Narasi tersebut mudah dipahami:
Perusahaan menghasilkan emisi. Mangrove menyerap karbon. Keduanya dianggap saling meniadakan.
Namun, secara ilmiah dan tata kelola iklim, hubungan tersebut jauh lebih kompleks.
Net zero bukan istilah umum untuk menyebut kegiatan lingkungan. Net zero memiliki konsekuensi pengukuran, target, pengurangan emisi, batas organisasi, periode waktu, penggunaan penyerapan karbon, dan pengendalian klaim.
IPCC mendefinisikan net zero emissions sebagai kondisi ketika emisi gas rumah kaca antropogenik ke atmosfer diseimbangkan oleh penghilangan antropogenik dalam periode tertentu. Pencapaian net zero tetap membutuhkan pengurangan emisi yang mendalam di berbagai sektor, sementara penghilangan karbon digunakan untuk menyeimbangkan emisi residu yang benar-benar sulit dihindari.
Karena itu, pertanyaan utamanya bukan hanya:
“Apakah mangrove dapat menyerap karbon?”
Jawabannya adalah ya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah perusahaan telah mengurangi emisinya secara mendalam, mengukur emisi residunya secara benar, dan menggunakan penyerapan mangrove dengan integritas yang cukup untuk membuat klaim net zero?”
Jawabannya tidak selalu ya.
Apa Arti Net Zero yang Sebenarnya?
Net zero bukan kondisi ketika seluruh emisi perusahaan langsung menjadi nol.
Dalam praktiknya, perusahaan terlebih dahulu harus mengurangi emisi secara mendalam di dalam operasional dan rantai nilainya. Setelah berbagai upaya pengurangan yang layak dilakukan, mungkin masih terdapat sebagian emisi yang secara teknis atau ekonomi sangat sulit dihilangkan.
Emisi yang tersisa tersebut disebut sebagai emisi residu.
Emisi residu kemudian perlu dinetralkan melalui penghilangan karbon dari atmosfer dan penyimpanan yang memiliki ketahanan memadai.
SBTi menjelaskan bahwa perusahaan yang hendak mencapai net zero perlu memenuhi target pengurangan emisi jangka panjang, kemudian menetralkan emisi residu yang masih tersisa. Dalam standar yang berlaku, kredit karbon tidak dapat digunakan sebagai pengganti pencapaian target pengurangan emisi dalam rantai nilai perusahaan.
Urutan Tindakan Menuju Net Zero
Secara sederhana, jalur yang berintegritas terdiri atas beberapa tahapan.
1. Mengukur Emisi
Perusahaan harus mengetahui sumber emisinya.
Pengukuran dapat mencakup:
- bahan bakar;
- listrik;
- proses produksi;
- kendaraan;
- perjalanan dinas;
- pengadaan barang;
- logistik;
- limbah;
- penggunaan produk;
- rantai pasok;
- perubahan penggunaan lahan.
Tanpa inventarisasi emisi, perusahaan tidak mengetahui berapa besar emisi yang harus dikurangi.
2. Menetapkan Target Pengurangan
Perusahaan perlu menetapkan target jangka pendek dan jangka panjang yang selaras dengan ilmu iklim.
Target harus memiliki:
- tahun dasar;
- batas organisasi;
- cakupan emisi;
- indikator;
- jadwal;
- strategi pelaksanaan;
- mekanisme pemantauan.
3. Mengurangi Emisi Secara Langsung
Perusahaan perlu melakukan perubahan nyata, seperti:
- meningkatkan efisiensi energi;
- beralih ke energi rendah karbon;
- mengurangi penggunaan bahan bakar fosil;
- memperbaiki proses produksi;
- mengubah sistem transportasi;
- mengurangi limbah;
- mendesain ulang produk;
- memperbaiki rantai pasok;
- mengurangi perjalanan beremisi tinggi.
4. Menangani Emisi Residu
Setelah pengurangan mendalam dilakukan, emisi yang masih benar-benar sulit dihindari dapat dinetralkan melalui penghilangan karbon.
5. Membiayai Mitigasi Tambahan
Perusahaan juga dapat mendukung proyek konservasi, restorasi, energi bersih, atau iklim lainnya sebagai kontribusi tambahan di luar rantai nilainya.
Kontribusi tambahan tersebut penting, tetapi tidak boleh digunakan untuk menghindari pengurangan emisi utama.
Apakah Mangrove Dapat Berkontribusi terhadap Net Zero?
Mangrove dapat menjadi bagian dari strategi iklim.
Ekosistem ini menyimpan karbon pada:
- batang;
- cabang;
- daun;
- akar;
- serasah;
- kayu mati;
- tanah;
- sedimen.
Sebagian besar cadangan karbon mangrove bahkan dapat berada di bawah permukaan, terutama pada tanah dan sedimen yang kaya bahan organik.
Restorasi mangrove dapat meningkatkan penyerapan karbon apabila ekosistem yang sebelumnya rusak berhasil dipulihkan. Konservasi mangrove juga dapat membantu menghindari emisi yang mungkin terjadi apabila kawasan ditebang, dikeringkan, atau dikonversi.
Namun, kontribusi tersebut harus dibedakan secara jelas.
Konservasi Mangrove
Konservasi melindungi karbon yang telah tersimpan dan membantu mencegah pelepasan emisi akibat kerusakan.
Restorasi Mangrove
Restorasi dapat membantu memulihkan proses ekologis dan meningkatkan penyimpanan karbon dari waktu ke waktu.
Penanaman Mangrove
Penanaman merupakan salah satu bentuk intervensi yang mungkin digunakan dalam restorasi, tetapi tidak selalu diperlukan dan tidak otomatis berhasil.
Kredit Karbon Mangrove
Kredit karbon merupakan unit yang diterbitkan melalui skema tertentu setelah memenuhi persyaratan metodologi, pengukuran, validasi, verifikasi, registrasi, dan pengendalian risiko.
Klaim Net Zero
Klaim net zero merupakan pernyataan mengenai keseimbangan emisi dan penghilangan karbon dalam batas, periode, dan kerangka pertanggungjawaban tertentu.
Kelima hal tersebut tidak boleh dianggap sama.
Menanam Mangrove Tidak Otomatis Menghasilkan Penghilangan Karbon
Bibit mangrove yang dimasukkan ke dalam substrat belum langsung menjadi penghilangan karbon yang dapat diklaim.
Bibit masih menghadapi kemungkinan:
- mati;
- tersapu gelombang;
- tertutup sedimen;
- rusak karena sampah;
- terganggu oleh aktivitas manusia;
- mengalami pertumbuhan lambat;
- gagal membentuk tegakan;
- ditanam pada habitat yang tidak sesuai.
Karbon baru terakumulasi ketika tanaman tumbuh dan proses ekosistem berkembang.
Karbon Masa Depan Tidak Sama dengan Karbon Hari Ini
Perusahaan dapat menghasilkan emisi dalam satu hari, tetapi tanaman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyerap karbon.
Apabila perusahaan menghasilkan 1.000 ton emisi pada tahun ini, kemudian mengandalkan perkiraan penyerapan mangrove selama 20 atau 30 tahun, terdapat ketidaksesuaian waktu.
Emisi dilepaskan sekarang.
Penyerapan terjadi secara bertahap pada masa depan.
Sebagian tanaman mungkin mati sebelum penyerapan yang diproyeksikan tercapai.
Karena itu, proyeksi masa depan tidak boleh diperlakukan seolah-olah seluruh manfaat karbon telah terjadi pada saat bibit ditanam.
Jumlah Bibit Tidak Dapat Langsung Diubah Menjadi Ton Karbon
Salah satu bentuk penyederhanaan yang sering muncul adalah:
“Satu pohon mangrove menyerap sekian kilogram karbon.”
Angka tersebut kemudian dikalikan dengan jumlah bibit yang ditanam.
Cara tersebut bermasalah karena penyerapan karbon dipengaruhi oleh:
- jenis mangrove;
- umur;
- diameter;
- tinggi;
- kondisi tanah;
- salinitas;
- hidrologi;
- kerapatan;
- pertumbuhan;
- tingkat kematian;
- gangguan;
- lokasi;
- periode penghitungan.
Bibit berusia beberapa bulan tentu tidak memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang sama dengan pohon dewasa.
Tanaman yang mati juga tidak memberikan penyerapan sebagaimana proyeksi awal.
Karbon Pohon Berbeda dengan Karbon Ekosistem
Menghitung karbon mangrove hanya dari biomassa pohon juga tidak cukup.
Ekosistem mangrove menyimpan karbon dalam berbagai kolam, terutama:
- biomassa atas permukaan;
- biomassa bawah permukaan;
- kayu mati;
- serasah;
- tanah;
- sedimen.
Sebaliknya, gangguan hidrologi, pengeringan, pembukaan lahan, dan perubahan penggunaan kawasan dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan.
Karena itu, klaim karbon harus menilai ekosistem secara lebih luas daripada jumlah tanaman.
Kapan Klaim “Net Zero dengan Menanam Mangrove” Menjadi Menyesatkan?
Klaim tersebut menjadi menyesatkan ketika penanaman digunakan untuk menciptakan kesan bahwa emisi telah diselesaikan, padahal syarat utama net zero belum dipenuhi.
1. Emisi Perusahaan Tidak Dihitung secara Lengkap
Perusahaan mungkin hanya menghitung emisi dari satu kegiatan, seperti perjalanan peserta atau penggunaan kendaraan pada acara tertentu.
Namun, perusahaan kemudian menggunakan istilah yang lebih luas, seperti:
- perusahaan net zero;
- produk bebas karbon;
- operasional netral karbon;
- bisnis ramah iklim.
Padahal, emisi dari produksi, listrik, rantai pasok, distribusi, penggunaan produk, dan limbah tidak dihitung.
Batas Klaim Harus Jelas
Perusahaan harus menjelaskan apakah klaim berlaku untuk:
- satu acara;
- satu perjalanan;
- satu produk;
- satu fasilitas;
- satu unit bisnis;
- seluruh perusahaan;
- satu periode pelaporan.
Klaim yang lebih luas daripada inventarisasi emisinya dapat menyesatkan publik.
2. Penanaman Menggantikan Pengurangan Emisi
Perusahaan terus menggunakan bahan bakar fosil, mempertahankan proses produksi beremisi tinggi, atau meningkatkan emisi dari tahun ke tahun.
Namun, perusahaan mengandalkan penanaman mangrove untuk menyatakan dirinya telah menjadi net zero.
Pendekatan tersebut membalik urutan tanggung jawab.
Penyerapan karbon seharusnya digunakan untuk menangani emisi residu setelah pengurangan mendalam, bukan untuk membenarkan emisi yang sebenarnya masih dapat dicegah.
SBTi menegaskan bahwa penggunaan kredit karbon harus melengkapi, bukan menggantikan, dekarbonisasi operasi dan rantai nilai perusahaan.
3. Tidak Ada Tahun Dasar dan Jalur Pengurangan
Klaim net zero yang kredibel membutuhkan target dan rencana transisi.
Perusahaan perlu menjelaskan:
- tahun dasar;
- emisi awal;
- target jangka pendek;
- target jangka panjang;
- jalur pengurangan;
- investasi;
- teknologi;
- indikator kemajuan;
- emisi residu;
- mekanisme neutralisasi.
Tanpa informasi tersebut, istilah net zero hanya menjadi slogan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan rencana transisi, target sementara, pengurangan emisi nyata, penghentian ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta pembatasan penggunaan kredit karbon sebagai unsur penting integritas komitmen net zero.
4. Seluruh Emisi Langsung “Ditebus”
Perusahaan dapat menghitung total emisinya, membeli atau mendanai penanaman, lalu menyatakan seluruh emisi telah ditebus.
Masalahnya, perusahaan mungkin belum membedakan antara:
- emisi yang dapat dikurangi;
- emisi yang sulit dikurangi;
- emisi residu;
- kontribusi iklim tambahan;
- penghindaran emisi;
- penghilangan karbon.
Dalam net zero yang berintegritas, tidak seluruh emisi seharusnya langsung dialihkan kepada mekanisme kompensasi.
Prioritas tetap berada pada pengurangan langsung.
5. Karbon Dihitung dari Jumlah Bibit
Perusahaan menggunakan rumus sederhana:
Jumlah bibit × perkiraan serapan per pohon = emisi yang ditebus.
Penghitungan tersebut sering mengabaikan:
- tingkat kematian;
- umur;
- periode pertumbuhan;
- variasi jenis;
- kondisi lokasi;
- karbon tanah;
- ketidakpastian;
- risiko kerusakan;
- skenario tanpa proyek;
- kebocoran;
- tambahan manfaat.
Angka yang dihasilkan mungkin terlihat pasti, tetapi sebenarnya dibangun dari banyak asumsi.
6. Tidak Ada Baseline
Tanpa baseline, tidak diketahui:
- kondisi awal tutupan;
- jumlah vegetasi yang telah ada;
- cadangan karbon awal;
- penggunaan lahan;
- ancaman kerusakan;
- kemampuan regenerasi alami;
- skenario tanpa program.
Perusahaan kemudian berisiko mengklaim karbon yang sebenarnya telah tersimpan sebelum program dimulai.
Karbon Lama Bukan Hasil Penanaman Baru
Apabila lokasi telah memiliki mangrove, seluruh karbon kawasan tidak dapat diklaim sebagai hasil program baru.
Kontribusi program perlu dibedakan dari proses ekologis yang telah terjadi sebelumnya.
7. Tidak Ada Additionality
Additionality berarti manfaat karbon terjadi karena adanya program dan tidak akan terjadi dalam skenario tanpa program.
Sebagai contoh, penanaman mungkin tidak memiliki additionality yang kuat apabila:
- kawasan sebenarnya dapat pulih secara alami;
- kegiatan diwajibkan oleh hukum;
- program telah dibiayai pihak lain;
- penanaman memang akan dilakukan tanpa pembiayaan karbon;
- karbon yang diklaim telah masuk dalam program lain.
Tanpa additionality, perusahaan dapat mengklaim manfaat yang sebenarnya akan tetap terjadi.
8. Risiko Kebocoran Tidak Dinilai
Kebocoran atau leakage terjadi ketika kegiatan di satu lokasi memindahkan emisi atau tekanan ke lokasi lain.
Misalnya, program melindungi satu kawasan mangrove, tetapi aktivitas penebangan atau pembukaan tambak berpindah ke desa sebelah.
Di atas kertas, lokasi proyek terlihat membaik.
Namun, secara keseluruhan, tekanan hanya berpindah.
9. Permanensi Tidak Dijamin
Karbon mangrove dapat disimpan dalam waktu lama apabila ekosistem tetap terlindungi.
Namun, karbon tersebut dapat kembali dilepaskan akibat:
- konversi lahan;
- penebangan;
- kebakaran;
- perubahan hidrologi;
- abrasi berat;
- pembangunan;
- pencemaran;
- bencana;
- konflik tenurial;
- kegagalan pengelolaan.
IPCC menjelaskan bahwa penghilangan karbon mencakup kegiatan yang mengeluarkan karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya secara tahan lama. Ketahanan penyimpanan menjadi unsur penting ketika penghilangan digunakan untuk menyeimbangkan emisi residu.
Karbon Fosil dan Karbon Biologis Memiliki Risiko Berbeda
Emisi karbon fosil berasal dari karbon yang sebelumnya tersimpan dalam formasi geologis selama waktu yang sangat panjang.
Ketika dilepaskan, karbon tersebut menambah konsentrasi karbon di atmosfer.
Sementara itu, karbon yang disimpan dalam ekosistem biologis dapat menghadapi risiko pelepasan kembali apabila ekosistem rusak.
Karena itu, menyeimbangkan emisi fosil yang memiliki dampak sangat panjang dengan penyimpanan biologis yang berisiko mengalami pembalikan memerlukan kehati-hatian tinggi.
10. Tidak Ada Validasi atau Verifikasi
Perusahaan dapat membuat penghitungan sendiri, memilih faktor serapan, dan mengumumkan klaim tanpa pemeriksaan pihak lain.
Tidak semua kontribusi mangrove harus menjadi proyek kredit karbon. Namun, semakin besar klaim yang dibuat, semakin kuat tata kelola yang dibutuhkan.
Klaim yang berkaitan dengan ton karbon perlu didukung oleh:
- metodologi;
- batas proyek;
- data;
- asumsi;
- pengukuran;
- pemantauan;
- pengelolaan ketidakpastian;
- validasi;
- verifikasi;
- pencatatan;
- pencegahan penghitungan ganda.
11. Terjadi Penghitungan Ganda
Penghitungan ganda dapat terjadi ketika satu manfaat karbon diklaim oleh lebih dari satu pihak.
Contohnya:
- perusahaan pendana mengklaim karbon;
- pemilik lahan juga mengklaim karbon;
- pemerintah memasukkan manfaat yang sama dalam inventaris;
- pelaksana menjual manfaat yang sama kepada mitra lain;
- satu penanaman digunakan untuk beberapa sertifikat.
Hak atas klaim karbon harus ditentukan secara jelas.
Sertifikat Penanaman Bukan Sertifikat Karbon
Sertifikat yang menyatakan seseorang atau perusahaan telah mendanai penanaman tidak otomatis memberikan hak untuk mengklaim penurunan emisi atau kredit karbon.
Sertifikat penanaman membuktikan dukungan terhadap kegiatan.
Sertifikat karbon membutuhkan proses dan persyaratan berbeda.
12. Klaim Dibuat Sebelum Manfaat Terjadi
Perusahaan dapat menyatakan telah menetralkan emisi segera setelah penanaman selesai.
Padahal, bibit belum tumbuh dan karbon belum terserap sesuai proyeksi.
Klaim seperti ini menggunakan manfaat masa depan untuk membatalkan emisi masa kini.
Proyeksi Harus Dibedakan dari Hasil Aktual
Perusahaan perlu membedakan antara:
- estimasi penyerapan;
- target penyerapan;
- penyerapan yang dipantau;
- penyerapan yang diverifikasi;
- kredit yang telah diterbitkan;
- kredit yang telah digunakan atau dihentikan.
Istilah tersebut tidak dapat dipertukarkan.
13. Klaim Tidak Menjelaskan Ketidakpastian
Perhitungan karbon ekosistem memiliki ketidakpastian.
Ketidakpastian dapat muncul dari:
- variasi sampel;
- persamaan alometrik;
- kedalaman tanah;
- perubahan kondisi lokasi;
- pertumbuhan tanaman;
- tingkat kematian;
- batas wilayah;
- proyeksi masa depan.
Laporan yang hanya menyajikan satu angka pasti tanpa rentang, asumsi, atau batasan dapat menciptakan kesan ketepatan yang berlebihan.
14. Mangrove Digunakan untuk Mengalihkan Perhatian
Perusahaan dapat menjalankan program mangrove berskala kecil, tetapi mempublikasikannya secara besar-besaran untuk mengalihkan perhatian dari dampak bisnis utamanya.
Hal tersebut dapat terjadi ketika:
- emisi perusahaan terus meningkat;
- target pengurangan tidak tersedia;
- kegiatan utama merusak ekosistem;
- rantai pasok tidak diperbaiki;
- program mangrove tidak sebanding dengan dampak;
- publikasi lebih besar daripada anggaran program.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memasukkan klaim menuju net zero tanpa rencana kredibel sebagai salah satu bentuk greenwashing.
Apakah Carbon Offset Sama dengan Net Zero?
Tidak.
Carbon offset merupakan mekanisme untuk menyeimbangkan sejumlah emisi melalui pengurangan atau penghilangan emisi di tempat lain.
Net zero merupakan kondisi yang lebih luas dan menuntut pengurangan emisi secara mendalam sebelum neutralisasi emisi residu.
Perusahaan dapat membeli kredit karbon tanpa menjadi net zero.
Perusahaan juga dapat mendanai mangrove sebagai kontribusi iklim tanpa mengklaim net zero.
Kontribusi Iklim Dapat Lebih Jujur daripada Klaim Netralitas
Perusahaan dapat menggunakan pernyataan seperti:
“Kami mendukung rehabilitasi mangrove sebagai kontribusi tambahan bagi iklim, biodiversitas, dan masyarakat pesisir.”
Pernyataan tersebut tidak mengklaim bahwa emisi perusahaan telah hilang.
Bahasa kontribusi dapat lebih tepat ketika perusahaan:
- masih dalam proses mengukur emisi;
- belum memiliki target net zero;
- belum mencapai pengurangan mendalam;
- tidak memiliki kredit karbon terverifikasi;
- hanya mendanai kegiatan penanaman atau restorasi.
VCMI menempatkan penggunaan kredit karbon berkualitas sebagai tindakan tambahan di luar pengurangan emisi yang selaras dengan sains, bukan pengganti dekarbonisasi perusahaan.
Perbedaan Menghindari Emisi dan Menghilangkan Karbon
Dalam proyek mangrove, manfaat iklim dapat berasal dari dua jalur berbeda.
Penghindaran Emisi
Konservasi mencegah mangrove rusak sehingga karbon yang tersimpan tidak terlepas.
Penghilangan Karbon
Restorasi atau pertumbuhan ekosistem menarik karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa serta tanah.
Keduanya bermanfaat, tetapi tidak identik.
Untuk menetralkan emisi residu pada kondisi net zero, standar tertentu menekankan penggunaan penghilangan karbon, bukan sekadar penghindaran emisi.
Karena itu, perusahaan tidak boleh menggunakan seluruh jenis kredit secara sembarangan untuk membuat klaim yang sama.
Mangrove Tetap Penting Meskipun Tidak Digunakan untuk Klaim Net Zero
Kritik terhadap klaim yang berlebihan bukan berarti pendanaan mangrove tidak penting.
Mangrove memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada karbon.
Ekosistem mangrove dapat mendukung:
- habitat ikan;
- habitat kepiting dan moluska;
- tempat mencari makan burung;
- perlindungan pesisir;
- stabilisasi sedimen;
- kualitas perairan;
- mata pencaharian;
- pendidikan;
- penelitian;
- budaya;
- adaptasi perubahan iklim.
Mangrove Tidak Harus Dipaksa Menjadi Alat Kompensasi
Perusahaan dapat mendukung konservasi dan rehabilitasi mangrove karena ekosistem tersebut memang penting.
Dukungan tidak selalu harus diterjemahkan menjadi:
- ton karbon;
- kredit karbon;
- penebusan emisi;
- klaim netralitas;
- klaim net zero.
Kadang-kadang, klaim yang paling jujur adalah menyatakan bahwa perusahaan mendukung pemulihan pesisir tanpa mengklaim seluruh manfaat karbon sebagai miliknya.
Bagaimana Cara Membuat Klaim yang Lebih Bertanggung Jawab?
Perusahaan perlu menyesuaikan bahasa dengan bukti yang tersedia.
Tingkat 1: Dukungan terhadap Penanaman
Apabila perusahaan hanya membiayai bibit dan pelaksanaan, klaim yang sesuai adalah:
“Perusahaan mendukung penanaman 10.000 bibit mangrove.”
Perusahaan belum dapat menyatakan bahwa ekosistem pulih atau emisi telah dinetralkan.
Tingkat 2: Dukungan terhadap Rehabilitasi
Apabila program mencakup kajian lokasi, pemeliharaan, monitoring, dan perbaikan ekologis, perusahaan dapat menyatakan:
“Perusahaan mendukung rehabilitasi mangrove pada kawasan seluas lima hektare.”
Klaim harus disertai indikator dan hasil pemantauan.
Tingkat 3: Kontribusi Iklim
Apabila terdapat estimasi karbon yang transparan, perusahaan dapat menyatakan:
Kata diperkirakan dan periode waktu perlu disebutkan.
Tingkat 4: Kredit Karbon
Apabila proyek telah mengikuti metodologi, validasi, verifikasi, dan registrasi, perusahaan dapat menjelaskan jumlah kredit yang diterbitkan atau dihentikan.
Namun, penggunaan kredit tetap harus mengikuti aturan klaim yang berlaku.
Tingkat 5: Klaim Net Zero
Klaim ini membutuhkan bukti bahwa perusahaan telah:
- mengukur emisi secara lengkap;
- menetapkan target berbasis sains;
- melakukan pengurangan mendalam;
- menangani emisi cakupan yang relevan;
- mengidentifikasi emisi residu;
- menggunakan penghilangan karbon yang sesuai;
- mencegah penghitungan ganda;
- melakukan pelaporan transparan;
- memperoleh verifikasi yang memadai.
Menanam mangrove saja tidak memenuhi seluruh persyaratan tersebut.
Pertanyaan yang Harus Diajukan kepada Perusahaan
Sebelum menerima klaim “net zero dengan menanam mangrove”, publik perlu menanyakan beberapa hal.
Tentang Emisi
- Berapa total emisi perusahaan?
- Cakupan apa yang dihitung?
- Apa tahun dasarnya?
- Apakah emisi rantai nilai masuk?
- Apakah emisi meningkat atau menurun?
Tentang Pengurangan
- Berapa persen emisi telah dikurangi?
- Tindakan apa yang dilakukan?
- Apa target jangka pendek?
- Apa target jangka panjang?
- Berapa emisi residu yang tersisa?
Tentang Mangrove
- Di mana lokasinya?
- Berapa luasnya?
- Apakah penanaman diperlukan?
- Apa jenis mangrovenya?
- Berapa tingkat kelangsungan hidupnya?
- Berapa lama dipantau?
- Siapa pengelolanya?
Tentang Karbon
- Apa metodologinya?
- Apa baseline-nya?
- Bagaimana additionality dinilai?
- Apakah karbon tanah diukur?
- Bagaimana risiko permanensi dikelola?
- Bagaimana kebocoran dinilai?
- Apakah terdapat verifikasi?
- Apakah kredit telah diterbitkan?
Tentang Klaim
- Apakah klaim berlaku untuk acara, produk, atau perusahaan?
- Apakah klaim sudah terjadi atau masih proyeksi?
- Siapa yang memiliki hak atas karbon?
- Apakah manfaat yang sama diklaim pihak lain?
- Apakah istilah net zero telah ditinjau secara independen?
Tanda Klaim Net Zero yang Lemah
Klaim perlu dicurigai apabila:
Hanya Menyebut Jumlah Bibit
Tidak ada data karbon, periode, atau tingkat kematian.
Tidak Menjelaskan Pengurangan Emisi
Penanaman menjadi satu-satunya strategi iklim.
Menggunakan Kata “Menebus” secara Mutlak
Seolah-olah seluruh dampak emisi telah hilang.
Tidak Menyebut Batas Klaim
Pembaca tidak mengetahui apakah klaim berlaku untuk acara atau seluruh perusahaan.
Tidak Memiliki Baseline
Karbon awal dan skenario tanpa program tidak diketahui.
Menggunakan Proyeksi sebagai Hasil Aktual
Karbon masa depan diklaim pada hari penanaman.
Tidak Ada Verifikasi
Angka ditentukan sendiri tanpa metodologi terbuka.
Emisi Perusahaan Tetap Meningkat
Program mangrove digunakan untuk membenarkan pertumbuhan emisi.
Publikasi Lebih Besar daripada Program
Klaim dan promosi tidak sebanding dengan dampak lapangan.
Ciri Klaim Iklim yang Lebih Berintegritas
Klaim yang lebih kuat biasanya memiliki karakteristik berikut:
1. Mengutamakan Pengurangan Emisi
Mangrove tidak digunakan sebagai jalan pintas.
2. Menjelaskan Batas Klaim
Objek, periode, dan cakupan dinyatakan secara spesifik.
3. Menggunakan Data Terbuka
Metode, asumsi, dan hasil pemantauan dapat diperiksa.
4. Memisahkan Kontribusi dan Kompensasi
Dukungan terhadap mangrove tidak otomatis disebut sebagai penebusan emisi.
5. Melaporkan Ketidakpastian
Proyeksi tidak disampaikan sebagai kepastian.
6. Mengelola Risiko Jangka Panjang
Permanensi, kebocoran, konflik lahan, dan gangguan ekosistem dinilai.
7. Mencegah Penghitungan Ganda
Hak klaim dan kepemilikan manfaat karbon jelas.
8. Melaporkan Kematian Bibit
Kegagalan tidak disembunyikan.
9. Menggunakan Verifikasi yang Relevan
Semakin besar klaim, semakin kuat pemeriksaan yang dibutuhkan.
10. Mengakui Nilai Mangrove di Luar Karbon
Biodiversitas, masyarakat, hidrologi, dan perlindungan pesisir tetap menjadi bagian utama program.
Dari “Menebus Emisi” Menuju Tanggung Jawab Iklim
Bahasa “menebus emisi” dapat menciptakan kesan bahwa perusahaan cukup membayar program di tempat lain agar tidak perlu mengubah kegiatan utamanya.
Padahal, krisis iklim tidak dapat diselesaikan hanya dengan memindahkan tanggung jawab.
Perusahaan perlu melihat mangrove sebagai bagian dari strategi yang lebih luas:
- mengukur;
- mengurangi;
- mentransformasi;
- membiayai mitigasi tambahan;
- memulihkan ekosistem;
- melaporkan secara transparan.
Mangrove Bukan Penghapus Emisi
Mangrove tidak membuat pembakaran bahan bakar fosil seolah-olah tidak pernah terjadi.
Ekosistem juga memiliki batas.
Luas lahan pesisir terbatas. Tidak semua pantai dapat ditanami. Mangrove tidak boleh menggantikan padang lamun, dataran lumpur, pantai berpasir, atau habitat lain.
Dengan demikian, penggunaan mangrove sebagai solusi iklim tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pengurangan emisi.
Benar atau Menyesatkan?
Klaim “net zero dengan menanam mangrove” dapat memiliki unsur benar apabila mangrove menjadi bagian dari strategi iklim yang menyeluruh, terukur, dan berintegritas.
Klaim tersebut dapat dipertanggungjawabkan apabila perusahaan:
- telah mengurangi emisi secara mendalam;
- hanya menetralkan emisi residu;
- menggunakan penghilangan karbon yang terukur;
- mengelola permanensi;
- mencegah kebocoran;
- memiliki baseline;
- membuktikan additionality;
- melakukan verifikasi;
- menghindari penghitungan ganda;
- membatasi klaim sesuai bukti.
Namun, klaim menjadi menyesatkan apabila perusahaan hanya menanam bibit, mengalikan jumlahnya dengan angka serapan umum, lalu menyatakan seluruh emisinya telah menjadi nol.
Penutup
Klaim net zero dengan menanam mangrove tidak selalu salah, tetapi sangat mudah disalahgunakan.
Mangrove dapat berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim. Ekosistem ini mampu menyimpan karbon, membantu melindungi pesisir, mendukung biodiversitas, dan memperkuat penghidupan masyarakat.
Namun, menanam mangrove bukan pengganti pengurangan emisi.
Bibit bukan kredit karbon.
Jumlah pohon bukan bukti penyerapan.
Sertifikat penanaman bukan sertifikat net zero.
Proyeksi masa depan bukan hasil yang telah terjadi.
Pendanaan mangrove seharusnya menjadi kontribusi tambahan terhadap iklim dan alam, bukan izin untuk terus meningkatkan emisi.
Karena itu, ketika sebuah perusahaan menyatakan:
“Kami telah menjadi net zero karena menanam mangrove,”
publik perlu bertanya:
Berapa emisi yang telah dikurangi?
Berapa emisi residunya?
Berapa karbon yang benar-benar telah diserap?
Bagaimana manfaat tersebut diukur dan diverifikasi?
Siapa yang menjamin mangrove tetap hidup dan terlindungi?
Tanpa jawaban yang transparan, klaim net zero hanya terdengar hijau.
Klaim tersebut belum tentu membuktikan bahwa emisi perusahaan benar-benar telah diselesaikan. (ADM).
Daftar Pustaka
Intergovernmental Panel on Climate Change. 2018. Global Warming of 1.5°C: Annex I—Glossary. Jenewa: IPCC.
Intergovernmental Panel on Climate Change. 2022. Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change—Carbon Dioxide Removal Factsheet. Jenewa: IPCC.
Intergovernmental Panel on Climate Change. 2022. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability—Annex II: Glossary. Cambridge: Cambridge University Press.
Kauffman, J. B., dan Donato, D. C. 2012. Protocols for the Measurement, Monitoring and Reporting of Structure, Biomass and Carbon Stocks in Mangrove Forests. Bogor: Center for International Forestry Research.
Lovelock, C. E., dan Duarte, C. M. 2019. “Dimensions of Blue Carbon and Emerging Perspectives.” Biology Letters, 15(3), 20180781.
Macreadie, P. I., Anton, A., Raven, J. A., Beaumont, N., Connolly, R. M., Friess, D. A., Kelleway, J. J., Kennedy, H., Kuwae, T., Lavery, P. S., Lovelock, C. E., Smale, D. A., Apostolaki, E. T., Atwood, T. B., Baldock, J., Bianchi, T. S., Chmura, G. L., Eyre, B. D., Fourqurean, J. W., Hall-Spencer, J. M., Huxham, M., Hendriks, I. E., Krause-Jensen, D., Laffoley, D., Luisetti, T., Marbà, N., Masque, P., McGlathery, K. J., Megonigal, J. P., Murdiyarso, D., Russell, B. D., Santos, R., Serrano, O., dan Silliman, B. R. 2019. “The Future of Blue Carbon Science.” Nature Communications, 10, 3998.
Murdiyarso, D., Purbopuspito, J., Kauffman, J. B., Warren, M. W., Sasmito, S. D., Donato, D. C., Manuri, S., Krisnawati, H., Taberima, S., dan Kurnianto, S. 2015. “The Potential of Indonesian Mangrove Forests for Global Climate Change Mitigation.” Nature Climate Change, 5, 1089–1092.
Pendleton, L., Donato, D. C., Murray, B. C., Crooks, S., Jenkins, W. A., Sifleet, S., Craft, C., Fourqurean, J. W., Kauffman, J. B., Marbà, N., Megonigal, P., Pidgeon, E., Herr, D., Gordon, D., dan Baldera, A. 2012. “Estimating Global ‘Blue Carbon’ Emissions from Conversion and Degradation of Vegetated Coastal Ecosystems.” PLoS ONE, 7(9), e43542.
Science Based Targets initiative. 2026. Corporate Net-Zero Standard Version 2.0. SBTi.
Science Based Targets initiative. 2026. Corporate Net-Zero Standard Version 2.0: Criteria. SBTi.
United Nations High-Level Expert Group on the Net-Zero Emissions Commitments of Non-State Entities. 2022. Integrity Matters: Net-Zero Commitments by Businesses, Financial Institutions, Cities and Regions. New York: United Nations.
United Nations. Tanpa tahun. Greenwashing: The Deceptive Tactics Behind Environmental Claims. United Nations Climate Action.
Voluntary Carbon Markets Integrity Initiative. 2023. Claims Code of Practice: Building Integrity in Voluntary Carbon Markets. VCMI.
Wylie, L., Sutton-Grier, A. E., dan Moore, A. 2016. “Keys to Successful Blue Carbon Projects: Lessons Learned from Global Case Studies.” Marine Policy, 65, 76–84.

No comments:
Post a Comment