Survival Rate = (Jumlah tanaman hidup ÷ Jumlah tanaman awal) × 100%
Sebagai contoh, sebanyak 1.000 bibit mangrove ditanam. Pada pemantauan bulan ketiga, ditemukan 820 tanaman masih hidup.
Perhitungannya:
Survival Rate = (820 ÷ 1.000) × 100%
Survival Rate = 82%
Artinya, sebanyak 82 persen dari tanaman awal masih hidup ketika pemantauan dilakukan.
Perhitungan tersebut terlihat sederhana. Namun, hasilnya dapat menjadi keliru apabila pengelola tidak menetapkan secara jelas:
- jumlah tanaman awal;
- batas lokasi pemantauan;
- waktu pengamatan;
- definisi tanaman hidup;
- metode pengambilan sampel;
- perlakuan terhadap tanaman hilang;
- pencatatan tanaman sulaman;
- dan konsistensi tanaman yang diamati.
Pedoman pemantauan mangrove mendefinisikan survival rate sebagai persentase jumlah tanaman yang bertahan hidup dibandingkan jumlah tanaman yang ditanam pada awal kegiatan. Pemantauan juga sebaiknya mencatat kondisi tanaman dan kemungkinan penyebab kematiannya, bukan hanya jumlah hidup dan mati.
Jawaban Singkat: Bagaimana Cara Menghitung Survival Rate Mangrove?
Langkah dasarnya adalah:
- Tentukan jumlah tanaman awal.
- Tentukan waktu dan batas lokasi monitoring.
- Hitung jumlah tanaman yang masih hidup.
- Pisahkan tanaman mati, hilang, dan sulaman.
- Masukkan data ke dalam rumus.
- Laporkan waktu, metode, dan ukuran sampel.
- Bandingkan hasil dengan monitoring sebelumnya.
Rumusnya:
SR = (Nt ÷ N0) × 100%
Keterangan:
SR = survival rate atau tingkat kelangsungan hidup.
Nt = jumlah tanaman yang masih hidup pada waktu monitoring.
N0 = jumlah tanaman awal yang menjadi dasar pengamatan.
Apa Itu Survival Rate Mangrove?
Survival rate dapat digunakan untuk mengevaluasi:
- kemampuan bibit beradaptasi;
- kesesuaian lokasi;
- kualitas bahan tanam;
- teknik penanaman;
- tekanan gelombang dan arus;
- efektivitas pemeliharaan;
- serta perubahan kondisi lingkungan.
Survival rate harus selalu disertai waktu pengamatan.
Pernyataan “survival rate mangrove mencapai 85 persen” belum lengkap apabila tidak menjelaskan apakah nilai tersebut diperoleh pada:
- bulan pertama;
- bulan ketiga;
- bulan keenam;
- tahun pertama;
- atau tahun kelima.
Survival rate 85 persen pada bulan pertama tidak dapat dibandingkan langsung dengan survival rate 70 persen pada tahun kedua. Tanaman pada tahun kedua telah menghadapi lebih banyak musim, gelombang, persaingan, dan gangguan.
Karena itu, penulisan yang lebih tepat adalah:
“Survival rate mangrove pada bulan keenam sebesar 85 persen.”
Atau:
“Sebanyak 850 dari 1.000 tanaman awal masih hidup pada monitoring bulan keenam, sehingga survival rate tercatat sebesar 85 persen.”
Rumus Survival Rate Mangrove
Rumus yang paling umum digunakan adalah:
SR = (Nt ÷ N0) × 100%
Keterangan:
SR = tingkat kelangsungan hidup dalam persen.
Nt = jumlah tanaman yang hidup pada waktu ke-t.
N0 = jumlah tanaman awal.
Rumus tersebut dapat diterapkan untuk:
- propagul yang ditanam langsung;
- bibit dari persemaian;
- semai;
- pancang;
- maupun individu tanaman lain,
selama unit pengamatannya tetap sama.
Contoh Menghitung Survival Rate Mangrove
Contoh 1: Monitoring Seluruh Tanaman
Sebanyak 2.000 bibit mangrove ditanam.
Pada bulan ketiga ditemukan:
- tanaman hidup: 1.700;
- tanaman mati: 220;
- tanaman hilang: 80.
Jumlah tanaman awal adalah 2.000.
Tanaman yang dinyatakan hidup berjumlah 1.700.
SR = (1.700 ÷ 2.000) × 100%
SR = 85%
Tanaman mati dan hilang tidak dimasukkan sebagai tanaman hidup.
Laporan dapat ditulis:
“Pada monitoring bulan ketiga, sebanyak 1.700 dari 2.000 bibit awal masih hidup. Survival rate tercatat sebesar 85 persen. Sebanyak 220 tanaman ditemukan mati dan 80 titik tanam tidak ditemukan.”
Pemisahan tanaman mati dan hilang penting karena penyebabnya dapat berbeda.
Tanaman mati masih ditemukan pada titiknya, sedangkan tanaman hilang mungkin:
- hanyut;
- tercabut;
- tertimbun;
- dipindahkan;
- atau tidak ditemukan akibat kesalahan penandaan.
Contoh 2: Monitoring Menggunakan Sampel
Sebanyak 10.000 bibit ditanam pada lahan satu hektare.
Pengelola tidak menghitung seluruh tanaman, tetapi membuat 20 petak sampel. Setiap petak pada awalnya berisi 25 tanaman.
Jumlah tanaman awal dalam seluruh petak sampel:
20 × 25 = 500 tanaman
Pada monitoring, ditemukan 410 tanaman hidup.
SR sampel = (410 ÷ 500) × 100%
SR sampel = 82%
Nilai 82 persen merupakan estimasi survival rate berdasarkan sampel, bukan hasil sensus seluruh 10.000 tanaman.
Pelaporan harus menyebutkan:
- jumlah petak;
- ukuran petak;
- jumlah tanaman awal dalam sampel;
- metode pemilihan petak;
- dan jumlah tanaman hidup.
Kalimat yang tepat:
“Berdasarkan pemantauan terhadap 500 tanaman pada 20 petak sampel, ditemukan 410 tanaman hidup sehingga estimasi survival rate sebesar 82 persen.”
Jangan menulis seolah-olah seluruh 10.000 tanaman telah diperiksa apabila pengamatan hanya menggunakan sampel.
