Simbol ini kemudian dikenal juga sebagai Green Roots (GR) atau Akar Hijau (AH).
Sejak awal penciptaannya, simbol tersebut tidak dimaksudkan sebagai identitas eksklusif KeSEMaT.
Sebaliknya, ia dirancang untuk menjadi identitas bersama yang dapat digunakan oleh Mangrover dari berbagai komunitas dan lembaga di seluruh dunia.
Satu akar.
Satu semangat.
Satu identitas.
Mangrover.
Apa Itu Mangrover?
Istilah Mangrover digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki kepedulian, kecintaan, serta keterlibatan terhadap pelestarian ekosistem mangrove.
Mangrover tidak dibatasi oleh profesi atau organisasi tertentu.
Seorang Mangrover dapat berasal dari:
- masyarakat pesisir;
- mahasiswa;
- pelajar;
- peneliti;
- akademisi;
- relawan;
- komunitas;
- organisasi lingkungan;
- pemerintah;
- perusahaan;
- fotografer;
- jurnalis;
- pekerja kreatif;
- praktisi konservasi; hingga
- siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap mangrove.
Dengan pemahaman tersebut, identitas Mangrover berada di atas batas organisasi.
Seseorang dapat menjadi anggota organisasi A, bekerja di lembaga B, berasal dari negara C, dan tetap memiliki satu identitas yang sama ketika berjuang untuk mangrove:
Mangrover.
Inilah gagasan yang kemudian menjadi jiwa dari Bendera Mangrover Dunia.
Sejarah Lahirnya Simbol Mangrover Dunia
Pada 28 Februari 2013, KeSEMaT secara resmi mengumumkan peluncuran Simbol Mangrover.
Arsip KeSEMaT yang dipublikasikan beberapa hari kemudian mencatat bahwa tujuan penciptaannya sejak awal adalah untuk menyatukan Mangrover dunia.
Simbol tersebut diperkenalkan sebagai logo yang dapat digunakan para Mangrover tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia.
KeSEMaT kemudian memperkenalkannya secara lebih luas dalam MANGROVEFIESTA KOMPAS KAMPUS, sebuah kegiatan bertema Pesta MANGROVER Indonesia yang diselenggarakan di Auditorium Imam Bardjo, Universitas Diponegoro, Semarang.
Arsip KeSEMaTBLOG mencatat MANGROVEFIESTA KOMPAS KAMPUS berlangsung pada 12–13 Juni 2013, dengan berbagai kegiatan edukasi, kompetisi, kampanye, dan aksi mangrove.
Momentum tersebut menjadi bagian penting perjalanan simbol yang sebelumnya telah diluncurkan pada Februari 2013 untuk diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Diciptakan oleh Aris Priyono
Aris merupakan salah satu dari sembilan mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang mendirikan KeSEMaT di Teluk Awur, Jepara, pada 9 Oktober 2001.
Dari pengalaman panjang dalam pendidikan, rehabilitasi, kampanye, literasi, dan pengembangan gerakan mangrove tersebut muncul gagasan untuk menghadirkan sebuah identitas visual yang tidak hanya merepresentasikan organisasi.
Yang dibutuhkan adalah simbol untuk semua orang yang mencintai mangrove.
Simbol yang dapat melampaui logo lembaga.
Simbol yang dapat melampaui wilayah.
Bahkan simbol yang dapat melampaui negara.
Lahirlah akar mangrove sebagai Simbol Mangrover Dunia.
Mengapa Menggunakan Akar Rhizophora?
Bentuk utama Simbol Mangrover merupakan siluet akar mangrove dari genus Rhizophora atau bakau.
Pemilihan akar bukan tanpa alasan.
Akar Rhizophora memiliki struktur khas yang tampak saling menyilang, menopang, dan terhubung.
Dalam filosofi Simbol Mangrover, bentuk tersebut diterjemahkan menjadi gambaran manusia yang merangkul, menggandeng, membawa, dan menguatkan satu sama lain.
Inilah inti filosofinya:
sebagaimana akar mangrove saling menopang pohon pada lingkungan pesisir yang dinamis, para Mangrover juga diharapkan saling menopang dalam menjaga mangrove dunia.
Tidak berdiri sendiri.
Tidak berjalan sendiri.
Tidak berjuang sendiri.
Filosofi Green Roots atau Akar Hijau
Simbol Mangrover juga dikenal sebagai Green Roots atau Akar Hijau.
Hijau sebagai Warna Konservasi
Warna hijau merepresentasikan konservasi, harapan, keberlanjutan, dan semangat menyelamatkan ekosistem mangrove.
Dalam rancangan awalnya, simbol dapat berupa akar hijau pada latar putih maupun akar putih dengan latar hijau.
Keduanya membawa filosofi yang sama mengenai konservasi dan perdamaian.
Akar yang Saling Merangkul
Bentuk akar menggambarkan hubungan antara manusia dan mangrove.
Manusia membutuhkan mangrove.
Mangrove juga membutuhkan manusia untuk menjaga, melindungi, dan memulihkan ekosistemnya ketika menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia.
Akar yang seolah saling merangkul kemudian menjadi metafora dari persahabatan Mangrover dunia.
Bentuk Simetris sebagai Keseimbangan
Simbol ini juga dirancang dengan komposisi yang simetris.
Dalam penjelasan awal KeSEMaT tahun 2013, keseimbangan visual tersebut merepresentasikan tuntutan terhadap keseimbangan hubungan manusia dengan mangrove.
Manusia tidak semestinya hanya mengambil manfaat dari mangrove.
Pemanfaatan harus berjalan bersama perlindungan, rehabilitasi, pengelolaan, dan tanggung jawab ekologis.
Dari Logo Menjadi Bendera Mangrover Dunia
Salah satu hal menarik dari konsep Simbol Mangrover adalah bahwa sejak awal penggunaannya tidak dibatasi hanya sebagai logo.
Dalam publikasi KeSEMaT tahun 2013, Mangrover di mana pun berada diajak menggunakan simbol akar tersebut dalam berbagai bentuk, seperti:
- bendera;
- pin;
- stiker;
- badge;
- pakaian;
- media kampanye; dan
- berbagai atribut Mangrover lainnya.
Dari sinilah gagasan Bendera Mangrover Dunia menjadi sangat relevan.
Ketika simbol tersebut ditempatkan pada sebuah bendera, bendera itu tidak dimaksudkan menjadi bendera satu organisasi.
Ia membawa identitas yang lebih luas:
bendera bagi Mangrover.
Satu Bendera di Atas Banyak Organisasi
Gerakan konservasi mangrove dunia terdiri atas ribuan kelompok dengan identitas berbeda.
Ada organisasi mahasiswa.
Ada komunitas masyarakat.
Ada organisasi nonpemerintah.
Ada lembaga penelitian.
Ada institusi pemerintah.
Ada perusahaan.
Ada yayasan.
Ada komunitas relawan.
Ada jaringan internasional.
Masing-masing tentu memiliki logo, identitas, sejarah, visi, dan kelembagaannya sendiri.
Bendera Mangrover Dunia tidak hadir untuk menggantikan semua identitas tersebut.
Justru sebaliknya.
Bendera Mangrover hadir sebagai identitas tambahan yang mempertemukan semuanya.
Sebuah komunitas tetap dapat membawa bendera organisasinya.
Sebuah universitas tetap dapat menggunakan identitas institusinya.
Sebuah lembaga internasional tetap memiliki logonya sendiri.
Tetapi ketika semua berkumpul untuk mangrove, terdapat satu identitas yang dapat berdiri bersama mereka:
Bendera Mangrover.
Bukan Milik Satu Lembaga, tetapi Semangat Bersama
Inilah karakter paling penting dari Simbol Mangrover.
KeSEMaT sebagai organisasi yang meluncurkannya justru mendesain simbol tersebut agar mudah digunakan dan diadopsi oleh siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap mangrove.
Halaman resmi KeSEMaT bahkan menyediakan beberapa versi simbol untuk digunakan dalam publikasi dan kampanye.
KeSEMaT menjelaskan bahwa Simbol Mangrover dapat digunakan oleh komunitas mangrove tanpa memandang nama organisasi maupun afiliasinya.
Dengan demikian, pesan utamanya sederhana:
Organisasinya boleh berbeda. Negaranya boleh berbeda. Tetapi ketika menjaga mangrove, kita adalah Mangrover.
Bendera yang Melampaui Batas Negara
Mangrove sendiri tidak mengenal batas administratif manusia.
Ekosistem mangrove tumbuh di pesisir berbagai negara tropis dan subtropis.
Begitu pula ancamannya.
Karena itu, identitas Mangrover juga tidak semestinya berhenti pada batas negara.
Indonesia dapat memiliki Mangrover.
Malaysia dapat memiliki Mangrover.
Filipina dapat memiliki Mangrover.
Thailand dapat memiliki Mangrover.
India dapat memiliki Mangrover.
Australia dapat memiliki Mangrover.
Amerika, Afrika, Amerika Latin, Pasifik, dan seluruh negara yang memiliki masyarakat peduli mangrove dapat memiliki Mangrover.
Mereka tidak harus berada dalam satu organisasi.
Yang menyatukan mereka adalah nilai dan kepedulian terhadap mangrove.
Dari Indonesia untuk Dunia
Ada nilai penting lain di balik lahirnya Simbol Mangrover:
simbol ini lahir dari Indonesia.
KeSEMaT menyebutnya sebagai gagasan identitas global yang menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya dapat menjadi pengikut gerakan lingkungan internasional, tetapi juga dapat melahirkan gagasan, identitas, dan simbol konservasi untuk dunia.
Narasi tersebut memiliki relevansi yang kuat.
Indonesia merupakan negara dengan sejarah panjang gerakan konservasi mangrove, masyarakat pesisir, penelitian, rehabilitasi, pendidikan, serta pengembangan ekonomi berbasis ekosistem mangrove.
Dari lingkungan mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro di Jawa Tengah, sebuah simbol sederhana berbentuk akar kemudian membawa cita-cita yang jauh lebih besar:
mempersatukan Mangrover dunia.
MANGROVEFIESTA: Pesta Para Mangrover
Perjalanan Simbol Mangrover juga terkait erat dengan MANGROVEFIESTA KOMPAS KAMPUS.
KeSEMaT menyelenggarakan kegiatan tersebut bersama KOMPAS KAMPUS dengan tema MANGROVEFIESTA: Pesta MANGROVER Indonesia di Auditorium Imam Bardjo UNDIP, Semarang, pada 12–13 Juni 2013.
Programnya tidak hanya berupa seminar.
MANGROVEFIESTA menghadirkan berbagai bentuk kampanye yang mencerminkan gaya KeSEMaT dalam membawa mangrove ke ruang publik, mulai dari kegiatan edukasi, kompetisi, kampanye kreatif, kegiatan anak, hingga aksi penanaman mangrove.
Dalam konteks itulah Simbol Mangrover semakin diperkenalkan sebagai bagian dari identitas para pencinta mangrove.
Dari Simbol Menuju Sistem Green Roots
Perjalanan Simbol Mangrover tidak berhenti pada 2013.
Pada 2018, KeSEMaT mengembangkan Sistem Green Roots sebagai langkah untuk memperluas penggunaan Simbol Mangrover secara nasional dan internasional.
Pengembangan tersebut mencakup:
- penguatan identitas visual;
- pengembangan media digital;
- penyediaan simbol;
- produksi media kampanye dan suvenir;
- workshop;
- sosialisasi; serta
- pengembangan gerakan yang berhubungan dengan mangrove.
Dengan demikian, Green Roots berkembang dari sekadar visual menjadi bagian dari ekosistem kampanye persatuan Mangrover.
Mengapa Dunia Mangrove Membutuhkan Identitas Bersama?
Gerakan lingkungan sering berkembang dalam banyak kelompok.
Hal tersebut sebenarnya merupakan kekuatan karena semakin banyak organisasi berarti semakin banyak orang yang bergerak.
Namun, keragaman organisasi juga membutuhkan ruang identitas bersama.
Dalam dunia olahraga, simbol dapat menyatukan jutaan orang.
Dalam gerakan kemanusiaan, simbol dapat melampaui bahasa.
Dalam sebuah bangsa, bendera dapat menyatukan berbagai kelompok masyarakat.
Konsep serupa menjadi dasar pemikiran Bendera Mangrover Dunia.
Bendera ini bukan untuk menghapus identitas.
Bendera ini hadir untuk menemukan persamaan di tengah perbedaan.
Persamaannya adalah mangrove.
Identitasnya adalah Mangrover.
Siapa yang Berhak Mengibarkan Bendera Mangrover?
Semangat awal Simbol Mangrover bersifat terbuka.
Karena itu, Bendera Mangrover dapat dimaknai sebagai bendera bagi siapa saja yang benar-benar memiliki kepedulian terhadap mangrove.
Bukan hanya peneliti.
Bukan hanya aktivis.
Bukan hanya organisasi lingkungan.
Seorang anak yang belajar menanam mangrove dapat menjadi Mangrover.
Seorang nelayan yang menjaga hutan mangrove di desanya dapat menjadi Mangrover.
Seorang mahasiswa yang meneliti mangrove dapat menjadi Mangrover.
Seorang guru yang mengenalkan mangrove kepada muridnya dapat menjadi Mangrover.
Seorang fotografer yang mendokumentasikan kerusakan pesisir dapat menjadi Mangrover.
Seorang relawan yang memungut sampah di hutan mangrove dapat menjadi Mangrover.
Mangrover adalah identitas kepedulian.
Bendera Mangrover Bukan Pengganti Bendera Organisasi
Hal ini penting ditegaskan.
Bendera Mangrover tidak dimaksudkan untuk menggantikan identitas organisasi, komunitas, institusi, ataupun negara.
Ia justru dapat dikibarkan bersama.
Bayangkan sebuah kegiatan mangrove internasional.
Pesertanya berasal dari puluhan organisasi.
Setiap organisasi membawa benderanya masing-masing.
Di tengah semua itu terdapat satu bendera yang mereka kibarkan bersama:
Bendera Mangrover Dunia.
Itulah gagasannya.
Bukan menyeragamkan organisasi.
Tetapi menyatukan tujuan.
Apakah Bendera Mangrover Merupakan Bendera Internasional Resmi?
Secara kelembagaan, Bendera Mangrover bukan bendera resmi yang ditetapkan oleh organisasi antarnegara seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa atau melalui perjanjian internasional.
Istilah Bendera Mangrover Dunia lebih tepat dipahami sebagai simbol gerakan internasional yang digagas untuk digunakan bersama oleh para Mangrover di berbagai negara.
Perbedaan ini penting agar narasinya tetap kredibel.
Kekuatan Bendera Mangrover bukan berasal dari keputusan birokrasi internasional.
Kekuatannya justru dapat tumbuh dari adopsi komunitas secara organik.
Semakin banyak Mangrover menggunakan dan mengibarkannya, semakin kuat pula maknanya sebagai simbol persatuan.
Saatnya Mengibarkan Bendera Mangrover Dunia
Lebih dari satu dekade setelah diluncurkan, pesan yang dibawa Simbol Mangrover masih relevan.
Dunia menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pesisir menghadapi tekanan pembangunan.
Mangrove menghadapi degradasi.
Masyarakat pesisir menghadapi berbagai risiko lingkungan.
Tidak ada satu organisasi yang mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Kita membutuhkan pemerintah.
Kita membutuhkan ilmuwan.
Kita membutuhkan masyarakat.
Kita membutuhkan generasi muda.
Kita membutuhkan organisasi lingkungan.
Kita membutuhkan dunia usaha yang bertanggung jawab.
Kita membutuhkan media.
Kita membutuhkan relawan.
Dan di antara semua identitas tersebut, kita membutuhkan sebuah kesadaran:
bahwa kita berada dalam perjuangan yang sama.
Satu Akar, Satu Bendera, Satu Mangrover Dunia
Akar mangrove tumbuh dengan cara yang unik.
Ia bercabang.
Ia menyilang.
Ia datang dari arah berbeda.
Namun semuanya menopang kehidupan yang sama.
Begitu pula Mangrover.
Kita mungkin berasal dari kota yang berbeda.
Negara yang berbeda.
Organisasi yang berbeda.
Profesi yang berbeda.
Bahasa yang berbeda.
Tetapi ketika berdiri untuk menyelamatkan mangrove, perbedaan tersebut tidak harus menjadi batas.
Akar Hijau menjadi simbol bahwa semuanya dapat bertemu.
Di bawah satu semangat.
Di bawah satu kepedulian.
Dan apabila dikibarkan sebagai bendera:
di bawah satu Bendera Mangrover Dunia.
Dari KeSEMaT untuk Mangrover Dunia
Simbol yang diluncurkan KeSEMaT pada 28 Februari 2013 membawa sebuah cita-cita yang sejak awal melampaui organisasi penciptanya.
Ia diciptakan agar dapat digunakan bersama.
Ia dibuat sederhana agar mudah dikenali.
Ia mengambil bentuk akar agar selalu mengingatkan manusia pada mangrove.
Dan ia membawa warna hijau untuk mengingatkan dunia bahwa konservasi membutuhkan tindakan nyata.
KeSEMaT boleh menjadi tempat simbol ini lahir.
Indonesia boleh menjadi negeri asalnya.
Tetapi semangat yang dibawanya adalah untuk seluruh Mangrover dunia.
Salam MANGROVER!
Saat sebuah organisasi mengibarkan benderanya sendiri, ia menunjukkan identitasnya.
Saat sebuah negara mengibarkan benderanya, ia menunjukkan kebangsaannya.
Tetapi ketika para pencinta mangrove dari berbagai lembaga dan negara berdiri bersama dan mengibarkan Bendera Mangrover, mereka sedang menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih universal:
kepedulian terhadap mangrove.
Tidak peduli dari lembaga mana.
Tidak peduli dari negara mana.
Tidak peduli apa profesinya.
Selama memiliki semangat untuk menjaga mangrove:
kita adalah Mangrover.
Satu Akar.
Satu Semangat.
Satu Bendera.
Mangrover Dunia.
Pada akhirnya, Bendera Mangrover Dunia bukan sekadar selembar kain hijau dengan simbol akar mangrove, melainkan sebuah ajakan untuk membangun identitas bersama yang melampaui organisasi, profesi, dan batas negara. Dari Indonesia, simbol ini membawa pesan sederhana namun kuat: siapa pun yang menjaga, mempelajari, memulihkan, dan memperjuangkan mangrove adalah bagian dari keluarga besar Mangrover dunia. Semakin banyak komunitas, lembaga, relawan, peneliti, dan masyarakat pesisir yang mengibarkannya dengan semangat konservasi, semakin kuat pula maknanya sebagai simbol persatuan global—sebuah Green Roots yang terus tumbuh, menghubungkan manusia, mangrove, dan masa depan pesisir bumi. Salam MANGROVER! (ADM).
Daftar Pustaka
KeSEMaT. 2013. Akar Mangrove, Simbol Mangrover Dunia! Publikasi KeSEMaT, 4 Maret 2013. Artikel mendokumentasikan peluncuran Simbol Mangrover pada 28 Februari 2013, filosofi Mangrove Root, penciptanya Aris Priyono, serta gagasan penggunaannya sebagai bendera dan identitas Mangrover Indonesia dan dunia.
KeSEMaT. 2013. Press Release MANGROVEFIESTA KOMPAS KAMPUS, 12–13 Juni 2013, UNDIP Pleburan, Semarang. KeSEMaTBLOG. Dokumentasi penyelenggaraan MANGROVEFIESTA dengan tema Pesta MANGROVER Indonesia di Auditorium Imam Bardjo Universitas Diponegoro.
KeSEMaT. Simbol Mangrover: Identitas Bersama Mangrover Dunia. KeSEMaT.OR.ID. Memuat sejarah peluncuran 28 Februari 2013, pencipta simbol Aris Priyono, filosofi Green Roots, pengenalan dalam MANGROVEFIESTA, pengembangan Sistem Green Roots pada 2018, serta aset Simbol Mangrover.
KeSEMaT. Produk Kami: Ekosistem Produk dan Kampanye Mangrove KeSEMaT. Memuat Simbol Mangrover sebagai salah satu produk gerakan KeSEMaT dan mencatat peluncurannya pada 28 Februari 2013 sebagai simbol persatuan Mangrover Indonesia dan dunia.
KeSEMaT. Perjalanan KeSEMaT dalam Gerakan Mangrove Indonesia. Dokumentasi sejarah berdirinya KeSEMaT pada 9 Oktober 2001 di Teluk Awur, Jepara, oleh sembilan mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, termasuk Aris Priyono.
KeSEMaT. 2026. Aris Priyono, Bapak Mangrove Indonesia dan Pendiri KeSEMaT. KeSEMaT.OR.ID. Profil Aris Priyono dan kontribusinya dalam pengembangan gerakan mangrove Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar