25.8.26

Burung Mangrove: Pengertian, Metode Pengamatan, Rumus, dan Analisis Komunitas

Semarang – KeSEMaTBLOG. Burung mangrove merupakan kelompok burung yang memanfaatkan hutan mangrove dan habitat pesisir yang terhubung dengannya untuk mencari makan, beristirahat, berlindung, berkembang biak, atau sebagai bagian dari jalur pergerakan dan migrasi. Kelompok ini dapat mencakup burung air, burung pantai, raja-udang, pemangsa, pemakan serangga, pemakan buah, hingga berbagai jenis burung lain yang menggunakan kanopi, cabang, akar, mudflat, tambak, sungai, dan kanal pasang surut sebagai satu mosaik habitat.

Istilah burung mangrove bukan kelompok taksonomi. Tidak semua burung yang ditemukan di hutan mangrove merupakan spesies yang sepenuhnya bergantung pada mangrove. Banyak jenis menggunakan mangrove hanya untuk salah satu aktivitas, kemudian berpindah ke mudflat, sungai, tambak, rawa, laut, atau habitat daratan di sekitarnya. Mobilitas tersebut membuat burung menjadi salah satu penghubung biologis penting antara mangrove dengan ekosistem pesisir lainnya.

Karena itu, penelitian burung mangrove sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa jenis burung yang ditemukan?”. Analisis yang lebih kuat juga menanyakan jenis apa yang hadir, berapa jumlahnya, bagaimana distribusinya, habitat apa yang digunakan, kapan burung terdeteksi, bagaimana kelompok pakannya, serta apakah perubahan komunitas berkaitan dengan struktur mangrove dan kondisi habitat pesisir.

Apa Itu Burung Mangrove?

Secara operasional, burung mangrove dapat didefinisikan sebagai burung yang terdeteksi menggunakan kawasan mangrove atau habitat yang secara ekologis berhubungan langsung dengannya selama periode penelitian.

Penggunaan kawasan tersebut dapat berupa:

mencari makan;

beristirahat;

bersarang;

berlindung;

bertengger;

atau berpindah melewati kawasan.

Definisi ini lebih aman daripada menyatakan seluruh burung yang terlihat sebagai:

“spesies mangrove sejati.”

Review mengenai konektivitas burung di sistem mangrove menunjukkan bahwa hanya sedikit burung yang seluruh kehidupannya bergantung secara eksklusif pada mangrove. Banyak kelompok justru memperoleh sumber daya dari beberapa habitat dan menggunakan mangrove sebagai salah satu bagian dari mosaik pesisir.

Mengapa Burung Penting dalam Ekosistem Mangrove?

Burung mempunyai fungsi ekologis yang beragam.

Burung pemakan ikan dapat memindahkan nutrien dari lingkungan akuatik menuju lokasi bertengger atau bersarang melalui ekskresi.

Burung pemakan buah dapat membantu penyebaran biji tumbuhan tertentu.

Burung pemakan serangga dapat berperan dalam interaksi predator-mangsa.

Burung pemakan nektar dapat membantu proses penyerbukan pada tumbuhan tertentu.

Burung migran bahkan dapat menghubungkan kawasan pesisir pada skala regional, kontinental, hingga antarbenua.

Kajian mengenai konektivitas mangrove menjelaskan bahwa pergerakan burung dapat berkontribusi terhadap nutrient cycling, kontrol dari tingkat trofik atas, penyebaran organisme atau material biologis, serta konektivitas antarhabitat.

Dengan demikian:

burung bukan hanya indikator biodiversitas.

Burung merupakan bagian aktif dari fungsi ekosistem.

Mangrove sebagai Habitat Burung

Mangrove menyediakan berbagai mikrohabitat.

Kanopi Mangrove

Kanopi dapat digunakan untuk:

beristirahat;

bertengger;

mencari serangga;

berlindung;

dan pada beberapa spesies:

bersarang.

Burung kecil penghuni vegetasi mungkin lebih sering ditemukan di dalam atau sekitar tajuk.

Kanal Pasang Surut

Kanal menyediakan ikan, udang, dan organisme perairan lainnya.

Kelompok seperti raja-udang dapat menggunakan ranting atau akar sebagai tempat mengamati mangsa sebelum menyambar ke air.

Mudflat

Ketika air surut, permukaan lumpur dapat terbuka dan menyediakan:

  • cacing;
  • moluska;
  • krustasea kecil;
  • organisme bentik lainnya.

Kawasan seperti ini penting bagi berbagai burung pantai dan burung air.

Tambak dan Rawa di Sekitar Mangrove

Tambak, rawa, dan genangan tidak selalu merupakan bagian hutan mangrove secara botanis, tetapi dapat menjadi bagian penting dari lanskap yang digunakan burung.

Inilah alasan pemetaan komunitas burung mangrove sebaiknya memperhatikan:

landscape context.

Studi terbaru di estuari Sungai Jali, Jawa Tengah, menemukan bahwa komposisi burung berbeda antarhabitat dan lebih berkaitan dengan struktur serta ketersediaan sumber daya habitat daripada sekadar kedekatan spasial.

Contoh Burung yang Memanfaatkan Mangrove

Jenis yang ditemukan sangat bergantung pada lokasi.

Di Indonesia, kelompok yang sering tercatat pada kawasan mangrove atau pesisir yang terhubung dengannya antara lain kuntul, cangak, raja-udang, trinil, cerek, pecuk, elang, serta berbagai burung kecil penghuni vegetasi.

Contohnya dapat mencakup:

Egretta garzetta;

Butorides striata;

Alcedo coerulescens;

serta jenis lain sesuai wilayah.

Penelitian Pantai Mekar, Muara Gembong menggunakan metode daftar jenis MacKinnon dan point count serta mencatat 32 jenis burung. Penelitian estuari Sungai Jali yang terbit pada 2026 mencatat 41 spesies dari 19 famili menggunakan 12 titik pengamatan dengan tiga pengulangan. Angka tersebut adalah hasil lokasi dan desain penelitian tertentu, bukan jumlah standar jenis burung yang seharusnya ditemukan pada setiap mangrove.

Burung Mangrove Berdasarkan Kelompok Pakan

Analisis hanya berdasarkan nama spesies dapat dilengkapi dengan:

feeding guild

atau kelompok fungsional berdasarkan makanan.

Kategori dapat mencakup:

insectivore — pemakan serangga;

piscivore — pemakan ikan;

frugivore — pemakan buah;

nectarivore — pemakan nektar;

granivore — pemakan biji;

carnivore — pemakan hewan;

omnivore — pemakan beragam sumber makanan.

Untuk burung pantai dapat pula digunakan kategori yang sesuai dengan organisme dasar yang dimakannya.

Namun, klasifikasi feeding guild harus menggunakan referensi ekologi spesies.

Jangan menentukan:

“paruh panjang = pasti pemakan ikan.”

Burung Residen dan Burung Migran

Komunitas burung pesisir dapat terdiri atas:

burung residen

dan:

burung migran.

Burung residen dapat ditemukan sepanjang tahun di wilayah tertentu.

Burung migran dapat muncul hanya pada musim tertentu.

Karena itu:

jumlah spesies pada Agustus belum tentu sama dengan Januari.

Studi burung mangrove yang hanya dilakukan satu kali tidak boleh dianggap mewakili komunitas sepanjang tahun.

Mobilitas burung migran bahkan dapat menghubungkan mangrove dengan habitat yang berjarak sangat jauh sehingga konservasi satu lokasi perlu dilihat dalam konteks jaringan habitat yang lebih luas.

Metode Pengamatan Burung Mangrove

Beberapa metode dapat digunakan, tetapi dua metode yang sangat umum adalah:

point count

dan:

line transect.

Metode dipilih berdasarkan:

tujuan;

luas kawasan;

visibilitas;

struktur vegetasi;

kelompok burung target.

Metode Point Count

Point count atau titik hitung dilakukan dengan menempatkan pengamat pada titik yang telah ditentukan.

Pengamat berada pada titik tersebut selama periode tertentu dan mencatat semua burung yang terdeteksi sesuai protokol.

Deteksi dapat berupa:

visual

atau:

auditori.

USGS menjelaskan bahwa fixed-radius point count dilakukan dengan memilih titik pengamatan, menggunakan durasi yang telah ditetapkan, serta mencatat burung yang berada dalam radius tertentu. Alternatifnya, jarak setiap deteksi dapat dicatat untuk analisis distance sampling.

Berapa Lama Point Count Dilakukan?

Tidak ada durasi universal.

Penelitian dapat menggunakan:

5 menit;

10 menit;

15 menit;

atau periode lain.

Yang terpenting:

semua titik menggunakan durasi yang sama

jika hendak dibandingkan.

Metode removal sampling bahkan dapat memecah periode pengamatan menjadi beberapa interval waktu berdasarkan kapan burung pertama kali terdeteksi untuk membantu mengestimasi probabilitas deteksi.

Jangan menulis:

“standar point count adalah 10 menit.”

Lebih tepat:

“durasi ditentukan dan distandardisasi sesuai protokol penelitian.”

Radius Point Count

Radius dapat dibuat:

25 m;

50 m;

100 m;

atau nilai lainnya.

Namun, angka tersebut bukan standar universal.

Mangrove rapat dapat mempunyai jarak deteksi visual jauh lebih pendek daripada habitat terbuka.

Untuk fixed-radius point count, pengamat harus mampu menentukan apakah individu berada:

di dalam

atau:

di luar

radius.

Jika jarak burung juga digunakan untuk distance sampling, kesalahan estimasi jarak dapat menjadi sumber bias penting. Penelitian USGS pada survei burung wetland menemukan estimasi jarak terhadap burung yang bersuara dapat memiliki kesalahan besar apabila pengamat tidak dikalibrasi.

Gunakan Rangefinder Jika Dibutuhkan

Laser rangefinder dapat membantu:

  • kalibrasi jarak;
  • menentukan radius;
  • mengurangi kesalahan estimasi visual.

Sebelum survei, enumerator dapat berlatih memperkirakan:

25 m;

50 m;

75 m;

kemudian memeriksa hasilnya dengan rangefinder.

Latihan tersebut sangat berguna jika penelitian menggunakan:

distance sampling.

Jarak Antar-Point Count

Titik perlu ditempatkan sedemikian rupa agar tumpang tindih dan kemungkinan menghitung individu yang sama dapat diminimalkan.

Tidak ada jarak antarpoint yang selalu benar untuk seluruh studi.

Jarak dipengaruhi:

  • radius;
  • kemampuan deteksi;
  • tipe habitat;
  • mobilitas spesies.

Jika dua titik terlalu dekat:

burung yang sama dapat terdengar dari keduanya.

Karena itu, desain spasial harus ditentukan sebelum survei.

Metode Line Transect

Dalam line transect, observer bergerak sepanjang jalur yang telah ditentukan sambil mencatat burung yang terdeteksi.

Catat:

  • spesies;
  • jumlah;
  • posisi;
  • jarak jika diperlukan;
  • waktu;
  • tipe deteksi.

Jika digunakan untuk distance sampling, jarak tegak lurus antara jalur dan lokasi burung perlu diperoleh sesuai metode.

Keuntungan line transect:

cakupan area lebih luas.

Keterbatasannya pada mangrove:

  • medan berlumpur;
  • akar;
  • kanal;
  • kecepatan berjalan tidak konsisten.

Point Count atau Line Transect?

Gunakan point count ketika:

  • akses terbatas pada titik tertentu;
  • identifikasi suara penting;
  • ingin pengamatan dari posisi tetap.

Gunakan line transect ketika:

  • tersedia jalur yang representatif;
  • ingin mencakup gradien habitat;
  • pergerakan observer dapat distandardisasi.

Tidak ada metode yang secara mutlak:

lebih ilmiah.

Metode terbaik adalah yang sesuai dengan pertanyaan dan habitat.

Metode Daftar Jenis MacKinnon

Metode daftar jenis MacKinnon dapat digunakan untuk membantu inventarisasi kekayaan jenis.

Penelitian Pantai Mekar mengombinasikan:

daftar MacKinnon

dan:

point count.

Hasilnya mencatat 32 jenis burung pada kawasan tersebut.

Namun, metode daftar jenis terutama berguna untuk inventarisasi dan kurva penemuan jenis.

Ia tidak otomatis memberikan:

kepadatan individu.

Jika tujuan penelitian adalah:

abundance

atau:

density,

gunakan desain yang sesuai untuk parameter tersebut.

Pengamatan Visual dan Suara

Burung dapat terdeteksi melalui:

terlihat

atau:

terdengar.

Pada mangrove rapat, identifikasi suara dapat menjadi sangat penting karena tajuk dan ranting menghalangi pandangan.

Namun:

mendengar suara ≠ mengetahui lokasi dengan presisi sempurna.

Kesalahan jarak pada deteksi auditori merupakan salah satu sumber bias point count.

Karena itu, tally sheet sebaiknya memiliki kolom:

Visual

Audio

atau:

Visual + Audio.

Jangan Menghitung Suara yang Sama Berkali-kali

Seekor burung dapat:

berkicau;

diam;

berkicau kembali.

Jika setiap suara dianggap satu individu:

jumlah dapat meningkat secara palsu.

Observer harus memperhatikan:

  • arah;
  • jarak;
  • pola suara;
  • pergerakan.

Catat:

individu

bukan:

jumlah vokalisasi.

Burung yang Terbang Melintas

Burung yang hanya terbang jauh di atas kawasan perlu dibedakan dari burung yang benar-benar:

menggunakan habitat.

Sediakan kategori:

fly-over.

Misalnya:

burung terbang langsung melewati titik tanpa:

  • bertengger;
  • mencari makan;
  • berinteraksi dengan kawasan.

Data tersebut dapat tetap dicatat untuk daftar jenis, tetapi analisis penggunaan habitat dapat memisahkannya.

Waktu Terbaik Mengamati Burung Mangrove

Untuk banyak burung daratan, periode setelah matahari terbit mempunyai aktivitas vokal yang tinggi.

Namun, tidak ada satu waktu ideal untuk semua kelompok burung mangrove.

Burung pantai dan burung air dapat lebih dipengaruhi:

pasang surut

daripada semata-mata jam.

Karena itu, jika fokus penelitian mencakup burung pantai:

catat:

  • fase pasang;
  • tinggi air;
  • waktu.

Studi Sungai Jali tahun 2026 melakukan point count pada periode surut sehingga habitat terbuka seperti mudflat dapat digunakan burung dan kondisi antarpengamatan dibuat lebih sebanding.

Pasang dan Surut Mengubah Lokasi Burung

Saat surut:

mudflat terbuka.

Burung pantai dapat menyebar mencari makanan.

Saat pasang:

area mencari makan tenggelam.

Burung dapat berkumpul di:

high-tide roost.

Jika satu stasiun disurvei saat surut dan stasiun lain saat pasang:

perbedaannya mungkin berasal dari:

fase pasang

bukan habitat.

Cuaca Pengamatan

Hujan lebat dan angin kuat dapat:

  • menurunkan aktivitas burung;
  • mengurangi kemampuan mendengar;
  • menggerakkan kanopi;
  • mengurangi visibilitas.

Untuk monitoring:

hindari perbedaan kondisi ekstrem jika memungkinkan.

Catat:

  • cuaca;
  • angin;
  • hujan;
  • visibilitas.

Alat Pengamatan Burung Mangrove

Peralatan utama yang dapat digunakan adalah binokular, teropong pengamatan atau spotting scope untuk burung yang jauh, kamera dengan lensa telefoto, GPS/GNSS, rangefinder, perekam suara, jam, buku atau aplikasi identifikasi, serta tally sheet.

Pemilihan alat disesuaikan dengan kelompok burung.

Untuk burung pantai pada mudflat luas:

spotting scope

dapat jauh lebih berguna dibandingkan hanya binokular.

Identifikasi Burung Mangrove

Identifikasi dapat menggunakan:

bentuk tubuh

ukuran

warna

pola bulu

bentuk paruh

kaki

cara terbang

perilaku

dan:

suara.

Jangan mengandalkan warna saja.

Pencahayaan dapat membuat warna tampak berbeda.

Juvenil juga dapat mempunyai plumage berbeda dari dewasa.

Jika Tidak Yakin, Jangan Memaksakan Spesies

Misalnya observer hanya yakin:

genus tertentu.

Lebih baik mencatat:

Ardeidae sp.

atau identifikasi tingkat takson yang benar-benar dapat dipastikan daripada memilih spesies secara spekulatif.

Data yang tidak pasti dapat disertai:

  • foto;
  • audio;
  • catatan lapangan;

untuk diverifikasi kemudian.

Nama Ilmiah Harus Diperiksa

Nama ilmiah dapat mengalami revisi taksonomi.

Karena itu, sebelum publikasi:

verifikasi berdasarkan sumber taksonomi terkini.

Nama genus dan spesies ditulis miring.

Contoh:

Kuntul kecil salah secara format ilmiah karena nama lokal tidak perlu dimiringkan.

Yang benar untuk nama ilmiah:

Egretta garzetta.

Cara Menghindari Double Counting

Burung sangat mobile.

Seekor kuntul dapat berpindah:

ST01 → ST02.

Jika dihitung di dua titik:

hasil dapat menjadi dua individu.

Tidak seluruh double counting dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi dengan:

  • jarak antartitik;
  • waktu sampling;
  • arah terbang;
  • koordinasi observer;
  • catatan pergerakan.

Untuk kelompok besar:

catat ukuran kawanan dan arah pergerakannya.

Detection Probability

Ini merupakan konsep penting dalam penelitian burung.

Jika suatu spesies tidak terdeteksi:

belum tentu spesies tersebut tidak ada.

Mungkin:

  • diam;
  • tersembunyi;
  • terlalu jauh;
  • observer tidak mengenali suara;
  • kondisi cuaca buruk.

Dengan demikian:

tidak terdeteksi ≠ tidak hadir.

USGS menekankan bahwa point count dapat memberikan estimasi bias apabila perbedaan probabilitas deteksi antarspesies, habitat, observer, atau waktu tidak diperhitungkan.

Apa yang Memengaruhi Probabilitas Deteksi?

Beberapa faktor penting adalah:

spesies

observer

jarak

struktur habitat

waktu

musim

cuaca

dan:

perilaku vokal.

Burung besar putih di mudflat terbuka sangat mudah terlihat.

Burung kecil diam di balik tajuk:

jauh lebih sulit.

Karena itu, jumlah mentah keduanya tidak mempunyai probabilitas deteksi yang sama.

Double Observer

Salah satu cara mengestimasi probabilitas deteksi adalah:

double-observer method.

Observer pertama mencatat burung.

Observer kedua mengetahui deteksi observer pertama sekaligus mencatat burung yang dilewatkan.

Metode tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan perbedaan kemampuan deteksi observer.

Namun, ini bukan kewajiban untuk setiap inventarisasi sederhana.

Jika tujuan penelitian hanya:

daftar jenis awal

desain dapat lebih sederhana.

Kepadatan Burung Mangrove

Jika penelitian menggunakan fixed-radius point count dan seluruh asumsi terpenuhi, luas nominal titik dapat dihitung:

A = πr²

Misalnya:

r = 50 m.

Maka:

A = π × 50²

7.854 m²

atau:

0,785 ha.

Tetapi menghitung:

jumlah burung / 0,785 ha

dan menyebutnya sebagai kepadatan populasi absolut membutuhkan kehati-hatian karena tidak semua individu di area tersebut pasti terdeteksi.

Untuk estimasi kepadatan yang lebih kuat:

distance sampling

atau model yang memperhitungkan:

detection probability

lebih sesuai.

Kelimpahan Relatif Burung

Untuk analisis sederhana dapat digunakan:

KRi = ni / N × 100%

Keterangan:

KRi = kelimpahan relatif spesies ke-i
ni = jumlah individu spesies ke-i
N = total seluruh individu yang tercatat.

Contoh:

kuntul kecil = 30 individu

total burung = 100 individu.

Maka:

30 / 100 × 100%

= 30%.

Artinya:

30% dari seluruh individu yang tercatat dalam dataset merupakan kuntul kecil.

Bukan berarti:

30% seluruh populasi burung nyata di kawasan.

Frekuensi Kehadiran

Rumus sederhana:

Fi = Pi / P × 100%

Keterangan:

Fi = frekuensi kehadiran
Pi = jumlah titik tempat spesies i ditemukan
P = total titik pengamatan.

Misalnya:

Egretta garzetta ditemukan pada:

8 dari 10 titik.

Maka:

8/10 × 100%

= 80%.

Frekuensi menunjukkan:

seberapa luas spesies terdeteksi antarunit sampling.

Bukan jumlah individunya.

Encounter Rate

Jika area pengamatan sulit didefinisikan tetapi upaya dapat distandardisasi, gunakan:

encounter rate.

Rumus:

ER = n / E

Keterangan:

n = jumlah individu atau deteksi
E = upaya pengamatan.

Contoh:

120 individu

selama:

6 jam.

Maka:

20 individu/jam pengamatan.

Tetapi jika menggunakannya, sebutkan apakah:

n = individu;

atau:

n = jumlah perjumpaan.

Keduanya berbeda.

Kekayaan Jenis Burung

Kekayaan jenis:

S = jumlah spesies yang ditemukan.

Contoh:

S = 32.

Namun, kekayaan sangat bergantung pada:

sampling effort.

Survei 100 jam umumnya mempunyai peluang menemukan lebih banyak spesies dibandingkan:

survei 2 jam.

Karena itu, perbandingan kekayaan antarwilayah harus memperhatikan upaya.

Species Accumulation Curve

Kurva akumulasi spesies menunjukkan:

jumlah spesies kumulatif

seiring bertambahnya:

unit sampling.

Jika kurva terus naik tajam:

kemungkinan banyak spesies belum terdeteksi.

Jika mulai mendatar:

inventarisasi mendekati jumlah spesies yang dapat dideteksi dengan metode dan upaya tersebut.

Ini lebih informatif daripada sekadar menyatakan:

“ditemukan 40 spesies.”

Indeks Shannon-Wiener Burung Mangrove

Rumus:

H′ = −Σ(pi × ln pi)

dengan:

pi = ni/N.

Indeks ini menggambarkan struktur keanekaragaman berdasarkan:

kekayaan

dan:

proporsi kelimpahan.

Contoh penelitian Pantai Mekar memperoleh H′ sebesar 2,84, sedangkan penelitian Sungai Jali tahun 2026 melaporkan H′ sekitar 3,212. Nilai tersebut menggambarkan komunitas masing-masing penelitian dan tidak boleh dipakai sebagai target universal mangrove Indonesia.

Shannon-Wiener Bukan Nilai Kesehatan Mangrove

Jangan menulis:

“H′ >3 berarti mangrove sangat sehat.”

H′ hanya menggambarkan struktur komunitas.

Nilainya dapat dipengaruhi:

  • luas sampling;
  • musim;
  • migrasi;
  • metode;
  • habitat;
  • probabilitas deteksi.

Kawasan alami yang sangat spesifik dapat mempunyai jumlah spesies relatif sedikit tetapi tetap mempunyai nilai konservasi tinggi.

Indeks Kemerataan Pielou

Rumus:

J′ = H′ / ln S

Keterangan:

J′ = kemerataan
H′ = Shannon-Wiener
S = jumlah spesies.

Nilai mendekati:

1

menunjukkan distribusi individu antarspesies semakin merata.

Namun, kemerataan tidak menunjukkan:

spesies mana yang ada.

Dua komunitas dapat mempunyai J′ yang sama tetapi komposisinya berbeda total.

Dominansi Burung

Salah satu bentuk indeks Simpson:

D = Σpi²

Semakin besar D:

semakin besar konsentrasi individu pada satu atau beberapa spesies.

Namun, terdapat beberapa bentuk Simpson:

D

1 − D

dan:

1/D.

Karena itu, selalu tuliskan rumus yang digunakan.

Jangan Hanya Menggunakan Indeks

Misalnya:

H′ = 2,8.

J′ = 0,8.

D = 0,1.

Angka tersebut belum menjawab:

apakah terdapat burung migran?

apakah terdapat spesies sensitif?

apakah komunitas didominasi burung generalis?

Karena itu, analisis terbaik menggabungkan:

komposisi jenis + kelimpahan + guild + habitat + status konservasi terkini.

Status Konservasi Burung

Setelah identifikasi, spesies dapat diperiksa terhadap:

IUCN Red List

serta:

peraturan perlindungan satwa Indonesia yang berlaku pada saat artikel atau laporan disusun.

Status konservasi dapat berubah.

Karena itu:

jangan menyalin status dari penelitian sepuluh tahun lalu tanpa pemeriksaan ulang.

Demikian pula status:

residen;

migran;

endemik

perlu menggunakan referensi yang relevan.

Burung Air dan Burung Pantai Tidak Sama

Waterbirds

merupakan istilah luas untuk burung yang secara ekologis berkaitan erat dengan lingkungan perairan.

Shorebirds

lebih spesifik dan mencakup berbagai burung pantai, terutama kelompok yang mencari makan pada garis pantai, lumpur, atau perairan dangkal.

Dalam laporan:

jangan menyebut seluruh kuntul:

burung pantai

hanya karena ditemukan di pantai.

Burung Mangrove dan Mudflat

Mangrove dan mudflat dapat mempunyai fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.

Burung pantai mungkin:

beristirahat di vegetasi

namun:

makan di mudflat.

Jika restorasi mangrove menutup seluruh area lumpur terbuka secara artifisial:

habitat mencari makan burung tertentu justru dapat berkurang.

Ini menunjukkan mengapa pendekatan restorasi tidak boleh mempunyai target:

“semua area pesisir harus menjadi mangrove.”

Habitat alami berupa mudflat, kanal, dan perairan terbuka juga memiliki fungsi ekologis.

Burung dan Struktur Vegetasi Mangrove

Variabel yang dapat dianalisis bersama komunitas burung antara lain:

kerapatan pohon

tinggi

tutupan kanopi

komposisi spesies

luas kawasan

fragmentasi

serta:

habitat sekitar.

Namun:

korelasi tidak sama dengan kausalitas.

Jika burung lebih banyak pada mangrove rapat:

belum tentu kerapatan pohon menjadi satu-satunya penyebab.

Lokasi tersebut mungkin juga:

  • lebih luas;
  • lebih tenang;
  • lebih banyak makanan;
  • lebih dekat mudflat.

Burung dan Tutupan Kanopi

Burung penghuni tajuk dapat merespons:

  • penutupan;
  • tinggi;
  • kompleksitas vegetasi.

Sebaliknya, burung air yang membutuhkan area terbuka dapat menggunakan:

tepi;

kanal;

dan:

gap.

Karena itu:

kanopi 100% bukan target keanekaragaman burung.

Mosaik habitat dapat justru mendukung kelompok yang lebih beragam.

Burung dan Serasah Mangrove

Serasah mendukung:

  • dekomposer;
  • serangga;
  • fauna bentik.

Organisme tersebut kemudian dapat menjadi sumber makanan bagi burung.

Tetapi hubungan:

serasah tinggi → burung tinggi

tidak otomatis linear.

Perlu mempertimbangkan:

  • kelompok pakan;
  • pasang;
  • akses;
  • habitat.

Burung dan Makrozoobentos

Burung pantai dan burung air dapat memanfaatkan:

  • polychaeta;
  • kepiting;
  • gastropoda;
  • bivalvia;

sebagai makanan.

Karena itu, penelitian integratif dapat menghubungkan:

makrozoobentos

dengan:

kelimpahan burung pemakan bentos.

Namun, untuk membuktikan diet tertentu dapat diperlukan:

  • observasi makan;
  • analisis feses;
  • analisis isotop;
  • metode trofik lainnya.

Burung dan Nekton

Burung piscivor dapat memanfaatkan:

  • ikan kecil;
  • udang;
  • organisme air lainnya.

Dengan demikian, komunitas nekton dapat menjadi salah satu basis pakan burung tertentu.

Mangrove menyediakan hubungan vertikal:

sedimen → bentos → nekton → burung

tetapi jaring makanan sebenarnya jauh lebih kompleks daripada rantai sederhana tersebut.

Burung dan Herbivori

Burung pemakan serangga dapat memangsa serangga herbivor.

Dengan demikian, burung dapat berkontribusi terhadap:

top-down control.

Review konektivitas burung mangrove memasukkan kontrol trofik sebagai salah satu fungsi yang dapat difasilitasi oleh burung.

Namun, jangan menyatakan:

“banyak burung pasti mengurangi herbivori mangrove.”

Hubungan tersebut harus diuji.

Burung dan Siklus Hara

Burung yang mencari makan di:

laut;

tambak;

atau mudflat

kemudian bertengger di pohon mangrove dapat memindahkan nutrien melalui:

guano.

Kajian mangrove menyebut lokasi dengan deposisi guano terkonsentrasi dapat menerima masukan nitrogen dan fosfor dari aktivitas burung.

Ini merupakan contoh bagaimana fauna yang sangat mobile dapat menghubungkan:

ekosistem akuatik

dan:

daratan mangrove.

Burung dan Migrasi

Burung migran dapat menggunakan mangrove sebagai:

  • tempat singgah;
  • lokasi mencari makan;
  • lokasi beristirahat.

Konservasinya tidak dapat dilakukan hanya pada satu negara atau satu habitat.

Jika:

lokasi berbiak terlindungi

tetapi:

lokasi persinggahan hilang,

populasi tetap dapat menurun.

Inilah alasan konektivitas burung mempunyai skala jauh lebih besar dibandingkan batas satu kawasan mangrove.

Metode Pengamatan Burung Migran

Jika target utama adalah burung pantai migran:

survei dapat disesuaikan dengan:

waktu migrasi

dan:

pasang surut.

Pada saat surut:

burung dapat tersebar luas di mudflat.

Saat pasang tinggi:

burung dapat berkumpul pada roost.

Kedua kondisi menjawab pertanyaan berbeda.

Jangan menggabungkannya tanpa mempertimbangkan perubahan detectability dan distribusi.

Pengamatan Koloni Bersarang

Point count tidak selalu menjadi metode terbaik untuk koloni burung air.

Jika terdapat koloni bersarang:

parameter dapat berupa:

  • jumlah sarang aktif;
  • pasangan;
  • individu dewasa;
  • anak.

Metode harus dirancang khusus agar:

tidak mengganggu koloni.

Menghitung ribuan individu pada koloni padat menggunakan titik hitung biasa dapat menghasilkan estimasi yang lemah.

Jangan Mendekati Sarang Hanya untuk Mendapat Foto

Aktivitas pengamatan dapat menyebabkan:

  • burung dewasa meninggalkan sarang;
  • stres;
  • peningkatan risiko predator;
  • anak terpapar panas.

Gunakan:

  • binokular;
  • spotting scope;
  • jarak aman.

Tujuan memperoleh data tidak boleh mengalahkan prinsip:

minimum disturbance.

Playback Suara Burung

Playback dapat meningkatkan kemungkinan deteksi spesies tertentu.

Namun, suara rekaman dapat:

  • memancing respons teritorial;
  • mengubah perilaku;
  • meningkatkan stres.

Karena itu, playback tidak boleh digunakan sembarangan.

Jika digunakan dalam protokol:

  • durasi;
  • volume;
  • spesies target;
  • waktu;

harus distandardisasi dan dipertimbangkan secara etis.

Untuk inventarisasi umum, metode pasif sering lebih baik.

Passive Acoustic Monitoring

Passive Acoustic Monitoring atau PAM menggunakan perekam otomatis untuk menangkap suara lingkungan selama periode tertentu.

Keunggulannya:

  • dapat merekam lama;
  • mengurangi kehadiran observer;
  • memungkinkan audit ulang.

Keterbatasannya:

  • burung yang tidak bersuara sulit dideteksi;
  • jarak deteksi berbeda antarspesies;
  • suara angin dan ombak dapat mengganggu.

PAM sebaiknya dipandang sebagai:

pelengkap

bukan otomatis pengganti seluruh observasi lapangan.

Kamera untuk Monitoring Burung

Kamera dengan lensa telefoto dapat membantu:

  • dokumentasi;
  • identifikasi;
  • verifikasi.

Camera trap juga dapat merekam beberapa burung yang menggunakan:

  • tanah;
  • cabang rendah;
  • jalur tertentu.

Namun, camera trap mempunyai bidang pandang terbatas sehingga tidak merepresentasikan seluruh komunitas burung tajuk.

Drone untuk Burung Mangrove

Drone dapat membantu:

  • memetakan habitat;
  • dalam kondisi tertentu menghitung koloni besar.

Tetapi drone juga dapat:

mengganggu burung.

Jarak, tinggi penerbangan, suara, spesies, dan fase reproduksi memengaruhi respons.

Untuk inventarisasi burung umum di tajuk mangrove:

point count tetap dapat lebih sesuai dibandingkan menerbangkan drone dekat burung.

Drone sebaiknya digunakan hanya ketika manfaat datanya lebih besar daripada risiko gangguannya.

Analisis Komunitas Antarhabitat

Misalnya terdapat:

Mangrove

Mudflat

Tambak

Sungai.

Komposisi burung dapat dibandingkan menggunakan:

Bray-Curtis similarity/dissimilarity

nMDS

cluster analysis

atau analisis lain.

Studi Sungai Jali menggunakan Bray-Curtis, NMDS, dan SIMPER untuk menunjukkan adanya kelompok komunitas berbeda antarhabitat.

Namun, analisis multivariat digunakan:

jika pertanyaan penelitian memerlukannya.

Bukan hanya untuk memperbanyak output statistik.

Monitoring Burung Mangrove

Monitoring berbeda dengan inventarisasi satu kali.

Monitoring memerlukan:

protokol yang diulang.

Usahakan konsisten pada:

waktu tahun;

jam;

pasang;

titik;

durasi;

radius;

observer;

metode.

Jika pada 2026 pengamatan dilakukan:

pukul 06.00–09.00

saat surut

tetapi 2027:

pukul 12.00–15.00

saat pasang,

perubahan jumlah deteksi tidak dapat langsung dianggap sebagai perubahan populasi.

Observer Juga Merupakan Sumber Variasi

Observer berpengalaman dapat:

mengenali suara jauh;

membedakan jenis mirip;

mendeteksi gerakan kecil.

Observer baru mungkin tidak.

Metode double observer dikembangkan justru karena kemampuan deteksi dapat berbeda antarobserver.

Untuk monitoring jangka panjang:

  • lakukan pelatihan;
  • gunakan panduan identifikasi;
  • kalibrasi kemampuan suara;
  • dokumentasikan pergantian observer.

Contoh Tally Sheet Burung Mangrove

TanggalTitikSpesiesJumlahDeteksiJarakAktivitas
23/8/2026PC01Egretta garzetta3Visual42 mMencari makan
23/8/2026PC01Alcedo coerulescens1Visual + Audio25 mBertengger
23/8/2026PC01Ardeidae sp.1Visual80 mTerbang

Tambahkan metadata:

jam

cuaca

pasang

observer

habitat.

Aktivitas Burung Sebaiknya Dicatat

Kode perilaku dapat dibuat:

F = Foraging

R = Roosting

B = Breeding

FL = Fly-over

V = Vocalizing

atau sistem lain.

Dengan begitu, data tidak hanya menjawab:

burung ada

tetapi:

bagaimana burung menggunakan habitat.

Contoh Perhitungan Komunitas Burung

Misalnya ditemukan:

Egretta garzetta = 40 individu

Butorides striata = 25

Alcedo coerulescens = 20

Spesies D = 15.

Total:

100 individu.

Kelimpahan relatif:

Egretta garzetta

40/100 × 100%

= 40%.

Jika seluruh spesies tersebar lebih merata:

nilai H′ meningkat.

Jika satu spesies mempunyai:

95 individu

dan tiga lainnya hanya beberapa individu,

nilai H′ akan lebih rendah meskipun jumlah spesies sama.

Jangan Menjumlahkan H′ Antar-Point Count

Misalnya:

PC01 = 1,8

PC02 = 2,0

PC03 = 1,9.

Jangan:

1,8 + 2,0 + 1,9

= 5,7

sebagai H′ kawasan.

Jika ingin nilai komunitas gabungan:

gabungkan jumlah individu setiap spesies terlebih dahulu kemudian:

hitung kembali H′.

Jika titik merupakan replikasi:

nilai per titik dapat dianalisis sebagai replikasi sesuai desain statistik.

Burung sebagai Indikator Restorasi

Burung dapat digunakan untuk membantu melihat perkembangan habitat hasil restorasi.

Seiring vegetasi berkembang, dapat terjadi perubahan:

  • struktur kanopi;
  • ketersediaan serangga;
  • tempat bertengger;
  • sumber makanan;
  • konektivitas.

Komunitas burung kemudian dapat berubah.

Namun:

meningkatnya jumlah burung tidak otomatis berarti restorasi berhasil.

Spesies yang meningkat dapat berupa:

generalis

yang toleran terhadap gangguan.

Karena itu, analisis perlu mempertimbangkan:

  • komposisi;
  • guild;
  • spesies spesialis;
  • habitat referensi.

Gunakan Kawasan Referensi

Monitoring restorasi lebih kuat jika mempunyai:

lokasi restorasi

dan:

mangrove referensi.

Pertanyaannya bukan hanya:

“apakah jumlah jenis meningkat?”

tetapi:

“apakah komunitas bergerak menuju struktur yang sesuai dengan ekosistem referensi?”

Jika tersedia data sebelum restorasi, desain:

Before-After-Control-Impact atau BACI

dapat memberikan inferensi lebih kuat.

Burung dalam Pendekatan EMR

Dalam Ecological Mangrove Restoration atau EMR, tujuan restorasi adalah memulihkan proses ekologis.

Burung dapat menjadi salah satu komponen untuk melihat apakah kawasan kembali menyediakan:

  • habitat;
  • makanan;
  • tempat bertengger;
  • konektivitas.

Namun, pemulihan tidak berarti seluruh kawasan harus ditutupi pohon.

Mudflat alami;

saluran;

perairan terbuka;

dan tepian

juga menyediakan habitat burung.

Karena itu, menanam seluruh ruang terbuka justru dapat menghilangkan habitat penting bagi burung tertentu.

Burung dalam Pendekatan CBEMR

Dalam Community-Based Ecological Mangrove Restoration atau CBEMR, pengamatan burung sangat potensial dikembangkan menjadi:

monitoring partisipatif.

Masyarakat dapat mencatat:

  • jenis yang mudah dikenali;
  • waktu kedatangan burung migran;
  • lokasi koloni;
  • perubahan jumlah;
  • aktivitas perburuan.

Namun, data harus mempunyai protokol.

Jika setiap orang mengamati:

waktu;

durasi;

dan lokasi berbeda,

data sulit dibandingkan.

Burung Mangrove dan Ekowisata

Burung dapat mendukung:

birdwatching

sebagai bagian dari ekowisata mangrove.

Tetapi wisata burung membutuhkan:

  • kode etik;
  • jarak aman;
  • pembatasan gangguan;
  • interpretasi yang benar.

Spesies sensitif tidak seharusnya terus-menerus dipancing menggunakan:

playback

hanya agar wisatawan memperoleh foto.

Konservasi tetap lebih penting daripada:

kemudahan observasi.

Burung Mangrove dan Valuasi Ekonomi

Keanekaragaman burung dapat berkontribusi pada:

  • rekreasi;
  • pendidikan;
  • penelitian;
  • ekowisata.

Namun, nilai ekonomi burung tidak dapat dihitung dengan:

jumlah spesies × harga tertentu.

Jika ingin menghitung manfaat rekreasi:

metode seperti:

Travel Cost Method

atau:

Contingent Valuation Method

lebih relevan.

Ini dapat dihubungkan dengan kajian:

valuasi ekonomi mangrove.

Kesalahan Umum Penelitian Burung Mangrove

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyebut seluruh burung yang melintas sebagai pengguna mangrove, tidak mencatat pasang surut, mengubah durasi point count antarstasiun, tidak membedakan deteksi visual dan suara, menghitung individu yang sama berulang kali, serta menyatakan kepadatan absolut dari hitungan sederhana tanpa mempertimbangkan probabilitas deteksi.

Kesalahan lainnya adalah membandingkan survei musim berbeda tanpa konteks migrasi, menganggap H′ sebagai ukuran kesehatan ekosistem, menuliskan status konservasi dari sumber lama, serta menyimpulkan fungsi habitat hanya dari keberadaan satu spesies.

QA/QC Pengamatan Burung Mangrove

Untuk menghasilkan data yang kuat, tetapkan titik sebelum survei, gunakan durasi yang sama, dokumentasikan radius atau jarak deteksi, catat jam dan kondisi pasang, gunakan observer yang telah dikalibrasi, pisahkan burung fly-over, dokumentasikan identifikasi yang meragukan, hindari menghitung individu yang sama, gunakan nama ilmiah terverifikasi, serta simpan data mentah dan foto/audio pendukung.

Jika pengamatan dilakukan berulang:

protokol yang sama harus dipertahankan semaksimal mungkin.

Cara Menulis Metode Pengamatan Burung Mangrove

Contoh:

“Komunitas burung mangrove diamati menggunakan metode point count pada titik-titik yang mewakili variasi habitat kawasan. Pengamatan dilakukan selama 10 menit pada setiap titik dengan radius pengamatan yang telah ditentukan. Seluruh burung yang terdeteksi secara visual maupun auditori dicatat berdasarkan spesies, jumlah individu, jarak dari observer, aktivitas, dan tipe deteksi. Burung yang hanya melintas di atas lokasi dicatat sebagai fly-over dan dianalisis terpisah dari individu yang menggunakan habitat. Pengamatan dilakukan pada rentang waktu dan fase pasang yang relatif konsisten serta diulang pada setiap titik. Struktur komunitas dianalisis menggunakan kekayaan spesies, kelimpahan relatif, Indeks Shannon-Wiener, dan Indeks Kemerataan Pielou.”

Jika menggunakan analisis kepadatan berbasis jarak, tambahkan:

“Jarak setiap deteksi dicatat untuk mengestimasi probabilitas deteksi menggunakan pendekatan distance sampling.”

Cara Menulis Hasil Pengamatan Burung

Kurang kuat:

“Mangrove memiliki banyak burung sehingga kondisinya masih bagus.”

Lebih baik:

“Sebanyak 34 spesies dari 21 famili terdeteksi selama periode pengamatan. Komunitas terdiri atas burung air, burung pantai, piscivor, dan burung penghuni vegetasi. Nilai Shannon-Wiener sebesar 2,76 digunakan untuk menggambarkan struktur keanekaragaman, sedangkan pola penggunaan habitat dianalisis berdasarkan lokasi deteksi dan aktivitas setiap spesies. Nilai indeks tidak digunakan secara tunggal untuk menentukan kondisi ekologis mangrove.”

Kalimat kedua jauh lebih kuat.

Cara Menulis Pembahasan Burung Mangrove

Kurang tepat:

“Burung banyak karena mangrovenya rapat.”

Lebih tepat:

“Jumlah deteksi burung lebih tinggi pada stasiun dengan vegetasi mangrove yang lebih kompleks. Namun, stasiun tersebut juga berdekatan dengan kanal dan mudflat sehingga perbedaan komunitas kemungkinan berkaitan dengan kombinasi struktur vegetasi, ketersediaan pakan, kondisi pasang, serta konektivitas antarhabitat.”

Ini menghindari klaim sebab-akibat yang tidak dibuktikan.

Burung Mangrove dalam Perspektif KeSEMaT

Bagi KeSEMaT, burung membantu menunjukkan bahwa batas ekosistem mangrove tidak berhenti pada garis tajuk pohon.

Seekor burung dapat:

bertengger di Avicennia;

turun mencari ikan di kanal;

berpindah ke tambak;

mencari bentos di mudflat;

kemudian kembali menggunakan mangrove sebagai lokasi beristirahat.

Burung migran bahkan dapat melanjutkan perjalanan ribuan kilometer.

Itulah sebabnya membaca komunitas burung berarti membaca:

konektivitas lanskap pesisir.

Keberadaan mangrove penting.

Tetapi keberadaan kanal juga penting.

Mudflat penting.

Perairan dangkal penting.

Tambak tertentu dapat mempunyai fungsi habitat.

Kawasan beristirahat saat pasang juga penting.

Pendekatan ilmiah tidak seharusnya menilai kualitas ekosistem hanya berdasarkan:

berapa banyak pohon

atau:

berapa banyak spesies burung.

Pengukuran vegetasi menjelaskan struktur hutan.

Makrozoobentos menjelaskan sebagian komunitas dasar.

Nekton menunjukkan penggunaan habitat akuatik.

Burung memperluas perspektif tersebut hingga ke tajuk, perairan, mudflat, dan bentang alam sekitarnya.

Burung mangrove mengingatkan bahwa konservasi pesisir bukan hanya menjaga satu petak hutan, tetapi menjaga jaringan habitat yang memungkinkan organisme mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya. (ADM).

FAQ Burung Mangrove

Apa itu burung mangrove?

Burung mangrove adalah burung yang menggunakan hutan mangrove atau habitat pesisir yang terhubung dengannya untuk mencari makan, beristirahat, berlindung, berkembang biak, atau melakukan pergerakan.

Apakah burung mangrove merupakan kelompok taksonomi?

Tidak. Istilah tersebut merupakan pengelompokan ekologis berdasarkan penggunaan habitat.

Apa metode yang digunakan untuk mengamati burung mangrove?

Metode yang umum antara lain point count, line transect, daftar jenis, pengamatan koloni, serta metode tambahan seperti Passive Acoustic Monitoring.

Apa itu point count?

Point count adalah metode pengamatan dari titik tertentu selama durasi yang telah distandardisasi untuk mencatat burung yang terdeteksi secara visual atau auditori.

Berapa radius point count burung?

Tidak ada radius universal. Radius seperti 25 m, 50 m, atau 100 m dapat digunakan sesuai struktur habitat, kemampuan deteksi, dan tujuan penelitian.

Berapa lama pengamatan pada setiap titik?

Tidak ada durasi tunggal yang berlaku untuk semua penelitian. Durasi harus ditentukan dalam protokol dan dibuat konsisten antarunit sampling.

Apakah burung yang hanya terbang melintas harus dihitung?

Dapat dicatat, tetapi sebaiknya diberi kategori fly-over dan dipisahkan jika analisis bertujuan menilai penggunaan habitat mangrove.

Mengapa suara burung perlu dicatat?

Vegetasi rapat membuat banyak burung lebih mudah terdeteksi melalui suara daripada pengamatan visual.

Apa itu detection probability?

Detection probability adalah peluang suatu burung yang sebenarnya ada di area survei dapat terdeteksi oleh observer. Nilainya dapat berbeda antarspesies, habitat, jarak, observer, dan waktu.

Apakah burung yang tidak terdeteksi berarti tidak ada?

Tidak. Spesies dapat hadir tetapi gagal terdeteksi.

Apa rumus kelimpahan relatif burung?

KRi = ni/N × 100%

Apa rumus frekuensi kehadiran?

Fi = Pi/P × 100%

Apa rumus Shannon-Wiener burung?

H′ = −Σ(pi × ln pi)

dengan:

pi = ni/N.

Apa rumus kemerataan burung?

J′ = H′/ln S

Apakah H′ tinggi berarti mangrove sehat?

Tidak secara otomatis. Shannon-Wiener mengukur struktur keanekaragaman komunitas, bukan seluruh kesehatan ekosistem.

Apakah burung mangrove dipengaruhi pasang surut?

Ya, terutama burung air dan burung pantai karena luas mudflat, kedalaman air, dan ketersediaan lokasi mencari makan berubah mengikuti pasang.

Apakah burung migran dapat ditemukan di kawasan mangrove?

Ya. Mangrove dan habitat pesisir di sekitarnya dapat digunakan oleh sejumlah burung migran sebagai tempat mencari makan atau beristirahat.

Apakah mangrove merupakan habitat bersarang burung?

Untuk sejumlah jenis, kanopi mangrove dapat digunakan sebagai lokasi beristirahat atau bersarang, tetapi penggunaan tersebut berbeda antarspesies.

Apakah burung dapat digunakan untuk monitoring restorasi mangrove?

Ya. Perubahan komposisi, guild, penggunaan habitat, dan kehadiran spesies tertentu dapat digunakan sebagai salah satu komponen monitoring apabila metode dilakukan secara konsisten dan dibandingkan dengan habitat referensi.

Apakah semua mudflat sebaiknya ditanami mangrove agar burung bertambah?

Tidak. Mudflat alami merupakan habitat penting bagi berbagai burung pantai dan fauna bentik. Restorasi harus mengikuti karakter ekologis tapak, bukan bertujuan menutupi seluruh pesisir dengan mangrove.

Daftar Pustaka

Nagelkerken, I., Blaber, S. J. M., Bouillon, S., Green, P., Haywood, M., Kirton, L. G., Meynecke, J. O., Pawlik, J., Penrose, H. M., Sasekumar, A., & Somerfield, P. J. 2008. The Habitat Function of Mangroves for Terrestrial and Marine Fauna: A Review. Aquatic Botany, 89(2), 155–185.

Buelow, C., & Sheaves, M. 2015. A Birds-Eye View of Biological Connectivity in Mangrove Systems. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 152, 33–43.

Nichols, J. D., Hines, J. E., Sauer, J. R., Fallon, F. W., Fallon, J. E., & Heglund, P. J. 2000. A Double-Observer Approach for Estimating Detection Probability and Abundance from Point Counts. The Auk, 117(2), 393–408.

Farnsworth, G. L., Pollock, K. H., Nichols, J. D., Simons, T. R., Hines, J. E., & Sauer, J. R. 2002. A Removal Model for Estimating Detection Probabilities from Point-Count Surveys. The Auk, 119(2), 414–425.

Amundson, C. L., Royle, J. A., & Handel, C. M. 2014. A Hierarchical Model Combining Distance Sampling and Time Removal to Estimate Detection Probability during Avian Point Counts. The Auk, 131(4), 476–494.

Nadeau, C. P., & Conway, C. J. 2012. Field Evaluation of Distance-Estimation Error during Wetland-Dependent Bird Surveys. Wildlife Research.

Firmansyah, A. 2020. Keanekaragaman Hayati di Kawasan Mangrove Pantai Mekar sebagai Modal Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat. Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan, 5(1), 43–51.

Fathani, M. H., Mulyani, Y. A., Mardiastuti, A., & Djatmiko, W. A. 2025. Factors Affecting Bird Diversity in the Wetlands of Muara Gembong, Indonesia. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 31(1).

(Sumber gambar: Pincalalens/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, dipotong ke rasio 4:3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar