2.8.26

Mengapa Mangrove Tidak Boleh Ditanam Sembarangan?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Mengapa mangrove tidak boleh ditanam sembarangan? Mangrove hanya dapat tumbuh dengan baik apabila jenis, lokasi, elevasi, pasang surut, salinitas, sedimen, dan energi gelombangnya sesuai. Penanaman yang dilakukan tanpa kajian dapat menyebabkan bibit mati, merusak habitat pesisir lain, mengganggu aliran air, menutup akses masyarakat, memboroskan anggaran, dan menghasilkan tegakan yang tidak mampu berkembang menjadi ekosistem mangrove yang sehat.

Mangrove bukan tanaman yang cukup ditancapkan ke setiap lahan berlumpur di tepi laut.

Sebelum penanaman, pengelola harus mengetahui:

  • apakah lokasi tersebut memang habitat mangrove;
  • apakah mangrove pernah tumbuh di sana;
  • mengapa vegetasi sebelumnya hilang;
  • bagaimana pasang surut dan hidrologinya;
  • jenis mangrove apa yang sesuai;
  • apakah regenerasi alami telah berlangsung;
  • apakah terdapat padang lamun, dataran lumpur, atau habitat lain;
  • siapa yang menggunakan dan menguasai lahan;
  • serta siapa yang akan memantau setelah kegiatan selesai.

FAO menempatkan kesesuaian hidrologi dan pemilihan jenis sebagai bagian utama dalam restorasi mangrove. Kegagalan sering terjadi ketika jenis pohon tidak sesuai dengan kondisi genangan dan lokasi penanaman. Restorasi juga tidak selalu membutuhkan penanaman karena penghilangan tekanan dan pemulihan aliran air dapat memungkinkan regenerasi alami berlangsung kembali.

Karena itu, keberhasilan program tidak boleh dinilai hanya dari banyaknya bibit yang ditanam.

Pertanyaan terpenting bukan:

“Berapa ribu bibit yang dapat ditanam hari ini?”

Melainkan:

“Apakah lokasi ini benar-benar membutuhkan penanaman dan mampu mendukung mangrove dalam jangka panjang?”

Jawaban Singkat: Mengapa Mangrove Tidak Boleh Ditanam Sembarangan?

Mangrove tidak boleh ditanam sembarangan karena:

  1. tidak semua pantai merupakan habitat mangrove;
  2. setiap jenis memiliki kebutuhan lingkungan berbeda;
  3. kesalahan elevasi dapat membuat bibit terlalu lama atau terlalu jarang tergenang;
  4. hidrologi yang rusak tidak dapat diperbaiki hanya dengan penanaman;
  5. gelombang dan erosi dapat mencabut seluruh bibit;
  6. penanaman dapat merusak padang lamun dan dataran lumpur;
  7. penanaman terlalu rapat dapat menciptakan persaingan dan monokultur;
  8. regenerasi alami dapat rusak akibat aktivitas penanaman;
  9. lokasi mungkin digunakan masyarakat untuk tambak, perahu, atau mencari hasil pesisir;
  10. status dan kepemilikan lahan dapat belum jelas;
  11. bibit yang salah jenis dapat hidup sementara, tetapi gagal berkembang;
  12. target jumlah bibit dapat mendorong pemilihan lokasi yang keliru;
  13. biaya penanaman akan terbuang apabila penyebab kerusakan belum diperbaiki;
  14. penyulaman berulang tidak menyelesaikan masalah habitat;
  15. dan tanaman hidup belum tentu menunjukkan ekosistem telah pulih.

Kajian terhadap berbagai program rehabilitasi menunjukkan bahwa target luasan dan jumlah propagul dapat mendorong penanaman pada lokasi yang tidak sesuai. Ketidakcocokan antara jenis dan tapak menjadi salah satu penyebab teknis utama rendahnya keberhasilan penanaman.

Mangrove Bukan Sekadar Pohon yang Hidup di Lumpur

Mangrove merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang dibentuk oleh hubungan antara:

  • vegetasi;
  • pasang surut;
  • air laut dan air tawar;
  • sedimen;
  • salinitas;
  • mikroorganisme;
  • bentos;
  • ikan;
  • burung;
  • dan aktivitas manusia.

Menanam pohon mangrove tidak otomatis membentuk ekosistem mangrove.

Bibit mungkin dapat bertahan selama beberapa bulan, tetapi ekosistem belum tentu pulih apabila:

  • hidrologi tetap terputus;
  • sedimen terus tererosi;
  • tidak terjadi regenerasi alami;
  • fauna tidak kembali;
  • tegakan hanya terdiri atas satu jenis;
  • atau penggunaan ruang masih berkonflik.

Restorasi yang berhasil seharusnya menghasilkan hutan mangrove yang memiliki ukuran memadai, beragam, berfungsi, dan mampu mempertahankan dirinya. Prinsip tersebut berbeda dari sekadar menyelesaikan kegiatan penanaman.

1. Tidak Semua Pantai Cocok Ditanami Mangrove

Salah satu alasan mangrove tidak boleh ditanam sembarangan adalah karena tidak semua pantai merupakan habitat mangrove.

Pantai dapat berbentuk:

  • pantai berlumpur;
  • pantai berpasir;
  • pantai berbatu;
  • dataran lumpur;
  • padang lamun;
  • terumbu karang;
  • laguna;
  • delta;
  • muara;
  • atau tebing pesisir.

Mangrove umumnya berkembang pada zona intertidal yang memiliki:

  • elevasi sesuai;
  • pasang surut yang mendukung;
  • sedimen relatif stabil;
  • energi gelombang yang dapat ditoleransi;
  • serta hubungan air yang masih berfungsi.

Pantai berpasir terbuka dengan gelombang besar belum tentu sesuai. Pantai berbatu mungkin tidak menyediakan sedimen yang cukup. Padang lamun dan terumbu karang juga merupakan ekosistem tersendiri yang tidak boleh digantikan hanya karena program membutuhkan lokasi penanaman.

Ketiadaan mangrove pada suatu pantai tidak otomatis berarti pantai tersebut rusak.

Lokasi tersebut mungkin memang secara alami merupakan:

  • habitat burung pantai;
  • tempat hidup bentos;
  • padang lamun;
  • daerah peneluran;
  • atau ruang terbuka intertidal.

2. Lumpur Tidak Selalu Berarti Habitat Mangrove

Banyak lokasi penanaman dipilih hanya karena terlihat berlumpur.

Padahal, lumpur hanya menggambarkan karakter sedimen. Lumpur tidak menjelaskan:

  • berapa lama lokasi tergenang;
  • seberapa dalam airnya;
  • apakah sedimen stabil;
  • bagaimana arus bergerak;
  • apakah terjadi abrasi;
  • serta apakah propagul dapat menetap.

Dataran lumpur dapat terlalu rendah sehingga selalu terendam. Sedimennya juga dapat terus bergerak akibat arus dan gelombang.

Dalam kondisi tersebut, propagul yang ditancapkan mungkin:

  • hanyut;
  • tertimbun;
  • tercabut;
  • patah;
  • atau mati karena terlalu lama tergenang.

Pemilihan lokasi berdasarkan tampilan lumpur saja merupakan penyederhanaan yang berbahaya.

3. Dataran Lumpur Bukan Lahan Kosong

Dataran lumpur terbuka sering dianggap tidak produktif karena tidak ditumbuhi pohon.

Padahal, dataran lumpur dapat menjadi habitat bagi:

  • kerang;
  • siput;
  • cacing laut;
  • kepiting;
  • udang;
  • ikan muda;
  • mikroorganisme;
  • dan burung air.

Burung migran menggunakan area terbuka ketika air surut untuk mencari makan. Organisme bentik hidup di dalam sedimen dan menjadi bagian penting dari rantai makanan pesisir.

Apabila seluruh dataran lumpur dipenuhi mangrove, habitat terbuka tersebut dapat berkurang.

Penanaman juga dapat mengubah:

  • arus;
  • sedimentasi;
  • ketersediaan ruang mencari makan;
  • dan struktur habitat.

Karena itu, tidak semua dataran lumpur harus “dihijaukan”.

Program lingkungan tidak boleh menyelamatkan satu jenis ekosistem dengan menghilangkan ekosistem lain.

4. Padang Lamun Tidak Boleh Ditanami Mangrove

Padang lamun merupakan ekosistem penting yang memiliki fungsi sebagai:

  • daerah asuhan ikan;
  • tempat mencari makan;
  • penyimpan karbon;
  • penstabil sedimen;
  • habitat biota;
  • dan penghubung antara mangrove dan terumbu karang.

Mangrove dan lamun dapat berada dalam satu bentang pesisir, tetapi keduanya menempati zona berbeda.

Menanam mangrove ke arah laut hingga memasuki padang lamun dapat menyebabkan:

  • lamun tertutup tajuk;
  • perubahan arus;
  • peningkatan sedimentasi;
  • perubahan kualitas cahaya;
  • dan hilangnya habitat.

Penelitian terhadap penanaman mangrove pada bekas padang lamun menunjukkan bahwa penanaman dapat menghasilkan tegakan mangrove, tetapi konsekuensi terhadap fungsi habitat sebelumnya tetap perlu dinilai. Keberhasilan pertumbuhan pohon tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan perubahan ekosistem yang digantikan.

5. Pantai Abrasi Tidak Selalu Siap Ditanami

Mangrove sering ditanam untuk mengatasi abrasi.

Namun, pantai yang sedang mengalami erosi berat justru dapat menjadi lokasi yang paling tidak siap menerima bibit.

Abrasi dapat menyebabkan:

  • tanah di sekitar akar hilang;
  • bibit miring;
  • akar terbuka;
  • ajir tercabut;
  • dan seluruh barisan tanaman hanyut.

Mangrove dewasa memang dapat membantu mengurangi energi gelombang pada kondisi tertentu. Namun, bibit muda belum memiliki jaringan akar dan batang yang cukup kuat untuk melindungi dirinya.

Apabila sedimen terus hilang, penanaman lebih rapat tidak akan menyelesaikan masalah.

Pada lokasi tertentu, pemulihan perlu dimulai dengan:

  • memahami penyebab abrasi;
  • memulihkan pasokan sedimen;
  • memperbaiki aliran air;
  • mengurangi tekanan gelombang secara tepat;
  • atau menunggu terbentuknya elevasi yang sesuai.

Setelah habitat cukup stabil, regenerasi alami atau penanaman terbatas dapat dipertimbangkan.

6. Elevasi Menentukan Apakah Mangrove Dapat Hidup

Elevasi merupakan ketinggian permukaan tanah terhadap muka air pasang surut.

Perbedaan beberapa sentimeter dapat memengaruhi:

  • frekuensi genangan;
  • lama genangan;
  • kedalaman air;
  • kadar garam;
  • aerasi akar;
  • dan jenis yang mampu hidup.

Bibit yang ditanam terlalu rendah dapat:

  • terlalu lama terendam;
  • kekurangan oksigen;
  • menerima tekanan gelombang;
  • dan gagal membentuk akar.

Bibit yang ditanam terlalu tinggi dapat:

  • jarang terkena pasang;
  • mengalami kekeringan;
  • dan menghadapi penumpukan garam akibat penguapan.

Kajian pada bekas tambak di Sulawesi menunjukkan bahwa ketidaksesuaian elevasi dan toleransi genangan spesifik jenis merupakan faktor penting dalam rendahnya keberhasilan rehabilitasi.

Karena itu, barisan tanaman tidak boleh dibuat hanya mengikuti kemudahan peserta berjalan.

Lokasi yang mudah dijangkau manusia belum tentu merupakan elevasi terbaik bagi mangrove.

7. Hidrologi Lebih Penting daripada Jumlah Bibit

Hidrologi menjelaskan bagaimana air:

  • masuk;
  • keluar;
  • menggenangi lokasi;
  • membawa garam;
  • membawa sedimen;
  • membawa propagul;
  • dan membilas tanah.

Pada bekas tambak, misalnya, tanggul dan pintu air dapat menyebabkan:

  • pasang tidak masuk;
  • air terjebak;
  • salinitas meningkat;
  • tanah terlalu kering;
  • atau lokasi terus tergenang.

Menanam ribuan bibit tanpa memperbaiki hidrologi hanya menempatkan tanaman pada lingkungan yang tetap rusak.

Penelitian mengenai klasifikasi hidrologi menunjukkan bahwa kesesuaian lokasi tidak dapat ditentukan hanya dari elevasi. Hambatan aliran dan pola genangan perlu diperiksa karena perbaikan hidrologi dapat mencegah kegagalan penanaman serta mendukung regenerasi alami.

Pada banyak kasus, tindakan yang lebih tepat adalah:

  • membuka kembali saluran;
  • memperbaiki konektivitas pasang;
  • membongkar bagian tanggul secara terukur;
  • atau menghilangkan hambatan aliran.

Setelah hidrologi pulih, propagul dapat datang dan tumbuh secara alami.

8. Setiap Jenis Mangrove Memiliki Kebutuhan Berbeda

Mangrove bukan satu jenis tumbuhan.

Indonesia memiliki berbagai jenis mangrove sejati dan vegetasi asosiasi, seperti:

  • Avicennia;
  • Rhizophora;
  • Sonneratia;
  • Bruguiera;
  • Ceriops;
  • Xylocarpus;
  • Lumnitzera;
  • dan Nypa.

Setiap jenis memiliki perbedaan dalam:

  • toleransi salinitas;
  • kebutuhan genangan;
  • bentuk akar;
  • ukuran propagul;
  • kemampuan menghadapi gelombang;
  • preferensi sedimen;
  • dan posisi zonasi.

Jenis yang tumbuh pada bagian depan tidak otomatis cocok di bagian belakang. Jenis yang berkembang di tepi sungai belum tentu sesuai untuk dataran terbuka.

Kegagalan program sering terjadi ketika jenis dipilih berdasarkan:

  • ketersediaan bibit;
  • harga;
  • kemudahan pengangkutan;
  • kemudahan penanaman;
  • atau kebiasaan penyelenggara,

bukan berdasarkan kondisi habitat.

9. Rhizophora Tidak Cocok untuk Semua Lokasi

Rhizophora sangat populer dalam program penanaman karena propagulnya:

  • besar;
  • mudah dikenali;
  • mudah dikumpulkan;
  • mudah diangkut;
  • dan mudah ditancapkan.

Kemudahan tersebut membuat Rhizophora sering dianggap sebagai jenis universal.

Padahal, Rhizophora tidak tepat ditanam secara otomatis pada:

  • pantai terbuka;
  • dataran lumpur rendah;
  • padang lamun;
  • lokasi berpasir dinamis;
  • area terlalu dalam;
  • dan zona yang secara alami didominasi jenis lain.

Kajian terhadap berbagai kegiatan rehabilitasi menemukan bahwa pemilihan jenis dan lokasi yang buruk merupakan penyebab umum kegagalan. Target jumlah propagul juga mendorong penggunaan Rhizophora pada area yang secara ekologis tidak sesuai.

Mudah ditanam bukan berarti mudah bertahan.

10. Salah Jenis Dapat Menghasilkan Kematian Massal

Bibit yang salah jenis mungkin terlihat hidup pada bulan-bulan pertama karena masih memiliki cadangan energi.

Namun, setelah menghadapi:

  • pergantian musim;
  • genangan;
  • salinitas;
  • gelombang;
  • dan pertumbuhan akar,

tanaman mulai menunjukkan stres.

Gejalanya dapat berupa:

  • pertumbuhan berhenti;
  • daun menguning;
  • pucuk mati;
  • akar membusuk;
  • batang kurus;
  • atau tanaman tercabut.

Kematian yang terjadi pada satu jenis tetapi tidak terjadi pada jenis lain dapat menunjukkan adanya ketidaksesuaian habitat.

Karena itu, monitoring sebaiknya menghitung survival rate dan pertumbuhan berdasarkan jenis, bukan hanya nilai keseluruhan.

11. Penanaman Dapat Merusak Regenerasi Alami

Lokasi yang sudah memiliki semai alami belum tentu membutuhkan penanaman.

Regenerasi alami menunjukkan bahwa:

  • propagul tersedia;
  • hidrologi mendukung;
  • sedimen dapat ditempati;
  • dan kondisi mikrohabitat memungkinkan pertumbuhan.

Kegiatan penanaman massal pada lokasi tersebut justru dapat:

  • menginjak semai alami;
  • merusak akar;
  • menambah persaingan;
  • mengubah komposisi jenis;
  • serta menggantikan pola alami dengan barisan monokultur.

FAO menegaskan bahwa penanaman sering tidak diperlukan apabila kondisi hidrologi telah sesuai dan sumber propagul tersedia. Mangrove dapat kembali mengolonisasi bekas habitatnya secara alami setelah hambatan utama diperbaiki.

Pada kondisi seperti ini, tindakan terbaik adalah melindungi proses alam, bukan menambah tanaman.

12. Penanaman Terlalu Rapat Dapat Menimbulkan Persaingan

Jarak 1 × 1 meter sering digunakan karena menghasilkan sekitar 10.000 titik tanam per hektare.

Namun, kepadatan tinggi bukan selalu pilihan terbaik.

Ketika tanaman membesar, terjadi persaingan terhadap:

  • cahaya;
  • ruang tajuk;
  • ruang akar;
  • unsur hara;
  • dan air.

Akibatnya, sebagian tanaman dapat:

  • tumbuh kurus;
  • tertekan;
  • kehilangan cabang;
  • atau mati melalui penjarangan alami.

Penanaman terlalu rapat juga dapat:

  • menghambat regenerasi alami;
  • menghasilkan monokultur;
  • menyulitkan monitoring;
  • dan menutup jalur air.

Jarak tanam harus disesuaikan dengan:

  • jenis;
  • ukuran bibit;
  • tujuan;
  • kondisi lokasi;
  • serta perkembangan tegakan jangka panjang.

13. Barisan Rapi Tidak Menjamin Ekosistem Sehat

Penanaman sering dibuat dalam barisan lurus agar mudah:

  • dihitung;
  • difoto;
  • diperiksa;
  • dan dilaporkan.

Namun, hutan mangrove alami tidak selalu tumbuh dalam pola kotak yang seragam.

Vegetasi alami mengikuti:

  • elevasi;
  • aliran air;
  • celah sedimen;
  • sumber propagul;
  • cahaya;
  • dan mikrohabitat.

Barisan yang terlalu kaku dapat mengabaikan variasi lokasi.

Sebagian titik mungkin terlalu rendah, terlalu tinggi, atau berada pada jalur air. Meskipun jaraknya seragam, peluang hidup setiap tanaman berbeda.

Kerapian administratif tidak sama dengan ketepatan ekologis.

14. Waktu Penanaman Tidak Boleh Ditentukan Sembarangan

Waktu penanaman perlu mempertimbangkan:

  • musim hujan;
  • musim gelombang;
  • pasang surut;
  • angin;
  • debit sungai;
  • salinitas;
  • dan ketersediaan propagul matang.

Penanaman tepat sebelum gelombang besar dapat menyebabkan bibit tercabut sebelum membentuk akar.

Penanaman pada puncak kemarau dapat meningkatkan tekanan salinitas dan kekeringan.

Penanaman saat air mulai pasang juga dapat mengurangi waktu kerja dan menyebabkan bibit belum tertanam stabil ketika air kembali naik.

Waktu terbaik tidak selalu sama di setiap daerah.

Jadwal tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan:

  • hari ulang tahun perusahaan;
  • kunjungan pejabat;
  • peringatan hari lingkungan;
  • atau ketersediaan peserta.

Ekologi lokasi harus menjadi dasar utama.

15. Kualitas Bibit Harus Diperiksa

Bibit mangrove yang akan ditanam harus:

  • berasal dari jenis yang sesuai;
  • cukup matang;
  • memiliki akar sehat;
  • memiliki pucuk aktif;
  • bebas kerusakan berat;
  • dan telah menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan.

Bibit dapat berkualitas rendah apabila:

  • propagul belum matang;
  • disimpan terlalu lama;
  • akar melingkar;
  • media pecah;
  • terserang hama;
  • kekurangan unsur hara;
  • atau mengalami kerusakan saat pengangkutan.

Namun, bibit berkualitas tinggi tetap dapat mati apabila ditanam pada habitat yang salah.

Kualitas bahan tanam tidak dapat menggantikan kesesuaian lokasi.

16. Aklimatisasi Bibit Tidak Boleh Diabaikan

Bibit dari persemaian dapat tumbuh dalam kondisi berbeda dari lapangan.

Perbedaannya dapat mencakup:

  • salinitas;
  • intensitas cahaya;
  • lama genangan;
  • suhu;
  • angin;
  • dan jenis media.

Apabila bibit langsung dipindahkan dari kondisi terlindung dan bersalinitas rendah ke pantai terbuka yang sangat asin, tanaman dapat mengalami kejutan.

Gejalanya dapat berupa:

  • daun layu;
  • daun menguning;
  • gugur daun;
  • pertumbuhan terhenti;
  • dan kematian.

Aklimatisasi membantu bibit menyesuaikan diri secara bertahap, tetapi tetap tidak dapat menyelamatkan tanaman dari lokasi yang tidak sesuai.

17. Teknik Penanaman Harus Mengikuti Jenis Bahan Tanam

Propagul yang ditanam langsung tidak diperlakukan sama dengan bibit dalam polibag.

Kesalahan teknis dapat berupa:

  • propagul ditanam terbalik;
  • bibit terlalu dangkal;
  • bibit terlalu dalam;
  • akar terlipat;
  • media pecah;
  • polibag tidak dilepas;
  • atau batang diikat terlalu kuat pada ajir.

Penanaman terlalu dangkal membuat tanaman mudah hanyut.

Penanaman terlalu dalam dapat menutup pangkal batang dan menyebabkan pembusukan.

Polibag yang tertinggal membatasi perkembangan akar dan menambah sampah plastik.

Teknik penanaman harus mengikuti jenis, ukuran, media, struktur akar, dan kondisi sedimen.

18. Ajir Tidak Dapat Memperbaiki Habitat yang Salah

Ajir sering digunakan untuk menahan bibit agar tidak miring.

Dalam kondisi tertentu, ajir dapat membantu.

Namun, ajir tidak dapat memperbaiki:

  • abrasi;
  • gelombang tinggi;
  • elevasi salah;
  • hidrologi rusak;
  • salinitas ekstrem;
  • atau pemilihan jenis yang keliru.

Jika seluruh tanah di sekitar tanaman hilang, ajir juga akan tercabut.

Ikatan terlalu kuat bahkan dapat melukai batang, sedangkan ajir patah dapat merusak tanaman.

Ajir merupakan alat bantu teknis, bukan solusi ekologis.

19. Penanaman Dapat Mengganggu Jalur Air

Mangrove membutuhkan aliran air.

Barisan tanaman yang ditempatkan di saluran dapat:

  • memperlambat arus;
  • menangkap sampah;
  • meningkatkan sedimentasi lokal;
  • dan mengubah pola genangan.

Apabila aliran tertutup, bagian lain dapat menjadi:

  • terlalu kering;
  • terlalu lama tergenang;
  • atau hipersalin.

Sebelum menanam, pengelola harus memetakan:

  • saluran pasang;
  • arah arus;
  • jalur drainase;
  • dan cekungan.

Jalur air bukan ruang kosong yang harus dipenuhi bibit.

20. Penanaman Dapat Menutup Akses Masyarakat

Kawasan pesisir digunakan masyarakat untuk:

  • jalur perahu;
  • menuju tambak;
  • mencari ikan;
  • mencari kerang;
  • memasang alat tangkap;
  • memperbaiki pematang;
  • dan kegiatan budaya.

Apabila penanaman dilakukan tanpa konsultasi, bibit dapat ditempatkan pada ruang yang masih dibutuhkan.

Akibatnya:

  • tanaman terinjak;
  • dicabut;
  • tertabrak perahu;
  • atau mendapat penolakan.

Penolakan masyarakat tidak selalu menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan.

Masyarakat mungkin khawatir kehilangan:

  • akses;
  • penghasilan;
  • hak kelola;
  • atau kepastian atas lahannya.

Restorasi harus menggabungkan pertimbangan ekologis dengan kondisi sosial dan kelembagaan.

21. Status Lahan Harus Jelas

Sebelum penanaman, perlu diketahui:

  • siapa pemilik lahan;
  • siapa pengelolanya;
  • apakah lokasinya lahan negara;
  • apakah terdapat hak tambak;
  • apakah merupakan tanah timbul;
  • apakah terdapat izin;
  • dan siapa yang bertanggung jawab setelah proyek selesai.

Penanaman pada lahan yang statusnya belum jelas dapat menimbulkan:

  • konflik;
  • pencabutan tanaman;
  • perubahan penggunaan lahan;
  • dan terhentinya pemeliharaan.

Bibit mungkin hidup secara biologis, tetapi proyek tetap gagal secara kelembagaan.

Kepastian penggunaan ruang sangat penting untuk keberlanjutan jangka panjang.

22. Masyarakat Tidak Boleh Hanya Dijadikan Tenaga Tanam

Masyarakat perlu terlibat sejak:

  • pemilihan lokasi;
  • pemetaan penggunaan ruang;
  • penentuan jenis;
  • penjadwalan;
  • pelaksanaan;
  • monitoring;
  • hingga pembagian manfaat.

Warga pesisir memiliki pengetahuan mengenai:

  • arah gelombang;
  • musim angin;
  • perubahan garis pantai;
  • jalur pasang;
  • riwayat mangrove;
  • dan konflik lahan.

Informasi tersebut tidak selalu terlihat dalam survei singkat.

Apabila masyarakat hanya diundang ketika bibit harus ditanam, program kehilangan sumber pengetahuan penting sekaligus mengurangi rasa kepemilikan terhadap hasilnya.

23. Target Jumlah Bibit Dapat Mendorong Keputusan yang Salah

Target seperti:

  • 10.000 bibit;
  • satu juta pohon;
  • atau sejumlah hektare

mudah dipahami dan dipromosikan.

Namun, target besar dapat menciptakan tekanan untuk menemukan lahan luas meskipun kondisi ekologinya tidak sesuai.

Lokasi kemudian dipilih karena:

  • kosong;
  • mudah diakses;
  • tidak dipersengketakan;
  • dekat tempat acara;
  • atau cukup luas untuk menampung seluruh peserta.

Kajian menunjukkan bahwa target luas dan jumlah propagul dapat menghasilkan hasil rehabilitasi yang tidak optimal karena mendorong pemilihan tapak berdasarkan kebutuhan program, bukan daya dukung habitat.

Jumlah bibit seharusnya menjadi hasil dari desain lokasi.

Desain lokasi tidak boleh dipaksa mengikuti jumlah bibit yang telah dibeli.

24. Banyak Bibit Ditanam Belum Tentu Banyak Pohon Terbentuk

Seribu bibit bukan berarti seribu pohon.

Setiap bibit harus melewati fase:

  • penetapan;
  • pembentukan akar;
  • semai;
  • pancang;
  • pohon muda;
  • dan pohon dewasa.

Dalam perjalanan tersebut, tanaman menghadapi:

  • gelombang;
  • salinitas;
  • erosi;
  • sedimentasi;
  • kompetisi;
  • hama;
  • sampah;
  • dan gangguan manusia.

Karena itu, laporan harus membedakan:

  • jumlah propagul ditanam;
  • jumlah bibit ditanam;
  • jumlah tanaman hidup;
  • jumlah pancang;
  • dan jumlah pohon.

Menyebut seluruh bahan tanam sebagai pohon dapat memberikan kesan keberhasilan yang belum terbukti.

25. Survival Rate Awal Tidak Menjamin Keberhasilan Jangka Panjang

Survival rate tinggi pada bulan ketiga belum tentu bertahan hingga tahun kedua.

Tanaman masih harus menghadapi:

  • pergantian musim;
  • gelombang tahunan;
  • salinitas;
  • pertumbuhan tajuk;
  • persaingan akar;
  • dan perubahan penggunaan lahan.

Kajian rehabilitasi mangrove menemukan bahwa tingkat kelangsungan hidup jangka panjang dapat rendah ketika pemilihan lokasi dan jenis tidak tepat. Bahkan upaya penanaman berskala besar tidak selalu menghasilkan luas hutan yang sebanding dengan jumlah propagul yang ditanam.

Karena itu, pemantauan tidak boleh berhenti setelah:

  • satu bulan;
  • tiga bulan;
  • atau selesainya kontrak penanaman.

26. Tanaman Hidup Belum Tentu Ekosistem Pulih

Tegakan mangrove dapat memiliki survival rate tinggi, tetapi tetap gagal secara ekologis.

Hal tersebut dapat terjadi apabila:

  • seluruh tanaman berasal dari satu jenis;
  • kerapatan terlalu tinggi;
  • hidrologi tetap rusak;
  • tidak muncul regenerasi alami;
  • fauna tidak kembali;
  • pertumbuhan stagnan;
  • atau lokasi tetap mengalami abrasi.

Pemulihan ekosistem perlu dinilai melalui indikator lain, seperti:

  • struktur kelas umur;
  • tutupan tajuk;
  • regenerasi;
  • keanekaragaman jenis;
  • fauna;
  • sedimentasi;
  • kualitas air;
  • dan fungsi hidrologi.

Penanaman adalah satu kegiatan.

Pemulihan ekosistem merupakan proses jangka panjang.

27. Penyulaman Tidak Boleh Dilakukan Otomatis

Ketika banyak bibit mati, respons yang paling umum adalah melakukan penyulaman.

Namun, tanaman pengganti akan menghadapi penyebab yang sama apabila:

  • lokasi tetap tererosi;
  • elevasi masih salah;
  • salinitas tetap ekstrem;
  • gelombang tetap besar;
  • atau jenis masih tidak sesuai.

Sebelum penyulaman, lakukan diagnosis:

  • Di bagian mana tanaman mati?
  • Apakah kematian terjadi serentak?
  • Apakah terdapat erosi?
  • Apakah bibit tertimbun?
  • Apakah salinitas berubah?
  • Apakah tanaman dicabut?
  • Apakah jenis lain lebih mampu bertahan?

Penyulaman baru layak dilakukan setelah penyebab kematian dapat diperbaiki atau terbukti hanya bersifat sementara.

28. Penanaman Berulang Dapat Menjadi Pemborosan

Penanaman berulang pada lokasi yang sama sering terlihat sebagai komitmen tinggi.

Namun, apabila penyebab kegagalan tidak diperbaiki, kegiatan tersebut hanya mengulang:

  • pembelian bibit;
  • pengangkutan;
  • acara seremonial;
  • dokumentasi;
  • kematian tanaman;
  • dan penyulaman.

Anggaran seharusnya dapat dialihkan untuk:

  • survei hidrologi;
  • perbaikan aliran;
  • pemantauan sedimen;
  • pelatihan masyarakat;
  • pengamanan lahan;
  • atau perlindungan regenerasi alami.

Restorasi yang baik tidak diukur dari seberapa sering penanaman dilakukan, tetapi dari seberapa jauh ekosistem mampu pulih dan bertahan.

29. Penanaman Sembarangan Dapat Menimbulkan Greenwashing

Penanaman mangrove mudah digunakan sebagai simbol kepedulian lingkungan.

Kegiatan dapat menghasilkan:

  • foto;
  • sertifikat;
  • video;
  • angka jumlah bibit;
  • dan publikasi perusahaan.

Namun, klaim lingkungan menjadi bermasalah apabila program tidak menjelaskan:

  • lokasi;
  • jenis;
  • waktu;
  • survival rate;
  • metode monitoring;
  • penyulaman;
  • status lahan;
  • dan hasil jangka panjang.

Klaim seperti “menanam 10.000 pohon” menyesatkan apabila yang sebenarnya dilakukan adalah menancapkan 10.000 propagul tanpa pemantauan.

Penanaman yang bertanggung jawab harus berani melaporkan:

  • tanaman hidup;
  • tanaman mati;
  • tanaman hilang;
  • penyebab kematian;
  • dan perubahan tindakan.

30. Klaim Karbon Tidak Dapat Dibuat dari Jumlah Bibit

Jumlah bibit yang ditanam tidak dapat langsung dikalikan dengan satu angka serapan karbon per pohon.

Perhitungan karbon membutuhkan:

  • jumlah tanaman hidup;
  • pertumbuhan diameter;
  • biomassa;
  • luas;
  • jenis;
  • kondisi tanah;
  • baseline;
  • periode monitoring;
  • dan risiko kehilangan.

Bibit yang mati tidak memberikan manfaat penyimpanan karbon jangka panjang seperti pohon yang tumbuh.

Selain itu, sebagian besar karbon mangrove sering berada dalam tanah. Penanaman pohon tanpa menjaga hidrologi dan sedimen tidak otomatis memulihkan karbon ekosistem.

Karena itu, penanaman sembarangan juga dapat menghasilkan klaim mitigasi iklim yang tidak memiliki dasar kuat.

Kapan Mangrove Tidak Perlu Ditanam?

Mangrove tidak perlu ditanam apabila:

  • regenerasi alami sudah berlangsung;
  • sumber propagul tersedia;
  • kondisi hidrologi mulai pulih;
  • lokasi merupakan habitat pesisir lain;
  • sedimen masih terlalu tidak stabil;
  • penyebab kerusakan belum diatasi;
  • atau konflik lahan belum selesai.

Tindakan yang lebih tepat dapat berupa:

  • melindungi pohon induk;
  • menjaga semai alami;
  • membuka kembali aliran pasang;
  • mengendalikan sampah;
  • menghentikan penebangan;
  • mengatur jalur perahu;
  • dan mengurangi gangguan.

Pendekatan restorasi ekologis menempatkan penanaman sebagai salah satu pilihan, bukan tindakan wajib. Penanaman dilakukan ketika regenerasi alami tidak mencukupi setelah kondisi habitat dipulihkan.

Kapan Penanaman Mangrove Diperlukan?

Penanaman dapat dilakukan apabila:

  1. lokasi memang merupakan atau pernah menjadi habitat mangrove;
  2. penyebab kerusakan telah diketahui;
  3. tekanan utama telah dihentikan;
  4. hidrologi sudah berfungsi atau telah dipulihkan;
  5. elevasi dan sedimen sesuai;
  6. energi gelombang dapat ditoleransi;
  7. sumber propagul alami tidak tersedia;
  8. regenerasi alami tidak mencukupi;
  9. jenis lokal yang sesuai telah ditentukan;
  10. status lahan jelas;
  11. masyarakat menyetujui penggunaan lokasi;
  12. dan tersedia rencana monitoring serta pengelolaan jangka panjang.

Penanaman juga dapat digunakan untuk:

  • pengayaan jenis;
  • mengisi celah tertentu;
  • mempercepat pemulihan pada area terbatas;
  • atau membantu lokasi yang terisolasi dari sumber propagul.

Jumlah tanaman tetap harus mengikuti kebutuhan ekologis.

Langkah Sebelum Menanam Mangrove

1. Tentukan Tujuan Program

Tujuan harus jelas, misalnya:

  • memulihkan bekas tambak;
  • memperbaiki habitat;
  • melindungi tegakan yang rusak;
  • memperkaya jenis;
  • atau mendukung regenerasi.

Tujuan “menanam sebanyak mungkin bibit” tidak cukup.

2. Pelajari Sejarah Lokasi

Cari tahu:

  • apakah mangrove pernah tumbuh;
  • kapan hilang;
  • penyebab kerusakan;
  • perubahan garis pantai;
  • serta riwayat penggunaan lahan.

Gunakan:

  • citra satelit;
  • peta;
  • foto lama;
  • dokumen;
  • dan pengetahuan masyarakat.

3. Identifikasi Ekosistem yang Sudah Ada

Pastikan lokasi bukan:

  • padang lamun;
  • dataran lumpur alami;
  • terumbu;
  • pantai peneluran;
  • atau habitat penting lain.

4. Periksa Hidrologi

Amati:

  • arah masuk air;
  • arah keluar air;
  • saluran;
  • hambatan;
  • lama genangan;
  • dan kedalaman.

5. Ukur Elevasi

Bandingkan calon lokasi dengan tegakan mangrove alami di sekitarnya.

6. Pantau Erosi dan Sedimentasi

Tentukan apakah permukaan tanah:

  • bertambah;
  • stabil;
  • atau terus berkurang.

7. Ukur Salinitas

Lakukan pada beberapa titik dan waktu karena salinitas berubah mengikuti pasang dan musim.

8. Identifikasi Jenis Referensi

Periksa jenis yang tumbuh alami pada kondisi serupa.

Jangan memilih jenis hanya karena bibitnya tersedia.

9. Periksa Regenerasi Alami

Cari:

  • propagul;
  • semai;
  • pancang;
  • dan pohon induk.

10. Peta Penggunaan Masyarakat

Tandai:

  • jalur perahu;
  • tambak;
  • wilayah tangkap;
  • lokasi mencari kerang;
  • dan akses pesisir.

11. Pastikan Status Lahan

Hindari penanaman sebelum kepemilikan, hak kelola, dan tanggung jawab jangka panjang jelas.

12. Lakukan Uji Skala Kecil

Gunakan petak percobaan sebelum menanam dalam jumlah besar.

Pantau tanaman melewati:

  • pasang tinggi;
  • musim gelombang;
  • musim kemarau;
  • dan musim hujan.

13. Susun Rencana Monitoring

Monitoring harus mencakup:

  • survival rate;
  • pertumbuhan;
  • kesehatan tanaman;
  • erosi;
  • sedimentasi;
  • salinitas;
  • regenerasi alami;
  • dan gangguan.

14. Siapkan Pengelolaan Adaptif

Hasil monitoring harus digunakan untuk mengubah:

  • jenis;
  • jarak;
  • waktu;
  • lokasi;
  • teknik;
  • atau keputusan untuk menghentikan penanaman.

Tanda Lokasi Belum Siap Ditanami

Penanaman perlu ditunda apabila:

  • gelombang masih terlalu besar;
  • sedimen terus hilang;
  • lokasi terlalu dalam;
  • pasang tidak dapat masuk;
  • air terjebak terlalu lama;
  • salinitas sangat tinggi;
  • jenis belum ditentukan;
  • regenerasi alami belum diperiksa;
  • konflik lahan belum selesai;
  • masyarakat belum dilibatkan;
  • penanaman sebelumnya gagal berulang;
  • atau penyebab kerusakan belum diketahui.

Menunda penanaman pada lokasi yang belum siap merupakan keputusan profesional.

Hal tersebut lebih bertanggung jawab daripada memaksakan kegiatan dan kehilangan seluruh bibit.

Tanda Lokasi Berpotensi Siap Ditanami

Lokasi dapat dipertimbangkan apabila:

  • pernah menjadi habitat mangrove;
  • terdapat tegakan referensi di sekitar lokasi;
  • hidrologi masih berfungsi;
  • elevasi sesuai;
  • sedimen relatif stabil;
  • energi gelombang dapat ditoleransi;
  • tidak terdapat habitat lain yang akan rusak;
  • regenerasi alami tidak mencukupi;
  • sumber propagul terbatas;
  • status lahan jelas;
  • masyarakat mendukung;
  • dan monitoring jangka panjang tersedia.

Kelayakan akhir tetap harus ditentukan berdasarkan hasil kajian lapangan.

Kesalahan Umum dalam Penanaman Mangrove

Menanam karena Lokasi Terlihat Berlumpur

Lumpur tidak menjamin elevasi, hidrologi, dan gelombang sesuai.

Menanam Rhizophora di Semua Lokasi

Kemudahan memperoleh propagul tidak menjadikan jenis ini cocok untuk seluruh pantai.

Menanam pada Zona Terlalu Depan

Bibit dapat terlalu lama terendam dan terkena gelombang langsung.

Menanam di Padang Lamun

Tindakan tersebut dapat merusak ekosistem yang sudah sehat.

Menanam di Dataran Lumpur Alami

Habitat burung dan bentos dapat terganggu.

Menanam Sebelum Memperbaiki Hidrologi

Bibit akan menghadapi masalah air yang sama.

Menentukan Lokasi Berdasarkan Akses Acara

Lokasi dekat jalan belum tentu sesuai secara ekologis.

Menentukan Jumlah Bibit Sebelum Menilai Lahan

Desain dipaksa mengikuti target, bukan kondisi habitat.

Menanam Terlalu Rapat

Persaingan meningkat dan struktur tegakan menjadi seragam.

Mengabaikan Semai Alami

Aktivitas penanaman dapat merusak regenerasi yang sudah berlangsung.

Tidak Melibatkan Masyarakat

Tanaman dapat mengganggu akses dan memicu konflik.

Menganggap Ajir Menyelesaikan Semua Masalah

Ajir tidak memperbaiki abrasi, salinitas, dan hidrologi.

Menyulam Tanpa Evaluasi

Bibit pengganti menghadapi penyebab kematian yang sama.

Menghentikan Program Setelah Acara

Bibit memasuki fase paling rentan justru setelah peserta pulang.

Menganggap Survival Rate Tinggi sebagai Keberhasilan Akhir

Ekosistem dapat tetap gagal meskipun banyak tanaman hidup.

Apa Dampak Penanaman Mangrove Sembarangan?

Dampaknya dapat berupa:

  • kematian massal bibit;
  • pemborosan dana;
  • kerusakan padang lamun;
  • hilangnya dataran lumpur;
  • perubahan aliran air;
  • konflik dengan masyarakat;
  • tertutupnya jalur perahu;
  • penumpukan sampah;
  • terbentuknya monokultur;
  • rendahnya keanekaragaman;
  • pengulangan penyulaman;
  • dan munculnya klaim lingkungan yang menyesatkan.

Dampak lain yang sering tidak terlihat adalah hilangnya kepercayaan masyarakat.

Apabila proyek datang berkali-kali, menanam bibit, lalu meninggalkan tanaman mati, warga dapat menganggap program mangrove hanya kegiatan sementara.

Kepercayaan tersebut sulit dipulihkan hanya dengan acara penanaman berikutnya.

Apakah Tidak Menanam Berarti Tidak Peduli?

Tidak.

Keputusan untuk tidak menanam dapat menjadi pilihan ekologis yang paling bertanggung jawab.

Tidak menanam mungkin berarti:

  • melindungi lamun;
  • mempertahankan dataran lumpur;
  • memberi ruang regenerasi alami;
  • menghindari konflik;
  • atau menunggu sedimen stabil.

Restorasi tidak selalu terlihat sebagai barisan bibit.

Tindakan memulihkan saluran, menghentikan penebangan, menjaga pohon induk, dan melindungi semai alami dapat memberikan hasil lebih kuat daripada penanaman massal.

FAO menyatakan bahwa penanaman langsung jarang diperlukan ketika kondisi hidrologi telah sesuai dan mangrove dapat kembali melalui penyebaran alami.

Jadi, Mengapa Mangrove Tidak Boleh Ditanam Sembarangan?

Mangrove tidak boleh ditanam sembarangan karena keberhasilannya ditentukan oleh hubungan yang kompleks antara jenis tanaman, elevasi, pasang surut, hidrologi, salinitas, sedimen, gelombang, ekosistem lain, dan penggunaan ruang masyarakat.

Kesalahan pada satu unsur dapat menyebabkan seluruh program gagal.

Bibit yang sehat tetap dapat mati apabila:

  • ditanam terlalu rendah;
  • ditempatkan pada pantai tererosi;
  • menggunakan jenis yang salah;
  • atau berada pada lokasi dengan aliran air yang rusak.

Penanaman juga dapat menimbulkan kerusakan apabila dilakukan pada:

  • padang lamun;
  • dataran lumpur alami;
  • jalur perahu;
  • tambak aktif;
  • dan habitat pesisir lain.

Karena itu, penanaman mangrove harus menjadi hasil dari kajian, bukan menjadi kegiatan pertama.

Urutan yang lebih bertanggung jawab adalah:

memahami lokasi → mengidentifikasi penyebab kerusakan → memulihkan hidrologi → melindungi regenerasi alami → menentukan kebutuhan intervensi → menanam apabila memang diperlukan → memantau dalam jangka panjang.

Mangrove tidak membutuhkan sebanyak mungkin bibit.

Mangrove membutuhkan habitat yang memungkinkan bibit tumbuh menjadi semai, pancang, pohon, dan akhirnya membentuk generasi baru.

Pertanyaan utama bukan hanya:

“Apakah bibit dapat ditanam di sini?”

Melainkan:

“Apakah tanaman tersebut dapat hidup, berkembang, bereproduksi, dan membentuk ekosistem tanpa merusak habitat serta kehidupan masyarakat yang telah ada?”

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah mangrove dapat ditanam di semua pantai?

Tidak. Mangrove hanya dapat tumbuh pada lokasi dengan pasang surut, elevasi, sedimen, salinitas, dan energi gelombang yang sesuai.

Mengapa mangrove tidak boleh ditanam di padang lamun?

Padang lamun merupakan ekosistem penting. Penanaman mangrove dapat mengubah cahaya, arus, dan sedimentasi serta menggantikan habitat lamun.

Apakah semua pantai berlumpur cocok untuk mangrove?

Tidak. Dataran lumpur dapat terlalu rendah, terus tererosi, atau merupakan habitat alami bagi bentos dan burung air.

Mengapa Rhizophora tidak cocok ditanam di semua lokasi?

Rhizophora memiliki kebutuhan elevasi, genangan, sedimen, dan energi gelombang tertentu. Kemudahan menanam propagulnya tidak membuatnya cocok untuk semua pantai.

Apakah mangrove dapat langsung ditanam di pantai abrasi?

Belum tentu. Jika sedimen terus hilang, bibit akan tercabut. Penyebab abrasi dan kestabilan sedimen harus ditangani terlebih dahulu.

Apakah bekas tambak dapat langsung ditanami mangrove?

Tidak selalu. Hidrologi, tanggul, saluran, elevasi, salinitas, kualitas tanah, dan status lahannya perlu diperiksa.

Apakah mangrove harus selalu ditanam untuk restorasi?

Tidak. Pemulihan hidrologi dan perlindungan regenerasi alami sering dapat mengembalikan mangrove tanpa penanaman massal.

Apakah lokasi yang memiliki semai alami masih perlu ditanami?

Belum tentu. Semai alami sebaiknya dilindungi. Penanaman hanya dilakukan apabila regenerasi tidak mencukupi atau pengayaan jenis benar-benar dibutuhkan.

Mengapa penanaman terlalu rapat tidak dianjurkan?

Tanaman akan bersaing mendapatkan cahaya, ruang akar, unsur hara, dan ruang tajuk ketika tumbuh.

Apakah survival rate tinggi berarti penanaman berhasil?

Belum tentu. Pertumbuhan, regenerasi, hidrologi, fauna, struktur tegakan, dan fungsi ekosistem juga harus dinilai.

Apakah bibit mati harus langsung disulam?

Tidak. Penyebab kematian perlu diketahui dan diperbaiki terlebih dahulu.

Apakah keputusan tidak menanam dapat disebut restorasi?

Bisa. Perlindungan tegakan, pemulihan aliran air, pengendalian gangguan, dan fasilitasi regenerasi alami merupakan bagian penting restorasi. (ADM).

Daftar Pustaka

Bosire, J. O., Dahdouh-Guebas, F., Walton, M., Crona, B. I., Lewis, R. R., Field, C., Kairo, J. G., & Koedam, N. (2008). Functionality of restored mangroves: A review. Aquatic Botany, 89(2), 251–259.

Dale, P. E. R., Knight, J. M., & Dwyer, P. G. (2014). Mangrove rehabilitation: A review focusing on ecological and institutional issues. Wetlands Ecology and Management, 22, 587–604.

Erftemeijer, P. L. A., & Lewis, R. R. III. (2000). Planting mangroves on intertidal mudflats: Habitat restoration or habitat conversion? Proceedings of the ECOTONE VIII Seminar.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (1994). Mangrove forest management guidelines. FAO Forestry Paper No. 117. Rome: FAO.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2006). Mangrove guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO Regional Office for Asia and the Pacific.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (n.d.). Mangrove ecosystem restoration and management. Sustainable Forest Management Toolbox. Rome: FAO.

Kamali, B., Hashim, R., Akib, S., & Fayyadh, M. M. (2011). Mangrove restoration without planting. Ecological Engineering, 37(2), 387–391.

Kodikara, K. A. S., Mukherjee, N., Jayatissa, L. P., Dahdouh-Guebas, F., & Koedam, N. (2017). Have mangrove restoration projects worked? An in-depth study in Sri Lanka. Restoration Ecology, 25(5), 705–716.

Krauss, K. W., Lovelock, C. E., McKee, K. L., López-Hoffman, L., Ewe, S. M. L., & Sousa, W. P. (2008). Environmental drivers in mangrove establishment and early development: A review. Aquatic Botany, 89(2), 105–127.

Lewis, R. R. III. (2005). Ecological engineering for successful management and restoration of mangrove forests. Ecological Engineering, 24(4), 403–418.

Lewis, R. R. III, & Brown, B. (2014). Ecological mangrove rehabilitation: A field manual for practitioners. Mangrove Action Project dan Canadian International Development Agency.

Primavera, J. H., & Esteban, J. M. A. (2008). A review of mangrove rehabilitation in the Philippines: Successes, failures and future prospects. Wetlands Ecology and Management, 16(3), 173–253.

Proisy, C., Viennois, G., Sidik, F., Andayani, A., Enright, J. A., Guitet, S., Gusmawati, N., Lemonnier, H., Muthusankar, G., Olagoke, A., Prosperi, J., Rahmania, R., Ricout, A., Soulard, B., & Suhardjono. (2018). Monitoring mangrove forests after aquaculture abandonment using time series of very high spatial resolution satellite images: A case study from the Perancak estuary, Bali, Indonesia. Marine Pollution Bulletin, 131, 61–71.

Samson, M. S., & Rollon, R. N. (2008). Growth performance of planted mangroves in the Philippines: Revisiting forest management strategies. Ambio, 37(4), 234–240.

van Loon, A. F., Dijksma, R., & van Mensvoort, M. E. F. (2007). Hydrological classification in mangrove areas: A case study in Can Gio, Vietnam. Aquatic Botany, 87(1), 80–82.

Wetlands International. (2016). Mangrove restoration: To plant or not to plant? Wetlands International.

Wetlands International, Global Mangrove Alliance, & Blue Carbon Initiative. (2023). Best practice guidelines for mangrove restoration.

Wodehouse, D. C. J., & Rayment, M. B. (2019). Mangrove area and propagule number planting targets produce sub-optimal rehabilitation and afforestation outcomes. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 222, 91–102.

No comments:

Post a Comment