Contoh 3: Survival Rate Setelah Penyulaman
Sebanyak 1.000 bibit ditanam pada kegiatan awal.
Pada bulan ketiga:
- tanaman hidup: 700;
- tanaman mati atau hilang: 300.
Survival rate penanaman awal:
SR awal = (700 ÷ 1.000) × 100%
SR awal = 70%
Kemudian dilakukan penyulaman sebanyak 200 bibit.
Pada bulan keenam ditemukan:
- tanaman awal yang masih hidup: 620;
- tanaman sulaman yang hidup: 160.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menjumlahkan seluruh tanaman hidup, lalu membaginya dengan jumlah penanaman awal:
(620 + 160) ÷ 1.000 × 100% = 78%
Angka tersebut mencampurkan dua kelompok umur dan waktu tanam yang berbeda.
Cara yang lebih transparan adalah menghitung secara terpisah.
Survival Rate Kelompok Penanaman Awal
SR awal bulan keenam = (620 ÷ 1.000) × 100%
SR awal bulan keenam = 62%
Survival Rate Tanaman Sulaman
SR sulaman = (160 ÷ 200) × 100%
SR sulaman = 80%
Jumlah Tegakan Hidup Aktual
Jumlah tanaman hidup aktual:
620 + 160 = 780 tanaman
Data dapat dilaporkan sebagai berikut:
“Pada bulan keenam, survival rate kelompok penanaman awal sebesar 62 persen. Dari 200 tanaman sulaman, 160 masih hidup atau memiliki survival rate 80 persen. Jumlah keseluruhan tanaman hidup di lokasi mencapai 780 individu.”
Pemisahan tersebut mencegah tanaman sulaman digunakan untuk menaikkan survival rate kelompok awal secara semu.
Mengapa Tanaman Sulaman Harus Dicatat Terpisah?
Tanaman sulaman memiliki:
- tanggal tanam berbeda;
- umur berbeda;
- lama paparan lingkungan berbeda;
- dan kemungkinan teknik penanaman berbeda.
Bibit awal mungkin telah menghadapi dua musim, sedangkan tanaman sulaman baru menghadapi beberapa minggu.
Setiap kelompok penanaman atau cohort sebaiknya mempunyai:
- tanggal tanam;
- jumlah awal;
- jenis;
- sumber bibit;
- perlakuan;
- serta hasil monitoring sendiri.
Setelah itu, jumlah seluruh tanaman hidup dapat disajikan sebagai informasi tambahan mengenai kondisi tegakan aktual.
Apa yang Disebut Tanaman Mangrove Hidup?
Tanaman dinyatakan hidup apabila masih memiliki jaringan hidup dan menunjukkan kemampuan untuk melanjutkan pertumbuhan.
Tanda tanaman masih hidup dapat mencakup:
- daun hijau;
- muncul tunas baru;
- pucuk masih aktif;
- batang tidak sepenuhnya kering;
- jaringan batang masih hidup;
- akar masih menancap dan berfungsi;
- atau terdapat pertumbuhan baru setelah kerontokan daun.
Namun, daun bukan satu-satunya penentu.
Bibit yang kehilangan daun akibat stres belum tentu mati. Tanaman dapat membentuk tunas baru apabila batang, akar, dan titik tumbuhnya masih hidup.
Sebaliknya, daun yang masih hijau sesaat setelah akar rusak tidak selalu menunjukkan bahwa tanaman akan bertahan. Daun dapat tetap hijau selama beberapa waktu sebelum tanaman benar-benar mati.
Karena itu, protokol monitoring perlu menetapkan kriteria hidup dan mati secara konsisten.
Ciri Tanaman Mangrove Mati
Tanaman dapat dinyatakan mati apabila ditemukan kondisi seperti:
- batang seluruhnya kering dan rapuh;
- jaringan dalam batang tidak lagi hidup;
- pucuk mati;
- akar membusuk;
- batang patah tanpa tunas baru;
- propagul membusuk;
- atau tidak ada tanda pemulihan setelah periode pengamatan yang wajar.
Tanaman yang mati sebaiknya tidak langsung dicabut sebelum:
- posisi dicatat;
- penyebab kemungkinan kematian diamati;
- dan dokumentasi dibuat.
Informasi tersebut penting untuk membedakan kematian akibat:
- gelombang;
- salinitas;
- genangan;
- erosi;
- sedimentasi;
- hama;
- sampah;
- atau gangguan manusia.
Bagaimana Memperlakukan Tanaman yang Hilang?
Tanaman yang tidak ditemukan perlu dicatat sebagai kategori hilang, bukan otomatis ditulis mati tanpa keterangan.
Tanaman dapat hilang karena:
- hanyut;
- tercabut;
- tertimbun sedimen;
- tertutup sampah;
- dicabut manusia;
- titik tanam bergeser;
- penanda hilang;
- atau kesalahan pencatatan.
Dalam perhitungan survival rate, tanaman hilang biasanya tidak dapat dihitung sebagai hidup. Oleh karena itu, nilainya tetap mengurangi jumlah tanaman yang diketahui bertahan.
Namun, laporan sebaiknya membedakan:
- hidup;
- mati;
- hilang;
- dan tidak dapat diverifikasi.
Contoh:
- tanaman hidup: 800;
- tanaman mati: 120;
- tanaman hilang: 60;
- status tidak dapat diverifikasi: 20;
- total awal: 1.000.
Survival rate berdasarkan tanaman yang terkonfirmasi hidup:
SR = (800 ÷ 1.000) × 100%
SR = 80%
Laporan juga perlu menyatakan bahwa 20 persen tanaman tidak hidup atau tidak dapat dibuktikan masih hidup, dengan rincian kategori yang tersedia.
Apakah Ajir yang Masih Ada Berarti Tanamannya Hidup?
Tidak.
Ajir hanya merupakan penanda atau penyangga.
Tanaman dapat:
- mati tetapi ajir tetap berdiri;
- hanyut sementara ajir masih ada;
- patah pada pangkal;
- atau tertutup sampah.
Sebaliknya, ajir dapat hilang meskipun tanaman masih hidup.
Monitoring harus memeriksa tanaman, bukan hanya menghitung jumlah ajir.
Menggunakan ajir sebagai pengganti tanaman dapat menghasilkan survival rate yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Haruskah Survival Rate Dihitung dengan Sensus atau Sampling?
Keduanya dapat digunakan, tergantung skala program dan tujuan monitoring.
Sensus
Sensus berarti memeriksa seluruh tanaman.
Sensus cocok apabila:
- jumlah tanaman relatif sedikit;
- lokasi mudah diakses;
- titik tanam jelas;
- dan kebutuhan akurasi tinggi.
Keuntungan sensus:
- menghasilkan jumlah aktual;
- mudah melacak tanaman individual;
- dan mengurangi ketidakpastian sampling.
Kekurangannya:
- membutuhkan waktu dan tenaga besar;
- sulit pada kawasan luas;
- dan berisiko merusak lokasi apabila terlalu banyak orang berjalan di antara tanaman.
Sampling
Sampling berarti memeriksa sebagian tanaman yang mewakili seluruh lokasi.
Sampling cocok apabila:
- jumlah tanaman sangat besar;
- lokasi luas;
- akses terbatas;
- atau pemantauan perlu dilakukan berulang.
Keuntungan sampling:
- lebih efisien;
- biaya lebih rendah;
- dan memungkinkan pengukuran pertumbuhan lebih rinci.
Kekurangannya:
- mengandung ketidakpastian;
- dapat bias apabila petak dipilih secara tidak tepat;
- dan membutuhkan desain yang konsisten.
Panduan monitoring mangrove menganjurkan pengamatan vegetasi secara terstruktur untuk mengevaluasi kelangsungan hidup, pertumbuhan, perkembangan, dan kebutuhan pengisian celah.
Bagaimana Menentukan Petak Sampel?
Petak harus mewakili variasi kondisi lokasi.
Lokasi mangrove dapat memiliki perbedaan dalam:
- elevasi;
- jarak dari laut;
- energi gelombang;
- kedalaman genangan;
- salinitas;
- sedimentasi;
- jenis tanaman;
- serta tingkat gangguan.
Apabila seluruh petak hanya ditempatkan pada bagian yang paling mudah dijangkau dan paling sehat, survival rate akan terlihat terlalu tinggi.
Sebaliknya, apabila petak hanya ditempatkan pada bagian yang rusak, hasil akan terlihat terlalu rendah.
Petak dapat dipilih melalui:
- sampling acak;
- sampling sistematis;
- sampling berstrata;
- atau kombinasi yang sesuai.
Sampling Acak
Posisi petak ditentukan secara acak.
Metode ini mengurangi pemilihan lokasi berdasarkan keinginan pengamat, tetapi tetap perlu memastikan seluruh kawasan dapat terwakili.
Sampling Sistematis
Petak ditempatkan pada jarak tertentu mengikuti transek atau jaringan.
Metode ini mudah diulang dan membantu menggambarkan perubahan dari darat menuju laut.
Sampling Berstrata
Lokasi dibagi menjadi beberapa kelompok kondisi, misalnya:
- zona depan;
- zona tengah;
- zona belakang;
- substrat stabil;
- substrat tererosi;
- jenis berbeda;
- atau tahun tanam berbeda.
Petak kemudian ditempatkan pada setiap kelompok.
Sampling berstrata sering lebih informatif karena survival rate mangrove dapat berbeda besar antarzona.
Bagaimana Menentukan Jumlah Sampel?
Tidak ada satu jumlah petak yang berlaku untuk seluruh proyek.
Jumlah sampel dipengaruhi oleh:
- luas kawasan;
- jumlah tanaman;
- variasi habitat;
- tingkat ketelitian yang dibutuhkan;
- sumber daya;
- dan tujuan monitoring.
Semakin beragam kondisi lokasi, semakin banyak sampel yang biasanya diperlukan.
Sebagai prinsip, sampel harus:
- tersebar;
- mewakili seluruh zona;
- cukup banyak untuk mengurangi bias;
- memiliki tanaman awal yang tercatat;
- dan dapat ditemukan kembali.
Laporan tidak cukup hanya menyebut “diambil sampel 10 persen” tanpa menjelaskan cara pemilihannya.
Sepuluh persen tanaman yang dipilih secara sembarangan di dekat jalur masuk belum tentu lebih representatif daripada jumlah sampel lebih kecil yang dirancang secara sistematis.
Apakah Jumlah Tanaman Awal Harus Berdasarkan Rencana atau Kondisi Aktual?
Sebagai contoh:
- bibit dalam kontrak: 10.000;
- bibit dikirim: 10.000;
- bibit rusak sebelum ditanam: 300;
- bibit benar-benar ditanam: 9.700.
Dasar survival rate seharusnya 9.700 tanaman apabila jumlah tersebut dapat diverifikasi sebagai titik tanam aktual.
Menggunakan angka kontrak 10.000 akan memasukkan bibit yang tidak pernah ditanam ke dalam perhitungan.
Sebaliknya, mengurangi jumlah awal setelah monitoring hanya untuk menaikkan survival rate juga tidak dapat dibenarkan.
Jumlah awal perlu ditetapkan melalui:
- catatan distribusi;
- penghitungan titik tanam;
- formulir lapangan;
- koordinat;
- foto;
- dan berita acara.
Bagaimana Jika Data Jumlah Awal Tidak Akurat?
Apabila jumlah awal tidak dapat diverifikasi, survival rate tidak boleh disajikan sebagai angka presisi tanpa penjelasan.
Pilihan yang lebih bertanggung jawab adalah:
- melakukan rekonstruksi data;
- menggunakan petak dengan jumlah awal yang diketahui;
- menyajikan hasil sebagai estimasi;
- atau menyatakan keterbatasan data.
Contoh:
“Jumlah penanaman awal berdasarkan dokumen kegiatan tercatat sebanyak 10.000 bibit, tetapi titik tanam individual tidak seluruhnya dapat diverifikasi. Survival rate sebesar 76 persen merupakan estimasi berdasarkan 25 petak sampel permanen.”
Transparansi lebih baik daripada menghasilkan angka yang terlihat pasti dari data awal yang lemah.
Bagaimana Menghitung Survival Rate per Petak?
Survival rate dapat dihitung untuk setiap petak terlebih dahulu.
Misalnya terdapat empat petak:
Petak A
Tanaman awal: 25
Tanaman hidup: 20
SR A = 80%
Petak B
Tanaman awal: 25
Tanaman hidup: 15
SR B = 60%
Petak C
Tanaman awal: 25
Tanaman hidup: 23
SR C = 92%
Petak D
Tanaman awal: 25
Tanaman hidup: 12
SR D = 48%
Jumlah keseluruhan:
- tanaman awal: 100;
- tanaman hidup: 70.
Survival rate gabungan:
SR gabungan = (70 ÷ 100) × 100%
SR gabungan = 70%
Data per petak tetap perlu ditampilkan karena rata-rata gabungan dapat menyembunyikan variasi lokasi.
Petak C memiliki survival rate tinggi, sedangkan Petak D sangat rendah. Perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan elevasi, gelombang, salinitas, atau gangguan.
Apakah Survival Rate Per Petak Boleh Dirata-Ratakan?
Boleh apabila jumlah tanaman awal setiap petak sama.
Pada contoh sebelumnya, seluruh petak memiliki 25 tanaman awal. Rata-rata sederhana:
(80 + 60 + 92 + 48) ÷ 4 = 70%
Hasilnya sama dengan survival rate gabungan.
Namun, apabila jumlah tanaman awal setiap petak berbeda, sebaiknya gunakan perhitungan berbobot berdasarkan jumlah tanaman.
Contoh:
- Petak A: 90 hidup dari 100 tanaman = 90%;
- Petak B: 5 hidup dari 10 tanaman = 50%.
Rata-rata sederhana:
(90% + 50%) ÷ 2 = 70%
Padahal jumlah aktual:
- hidup: 95;
- awal: 110.
Survival rate gabungan:
(95 ÷ 110) × 100% = 86,36%
Karena ukuran petak berbeda, rata-rata sederhana menghasilkan nilai yang menyesatkan.
Gunakan:
SR gabungan = jumlah seluruh tanaman hidup ÷ jumlah seluruh tanaman awal × 100%
Bagaimana Menghitung Survival Rate Berdasarkan Jenis?
Apabila lebih dari satu jenis ditanam, survival rate sebaiknya dihitung terpisah.
Contoh:
Rhizophora mucronata
Tanaman awal: 800
Tanaman hidup: 640
SR = 80%
Avicennia marina
Tanaman awal: 200
Tanaman hidup: 110
SR = 55%
Survival Rate Gabungan
Jumlah tanaman awal: 1.000
Jumlah tanaman hidup: 750
SR gabungan = 75%
Nilai gabungan 75 persen tidak menunjukkan bahwa Avicennia marina memiliki survival rate jauh lebih rendah.
Perhitungan per jenis membantu mengevaluasi:
- kesesuaian spesies;
- kualitas bahan tanam;
- posisi zonasi;
- dan respons terhadap kondisi lingkungan.
Kajian kuantitatif terhadap berbagai program penanaman menunjukkan bahwa survival mangrove dipengaruhi oleh jenis, tahap bahan tanam, jarak tanam, kondisi iklim, dan karakter lingkungan pesisir.
Bagaimana Menghitung Survival Rate Berdasarkan Zona?
Survival rate juga sebaiknya dihitung menurut zona apabila kondisi lokasi berbeda.
Contoh:
Zona Depan
Tanaman awal: 400
Tanaman hidup: 160
SR = 40%
Zona Tengah
Tanaman awal: 400
Tanaman hidup: 300
SR = 75%
Zona Belakang
Tanaman awal: 200
Tanaman hidup: 180
SR = 90%
Survival rate keseluruhan:
(160 + 300 + 180) ÷ 1.000 × 100% = 64%
Angka keseluruhan 64 persen belum menjelaskan bahwa masalah terbesar berada di zona depan.
Zona depan mungkin mengalami:
- gelombang lebih kuat;
- genangan lebih dalam;
- erosi;
- atau sedimen lebih tidak stabil.
Penelitian menunjukkan bahwa mikro-topografi, elevasi, kondisi tanah, waktu penanaman, hidrologi, dan gangguan alam dapat menyebabkan perbedaan besar pada kelangsungan hidup mangrove.
Kapan Survival Rate Mangrove Harus Diukur?
Monitoring perlu dilakukan lebih dari satu kali.
Jadwal dapat disesuaikan dengan tujuan program dan risiko lokasi. Contoh jadwal:
- segera setelah penanaman sebagai data awal;
- bulan pertama;
- bulan ketiga;
- bulan keenam;
- tahun pertama;
- tahun kedua;
- dan periode berikutnya.
Pada lokasi berisiko tinggi, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan setelah:
- pasang besar;
- gelombang ekstrem;
- banjir;
- hujan lebat;
- sedimentasi besar;
- atau kejadian pencemaran.
Salah satu panduan menyarankan pemantauan awal pada tiga bulan pertama, kemudian setiap tiga bulan selama dua tahun, sambil mencatat kondisi bibit dan kemungkinan penyebab kematian. Jadwal tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan keadaan proyek.
Monitoring terlalu jarang dapat membuat penyebab kematian sulit diketahui.
Bibit yang hilang enam bulan sebelumnya mungkin sudah tidak meninggalkan tanda apakah:
- hanyut;
- dicabut;
- tertimbun;
- atau mati karena salinitas.
Apakah Survival Rate Harus Dihitung dari Tanaman yang Sama?
Sebaiknya iya.
Tanaman atau petak permanen memungkinkan pengelola mengikuti perubahan kelompok yang sama dari waktu ke waktu.
Sebagai contoh:
- bulan ketiga: 900 tanaman hidup;
- bulan keenam: 820 tanaman hidup;
- bulan ke-12: 700 tanaman hidup;
- bulan ke-24: 500 tanaman hidup.
Dengan dasar awal 1.000 tanaman:
- SR bulan ketiga: 90%;
- SR bulan keenam: 82%;
- SR bulan ke-12: 70%;
- SR bulan ke-24: 50%.
Data tersebut menunjukkan perjalanan kelompok penanaman yang sama.
Apabila setiap monitoring menggunakan lokasi sampel berbeda tanpa desain yang dapat dibandingkan, perubahan survival rate dapat berasal dari perbedaan sampel, bukan perubahan jumlah tanaman.
Bagaimana Menghitung Mortalitas Mangrove?
Mortalitas merupakan persentase tanaman yang mati atau tidak bertahan.
Rumus sederhananya:
Mortalitas = (Jumlah tanaman tidak hidup ÷ Jumlah tanaman awal) × 100%
Apabila seluruh tanaman dapat diklasifikasikan sebagai hidup atau tidak hidup:
Mortalitas = 100% − Survival Rate
Contoh:
Survival rate = 82%
Mortalitas = 18%
Namun, apabila terdapat kategori hilang atau tidak terverifikasi, laporan sebaiknya tidak menyebut seluruhnya sebagai kematian biologis.
Gunakan rincian:
- hidup;
- mati;
- hilang;
- dan tidak terverifikasi.
Bagaimana Menghitung Penurunan Survival Rate?
Penurunan survival rate dapat dihitung dengan selisih persentase antarmonitoring.
Contoh:
- bulan ketiga: 90%;
- bulan keenam: 82%.
Penurunan:
90% − 82% = 8 poin persentase
Istilah yang tepat adalah turun 8 poin persentase, bukan selalu turun 8 persen.
Apabila ingin menghitung penurunan relatif:
Penurunan relatif = ((90 − 82) ÷ 90) × 100%
Hasilnya sekitar 8,89 persen.
Untuk laporan monitoring mangrove, penggunaan selisih poin persentase biasanya lebih mudah dipahami.
Contoh Survival Rate Longitudinal
Sebanyak 10.000 bibit ditanam.
Hasil monitoring:
Bulan Ketiga
Hidup: 9.200
SR = 92%
Bulan Keenam
Hidup: 8.100
SR = 81%
Bulan Ke-12
Hidup: 6.700
SR = 67%
Bulan Ke-24
Hidup: 4.300
SR = 43%
Data tersebut tidak boleh dibaca hanya sebagai kegagalan karena angka terus menurun.
Pengelola juga perlu memeriksa:
- apakah tanaman yang tersisa bertambah tinggi;
- diameter batang meningkat;
- akar semakin kuat;
- tajuk berkembang;
- regenerasi alami muncul;
- dan fungsi habitat mulai terbentuk.
Mortalitas dapat terjadi akibat tekanan lingkungan maupun persaingan alami ketika tegakan berkembang. Namun, penurunan yang tajam tetap membutuhkan analisis penyebab.
Apakah Survival Rate 80 Persen Berarti Program Berhasil?
Belum tentu.
Survival rate 80 persen dapat berarti hal berbeda tergantung waktu.
80 Persen pada Bulan Pertama
Nilainya masih sangat awal. Tanaman belum melewati musim dan tekanan jangka panjang.
80 Persen pada Tahun Kedua
Nilainya lebih kuat karena tanaman telah menghadapi lebih banyak perubahan lingkungan.
80 Persen tetapi Tanaman Tidak Tumbuh
Tanaman mungkin masih hidup, tetapi mengalami stagnasi.
80 Persen pada Monokultur Sangat Rapat
Jumlah individu tinggi, tetapi struktur ekosistem belum tentu sehat.
80 Persen tetapi Hidrologi Tetap Rusak
Vegetasi bertahan, tetapi proses ekologis belum pulih.
Survival rate hanya menjelaskan proporsi tanaman yang masih hidup. Angka tersebut belum menjelaskan:
- kualitas pertumbuhan;
- pemulihan hidrologi;
- regenerasi alami;
- keragaman jenis;
- keberadaan fauna;
- atau perlindungan pantai.
Apakah Ada Standar Survival Rate Mangrove yang Baik?
Tidak ada satu ambang universal yang dapat digunakan untuk seluruh lokasi, jenis, dan umur monitoring.
Nilai survival dipengaruhi oleh:
- tipe habitat;
- jenis mangrove;
- ukuran bibit;
- waktu tanam;
- gelombang;
- elevasi;
- salinitas;
- jarak tanam;
- pemeliharaan;
- serta lama pengamatan.
Kajian global menemukan bahwa metode penanaman dan karakter lingkungan memengaruhi survival rate secara nyata. Bibit atau pancang yang lebih besar dapat memiliki peluang hidup berbeda, sedangkan peningkatan jarak tanam dapat meningkatkan survival pada kelompok mangrove berakar tunjang dalam konteks tertentu.
Kajian lain menunjukkan bahwa target berbasis jumlah propagul dapat menghasilkan hasil rehabilitasi yang tidak optimal apabila kesesuaian habitat diabaikan. Dengan demikian, angka survival tidak boleh dilepaskan dari desain ekologis proyek.
Apabila kontrak atau pedoman program menetapkan ambang tertentu, nilai tersebut harus dipahami sebagai standar pengelolaan proyek, bukan hukum ekologis yang berlaku universal.
Mengapa Survival Rate Dapat Turun dari Waktu ke Waktu?
Survival rate dapat turun karena tanaman terus menghadapi:
- gelombang;
- arus;
- perubahan musim;
- salinitas;
- erosi;
- sedimentasi;
- sampah;
- hama;
- kompetisi;
- dan gangguan manusia.
Tanaman yang hidup pada bulan ketiga belum tentu bertahan hingga tahun kedua.
Sebaliknya, tanaman yang bertahan lebih lama dan membentuk akar kuat dapat memiliki peluang hidup yang semakin baik.
Survival rate bukan angka tetap. Nilainya merupakan potret keadaan pada waktu tertentu.
Apakah Survival Rate Bisa Naik?
Untuk cohort awal yang sama, survival rate secara biologis tidak seharusnya meningkat karena tanaman yang telah mati tidak hidup kembali.
Contoh yang mencurigakan:
- bulan ketiga: 70%;
- bulan keenam: 85%.
Peningkatan dapat terjadi karena:
- penyulaman dicampurkan;
- jumlah awal diubah;
- sampel berbeda;
- tanaman yang sebelumnya tidak ditemukan kembali ditemukan;
- atau kesalahan pencatatan.
Apabila nilai naik, laporan perlu menjelaskan penyebabnya.
Survival rate tegakan total dapat meningkat setelah penyulaman apabila denominator dan kelompok tanaman didefinisikan ulang. Namun, nilai tersebut tidak boleh disebut sebagai survival rate cohort awal.
Apakah Regenerasi Alami Dimasukkan ke Survival Rate Penanaman?
Tidak.
Semai alami bukan bagian dari jumlah tanaman awal hasil penanaman.
Regenerasi alami sebaiknya dicatat sebagai indikator terpisah, misalnya:
- jumlah semai alami per petak;
- kepadatan regenerasi;
- jenis yang muncul;
- dan distribusinya.
Contoh laporan:
“Survival rate tanaman hasil penanaman pada tahun kedua sebesar 65 persen. Selain itu, ditemukan regenerasi alami dengan kepadatan rata-rata 1.200 semai per hektare.”
Menggabungkan semai alami ke jumlah tanaman hidup hasil penanaman akan membuat survival rate tidak valid.
Namun, regenerasi alami dapat menjadi indikator ekologis yang sangat penting. Kehadirannya menunjukkan bahwa sumber propagul, hidrologi, dan habitat mulai mendukung reproduksi.
Apakah Tanaman Bercabang Dihitung Satu atau Lebih?
Satu individu tetap dihitung satu tanaman meskipun memiliki beberapa cabang atau batang.
Penghitungan harus berdasarkan individu atau titik pangkal yang sama.
Kesalahan dapat terjadi ketika:
- satu tanaman bercabang dihitung beberapa pohon;
- propagul menghasilkan beberapa tunas;
- atau rumpun tidak dibedakan dari individu.
Protokol perlu menjelaskan unit hitung agar konsisten antarpetugas.
Apakah Mangrove Bertunas Kembali Dihitung Hidup?
Ya, apabila individu yang sama masih hidup dan menghasilkan tunas baru.
Tanaman yang patah tetapi mampu membentuk tunas dari batang atau pangkal dapat tetap dikategorikan hidup.
Namun, kondisinya perlu dicatat sebagai:
- hidup sehat;
- hidup tertekan;
- patah tetapi bertunas;
- atau rusak.
Klasifikasi kondisi membantu membedakan survival rate dari kualitas pertumbuhan.
Mengapa Tanaman Hidup Perlu Dibagi Berdasarkan Kondisi?
Dua lokasi dapat memiliki survival rate sama, tetapi kualitas tegakannya berbeda.
Contoh:
Lokasi A
Survival rate: 80%
Sebagian besar tanaman:
- berdaun hijau;
- bertambah tinggi;
- dan memiliki pucuk baru.
Lokasi B
Survival rate: 80%
Sebagian besar tanaman:
- menguning;
- miring;
- kehilangan daun;
- dan tidak tumbuh.
Secara angka, keduanya sama. Secara ekologis, Lokasi B memiliki risiko kematian lanjutan yang lebih tinggi.
Tanaman hidup dapat dikelompokkan menjadi:
- sehat;
- cukup sehat;
- tertekan;
- rusak;
- dan kritis.
Kriteria harus ditetapkan sebelum monitoring.
Data Apa Saja yang Perlu Dicatat?
Survival rate sebaiknya menjadi bagian dari formulir monitoring yang lebih lengkap.
Data dasar dapat mencakup:
- kode tanaman atau petak;
- koordinat;
- tanggal tanam;
- tanggal monitoring;
- jenis mangrove;
- bentuk bahan tanam;
- jumlah awal;
- jumlah hidup;
- jumlah mati;
- jumlah hilang;
- jumlah sulaman;
- tinggi;
- diameter;
- jumlah daun atau cabang;
- kondisi tajuk;
- kondisi akar;
- erosi;
- sedimentasi;
- sampah;
- hama;
- salinitas;
- genangan;
- dan dokumentasi foto.
Catatan penyebab kematian sangat penting agar monitoring menghasilkan keputusan pengelolaan, bukan hanya angka laporan.
Bagaimana Membuat Kode Tanaman?
Pada program berskala kecil atau penelitian rinci, setiap tanaman dapat diberi kode.
Contoh:
RM-A-001
Keterangan:
- RM = Rhizophora mucronata;
- A = petak A;
- 001 = nomor individu.
Kode membantu melacak:
- tanaman yang sama;
- pertumbuhan;
- status hidup;
- kerusakan;
- dan penyulaman.
Pada program skala besar, kode dapat diterapkan pada petak atau baris, bukan seluruh individu.
Contoh:
2026-B1-P05
- 2026 = tahun tanam;
- B1 = blok 1;
- P05 = petak 5.
Bagaimana Menghindari Penghitungan Ganda?
Penghitungan ganda dapat terjadi ketika petugas:
- bergerak tanpa jalur tetap;
- tidak menandai baris yang telah dihitung;
- menghitung tanaman bercabang sebagai dua individu;
- atau berpindah antarpetak tanpa batas jelas.
Pencegahannya:
- gunakan peta petak;
- ikuti arah transek;
- tetapkan batas;
- gunakan kode;
- tandai data yang telah dicatat;
- dan lakukan pemeriksaan silang.
Penggunaan aplikasi atau GPS dapat membantu, tetapi tidak menggantikan desain sampling yang jelas.
Bagaimana Menghitung Survival Rate Menggunakan Excel?
Misalkan:
- sel B2 berisi jumlah tanaman awal;
- sel C2 berisi jumlah tanaman hidup.
Rumus Excel:
=IFERROR(C2/B2*100,0)
Apabila hasil ingin langsung ditampilkan dalam format persen, gunakan:
=IFERROR(C2/B2,0)
Kemudian ubah format sel menjadi Percentage.
Struktur tabel sederhana:
| Petak | Tanaman Awal | Hidup | Mati | Hilang | Survival Rate |
|---|---|---|---|---|---|
| A | 25 | 20 | 3 | 2 | 80% |
| B | 25 | 15 | 7 | 3 | 60% |
| C | 25 | 23 | 1 | 1 | 92% |
Untuk hasil keseluruhan, jangan hanya mengambil rata-rata kolom survival rate apabila jumlah awal per petak berbeda.
Gunakan:
=SUM(C2:C4)/SUM(B2:B4)
Kemudian tampilkan sebagai persen.
Bagaimana Menulis Hasil Survival Rate dalam Laporan?
Contoh narasi singkat:
“Monitoring bulan keenam dilakukan terhadap seluruh 2.000 bibit mangrove yang ditanam. Sebanyak 1.640 individu masih hidup, 260 ditemukan mati, dan 100 tidak ditemukan pada titik tanam. Berdasarkan jumlah tanaman awal, survival rate tercatat sebesar 82 persen.”
Contoh berdasarkan sampel:
“Monitoring dilakukan pada 30 petak permanen yang mencakup 750 tanaman awal. Sebanyak 615 tanaman ditemukan masih hidup, sehingga estimasi survival rate sebesar 82 persen. Nilai tersebut merupakan hasil sampling dan bukan sensus terhadap seluruh tanaman.”
Contoh dengan penyulaman:
“Survival rate kelompok penanaman awal pada bulan ke-12 sebesar 61 persen. Sebanyak 300 bibit sulaman ditanam pada bulan keenam dan memiliki survival rate 78 persen pada monitoring berikutnya. Tanaman sulaman tidak dimasukkan ke dalam perhitungan survival rate kelompok awal.”
Kesalahan Umum Menghitung Survival Rate Mangrove
Menggunakan Jumlah Bibit dalam Proposal
Jumlah dasar harus berasal dari tanaman yang benar-benar ditanam dan diverifikasi.
Menghitung Ajir sebagai Tanaman
Ajir tidak membuktikan tanaman masih hidup.
Menggabungkan Tanaman Sulaman
Tanaman sulaman harus dihitung sebagai cohort terpisah.
Memasukkan Regenerasi Alami
Semai alami bukan bagian dari survival rate penanaman.
Mengubah Jumlah Awal
Denominator tidak boleh diubah tanpa dasar dan penjelasan.
Menganggap Tanaman Hilang sebagai Hidup
Tanaman yang tidak ditemukan tidak dapat dikonfirmasi hidup.
Menggunakan Petak yang Berbeda Setiap Monitoring
Perubahan sampel dapat menghasilkan tren palsu.
Memilih Petak yang Mudah Diakses
Petak harus mewakili seluruh variasi lokasi.
Merata-ratakan Persentase secara Sederhana
Jika ukuran sampel berbeda, gunakan jumlah tanaman hidup dibagi jumlah tanaman awal keseluruhan.
Tidak Menyebutkan Umur Monitoring
Survival rate tanpa waktu tidak dapat ditafsirkan secara tepat.
Tidak Membedakan Jenis dan Zona
Nilai gabungan dapat menutupi kegagalan pada jenis atau bagian tertentu.
Menganggap Survival Rate Tinggi Berarti Ekosistem Pulih
Kelangsungan hidup tanaman hanya salah satu indikator.
Mengapa Survival Rate Tidak Boleh Menjadi Satu-Satunya Indikator?
Survival rate hanya menjawab:
berapa tanaman yang masih hidup?
Survival rate tidak menjawab:
- apakah tanaman bertambah tinggi;
- apakah diameter meningkat;
- apakah tajuk sehat;
- apakah akar berkembang;
- apakah pohon mulai bereproduksi;
- apakah regenerasi alami muncul;
- apakah fauna kembali;
- apakah hidrologi membaik;
- atau apakah abrasi berkurang.
Pemantauan restorasi perlu menilai kemajuan terhadap tujuan ekologis yang lebih luas. Manual restorasi menempatkan monitoring sebagai sarana menilai perkembangan pemulihan, bukan sekadar penghitungan tanaman hidup.
Proyek dengan survival rate 90 persen dapat tetap bermasalah apabila:
- seluruh tanaman merupakan monokultur;
- kerapatan terlalu tinggi;
- pertumbuhan stagnan;
- tidak ada regenerasi;
- dan hidrologi tetap rusak.
Sebaliknya, survival rate tanaman hasil penanaman dapat menurun, tetapi lokasi mulai menunjukkan regenerasi alami dan struktur tegakan yang berkembang.
Indikator Tambahan yang Perlu Diukur
Pertumbuhan Tinggi
Menunjukkan perkembangan vertikal tanaman.
Diameter Batang
Menggambarkan perkembangan biomassa dan kekuatan struktur.
Kondisi Tajuk
Dilihat dari jumlah daun, warna, percabangan, dan kerusakan.
Regenerasi Alami
Menunjukkan proses reproduksi dan perekrutan individu baru.
Hidrologi
Meliputi frekuensi, durasi, dan kedalaman genangan.
Erosi dan Sedimentasi
Membantu mengetahui kestabilan habitat.
Keanekaragaman Jenis
Menunjukkan apakah tegakan berkembang menuju struktur yang lebih beragam.
Fauna
Kepiting, moluska, ikan, burung, dan bentos dapat menjadi indikator fungsi habitat.
Gangguan
Catat sampah, penebangan, perahu, ternak, hama, pencemaran, dan konflik lahan.
Bagaimana Menafsirkan Survival Rate yang Rendah?
Survival rate rendah bukan sekadar alasan untuk melakukan penyulaman.
Nilainya harus digunakan untuk mencari penyebab.
Rendah di Zona Depan
Periksa:
- gelombang;
- kedalaman;
- elevasi;
- dan erosi.
Rendah di Zona Tinggi
Periksa:
- kekeringan;
- frekuensi pasang;
- dan hipersalinitas.
Rendah pada Satu Jenis
Periksa kesesuaian jenis, kualitas bahan tanam, dan zonasi.
Rendah Setelah Musim Tertentu
Periksa gelombang musiman, banjir, salinitas, dan perubahan sedimen.
Rendah di Semua Petak
Periksa kesalahan sistematis seperti lokasi, bibit, teknik tanam, atau hidrologi.
Penelitian di beberapa lokasi menunjukkan bahwa waktu penanaman yang tidak tepat, gangguan alam, kurangnya perlindungan, kondisi hidro-oseanografi, dan persiapan bibit dapat berkaitan dengan rendahnya survival rate.
Kapan Penyulaman Perlu Dilakukan?
Penyulaman dapat dilakukan apabila:
- penyebab kematian telah diketahui;
- penyebabnya dapat diperbaiki;
- lokasi tetap sesuai;
- terdapat ruang ekologis;
- dan regenerasi alami belum mencukupi.
Penyulaman sebaiknya tidak dilakukan apabila:
- lokasi terus tererosi;
- gelombang masih terlalu besar;
- hidrologi rusak;
- jenis tidak sesuai;
- atau regenerasi alami sudah tumbuh.
Penyulaman tanpa diagnosis hanya mengulang kematian.
Monitoring digunakan untuk menentukan bagian yang benar-benar membutuhkan pengisian celah dan untuk menyesuaikan pengelolaan berdasarkan kondisi lapangan.
Jadi, Bagaimana Cara Menghitung Survival Rate Mangrove?
Cara menghitung survival rate mangrove adalah dengan membagi jumlah tanaman yang masih hidup pada waktu monitoring dengan jumlah tanaman awal, kemudian mengalikannya dengan 100 persen.
Rumusnya:
Survival Rate = (Jumlah tanaman hidup ÷ Jumlah tanaman awal) × 100%
Namun, perhitungan yang benar membutuhkan lebih dari sekadar rumus.
Pengelola perlu memastikan:
- jumlah awal dapat diverifikasi;
- tanaman yang diamati berasal dari kelompok yang sama;
- waktu monitoring dicantumkan;
- tanaman hidup, mati, dan hilang dibedakan;
- tanaman sulaman dihitung terpisah;
- regenerasi alami tidak dimasukkan;
- petak sampel mewakili lokasi;
- dan metode tetap konsisten.
Survival rate sebaiknya dilaporkan bersama:
- umur tanaman;
- jenis;
- zona;
- kondisi pertumbuhan;
- penyebab kematian;
- dan perubahan habitat.
Angka 80 persen pada bulan ketiga tidak sama maknanya dengan 80 persen pada tahun kedua.
Begitu pula survival rate tinggi tidak otomatis berarti ekosistem mangrove telah pulih.
Survival rate adalah indikator awal untuk mengetahui berapa banyak tanaman yang bertahan. Keberhasilan ekologis baru dapat dipahami ketika data tersebut dibaca bersama pertumbuhan, regenerasi, hidrologi, fauna, sedimentasi, dan kemampuan tegakan mempertahankan dirinya dalam jangka panjang.
Pertanyaan yang penting bukan hanya:
“Berapa persen tanaman yang hidup?”
Namun juga:
“Tanaman mana yang hidup, di zona mana, bagaimana pertumbuhannya, mengapa tanaman lain mati, dan apakah ekosistem mulai pulih?”
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa rumus survival rate mangrove?
Rumusnya adalah jumlah tanaman hidup dibagi jumlah tanaman awal, kemudian dikalikan 100 persen.
Jika 800 dari 1.000 bibit hidup, berapa survival rate-nya?
Survival rate sebesar 80 persen.
Apakah tanaman hilang dihitung mati?
Tanaman hilang tidak dapat dikonfirmasi hidup sehingga tidak dimasukkan sebagai tanaman hidup. Namun, laporan sebaiknya membedakan kategori hilang dari tanaman yang ditemukan mati.
Apakah tanaman sulaman dimasukkan ke survival rate?
Tanaman sulaman sebaiknya dihitung terpisah karena memiliki umur dan tanggal tanam berbeda.
Apakah semai alami dimasukkan ke survival rate penanaman?
Tidak. Regenerasi alami dicatat sebagai indikator terpisah.
Apakah survival rate dapat dihitung menggunakan sampel?
Bisa. Laporan harus menyebutkan bahwa nilai tersebut merupakan estimasi serta menjelaskan jumlah dan metode pemilihan sampel.
Berapa survival rate mangrove yang baik?
Tidak ada satu nilai universal. Hasil harus dinilai berdasarkan umur monitoring, jenis, lokasi, kondisi habitat, dan tujuan program.
Apakah survival rate 90 persen berarti berhasil?
Belum tentu. Pertumbuhan, hidrologi, regenerasi alami, struktur tegakan, dan fungsi ekosistem juga perlu dinilai.
Mengapa survival rate bisa turun?
Karena tanaman terus menghadapi gelombang, erosi, salinitas, musim, sampah, hama, kompetisi, dan gangguan manusia.
Apakah survival rate cohort awal bisa naik?
Secara umum tidak. Peningkatan biasanya menunjukkan perubahan sampel, penambahan tanaman sulaman, tanaman yang ditemukan kembali, atau kesalahan data.
Kapan survival rate harus diukur?
Monitoring dapat dilakukan setelah penanaman, bulan pertama, bulan ketiga, bulan keenam, tahun pertama, tahun kedua, dan periode berikutnya sesuai tujuan serta risiko lokasi.
Apakah ajir dapat digunakan untuk menghitung survival rate?
Tidak. Ajir hanya penanda atau penyangga dan tidak membuktikan tanaman masih hidup. (ADM).
Daftar Pustaka
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (n.d.). Mangrove ecosystem restoration and management. Sustainable Forest Management Toolbox. Rome: FAO.
Gorman, D., Turra, A., Connolly, R. M., Olds, A. D., & Schlacher, T. A. (2022). Quantitative analysis of methodological and environmental influences on survival of planted mangroves in restoration and afforestation. Forests, 13(3), 404.
Hashim, R., Kamali, B., Tamin, N. M., & Zakaria, R. (2010). An integrated approach to coastal rehabilitation: Mangrove restoration in Sungai Haji Dorani, Malaysia. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 86(1), 118–124.
Kodikara, K. A. S., Mukherjee, N., Jayatissa, L. P., Dahdouh-Guebas, F., & Koedam, N. (2017). Have mangrove restoration projects worked? An in-depth study in Sri Lanka. Restoration Ecology, 25(5), 705–716.
Lewis, R. R., III, & Brown, B. (2014). Ecological mangrove rehabilitation: A field manual for practitioners. Mangrove Action Project dan Canadian International Development Agency.
MAR Fund. (2021). Manual for the ecological restoration of mangroves in the Mesoamerican Reef System and the Wider Caribbean. Mesoamerican Reef Fund.
Mwambao Coastal Community Network. (2024). Mangrove restoration manual: A step-by-step guide. Zanzibar.
Pacific Community. (2021). Manual for mangrove monitoring in the Pacific Islands Region. Pacific Community dan Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme.
Primavera, J. H., & Esteban, J. M. A. (2008). A review of mangrove rehabilitation in the Philippines: Successes, failures and future prospects. Wetlands Ecology and Management, 16(3), 173–253.
Wodehouse, D. C. J., & Rayment, M. B. (2019). Mangrove area and propagule number planting targets produce sub-optimal rehabilitation and afforestation outcomes. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 222, 91–102.
Wetlands International. (2016). Mangrove restoration: To plant or not to plant? Wetlands International.
Wetlands International, Global Mangrove Alliance, & Blue Carbon Initiative. (2023). Best practice guidelines for mangrove restoration.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar