon dan masih dapat menambah biomassa, meskipun kecepatannya dapat berubah.
Selama ekosistem tetap sehat: tanah mangrove terus menerima dan mengubur karbon dari akar, serasah, sedimen, dan bahan organik lain.
Setelah pohon mati: sebagian karbon dapat tetap tersimpan dalam kayu mati dan sedimen, sementara sebagian lainnya dapat terurai dan kembali ke lingkungan.
Artinya, mangrove tidak hanya menyerap karbon selama masa awal penanaman. Prosesnya berlangsung selama pohon dan ekosistemnya tetap hidup serta berfungsi.
Bagaimana Mangrove Menyerap Karbon?
Mangrove menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis.
Dengan bantuan cahaya matahari, daun mengubah karbon dioksida dan air menjadi senyawa organik yang digunakan untuk membentuk:
- daun;
- batang;
- cabang;
- bunga;
- buah;
- propagul;
- dan akar.
Karbon yang masuk ke jaringan tumbuhan kemudian menjadi bagian dari biomassa mangrove.
Semakin besar pohon, semakin banyak karbon yang umumnya tersimpan dalam batang, cabang, dan sistem perakarannya. Namun, jumlah yang disimpan berbeda menurut jenis, umur, diameter, tinggi, kondisi lingkungan, serta kepadatan tegakan.
Mangrove juga memperoleh keunggulan sebagai penyimpan karbon karena sebagian besar bahan organiknya masuk ke tanah yang tergenang dan miskin oksigen.
Kondisi anaerob tersebut memperlambat aktivitas mikroorganisme yang menguraikan bahan organik. Akibatnya, sebagian karbon dapat terkubur dan bertahan jauh lebih lama dibandingkan bahan organik yang berada pada tanah kering dengan oksigen melimpah.
Kajian mengenai sifat karbon tanah mangrove menunjukkan bahwa sebagian besar karbon ekosistem mangrove berada di bawah permukaan. Secara global, proporsi karbon bawah permukaan sering mendominasi total stok karena tanah mangrove dapat menumpuk bahan organik dalam jangka panjang.
Mangrove Menyimpan Karbon di Mana?
Karbon mangrove tidak hanya terdapat pada batang.
Secara umum, karbon ekosistem mangrove tersimpan dalam beberapa komponen.
1. Karbon pada Biomassa di Atas Permukaan
Biomassa atas permukaan meliputi:
- batang;
- cabang;
- ranting;
- daun;
- bunga;
- buah;
- dan propagul.
Komponen ini relatif mudah dilihat dan sering diestimasi melalui pengukuran diameter batang serta persamaan alometrik.
Namun, biomassa atas permukaan hanya merupakan satu bagian dari total karbon ekosistem.
2. Karbon pada Biomassa Bawah Permukaan
Mangrove memiliki sistem akar yang kompleks.
Karbon tersimpan pada:
- akar utama;
- akar halus;
- akar tunjang;
- akar lutut;
- akar papan;
- dan jaringan akar di dalam sedimen.
Akar hidup terus menambah biomassa selama tanaman tumbuh. Ketika sebagian akar mati, bahan organiknya dapat menjadi bagian dari karbon tanah.
3. Karbon pada Kayu Mati dan Serasah
Daun, ranting, kulit kayu, dan bagian tanaman lain akan gugur.
Sebagian bahan tersebut:
- dimakan fauna;
- diuraikan mikroorganisme;
- terbawa pasang surut;
- atau terkubur di dalam sedimen.
Kayu mati juga dapat menjadi tempat penyimpanan karbon sementara sebelum terurai.
4. Karbon dalam Tanah dan Sedimen
Tanah merupakan komponen terbesar dalam banyak ekosistem mangrove.
Karbon tanah berasal dari:
- akar;
- serasah;
- kayu mati;
- mikroorganisme;
- bahan organik dari sungai;
- bahan organik laut;
- dan sedimen yang terperangkap oleh vegetasi.
Di beberapa kawasan mangrove Indonesia, sebagian besar stok karbon ekosistem ditemukan dalam sedimen, bukan pada batang dan daun. Sebuah kajian di Pasar Banggi, Rembang, misalnya, memperkirakan bahwa hingga sekitar 65 persen stok karbon ekosistem berada pada sedimen.
Sejak Kapan Bibit Mangrove Mulai Menyerap Karbon?
Bibit mangrove mulai menyerap karbon ketika telah memiliki jaringan fotosintetik yang aktif.
Pada jenis seperti Rhizophora, propagul telah mengalami perkembangan ketika masih menempel pada pohon induk. Setelah propagul jatuh, menetap, membentuk akar, dan menghasilkan daun baru, proses pertumbuhan mandiri semakin aktif.
Semai yang masih kecil memang menyimpan karbon jauh lebih sedikit dibandingkan pohon dewasa. Namun, secara biologis, semai tersebut sudah menjadi bagian dari proses penyerapan karbon.
Karbon awal akan dialokasikan untuk:
- memperpanjang akar;
- membentuk daun;
- memperbesar batang;
- dan mempertahankan metabolisme.
Karena ukuran semai masih kecil, jumlah karbon yang diserap per individu juga relatif kecil.
Itulah sebabnya klaim seperti “satu bibit mangrove langsung menyerap sekian kilogram karbon setiap tahun” perlu digunakan secara hati-hati.
Laju serapan tidak tetap. Nilainya berubah mengikuti umur, ukuran, jenis, kondisi lokasi, tingkat kelangsungan hidup, dan metode penghitungan.
Apakah Mangrove Muda Menyerap Karbon Lebih Cepat?
Mangrove muda sering mengalami pertumbuhan relatif cepat karena sedang membentuk batang, akar, dan tajuk.
Namun, pernyataan bahwa mangrove muda selalu menyerap karbon lebih banyak daripada mangrove dewasa terlalu sederhana.
Terdapat dua cara melihat pertumbuhan.
Pertumbuhan Relatif
Tanaman muda dapat bertambah besar dengan cepat dibandingkan ukuran awalnya.
Sebagai contoh, pertambahan biomassa sebesar satu kilogram pada semai kecil dapat menjadi peningkatan relatif yang sangat besar.
Pertumbuhan Absolut
Pohon besar dapat menambah biomassa dalam jumlah absolut yang tetap besar karena memiliki:
- tajuk lebih luas;
- lebih banyak daun;
- batang besar;
- dan sistem akar yang luas.
Dengan demikian, mangrove muda dapat memiliki pertumbuhan relatif tinggi, sedangkan pohon besar tetap dapat menambahkan karbon dalam jumlah penting.
Dinamika produktivitas juga tidak selalu linear. Penelitian yang memasukkan umur tegakan ke dalam pemodelan produktivitas mangrove menemukan adanya perubahan fase pertumbuhan dan akumulasi biomassa sepanjang perkembangan tegakan.
Karena itu, umur saja tidak cukup untuk menentukan pohon mana yang menyerap karbon paling banyak.
Apakah Mangrove Dewasa Masih Menyerap Karbon?
Ya.
Mangrove dewasa masih melakukan fotosintesis, menghasilkan daun, memperbesar cabang, memperpanjang akar, dan mengganti jaringan yang rusak.
Pertumbuhan tinggi mungkin melambat, tetapi pohon masih dapat:
- memperbesar diameter batang;
- menambah biomassa cabang;
- memperluas akar;
- menghasilkan serasah;
- dan mendukung pengendapan karbon tanah.
Ekosistem mangrove dewasa juga memiliki struktur yang lebih kompleks. Pohon besar, pancang, semai alami, fauna, serasah, dan sedimen bersama-sama mempertahankan siklus karbon.
Mangrove dewasa bukan hanya tempat karbon baru diserap, tetapi juga tempat karbon lama dipertahankan.
Tindakan menebang mangrove dewasa lalu menggantinya dengan bibit tidak menghasilkan kondisi karbon yang setara.
Bibit membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membangun kembali biomassa yang hilang. Sementara itu, gangguan terhadap tanah dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan jauh lebih lama.
Apakah Mangrove Berhenti Menyerap Karbon pada Umur Tertentu?
Tidak ada umur universal ketika semua mangrove berhenti menyerap karbon.
Pohon dapat terus mengambil karbon selama masih hidup dan tumbuh. Namun, laju pertumbuhan dapat berubah karena:
- umur;
- jenis;
- ketersediaan nutrisi;
- salinitas;
- kompetisi;
- kepadatan;
- gangguan;
- serta perubahan hidrologi.
Pada tegakan tua, pertambahan biomassa tahunan mungkin lebih lambat daripada pada beberapa fase pertumbuhan muda. Namun, tegakan tua memiliki stok karbon yang jauh lebih besar dan tetap menghasilkan karbon organik melalui akar serta serasah.
Selain itu, regenerasi alami di bawah atau di sekitar tegakan dewasa menciptakan generasi baru yang juga menyerap karbon.
Dengan demikian, ekosistem mangrove tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu pohon atau satu kelas umur.
Hutan yang sehat memiliki kombinasi:
- semai;
- pancang;
- tiang;
- pohon muda;
- pohon dewasa;
- dan pohon mati.
Seluruh komponen tersebut membentuk dinamika karbon ekosistem.
Berapa Lama Karbon Mangrove Tersimpan?
Karbon pada daun dapat tersimpan relatif singkat karena daun akan gugur dan terurai.
Karbon pada batang dapat tersimpan selama pohon hidup, yaitu puluhan tahun atau lebih.
Karbon dalam kayu mati dapat bertahan selama beberapa waktu sebelum terurai.
Karbon yang terkubur di dalam tanah berpotensi tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun, terutama apabila sedimen tetap jenuh air dan minim oksigen.
Inilah yang membuat mangrove disebut sebagai salah satu ekosistem karbon biru.
Mangrove tidak hanya mengambil karbon dengan cepat, tetapi juga dapat memindahkan sebagian karbon ke tempat penyimpanan bawah tanah yang relatif stabil.
Kajian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 70 persen karbon mangrove secara keseluruhan dapat berada di bawah permukaan dan memiliki persistensi tinggi karena kondisi anaerob memperlambat penguraian mikroba.
Namun, penyimpanan tersebut tidak bersifat permanen tanpa syarat.
Karbon dapat kembali dilepaskan apabila:
- hutan ditebang;
- tanah dikeringkan;
- tambak dibangun;
- sedimen dikeruk;
- hidrologi diubah;
- atau lahan mengalami erosi berat.
Apa Perbedaan Serapan dan Stok Karbon Mangrove?
Dua istilah ini sangat sering tertukar.
Serapan Karbon
Serapan karbon adalah jumlah karbon yang ditambahkan ke ekosistem dalam periode tertentu.
Serapan biasanya dinyatakan dalam:
- ton karbon per hektare per tahun;
- atau ton karbon dioksida ekuivalen per hektare per tahun.
Serapan adalah aliran.
Stok Karbon
Stok karbon adalah jumlah karbon yang tersimpan pada suatu waktu.
Stok biasanya dihitung pada:
- biomassa atas permukaan;
- biomassa bawah permukaan;
- kayu mati;
- serasah;
- dan tanah.
Stok adalah cadangan.
Analogi sederhananya adalah rekening bank.
Saldo yang sudah tersedia merupakan stok. Uang yang masuk setiap bulan merupakan aliran tambahan.
Hutan mangrove dewasa dapat memiliki stok karbon sangat besar meskipun pertambahan tahunannya lebih lambat dibandingkan fase tertentu pada tegakan muda.
Sebaliknya, tegakan muda dapat memiliki laju pertumbuhan tinggi, tetapi total stoknya masih kecil.
Karena itu, klaim bahwa tegakan muda “lebih baik” daripada hutan lama hanya karena tumbuh lebih cepat merupakan kesimpulan yang menyesatkan.
Berapa Banyak Karbon yang Diserap Mangrove Setiap Tahun?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua ekosistem mangrove.
Laju serapan dipengaruhi oleh:
- jenis;
- umur;
- kepadatan;
- diameter;
- produktivitas;
- salinitas;
- pasang surut;
- nutrisi;
- sedimentasi;
- curah hujan;
- dan gangguan.
Hasil pengukuran juga bergantung pada komponen yang dihitung.
Sebuah penelitian dapat hanya menghitung pertambahan biomassa pohon. Penelitian lain dapat menghitung penguburan karbon sedimen. Penelitian berikutnya dapat menghitung keseluruhan pertukaran gas rumah kaca.
Angka-angka tersebut tidak boleh dibandingkan secara langsung tanpa memahami metode dan batas sistemnya.
Sebagai contoh, penelitian pada mangrove tanam dewasa menemukan penguburan karbon organik bawah tanah sekitar 6,94 megagram karbon per hektare per tahun pada lokasi yang memperoleh masukan sedimen tinggi. Angka tersebut merupakan hasil spesifik lokasi dan tidak dapat dipindahkan begitu saja ke seluruh proyek mangrove.
Penelitian pada habitat mangrove di Kochi, India, juga menemukan variasi laju sekuestrasi sedimen yang besar antarlokasi dan kondisi pengelolaan. Kawasan bekas konversi akuakultur memiliki stok serta laju sekuestrasi tanah yang lebih rendah dibandingkan habitat mangrove yang lebih matang.
Karena itu, klaim serapan karbon harus selalu mencantumkan:
- lokasi;
- periode;
- metode;
- komponen karbon;
- satuan;
- serta tingkat ketidakpastian.
Apakah Satu Pohon Mangrove Memiliki Angka Serapan Tetap?
Tidak.
Tidak ada angka serapan karbon per pohon yang tetap sepanjang hidup mangrove.
Satu pohon yang baru ditanam memiliki biomassa sangat kecil. Setelah lima tahun, ukuran dan jumlah daunnya berubah. Setelah dua puluh tahun, diameter batang dan sistem akarnya jauh lebih besar.
Selain umur, perbedaan serapan juga dipengaruhi oleh:
- jenis mangrove;
- ukuran awal;
- kondisi kesehatan;
- lokasi;
- kerapatan;
- salinitas;
- nutrisi;
- dan kompetisi.
Dua pohon dengan umur sama dapat memiliki ukuran dan biomassa yang sangat berbeda.
Karena itu, angka seperti “satu pohon mangrove menyerap 10 kilogram karbon per tahun” tidak boleh diperlakukan sebagai kepastian universal.
Angka semacam itu mungkin berasal dari pembagian estimasi tingkat tegakan terhadap jumlah pohon. Hasilnya merupakan nilai rata-rata berdasarkan berbagai asumsi, bukan pengukuran langsung untuk setiap individu.
Apakah Mangrove Terus Menyerap Karbon Setelah Berbunga?
Ya.
Pembungaan dan produksi propagul tidak menghentikan fotosintesis.
Pohon tetap:
- menghasilkan daun;
- menambah jaringan kayu;
- memperbesar akar;
- dan menghasilkan serasah.
Sebagian karbon juga dialokasikan untuk bunga, buah, dan propagul.
Propagul yang tumbuh menjadi generasi baru akan melanjutkan proses penyerapan karbon.
Karena itu, kemampuan bereproduksi justru menjadi bagian penting dari keberlanjutan penyimpanan karbon ekosistem.
Tegakan yang dapat menghasilkan propagul dan membentuk regenerasi alami memiliki peluang lebih besar mempertahankan fungsi ekologisnya dalam jangka panjang.
Berapa Lama Mangrove Hasil Restorasi Menyamai Hutan Alami?
Mangrove hasil restorasi dapat mulai menyerap karbon sejak fase awal. Namun, untuk mencapai stok karbon yang mendekati hutan alami, dibutuhkan waktu jauh lebih lama.
Sebuah kajian global terhadap hutan mangrove hasil restorasi memperkirakan bahwa biomassa tanaman dapat mendekati kondisi hutan alami dalam waktu sekitar 40 tahun. Pemulihan setiap komponen karbon tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama.
Tajuk dapat menutup lebih cepat, sedangkan:
- diameter pohon;
- keanekaragaman struktur;
- biomassa akar;
- ketebalan tanah;
- dan stok karbon sedimen
membutuhkan waktu lebih panjang.
Penelitian rehabilitasi hidrologi juga menunjukkan bahwa tutupan tajuk dapat pulih dalam beberapa tahun, tetapi karbon biomassa masih lebih rendah daripada lokasi pembanding karena umur tegakan masih muda.
Karena itu, kawasan yang terlihat hijau dari udara belum tentu telah memulihkan karbon ekosistemnya.
Apakah Penanaman Langsung Menghasilkan Kredit Karbon?
Tidak.
Menanam mangrove tidak otomatis menghasilkan kredit karbon.
Kredit karbon membutuhkan pembuktian bahwa pengurangan emisi atau peningkatan serapan:
- benar-benar terjadi;
- dapat diukur;
- berasal dari intervensi tambahan;
- tidak dihitung ganda;
- memiliki risiko pembalikan yang dikelola;
- dan dipantau sesuai standar tertentu.
Selain itu, proyek perlu menetapkan skenario dasar atau baseline.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak karbon yang disimpan setelah penanaman, tetapi berapa tambahan karbon yang terjadi dibandingkan kondisi tanpa proyek.
Kawasan yang secara alami akan pulih tanpa intervensi tidak dapat seluruhnya diklaim sebagai hasil proyek.
Demikian pula, karbon tidak boleh diklaim hanya berdasarkan jumlah bibit yang ditanam.
Bibit yang mati tidak memberikan manfaat penyimpanan jangka panjang. Bahkan bibit yang hidup tetap membutuhkan pengukuran pertumbuhan dan kondisi ekosistem.
Mengapa Karbon Tanah Sangat Penting?
Banyak kampanye mangrove hanya menampilkan pohon.
Padahal, karbon tanah dapat menjadi komponen terbesar dari total stok ekosistem.
Tanah mangrove berfungsi seperti arsip ekologis. Lapisan sedimen dapat menyimpan sisa akar, serasah, material sungai, dan bahan organik laut dari waktu yang sangat panjang.
Karbon tersebut terlindungi oleh:
- kondisi jenuh air;
- keterbatasan oksigen;
- pengendapan sedimen;
- dan proses penguraian yang lambat.
Pemetaan global terbaru juga menegaskan pentingnya akumulasi karbon mangrove sebagai penyimpanan jangka panjang serta menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan sangat dipengaruhi kondisi geografis dan lingkungan.
Namun, tanah hanya dapat berfungsi sebagai penyimpan karbon apabila hidrologinya tetap dipertahankan.
Ketika tanah mangrove dikeringkan, oksigen masuk ke dalam sedimen. Bahan organik yang sebelumnya terlindungi menjadi lebih mudah terurai dan melepaskan karbon dioksida.
Apa yang Terjadi Ketika Mangrove Ditebang?
Penebangan menghilangkan karbon pada batang, cabang, dan daun.
Dampaknya dapat menjadi lebih besar apabila penebangan diikuti oleh:
- pengeringan;
- penggalian;
- pembangunan tambak;
- reklamasi;
- atau perubahan hidrologi.
Konversi mangrove menjadi tambak dapat menyebabkan kehilangan karbon ekosistem dalam jumlah besar.
Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa konversi mangrove menjadi tambak udang dapat menghilangkan hingga sekitar 70 persen karbon ekosistem. Sebagian bekas tambak masih menyimpan karbon dalam tanah yang dalam, tetapi cadangan tersebut tetap berisiko apabila sedimen terus terganggu.
Dengan demikian, melindungi mangrove yang sudah ada biasanya memberikan manfaat karbon lebih cepat dan lebih pasti daripada menebang hutan lama lalu menanam bibit baru di tempat lain.
Apakah Pohon Mati Berarti Seluruh Karbon Hilang?
Tidak seluruhnya dan tidak selalu langsung.
Ketika pohon mati, karbonnya dapat mengikuti beberapa jalur:
- tetap berada dalam kayu mati;
- terurai dan kembali menjadi karbon dioksida;
- masuk ke dalam tanah;
- dikonsumsi organisme;
- terbawa pasang surut;
- atau terkubur oleh sedimen.
Kecepatan pelepasan bergantung pada:
- ukuran kayu;
- suhu;
- kelembapan;
- kadar oksigen;
- salinitas;
- dan aktivitas organisme pengurai.
Namun, kematian massal akibat kerusakan habitat tetap dapat mengurangi kemampuan ekosistem menyerap karbon baru.
Apabila kematian disertai erosi atau pengeringan tanah, kehilangan karbon dapat menjadi jauh lebih besar.
Faktor yang Memengaruhi Lama dan Besarnya Serapan Karbon
1. Jenis Mangrove
Setiap jenis memiliki:
- kecepatan tumbuh;
- kerapatan kayu;
- ukuran maksimum;
- bentuk akar;
- dan umur hidup
yang berbeda.
Jenis yang tumbuh cepat belum tentu menyimpan karbon paling besar dalam jangka panjang.
2. Umur Tegakan
Umur memengaruhi ukuran pohon, produktivitas, dan akumulasi karbon.
Namun, umur bukan satu-satunya faktor. Tegakan tua yang tertekan dapat memiliki stok lebih rendah daripada tegakan sehat pada habitat produktif.
3. Kondisi Hidrologi
Pasang surut membawa air, nutrisi, sedimen, dan bahan organik.
Perubahan hidrologi dapat menghambat pertumbuhan serta mengurangi pembentukan karbon tanah.
4. Salinitas
Salinitas tinggi dapat meningkatkan tekanan fisiologis dan memperlambat pertumbuhan.
Respons setiap jenis terhadap salinitas juga berbeda.
5. Sedimentasi
Sedimentasi dapat mengubur bahan organik dan meningkatkan simpanan tanah.
Namun, sedimentasi terlalu cepat dapat menimbun akar, sedangkan erosi dapat membuka serta menghilangkan lapisan karbon.
6. Nutrisi
Nitrogen, fosfor, dan unsur lain memengaruhi produktivitas.
Namun, masukan nutrisi berlebihan dari limbah dapat mengubah proses ekologis dan emisi gas rumah kaca.
7. Gangguan Manusia
Penebangan, sampah, pencemaran, pembangunan, tambak, dan lalu lintas perahu dapat menurunkan kemampuan mangrove tumbuh dan menyimpan karbon.
8. Perubahan Iklim
Kenaikan muka laut dapat memberikan ruang baru bagi mangrove untuk bergeser ke darat apabila lahan tersedia.
Namun, kenaikan muka laut juga dapat menenggelamkan kawasan ketika penambahan elevasi sedimen tidak mampu mengimbanginya.
Mengapa Tidak Boleh Mengklaim Karbon dari Jumlah Bibit?
Jumlah bibit hanya menunjukkan keluaran kegiatan.
Sebagai contoh, suatu program menanam 10.000 bibit.
Angka tersebut belum menjawab:
- berapa bibit yang hidup;
- berapa yang tumbuh menjadi pancang;
- berapa yang menjadi pohon;
- berapa pertambahan diameternya;
- berapa biomassa yang terbentuk;
- berapa karbon tanah yang bertambah;
- dan berapa karbon yang mungkin hilang akibat gangguan.
Bibit yang ditanam terlalu rapat juga akan mengalami kompetisi. Sebagian individu dapat mati melalui proses penjarangan alami.
Karena itu, jumlah bibit awal tidak boleh dikalikan begitu saja dengan angka serapan tetap per pohon untuk menghasilkan klaim karbon jangka panjang.
Perhitungan karbon yang bertanggung jawab memerlukan:
- batas proyek;
- data luas;
- inventarisasi vegetasi;
- persamaan alometrik;
- sampel tanah;
- periode pemantauan;
- baseline;
- faktor emisi;
- dan analisis ketidakpastian.
Bagaimana Mengukur Serapan Karbon Mangrove?
Pengukuran dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan.
Pengukuran Biomassa Pohon
Diameter batang, tinggi, jenis, dan kerapatan kayu digunakan dalam persamaan alometrik untuk mengestimasi biomassa.
Biomassa kemudian dikonversi menjadi kandungan karbon.
Pengukuran Biomassa Akar
Akar dapat dihitung melalui persamaan alometrik atau pengambilan sampel tertentu.
Pengambilan Sampel Tanah
Sampel tanah diambil berdasarkan kedalaman.
Analisis umumnya mencakup:
- kandungan karbon organik;
- berat isi tanah;
- kedalaman;
- dan karakter sedimen.
Pengukuran Perubahan dari Waktu ke Waktu
Stok karbon pada satu periode dibandingkan dengan periode berikutnya.
Selisih tersebut digunakan untuk memperkirakan penambahan atau kehilangan karbon.
Pengukuran Pertukaran Gas
Pendekatan tertentu mengukur aliran karbon dioksida, metana, atau gas lain antara ekosistem dan atmosfer.
Setiap pendekatan memiliki keterbatasan. Karena itu, hasil harus dijelaskan dengan metode serta tingkat ketidakpastiannya.
IPCC menyediakan pedoman khusus untuk inventarisasi gas rumah kaca pada lahan basah pesisir, termasuk mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun. Pedoman tersebut menunjukkan bahwa penghitungan membutuhkan data perubahan penggunaan lahan, biomassa, tanah, serta faktor emisi yang sesuai.
Berapa Lama Proyek Karbon Mangrove Harus Dipantau?
Proyek karbon mangrove membutuhkan pemantauan jangka panjang.
Mangrove muda menghadapi risiko kematian akibat:
- gelombang;
- erosi;
- salinitas;
- sampah;
- hama;
- perubahan hidrologi;
- dan gangguan manusia.
Pemantauan satu atau dua tahun belum cukup untuk membuktikan manfaat karbon jangka panjang.
Proyek perlu menilai:
- survival rate;
- pertumbuhan diameter;
- tinggi;
- tutupan tajuk;
- biomassa;
- regenerasi alami;
- perubahan tanah;
- gangguan;
- dan risiko nonpermanensi.
Semakin panjang periode kredit dan klaim karbon, semakin penting pula kepastian mengenai perlindungan lahan, kelembagaan, pembiayaan, dan pengelolaan risiko.
Apakah Mangrove Menjadi Jenuh Karbon?
Istilah jenuh perlu digunakan secara hati-hati.
Biomassa pohon tidak dapat meningkat tanpa batas. Ketika tegakan mencapai kondisi matang, pertumbuhan bersih biomassa dapat melambat.
Namun, ekosistem mangrove masih dapat:
- mengganti pohon yang mati;
- menghasilkan regenerasi;
- membentuk akar baru;
- dan mengubur karbon dalam sedimen.
Tanah juga memiliki batas yang dipengaruhi ruang akomodasi sedimen, muka laut, hidrologi, dan kondisi geomorfologi.
Dengan demikian, mangrove bukan mesin yang menyerap karbon dalam jumlah sama selamanya.
Laju serapan dapat berubah. Namun, kemampuan mempertahankan stok karbon lama tetap menjadi manfaat iklim yang sangat penting.
Konservasi atau Penanaman: Mana yang Lebih Baik untuk Karbon?
Konservasi mangrove yang masih sehat perlu menjadi prioritas.
Alasannya:
- stok karbon sudah terbentuk;
- karbon tanah telah terakumulasi;
- pohon dewasa masih aktif;
- regenerasi alami tersedia;
- dan risiko pelepasan karbon dapat langsung dicegah.
Restorasi tetap penting untuk kawasan yang rusak. Namun, pemulihan stok karbon memerlukan waktu puluhan tahun.
Kajian mengenai pengelolaan mangrove juga menunjukkan bahwa perlindungan atau pengelolaan yang mempertahankan tegakan dapat menjaga sebagian besar stok karbon ekosistem, sedangkan pemulihan biomassa setelah gangguan berlangsung bertahap selama belasan hingga puluhan tahun.
Karena itu, strategi karbon mangrove seharusnya mengikuti urutan:
lindungi mangrove yang masih ada, hentikan kerusakan, pulihkan hidrologi, fasilitasi regenerasi alami, kemudian lakukan penanaman apabila diperlukan.
Kesalahan Umum Memahami Serapan Karbon Mangrove
Menganggap Mangrove Hanya Menyerap Karbon Saat Muda
Mangrove dewasa tetap melakukan fotosintesis, membentuk akar, dan menghasilkan serasah.
Menggunakan Satu Angka untuk Semua Pohon
Serapan berbeda menurut jenis, umur, ukuran, lokasi, dan kondisi lingkungan.
Menyamakan Serapan dengan Stok
Serapan adalah pertambahan dalam suatu periode, sedangkan stok adalah jumlah karbon yang sudah tersimpan.
Menghitung Karbon Hanya dari Batang
Sebagian besar karbon mangrove sering berada pada akar dan tanah.
Menganggap Bibit yang Ditanam Pasti Menjadi Pohon
Sebagian bibit akan mati akibat gangguan atau ketidaksesuaian habitat.
Mengabaikan Emisi Metana dan Gas Lain
Neraca iklim ekosistem tidak selalu sama dengan jumlah karbon yang tersimpan. Kajian lengkap dapat mempertimbangkan berbagai gas rumah kaca.
Mengklaim Karbon Tanpa Baseline
Tanpa skenario dasar, tambahan karbon yang benar-benar disebabkan oleh proyek tidak dapat dibedakan dari pertumbuhan alami.
Mengabaikan Risiko Nonpermanensi
Karbon dapat hilang akibat abrasi, konversi lahan, kebakaran, perubahan hidrologi, penebangan, atau bencana.
Jadi, Berapa Lama Mangrove Menyerap Karbon?
Mangrove mulai menyerap karbon sejak fase awal pertumbuhan dan dapat terus menyerap karbon sepanjang hidupnya.
Pohon muda menyimpan karbon pada pertumbuhan daun, batang, dan akar. Pohon dewasa tetap melakukan fotosintesis, memperbesar biomassa, menghasilkan serasah, dan mendukung regenerasi.
Sementara itu, ekosistem mangrove dapat terus menambah karbon tanah melalui pengendapan sedimen dan penguburan bahan organik.
Dengan demikian, mangrove dapat menyerap karbon selama puluhan tahun, sedangkan karbon yang tersimpan dalam tanahnya dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun apabila ekosistem tetap utuh dan hidrologinya tidak terganggu.
Namun, tidak ada angka serapan tahunan yang berlaku untuk semua pohon dan lokasi.
Besarnya serapan ditentukan oleh:
- jenis;
- umur;
- ukuran;
- habitat;
- hidrologi;
- salinitas;
- sedimentasi;
- produktivitas;
- dan gangguan.
Karena itu, manfaat karbon mangrove tidak boleh dihitung hanya dengan mengalikan jumlah bibit dengan satu angka serapan per pohon.
Pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “berapa lama mangrove menyerap karbon?”, melainkan:
berapa banyak karbon yang benar-benar bertambah, di bagian ekosistem mana karbon tersebut disimpan, berapa lama karbon dapat dipertahankan, dan apa risiko yang dapat melepaskannya kembali?
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah mangrove langsung menyerap karbon setelah ditanam?
Mangrove mulai menyerap karbon setelah jaringan fotosintetiknya aktif. Namun, jumlah karbon pada bibit muda masih sangat kecil.
Apakah mangrove hanya menyerap karbon selama lima tahun?
Tidak. Mangrove dapat terus menyerap karbon selama hidup dan ekosistemnya masih berfungsi.
Kapan mangrove paling banyak menyerap karbon?
Tidak ada umur universal. Laju serapan berubah menurut jenis, ukuran, fase pertumbuhan, dan kondisi lingkungan.
Apakah mangrove dewasa masih menyerap karbon?
Ya. Mangrove dewasa tetap berfotosintesis, memperbesar batang dan akar, serta menghasilkan bahan organik yang dapat masuk ke tanah.
Berapa lama karbon tersimpan dalam tanah mangrove?
Karbon tanah dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun apabila tanah tetap jenuh air, stabil, dan tidak terganggu.
Apakah satu pohon mangrove mempunyai angka serapan karbon tetap?
Tidak. Serapan setiap pohon berubah menurut umur, jenis, ukuran, kesehatan, dan lokasi.
Apakah bibit yang mati tetap menyimpan karbon?
Sebagian karbon pada bibit mati dapat masuk ke tanah atau kayu mati, tetapi sebagian lainnya akan terurai dan kembali ke lingkungan.
Apakah penanaman mangrove otomatis menghasilkan kredit karbon?
Mana yang lebih penting untuk karbon, pohon atau tanah?
Keduanya penting. Namun, dalam banyak ekosistem mangrove, tanah menyimpan bagian terbesar dari total karbon.
Apakah menanam lebih banyak bibit berarti menyerap lebih banyak karbon?
Belum tentu. Bibit harus hidup, tumbuh, dan berada pada habitat yang sesuai. Penanaman terlalu rapat juga dapat meningkatkan persaingan dan kematian. (ADM).
Daftar Pustaka
Alongi, D. M. (2014). Carbon cycling and storage in mangrove forests. Annual Review of Marine Science, 6, 195–219.
Carnell, P. E., Palacios, M. M., Waryszak, P., Trevathan-Tackett, S. M., Masqué, P., & Macreadie, P. I. (2022). Blue carbon drawdown by restored mangrove forests improves with age. Journal of Environmental Management, 306, 114301.
Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., & Kanninen, M. (2011). Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience, 4, 293–297.
Elwin, A., Bukoski, J. J., Jintana, V., Robinson, E. J. Z., & Clark, J. M. (2019). Preservation and recovery of mangrove ecosystem carbon stocks in abandoned shrimp ponds. Scientific Reports, 9, 18275.
Ha, T. H., Marchand, C., Aimé, J., Dang, H. N., Phan, N. H., Nguyen, X. T., & Nguyen, T. K. C. (2018). Belowground carbon sequestration in a mature planted mangrove ecosystem. Forest Ecology and Management, 407, 191–200.
Intergovernmental Panel on Climate Change. (2014). 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands. IPCC.
Kauffman, J. B., & Donato, D. C. (2012). Protocols for the measurement, monitoring and reporting of structure, biomass and carbon stocks in mangrove forests. CIFOR Working Paper No. 86. Center for International Forestry Research.
Kristensen, E., Bouillon, S., Dittmar, T., & Marchand, C. (2008). Organic carbon dynamics in mangrove ecosystems: A review. Aquatic Botany, 89(2), 201–219.
Murdiyarso, D., Purbopuspito, J., Kauffman, J. B., Warren, M. W., Sasmito, S. D., Donato, D. C., Manuri, S., Krisnawati, H., Taberima, S., & Kurnianto, S. (2015). The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation. Nature Climate Change, 5, 1089–1092.
Murdiyarso, D., Sukara, E., Supriatna, J., Koropitan, A., Mumbunan, S., Juliandi, B., & Jompa, J. (2018). Creating blue carbon opportunities in the maritime archipelago Indonesia. CIFOR Infobrief, 211.
Rani, V., et al. (2023). Carbon stocks and sequestration rate in mangroves and its major controls in a tropical estuarine system. Journal of Environmental Management, 342, 118177.
Richards, D. R., Thompson, B. S., & Wijedasa, L. (2020). Quantifying net loss of global mangrove carbon stocks from 20 years of land cover change. Nature Communications, 11, 4260.
Sasmito, S. D., Taillardat, P., Clendenning, J. N., Cameron, C., Friess, D. A., Murdiyarso, D., & Hutley, L. B. (2019). Effect of land-use and land-cover change on mangrove blue carbon: A systematic review. Global Change Biology, 25(12), 4291–4302.
Soeprobowati, T. R., et al. (2024). The carbon stock potential of the restored mangrove ecosystem in Pasar Banggi, Rembang, Indonesia. Regional Studies in Marine Science, 69, 103310.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar