Semarang – KeSEMaTBLOG. Nekton mangrove merupakan kelompok organisme akuatik yang mampu berenang secara aktif dan bergerak melawan atau tidak sepenuhnya bergantung pada arus air di kawasan mangrove. Dalam penelitian ekologi mangrove, kelompok ini terutama mencakup ikan serta sebagian krustasea bergerak aktif seperti udang dan dekapoda tertentu yang menggunakan perairan mangrove sebagai habitat sementara maupun sepanjang tahap kehidupannya.
Mangrove menyediakan lingkungan yang kompleks berupa akar tunjang, pneumatofor, saluran pasang surut, perairan dangkal, sedimen, serasah, dan berbagai sumber makanan. Struktur tersebut dapat menyediakan perlindungan, tempat mencari makan, jalur pergerakan, serta habitat juvenil bagi berbagai ikan dan krustasea. Review klasik mengenai fungsi habitat mangrove menunjukkan bahwa ruang di antara akar menyediakan makanan dan perlindungan bagi fauna bergerak seperti ikan, udang, dan kepiting, sementara hubungan mangrove dengan habitat pesisir lainnya sangat bergantung pada pergerakan organisme sepanjang siklus hidupnya.
Namun, terdapat tiga konsep yang harus dibedakan:
nekton ≠ bentos ≠ plankton.
Ketiganya merupakan kelompok ekologis yang berbeda berdasarkan posisi hidup dan kemampuan bergeraknya.
Apa Itu Nekton Mangrove?
Nekton adalah organisme perairan yang mampu berenang secara aktif sehingga pergerakannya tidak sepenuhnya dikendalikan arus.
Kelompok yang umum dipelajari pada perairan mangrove antara lain:
- ikan;
- udang;
- dekapoda berenang aktif;
- kelompok nekton lainnya sesuai habitat.
Dalam banyak penelitian mangrove, istilah nekton digunakan untuk menggabungkan ikan dan krustasea bergerak aktif yang tertangkap menggunakan alat sampling perairan.
Namun, tidak seluruh kepiting otomatis dikategorikan sebagai nekton.
Kepiting yang lebih banyak hidup pada permukaan atau di dalam substrat dan bergerak sebagai fauna dasar lebih tepat dibahas sebagai:
makrozoobentos.
Karena itu, klasifikasi harus mengikuti:
- kebiasaan hidup;
- habitat;
- metode sampling;
- tujuan penelitian.
Perbedaan Nekton, Plankton, dan Bentos
Nekton
Nekton mampu berenang aktif.
Contoh:
ikan;
udang tertentu;
organisme akuatik bergerak aktif lainnya.
Plankton
Plankton sebagian besar pergerakannya mengikuti massa air.
Contoh:
phytoplankton;
zooplankton;
larva beberapa organisme.
Bentos
Benthos hidup pada atau di dalam substrat dasar.
Contoh:
gastropoda bentik;
bivalvia;
polychaeta;
kepiting penghuni substrat.
Satu organisme bahkan dapat berpindah kategori fungsional sepanjang siklus hidup.
Seekor ikan pada fase telur atau larva awal dapat mempunyai kemampuan berenang terbatas dan menjadi bagian dari ichthyoplankton, tetapi kemudian menjadi nekton setelah kemampuan berenangnya berkembang.
Mengapa Nekton Penting dalam Ekosistem Mangrove?
Nekton merupakan penghubung penting antara habitat mangrove dengan:
- estuari;
- sungai;
- padang lamun;
- mudflat;
- terumbu karang;
- perairan pantai.
Sebagian ikan menggunakan mangrove hanya ketika juvenil.
Sebagian masuk ketika pasang untuk mencari makan.
Sebagian tinggal pada sistem estuari dalam waktu lebih lama.
Sebagian lainnya bergerak antara beberapa habitat.
Review Nagelkerken dan kolega menunjukkan bahwa mangrove menyediakan makanan dan perlindungan bagi ikan, udang, serta kepiting dan dapat berfungsi sebagai habitat penting pada sebagian atau seluruh siklus hidup berbagai spesies.
Karena itu, penelitian nekton membantu menjelaskan:
siapa yang menggunakan mangrove;
berapa banyak;
pada ukuran atau tahap hidup apa;
kapan organisme masuk;
dan:
bagaimana komunitas tersebut berhubungan dengan kondisi habitat.
Nekton Mangrove dan Fungsi Nursery Ground
Mangrove sangat sering disebut:
nursery ground
atau daerah asuhan.
Konsep tersebut perlu digunakan dengan hati-hati.
Keberadaan banyak juvenil di kawasan mangrove memang memberikan indikasi bahwa kawasan tersebut merupakan:
habitat juvenil.
Namun, menurut konsep Nursery Role Hypothesis, suatu habitat disebut sebagai nursery bagi spesies tertentu apabila kontribusinya per satuan luas terhadap individu yang akhirnya masuk ke populasi dewasa lebih besar daripada habitat juvenil lainnya. Kontribusi tersebut dapat dipengaruhi oleh kepadatan, pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan pergerakan menuju habitat dewasa.
Jadi:
banyak ikan juvenil ≠ bukti final fungsi nursery.
Lebih tepat menulis:
“Kawasan mangrove terindikasi digunakan sebagai habitat juvenil.”
Jika penelitian hanya mengukur kelimpahan.
Untuk menyatakan fungsi nursery dengan lebih kuat diperlukan informasi mengenai:
- kepadatan juvenil;
- pertumbuhan;
- kelangsungan hidup;
- konektivitas;
- kontribusi ke populasi dewasa.
Dahlgren dan kolega kemudian mengembangkan konsep effective juvenile habitat untuk memperluas pemahaman mengenai kontribusi habitat juvenil terhadap populasi dewasa.
Mangrove sebagai Feeding Ground
Nekton juga menggunakan mangrove sebagai:
feeding ground.
Sumber makanan dapat berasal dari:
- zooplankton;
- bentos;
- udang kecil;
- ikan kecil;
- mikroalga;
- epifit;
- detritus;
- bahan organik.
Serasah mangrove dapat masuk ke jaring makanan setelah melalui proses:
- fragmentasi;
- dekomposisi;
- aktivitas mikroorganisme.
Namun, tidak seluruh ikan mangrove memakan daun mangrove secara langsung.
Jaring makanan mangrove memperoleh energi dari berbagai sumber, termasuk plankton, mikrofitobentos, alga epifit, detritus, dan produksi dari habitat yang terkoneksi. Review ekologi mangrove menunjukkan bahwa hubungan antara produksi serasah dan jaring makanan jauh lebih kompleks daripada anggapan bahwa semua ikan mangrove bergantung langsung pada daun mangrove.
Mangrove sebagai Tempat Perlindungan
Struktur akar seperti pada Rhizophora mucronata dapat menghasilkan habitat tiga dimensi yang kompleks.
Ruang di antara akar dapat memberikan perlindungan terhadap predator tertentu.
Juvenil berukuran kecil dapat memanfaatkan struktur tersebut karena predator besar lebih sulit bergerak di antara jaringan akar.
Namun:
akar lebih rapat tidak otomatis menghasilkan nekton lebih banyak.
Kelimpahan juga dipengaruhi:
- kedalaman;
- pasang surut;
- salinitas;
- makanan;
- konektivitas;
- oksigen;
- musim.
Nekton dan Konektivitas Habitat
Mangrove tidak berdiri sendiri.
Seekor ikan dapat menggunakan:
mangrove → padang lamun → terumbu karang
sepanjang tahapan hidupnya.
Atau:
sungai → estuari → mangrove → laut.
Inilah yang disebut:
habitat connectivity
atau konektivitas habitat.
Konsep ini sangat penting karena fungsi mangrove terhadap ikan tidak hanya bergantung pada kondisi mangrove itu sendiri, tetapi juga pada akses menuju habitat lain.
Review mangrove menyebut bukti migrasi antara mangrove dan habitat berdekatan sebagai komponen penting dalam memahami fungsi ekosistem terhadap fauna laut.
Pasang Surut Sangat Penting dalam Sampling Nekton
Mangrove merupakan habitat intertidal.
Saat pasang:
air masuk ke dalam tegakan.
Ikan dan udang dapat mengikuti air menuju:
- akar;
- genangan;
- kanal kecil.
Saat surut:
organisme dapat kembali menuju:
- kanal;
- sungai;
- perairan lebih dalam.
Karena itu, sampel:
saat pasang
dan:
saat surut
tidak dapat dianggap identik.
Penelitian pada tidal creek mangrove menunjukkan struktur komunitas ikan dapat dipelajari pada fase pasang dan surut serta memperlihatkan variasi temporal yang besar pada jumlah individu dan spesies.
Catat Kondisi Pasang
Minimal catat:
- waktu sampling;
- fase pasang;
- kedalaman;
- lokasi;
- durasi sampling.
Untuk monitoring berulang, kondisi pasang sebaiknya dibuat sebanding.
Waktu Sampling Nekton
Komunitas juga dapat berbeda antara:
siang
dan:
malam.
Beberapa spesies:
- lebih aktif malam hari;
- masuk mangrove ketika kondisi gelap;
- bersembunyi pada siang hari.
Karena itu, penelitian harus menyatakan:
jam sampling.
Jangan membandingkan:
Stasiun A pukul 08.00
dengan:
Stasiun B pukul 22.00
lalu menganggap perbedaannya hanya disebabkan habitat.
Musim dan Nekton Mangrove
Komunitas nekton dapat berubah menurut:
- musim hujan;
- musim kemarau;
- periode reproduksi;
- rekrutmen;
- perubahan salinitas.
Penelitian Pulau Parang, Karimunjawa, menemukan perbedaan jumlah juvenil dan spesies antara dua periode sampling, yang menunjukkan pentingnya variasi temporal dalam interpretasi komunitas ikan mangrove.
Karena itu:
satu kali sampling = potret sesaat.
Bukan gambaran permanen komunitas.
Metode Sampling Nekton Mangrove
Tidak terdapat satu alat sampling terbaik untuk seluruh nekton.
Metode dipilih berdasarkan:
- organisme target;
- kedalaman;
- arus;
- akar mangrove;
- ukuran individu;
- kondisi kanal;
- tujuan penelitian.
Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain:
seine net
fyke net
lift net
gill net
cast net
trap net
drop trap
serta metode non-tangkap seperti:
visual census
dan:
environmental DNA.
Setiap alat mempunyai selektivitas berbeda.
Karena itu:
hasil tangkapan alat ≠ seluruh komunitas sebenarnya.
Seine Net
Seine net atau jaring tarik digunakan dengan menarik jaring melalui area perairan tertentu.
Keunggulan:
- dapat menangkap banyak ikan kecil;
- area sampling dapat diperkirakan;
- relatif cepat pada habitat terbuka.
Keterbatasan pada mangrove:
- akar menghalangi;
- jaring mudah tersangkut;
- substrat berlumpur menyulitkan operator.
Karena itu, metode ini lebih mudah digunakan pada:
- kanal;
- tepi mangrove;
- perairan terbuka.
Kepadatan dengan Seine Net
Jika area sapuan dapat dihitung:
D = n/A
Keterangan:
D = kepadatan
n = jumlah individu
A = area yang disapu.
Misalnya:
panjang sapuan = 20 m
lebar efektif jaring = 5 m.
Area:
20 × 5
= 100 m²
Ikan tertangkap:
250 individu.
Maka:
D = 250/100
= 2,5 ind/m².
Namun, angka ini mengasumsikan efisiensi tangkap tertentu.
Jika banyak ikan lolos:
kepadatan sebenarnya dapat lebih tinggi.
Fyke Net
Fyke net adalah perangkap berjaring dengan bagian sayap atau struktur pengarah yang membantu menggiring organisme ke dalam perangkap.
Metode ini sangat berguna pada:
- kanal pasang surut;
- aliran sempit;
- jalur keluar-masuk nekton.
Studi komunitas ikan pada kanal pasang mangrove menggunakan fyke net untuk menangkap ikan pada kondisi pasang dan surut serta menemukan puluhan spesies dengan dominasi ikan berukuran kecil dan juvenil.
Kelebihan:
- dapat menangkap ikan yang bergerak bersama pasang;
- efektif untuk monitoring kanal.
Keterbatasan:
- hasil tergantung arus;
- durasi;
- ukuran mesh;
- posisi alat.
Lift Net
Lift net merupakan jaring yang ditempatkan di air kemudian diangkat.
Penelitian komunitas ikan di mangrove Bedono, Demak menggunakan lift net selama delapan minggu dan menemukan sembilan famili ikan.
Metode ini menunjukkan bahwa alat tangkap lokal juga dapat digunakan dalam penelitian.
Namun:
prosedurnya harus distandardisasi.
Catat:
- ukuran jaring;
- mesh size;
- waktu pemasangan;
- jumlah pengangkatan;
- lokasi;
- pasang.
Gill Net
Gill net atau jaring insang dapat digunakan untuk menangkap ikan berukuran tertentu.
Penelitian di perairan mangrove Pulau Parang menggunakan gill net untuk ikan dan alat berbeda untuk juvenil.
Kelebihannya:
- efektif untuk ikan bergerak aktif;
- mudah digunakan di kanal tertentu.
Keterbatasannya adalah:
size selectivity.
Ukuran mesh menentukan ukuran ikan yang paling mudah tertangkap.
Karena itu:
tidak tertangkap ≠ tidak ada.
Ikan yang jauh lebih kecil atau lebih besar dapat lolos.
Cast Net
Cast net atau jala lempar dapat digunakan pada:
- kanal;
- genangan;
- tepi mangrove.
Keuntungannya:
- sederhana;
- cepat;
- alat relatif murah.
Namun, hasil sangat bergantung pada:
- kemampuan operator;
- kedalaman;
- substrat;
- struktur akar.
Karena itu, jika digunakan untuk membandingkan stasiun:
usahakan operator, jumlah lemparan, dan kondisi sampling sama.
Trap Net
Trap net menangkap organisme melalui mekanisme perangkap.
Keuntungannya:
- dapat ditempatkan dalam periode tertentu;
- cocok untuk kanal.
Namun, hasilnya merupakan:
jumlah yang masuk perangkap
bukan otomatis:
kepadatan per m².
Untuk alat seperti ini, Catch Per Unit Effort sering lebih tepat.
Drop Trap
Drop trap atau perangkap jatuh membatasi area tertentu secara cepat sehingga organisme di dalam area tersebut dapat dikumpulkan.
NOAA menggunakan pendekatan drop trap untuk sampling nekton pada habitat pesisir dangkal. Perangkap ditekan ke sedimen untuk membuat batas sehingga organisme tidak mudah melarikan diri dan fauna kemudian dikumpulkan dari area tertutup.
Keunggulan:
area sampling diketahui.
Karena itu, kepadatan dapat dihitung lebih langsung.
Namun, metode ini lebih sesuai untuk:
- perairan sangat dangkal;
- substrat yang memungkinkan alat dipasang.
Apakah Jaring yang Berbeda Bisa Dibandingkan?
Tidak secara langsung.
Misalnya:
Gill net menghasilkan 20 ikan.
Seine net menghasilkan 100 ikan.
Tidak berarti seine net menunjukkan lokasi lima kali lebih banyak ikan.
Kedua alat:
- mempunyai area efektif berbeda;
- durasi berbeda;
- selektivitas berbeda.
Untuk monitoring:
gunakan alat yang sama dari waktu ke waktu.
Mesh Size Sangat Menentukan Hasil
Ukuran mata jaring memengaruhi organisme yang tertahan.
Mesh besar:
lebih banyak ikan kecil lolos.
Mesh kecil:
menangkap individu lebih kecil tetapi:
- tahanan air lebih besar;
- lebih mudah tersumbat.
Karena itu, laporan metode wajib mencantumkan:
mesh size.
Jangan hanya menulis:
“sampel ikan diambil menggunakan jaring.”
Metode Sampling Juvenil
Ikan juvenil sering berukuran kecil sehingga membutuhkan:
- mesh size lebih kecil;
- alat khusus;
- sampling kanal dangkal.
Penelitian Pulau Parang menggunakan alat berbeda untuk ikan dewasa dan juvenil, dengan juvenil dikoleksi menggunakan jaring yang ditarik secara horizontal.
Ini menunjukkan bahwa:
satu alat belum tentu mewakili seluruh kelas ukuran.
Cara Menentukan Juvenil
Jangan menggunakan aturan universal:
“ikan <10 cm = juvenil.”
Ukuran kematangan berbeda antarspesies.
Juvenil sebaiknya ditentukan berdasarkan:
- literatur spesies;
- karakter morfologi;
- ukuran kematangan;
- tahap perkembangan.
Seekor ikan 10 cm dapat menjadi:
juvenil pada spesies A
tetapi:
dewasa pada spesies B.
Pengukuran Panjang Ikan
Parameter dapat berupa:
Total Length atau TL
Fork Length atau FL
Standard Length atau SL.
Ketiganya berbeda.
Total Length
Dari ujung moncong sampai ujung terjauh sirip ekor.
Fork Length
Dari ujung moncong sampai lekukan sirip ekor.
Standard Length
Dari ujung moncong sampai pangkal sirip ekor.
Jangan mencampurkan TL dan SL dalam satu dataset tanpa penjelasan.
Pengukuran Berat
Berat dapat dinyatakan:
gram
atau:
kilogram.
Jika organisme akan dilepas kembali, pengukuran harus dilakukan secara efisien untuk mengurangi stres.
Catat:
- ID spesies;
- panjang;
- berat;
- lokasi;
- waktu.
Identifikasi Nekton Mangrove
Identifikasi dapat menggunakan karakter:
- bentuk tubuh;
- pola warna;
- sirip;
- sisik;
- duri;
- bentuk kepala;
- karakter meristik.
Gunakan:
kunci identifikasi
atau:
referensi taksonomi yang sesuai.
Nama ilmiah ditulis:
Lutjanus argentimaculatus
bukan:
Lutjanus Argentimaculatus.
Jika identifikasi hanya sampai genus:
Lutjanus sp.
Jangan memaksakan nama spesies jika karakter tidak cukup.
Dokumentasi Foto
Foto sangat membantu.
Gunakan:
- latar belakang;
- skala;
- label;
- tampak lateral.
Contoh nama file:
ST01-FISH-001.jpg
Data foto dapat digunakan untuk:
- verifikasi taksonomi;
- audit;
- dokumentasi.
Preservasi Sampel
Jika organisme perlu dibawa ke laboratorium:
metode preservasi harus disesuaikan dengan tujuan.
Untuk identifikasi morfologi, penelitian terdahulu dapat menggunakan formalin dan kemudian alkohol untuk penyimpanan lebih lama. Studi Pulau Parang, misalnya, menggunakan formalin 10% kemudian alkohol 70%.
Namun, untuk penelitian modern yang membutuhkan:
DNA barcoding
atau:
analisis molekuler,
formalin umumnya tidak ideal karena dapat merusak kualitas DNA.
Gunakan metode preservasi yang sesuai dengan analisis akhir dan prosedur keselamatan laboratorium.
Sebisa Mungkin Gunakan Sampling Non-Letal
Jika tujuan hanya:
- identifikasi;
- ukuran;
- kelimpahan;
dan spesies dapat dilepas:
metode catch-measure-release dapat dipertimbangkan.
Ini sangat penting pada:
- kawasan konservasi;
- spesies langka;
- penelitian berulang.
Tujuan monitoring tidak seharusnya menghasilkan mortalitas yang tidak diperlukan.
Rumus Kelimpahan Relatif Nekton
Rumus:
KRi = ni/N × 100%
Keterangan:
KRi = kelimpahan relatif spesies ke-i
ni = jumlah individu spesies ke-i
N = jumlah seluruh individu.
Contoh:
Total nekton:
500 individu.
Spesies A:
Maka:
200/500 × 100%
= 40%.
Artinya spesies A menyusun:
40% tangkapan.
Catatan penting:
hasil tersebut adalah proporsi:
sampel hasil alat
bukan otomatis proporsi absolut seluruh populasi.
Kepadatan Nekton
Jika luas efektif sampling diketahui:
D = n/A
Keterangan:
D = kepadatan
n = jumlah individu
A = area.
Contoh:
n = 120
A = 60 m².
Maka:
D = 120/60
= 2 ind/m².
Namun, jika menggunakan gill net tanpa area tangkap yang jelas:
jangan memaksakan satuan:
ind/m².
Gunakan:
Catch Per Unit Effort.
Apa Itu CPUE?
CPUE adalah:
Catch Per Unit Effort.
Rumus:
CPUE = C/E
Keterangan:
C = jumlah atau berat tangkapan
E = upaya penangkapan.
Contoh upaya:
- jam pemasangan;
- jumlah jaring;
- jumlah lemparan;
- luas sapuan.
Satuan dapat berupa:
individu/jaring/jam
atau:
kg/jaring/jam.
Contoh Menghitung CPUE Nekton
Sebuah jaring dipasang:
4 jam
dan menghasilkan:
80 ikan.
Maka:
CPUE:
80/4
= 20 individu/jam.
Jika digunakan dua jaring selama empat jam:
upaya:
2 × 4
= 8 net-hours
maka:
80/8
= 10 individu/net-hour.
Tuliskan definisi upaya secara jelas.
CPUE Bukan Kepadatan Populasi
Ini penting.
CPUE menunjukkan:
hasil tangkapan relatif terhadap upaya.
Bukan jumlah pasti organisme per unit area.
Nilai dipengaruhi:
- efisiensi alat;
- perilaku ikan;
- pasang;
- operator;
- mesh size.
Karena itu:
10 ind/net-hour ≠ 10 ind/m².
CPUE Biomassa
Jika menggunakan berat:
CPUEw = W/E
Misalnya:
berat tangkapan:
12 kg.
Upaya:
6 net-hours.
Maka:
12/6
= 2 kg/net-hour.
Data jumlah dan biomassa sebaiknya dapat dilaporkan bersama.
Mengapa Jumlah dan Biomassa Bisa Memberi Gambaran Berbeda?
Stasiun A:
100 ikan kecil
total 5 kg.
Stasiun B:
20 ikan besar
total 10 kg.
A mempunyai:
kelimpahan individu lebih tinggi.
B mempunyai:
biomassa lebih tinggi.
Keduanya menjawab pertanyaan berbeda.
Kekayaan Jenis Nekton
Kekayaan jenis sederhana:
S = jumlah spesies.
Contoh:
20 jenis ikan
3 jenis udang.
Jika seluruhnya dimasukkan sebagai komunitas nekton:
S = 23 taksa.
Tetapi jelaskan apakah analisis mencakup:
ikan saja
atau:
ikan + krustasea.
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
Rumus:
H′ = −Σ(pi × ln pi)
dengan:
pi = ni/N
H′ menggabungkan:
- kekayaan jenis;
- proporsi kelimpahan.
Namun, H′ bukan ukuran kesehatan ekosistem secara langsung.
Nilai rendah dapat muncul karena:
- dominansi alami;
- musim rekrutmen;
- alat selektif;
- habitat spesifik.
Jangan langsung menulis:
“H′ rendah berarti mangrove rusak.”
Indeks Kemerataan
Gunakan:
Pielou's Evenness Index
dengan rumus:
J′ = H′/ln S
Nilai semakin mendekati 1 menunjukkan kelimpahan antarspesies semakin merata.
Indeks Dominansi Simpson
Salah satu bentuk:
D = Σpi²
Semakin tinggi D:
semakin terkonsentrasi komunitas pada beberapa spesies.
Namun, karena terdapat beberapa bentuk indeks Simpson:
D, 1−D, dan 1/D
rumus harus selalu disebutkan.
Jangan Menjumlahkan H′ Antarstasiun
Misalnya:
H′ ST01 = 1,5
H′ ST02 = 2,0.
Jangan:
1,5 + 2,0 = 3,5
dan menyebutnya keanekaragaman kawasan.
Jika ingin nilai gabungan:
gabungkan jumlah individu per spesies
kemudian hitung ulang H′.
Komposisi Komunitas Lebih Informatif daripada H′ Saja
Dua lokasi dapat mempunyai:
H′ = 2,0.
Tetapi jenisnya berbeda total.
Lokasi A:
didominasi ikan estuari.
Lokasi B:
didominasi ikan laut.
Karena itu, selalu lihat:
- spesies;
- famili;
- ukuran;
- kelompok ekologis.
Kelompok Ekologis Nekton
Ikan dapat dikelompokkan menurut pola penggunaan habitat, misalnya:
- penghuni estuari;
- pengunjung laut;
- spesies diadromus;
- penghuni air tawar yang memasuki estuari;
- pengguna juvenil.
Terminologi klasifikasi harus mengikuti referensi yang dipilih.
Jangan mengelompokkan hanya berdasarkan dugaan.
Struktur Ukuran Ikan
Distribusi panjang memberikan informasi penting.
Misalnya:
mayoritas ikan berada pada:
3–8 cm.
Ini dapat mengindikasikan dominasi individu berukuran kecil.
Tetapi untuk menyatakan:
juvenil
perlu data biologis spesies.
Buat histogram:
kelas panjang vs frekuensi.
Data ini sangat berguna untuk melihat:
- rekrutmen;
- struktur populasi;
- perubahan temporal.
Hubungan Panjang dan Berat
Jika diperlukan:
W = aLᵇ
Keterangan:
W = berat
L = panjang
a dan b = konstanta hasil regresi.
Hubungan ini dapat digunakan untuk mempelajari pola pertumbuhan.
Namun, rumus tersebut bukan kebutuhan wajib pada penelitian komunitas nekton.
Gunakan jika pertanyaannya terkait:
biologi populasi.
Nekton dan Salinitas
Salinitas merupakan salah satu faktor penting pada estuari.
Nilainya dapat berubah akibat:
- pasang;
- hujan;
- debit sungai;
- musim.
Spesies mempunyai toleransi berbeda.
Penelitian mangrove Indonesia juga menunjukkan komunitas ikan sering dianalisis bersama parameter seperti salinitas, suhu, pH, DO, dan kecerahan.
Namun:
korelasi salinitas dengan jumlah ikan tidak otomatis menunjukkan sebab-akibat.
Nekton dan DO
DO adalah:
Dissolved Oxygen.
Oksigen rendah dapat membatasi beberapa spesies.
Namun, komunitas mangrove juga dapat memiliki spesies yang toleran terhadap perubahan DO.
Karena itu, ukur:
- DO;
- suhu;
- waktu;
- kedalaman;
secara bersamaan.
Nekton dan Suhu
Suhu memengaruhi:
- metabolisme;
- aktivitas;
- oksigen terlarut;
- perilaku.
Jika sampling dilakukan pukul:
06.00
dan:
14.00,
perbedaan suhu dapat cukup besar.
Catat waktu pengukuran.
Nekton dan Kekeruhan
Perairan mangrove sering keruh.
Kekeruhan dapat memengaruhi:
- penglihatan predator;
- fotosintesis;
- perilaku.
Namun, kekeruhan tinggi tidak otomatis buruk.
Banyak estuari secara alami mempunyai sedimen tersuspensi tinggi.
Interpretasi harus mempertimbangkan kondisi referensi.
Nekton dan Struktur Akar
Struktur akar dapat meningkatkan kompleksitas habitat.
Namun, untuk menguji hubungan tersebut:
ukur variabel struktur seperti:
- kerapatan akar;
- kerapatan pohon;
- tutupan;
- kompleksitas habitat.
Jangan hanya menulis:
“ikan banyak karena akar banyak.”
Tanpa data pendukung.
Nekton dan Kerapatan Mangrove
Kerapatan vegetasi dapat berkaitan dengan:
- perlindungan;
- makanan;
- struktur ruang.
Namun, hubungan tidak harus linear.
Tegakan sangat rapat mungkin:
- sulit dimasuki ikan besar;
- mempunyai sirkulasi berbeda.
Sementara tepian atau kanal dapat mempunyai tangkapan lebih tinggi karena berfungsi sebagai jalur pergerakan.
Karena itu, lokasi sampling perlu membedakan:
interior mangrove
tepi
kanal.
Nekton dan Serasah Mangrove
Serasah berkontribusi pada siklus bahan organik.
Tetapi jangan menganggap:
semua ikan memakan serasah.
Daun dapat:
- terurai;
- dikolonisasi mikroba;
- menjadi detritus;
- memasuki jaring makanan tidak langsung.
Review mangrove menunjukkan detritus hanyalah salah satu sumber energi di antara plankton, alga epifit, mikrofitobentos, dan sumber lainnya.
Nekton dan Makrozoobentos
Makrozoobentos dapat menjadi:
makanan bagi nekton.
Contohnya:
- polychaeta;
- udang kecil;
- gastropoda kecil;
- krustasea.
Karena itu, studi terintegrasi dapat menghubungkan:
komunitas bentos
dengan:
struktur komunitas ikan.
Tetapi diperlukan analisis isi lambung atau pendekatan trofik jika ingin membuktikan hubungan makan secara langsung.
Analisis Isi Lambung
Untuk penelitian feeding ecology, dapat dilakukan analisis:
gut content.
Parameter dapat mencakup:
- jenis makanan;
- frekuensi kemunculan;
- volume;
- jumlah.
Namun, ini merupakan penelitian yang lebih spesifik dibandingkan survei komunitas nekton.
Metode juga dapat bersifat destruktif.
Karena itu, harus mempunyai tujuan ilmiah yang jelas.
Stable Isotope Analysis
Analisis isotop stabil seperti:
δ¹³C
dan:
δ¹⁵N
dapat digunakan untuk membantu memahami:
- sumber karbon;
- posisi trofik.
Metode ini lebih kuat untuk melihat integrasi makanan dalam periode tertentu dibandingkan hanya isi lambung sesaat.
Namun:
δ¹³C tidak secara otomatis menunjukkan “ikan memakan mangrove”.
Interpretasinya memerlukan:
- sumber potensial;
- baseline;
- mixing model.
Nekton dan Restorasi Mangrove
Pemulihan mangrove seharusnya tidak hanya dilihat dari:
berapa pohon tumbuh.
Jika habitat pulih, secara bertahap dapat terjadi perubahan:
- hidrologi;
- akar;
- serasah;
- bentos;
- nekton.
Karena itu, nekton dapat digunakan sebagai salah satu komponen monitoring fungsi habitat.
Namun:
jumlah ikan meningkat tidak otomatis membuktikan restorasi berhasil.
Perubahan dapat disebabkan:
- musim;
- pasang;
- rekrutmen regional.
Gunakan:
- lokasi referensi;
- monitoring berulang;
- metode konsisten.
Nekton dalam Pendekatan EMR
Dalam Ecological Mangrove Restoration atau EMR, fungsi ekosistem bergantung pada pemulihan proses ekologis.
Untuk nekton, salah satu proses paling penting adalah:
konektivitas hidrologi.
Jika mangrove secara fisik terlihat hijau tetapi:
- tanggul memutus kanal;
- air pasang tidak masuk;
- jalur ikan terputus;
maka fungsi habitat nekton dapat tetap terbatas.
Karena itu, monitoring nekton dapat membantu melihat apakah pemulihan:
vegetasi
juga diikuti oleh:
pemulihan fungsi habitat akuatik.
Nekton dalam Pendekatan CBEMR
Dalam Community-Based Ecological Mangrove Restoration atau CBEMR, masyarakat dapat berkontribusi dalam:
- informasi jenis ikan;
- musim;
- lokasi tangkap;
- ukuran;
- perubahan hasil tangkapan.
Nelayan sering memiliki pengetahuan temporal yang tidak dapat diperoleh dari satu survei ilmiah.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun:
hipotesis
kemudian diuji menggunakan sampling terstandar.
Data Nelayan Bukan Pengganti Sampling Ilmiah
Catatan tangkapan nelayan sangat berharga.
Namun, alat tangkap nelayan mempunyai:
- target tertentu;
- lokasi tertentu;
- waktu tertentu.
Karena itu, catch data tidak otomatis menggambarkan seluruh komunitas nekton.
Gabungkan:
pengetahuan lokal + sampling terstandar.
Environmental DNA untuk Nekton Mangrove
Salah satu metode yang berkembang pesat adalah:
environmental DNA atau eDNA.
Organisme melepaskan DNA ke lingkungan melalui:
- sel;
- lendir;
- feses;
- jaringan.
Air kemudian diambil dan DNA dianalisis menggunakan:
metabarcoding.
Metode tersebut memungkinkan banyak taksa dideteksi tanpa harus ditangkap secara fisik.
Penelitian di estuari mangrove Merbok, Malaysia berhasil mendeteksi komunitas ikan yang sangat beragam menggunakan eDNA metabarcoding.
Studi 2025 pada ekosistem vegetasi pesisir Afrika Selatan juga menemukan sampel eDNA air mendeteksi sebagian besar keragaman ikan yang diperoleh dalam penelitian tersebut dan menekankan pentingnya konektivitas hidrologi dalam interpretasi data.
eDNA untuk Mangrove Indonesia
Penelitian 2025 pada pesisir mangrove Demak, Jawa, menunjukkan eDNA metabarcoding dapat digunakan sebagai dasar pemantauan kekayaan dan komposisi komunitas ikan pada kawasan restorasi pesisir. Studi tersebut juga menemukan perubahan komposisi dalam periode beberapa bulan, meskipun efek musim tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari perubahan habitat.
Ini sangat relevan untuk monitoring mangrove Indonesia.
eDNA Tidak Menghitung Jumlah Ikan Secara Langsung
Jika eDNA menghasilkan:
1 juta reads untuk spesies A
dan:
100 ribu reads untuk spesies B,
jangan langsung menyimpulkan:
ikan A sepuluh kali lebih banyak.
Jumlah reads dipengaruhi:
- pelepasan DNA;
- degradasi;
- primer;
- amplifikasi;
- ukuran tubuh;
- arus.
Karena itu, eDNA sangat kuat untuk:
deteksi keberadaan dan komposisi
tetapi tidak secara sederhana menggantikan data kepadatan.
eDNA dan Sampling Konvensional Sebaiknya Saling Melengkapi
Studi mangrove Asia terbaru menunjukkan eDNA metabarcoding dapat mendeteksi lebih banyak taksa dibandingkan beberapa metode konvensional dalam desain tertentu. Studi mangrove Tiongkok yang terbit pada 2026, misalnya, melaporkan eDNA memberikan cakupan taksonomi lebih besar daripada survei tradisional dan menangkap variasi musiman komunitas ikan.
Namun, sampling tangkap tetap memberikan data penting:
- panjang;
- berat;
- umur;
- kondisi;
- biomassa.
Jadi:
eDNA menjawab siapa yang terdeteksi.
Jaring menjawab siapa yang tertangkap dan bagaimana karakter individunya.
Kombinasi keduanya dapat sangat kuat.
Visual Census Nekton
Visual census dapat digunakan pada:
- air cukup jernih;
- kanal tertentu;
- sistem kamera.
Namun, mangrove sering mempunyai:
- air keruh;
- akar kompleks;
- visibilitas rendah.
Karena itu, kemampuan deteksinya terbatas.
Kamera bawah air juga dapat digunakan sebagai metode non-invasif, tetapi hasil tetap dipengaruhi:
- kekeruhan;
- sudut kamera;
- perilaku ikan.
Hydroacoustic pada Mangrove
Metode akustik dapat digunakan untuk mendeteksi ikan di beberapa lingkungan perairan.
Namun, di mangrove dangkal dan kompleks:
- akar;
- dasar;
- kedalaman rendah;
dapat menghasilkan banyak gangguan sinyal.
Karena itu, metode harus disesuaikan dengan geometri habitat.
Contoh Desain Sampling Nekton Mangrove
Misalnya penelitian memiliki tiga zona:
ST01 – Kanal depan
ST02 – Tengah mangrove
ST03 – Kanal belakang
Pada setiap stasiun dilakukan sampling:
pagi saat pasang
dan:
sore saat surut.
Ulangan:
3 kali.
Data:
- spesies;
- jumlah;
- panjang;
- berat;
- CPUE;
- salinitas;
- suhu;
- pH;
- DO;
- kedalaman.
Dengan desain seperti itu dapat dianalisis:
zona × pasang × komunitas nekton.
Contoh Tally Sheet Nekton
| Stasiun | Spesies | Jumlah | TL | Berat | Alat | Upaya |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ST01 | Spesies A | 25 | 7,2 cm | 110 g | Fyke net | 2 jam |
| ST01 | Spesies B | 10 | 9,1 cm | 95 g | Fyke net | 2 jam |
| ST01 | Spesies C | 5 | 12,4 cm | 150 g | Fyke net | 2 jam |
Tambahkan:
- tanggal;
- pasang;
- kedalaman;
- kualitas air.
Contoh Perhitungan CPUE
Total hasil:
40 individu.
Waktu:
2 jam.
Maka:
CPUE = 40/2 = 20 individu/jam.
Jika dua perangkap digunakan selama 2 jam:
Effort = 2 × 2 = 4 trap-hours
Maka:
CPUE = 40/4 = 10 individu/trap-hour.
Definisi upaya harus ditulis dengan jelas.
Contoh Kelimpahan Relatif
Jumlah:
A = 25
B = 10
C = 5.
Total:
A:
25/40 × 100%
= 62,5%
B:
25%
C:
12,5%
Spesies A dominan secara numerik pada tangkapan tersebut.
Jangan Menyebut Spesies Dominan Hanya dari Satu Kali Tangkap
Satu penangkapan dapat dipengaruhi:
- gerombolan ikan;
- pasang;
- waktu.
Jika 100 ikan dari satu gerombolan masuk perangkap:
hasil H′ dapat turun drastis.
Karena itu, gunakan:
replikasi temporal.
Species Accumulation Curve
Jika penelitian ingin mengetahui apakah sampling sudah cukup untuk menangkap kekayaan komunitas, dapat digunakan:
species accumulation curve.
Kurva menunjukkan pertambahan jumlah spesies seiring bertambahnya:
- sampel;
- ulangan.
Jika kurva mulai mendatar:
sampling mulai mendekati kekayaan yang dapat dideteksi oleh metode tersebut.
Rarefaction
Rarefaction dapat membantu membandingkan kekayaan jenis ketika jumlah individu atau sampling effort berbeda.
Ini penting karena:
stasiun dengan 1.000 individu
mempunyai peluang menemukan lebih banyak spesies dibandingkan:
stasiun dengan 50 individu.
Jangan membandingkan kekayaan mentah tanpa mempertimbangkan upaya sampling.
Analisis Multivariat Nekton
Jika penelitian lebih lanjut, komposisi komunitas dapat dianalisis menggunakan:
Bray-Curtis dissimilarity
cluster analysis
nMDS
PERMANOVA
atau:
Canonical Correspondence Analysis.
Namun, statistik tersebut digunakan jika sesuai dengan:
hipotesis.
Tidak ada kewajiban membuat analisis kompleks hanya agar penelitian terlihat ilmiah.
Nekton dan Kualitas Air Harus Diukur Bersamaan
Contoh parameter:
| Parameter | Satuan |
|---|---|
| Suhu | °C |
| Salinitas | ppt/‰ |
| pH | – |
| DO | mg/L |
| Kekeruhan | NTU |
| Kedalaman | cm/m |
Jika ikan dikoleksi pukul:
08.00,
usahakan kualitas air juga diukur sekitar periode tersebut.
Jangan menggunakan data kualitas air:
bulan berikutnya
untuk menjelaskan hasil komunitas sebelumnya.
Kesalahan Umum Penelitian Nekton Mangrove
Menyebut Semua Fauna Air sebagai Nekton
Plankton dan bentos berbeda.
Menganggap Semua Kepiting sebagai Nekton
Banyak kepiting lebih tepat dikelompokkan sebagai fauna bentik.
Tidak Menulis Jenis Alat Tangkap
Hasil tidak dapat direplikasi.
Tidak Menulis Mesh Size
Selektivitas tidak diketahui.
Membandingkan Alat Berbeda secara Langsung
Efisiensi tangkap berbeda.
Menggunakan Jumlah Mentah sebagai Kepadatan
Area harus diketahui.
Menggunakan CPUE sebagai ind/m²
Keduanya berbeda.
Tidak Mencatat Pasang Surut
Padahal pergerakan nekton sangat dipengaruhi pasang.
Tidak Mencatat Waktu
Komunitas dapat berbeda siang dan malam.
Menganggap Semua Ikan Kecil sebagai Juvenil
Tahap hidup bersifat spesifik spesies.
Menyebut Mangrove sebagai Nursery Ground Hanya karena Menemukan Juvenil
Bukti fungsi nursery memerlukan pembandingan kontribusi habitat.
Menganggap H′ sebagai Indeks Kesehatan
Shannon hanya menggambarkan struktur keanekaragaman.
Menggunakan eDNA reads sebagai Jumlah Individu
Hubungannya tidak langsung.
QA/QC Sampling Nekton
Sebelum sampling:
cek alat
catat ukuran jaring
catat mesh
cek pasang
tentukan durasi
siapkan label.
Saat sampling:
gunakan upaya sama
catat waktu
catat posisi
hindari perubahan alat
ukur lingkungan.
Setelah sampling:
identifikasi
ukur panjang
ukur berat jika diperlukan
dokumentasikan foto
simpan data mentah
verifikasi nama ilmiah.
Cara Menulis Metode Nekton Mangrove
Contoh:
“Komunitas nekton mangrove diamati pada tiga stasiun yang mewakili zona kanal depan, tengah, dan belakang kawasan mangrove. Sampling dilakukan menggunakan fyke net dengan ukuran dan mesh size yang sama pada setiap stasiun. Perangkap dipasang selama dua jam pada fase pasang yang setara dan pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga ulangan. Setiap individu diidentifikasi hingga tingkat taksonomi terendah yang dapat dipastikan, dihitung, serta diukur panjang totalnya. Kelimpahan relatif dihitung berdasarkan proporsi jumlah individu setiap spesies, sedangkan hasil tangkapan distandardisasi menggunakan Catch Per Unit Effort dalam individu/net-hour. Suhu, salinitas, pH, DO, kedalaman, waktu, dan kondisi pasang dicatat bersamaan dengan sampling biologis.”
Metode tersebut lebih kuat daripada:
“Nekton ditangkap menggunakan jaring.”
Cara Menulis Hasil Nekton Mangrove
Kurang kuat:
“Banyak ikan juvenil ditemukan sehingga mangrove merupakan nursery ground.”
Lebih tepat:
“Komunitas nekton selama periode pengamatan terdiri atas 18 spesies dari 12 famili dengan CPUE rata-rata 14,5 individu/net-hour. Sebagian tangkapan terdiri atas individu berukuran kecil yang berdasarkan informasi biologis spesies tertentu termasuk kelas juvenil. Temuan tersebut menunjukkan penggunaan mangrove sebagai habitat juvenil, tetapi pembuktian fungsi nursery membutuhkan evaluasi tambahan mengenai pertumbuhan, kelangsungan hidup, konektivitas, dan kontribusi terhadap populasi dewasa.”
Kalimat tersebut jauh lebih tepat secara ekologis.
Cara Menulis Pembahasan
Kurang tepat:
“Jumlah ikan tinggi karena mangrove rapat.”
Lebih baik:
“CPUE nekton lebih tinggi pada stasiun dengan struktur vegetasi yang lebih kompleks. Namun, pola tersebut tidak dapat diatribusikan hanya kepada kerapatan mangrove karena stasiun juga berbeda dalam kedalaman, salinitas, kondisi pasang, dan konektivitas kanal.”
Ini membedakan:
asosiasi
dengan:
kausalitas.
Nekton Mangrove dalam Perspektif KeSEMaT
Bagi KeSEMaT, penelitian nekton membantu menunjukkan bahwa fungsi mangrove tidak berhenti pada pohon yang tumbuh di atas sedimen.
Ketika air pasang masuk, ruang di antara akar berubah menjadi:
habitat akuatik.
Ikan masuk.
Udang bergerak mengikuti kanal.
Juvenil mencari perlindungan.
Predator mengikuti mangsa.
Saat air surut, sebagian organisme kembali menuju perairan yang lebih dalam.
Dinamika tersebut menunjukkan bahwa mangrove merupakan bagian dari lanskap pesisir yang terkoneksi.
Karena itu, keberhasilan pemulihan mangrove tidak cukup dinilai hanya dari:
jumlah bibit hidup.
Pertanyaan yang lebih besar adalah:
apakah hidrologinya pulih?
apakah kanal tetap terkoneksi?
apakah fauna kembali menggunakan habitat?
apakah fungsi ekologis berkembang?
Sampling menggunakan fyke net, seine net, lift net, gill net, drop trap, dan metode lainnya dapat memberikan informasi mengenai organisme yang tertangkap. Environmental DNA kemudian membuka peluang mendeteksi biodiversitas yang lebih luas tanpa harus menangkap seluruh fauna secara fisik.
Namun, setiap metode mempunyai keterbatasan.
Jaring mempunyai selektivitas.
Perangkap tergantung perilaku.
Visual census tergantung visibilitas.
eDNA mendeteksi DNA, bukan menghitung individu secara langsung.
Karena itu, penelitian nekton yang kuat bukan penelitian dengan alat paling mahal, tetapi penelitian yang menggunakan alat yang tepat, upaya yang terstandar, waktu dan pasang yang terdokumentasi, identifikasi yang benar, serta interpretasi yang sesuai dengan apa yang benar-benar dapat dijelaskan oleh data.
Nekton memperlihatkan bahwa mangrove bukan hanya hutan di tepi laut. Ketika pasang datang, mangrove menjadi ruang hidup yang bergerak—menghubungkan akar, kanal, estuari, laut, dan berbagai organisme yang menggunakan semuanya sebagai satu lanskap pesisir. (ADM).
FAQ Nekton Mangrove
Apa itu nekton mangrove?
Nekton mangrove adalah organisme perairan yang mampu berenang aktif dan menggunakan habitat mangrove, terutama ikan serta beberapa krustasea bergerak aktif.
Apa perbedaan nekton dan makrozoobentos?
Nekton aktif berenang dalam kolom air, sedangkan makrozoobentos hidup terutama pada atau di dalam substrat.
Apakah semua ikan di mangrove termasuk nekton?
Ikan yang telah mempunyai kemampuan berenang aktif umumnya termasuk nekton. Telur dan sebagian larva awal dapat termasuk ichthyoplankton.
Apakah semua kepiting termasuk nekton?
Tidak. Banyak kepiting mangrove merupakan fauna bentik. Hanya kelompok yang perilaku dan habitatnya sesuai dengan definisi nekton yang sebaiknya dimasukkan.
Apa fungsi mangrove bagi nekton?
Mangrove dapat menyediakan makanan, perlindungan, habitat juvenil, jalur pergerakan, dan konektivitas dengan habitat pesisir lainnya.
Apakah mangrove selalu menjadi nursery ground?
Tidak untuk seluruh spesies. Secara ilmiah, fungsi nursery sebaiknya dievaluasi berdasarkan kontribusi habitat terhadap individu yang akhirnya masuk ke populasi dewasa dibandingkan habitat juvenil lainnya.
Apakah menemukan banyak juvenil membuktikan fungsi nursery?
Belum. Kelimpahan juvenil merupakan salah satu bukti pendukung, tetapi pertumbuhan, kelangsungan hidup, pergerakan, dan kontribusi ke populasi dewasa juga penting.
Apa alat sampling nekton mangrove?
Alat dapat berupa seine net, fyke net, lift net, gill net, cast net, trap net, dan drop trap, tergantung habitat dan organisme sasaran.
Apa itu CPUE?
CPUE atau Catch Per Unit Effort adalah jumlah atau berat hasil tangkapan yang distandardisasi berdasarkan upaya penangkapan.
Apa rumus CPUE?
CPUE = C/E
dengan C sebagai hasil tangkapan dan E sebagai upaya.
Apakah CPUE sama dengan kepadatan?
Tidak. CPUE merupakan indeks hasil tangkapan relatif terhadap upaya, sedangkan kepadatan membutuhkan jumlah individu per area atau volume yang diketahui.
Apa rumus kepadatan nekton?
Jika luas sampling diketahui:
D = n/A
Apa rumus kelimpahan relatif?
KRi = ni/N × 100%
Apa rumus Indeks Shannon-Wiener?
H′ = −Σ(pi × ln pi)
dengan:
pi = ni/N.
Apakah H′ rendah berarti mangrove rusak?
Tidak otomatis. Nilai Shannon juga dipengaruhi musim, dominansi alami, selektivitas alat, dan karakter habitat.
Mengapa pasang surut penting dalam sampling nekton?
Karena ikan dan krustasea dapat masuk dan keluar kawasan mangrove mengikuti pergerakan air.
Apakah sampling pagi dan malam dapat dibandingkan?
Bisa apabila faktor waktu memang menjadi bagian desain penelitian. Jika tidak, perbedaan aktivitas diel dan kondisi lingkungan dapat menjadi faktor pengganggu.
Apa itu eDNA?
Environmental DNA adalah DNA organisme yang terdapat di lingkungan seperti air dan dapat dianalisis untuk mendeteksi keberadaan berbagai taksa.
Apakah eDNA bisa digunakan pada mangrove Indonesia?
Ya. Studi 2025 di kawasan mangrove Demak menunjukkan eDNA metabarcoding dapat digunakan untuk memonitor kekayaan dan perubahan komunitas ikan.
Apakah jumlah eDNA reads sama dengan jumlah ikan?
Tidak. Jumlah reads dipengaruhi banyak proses biologis dan teknis sehingga tidak dapat langsung dikonversi menjadi jumlah individu.
Apakah nekton dapat digunakan untuk monitoring restorasi mangrove?
Ya. Komunitas nekton dapat menjadi salah satu indikator perkembangan fungsi habitat jika sampling dilakukan secara terstandar dan dikombinasikan dengan data hidrologi, vegetasi, kualitas air, dan habitat referensi. (ADM).
Daftar Pustaka
Nagelkerken, I., Blaber, S. J. M., Bouillon, S., Green, P., Haywood, M., Kirton, L. G., Meynecke, J.-O., Pawlik, J., Penrose, H. M., Sasekumar, A., & Somerfield, P. J. 2008. The Habitat Function of Mangroves for Terrestrial and Marine Fauna: A Review. Aquatic Botany, 89(2), 155–185.
Beck, M. W., Heck, K. L., Able, K. W., Childers, D. L., Eggleston, D. B., Gillanders, B. M., Halpern, B., Hays, C. G., Hoshino, K., Minello, T. J., Orth, R. J., Sheridan, P. F., & Weinstein, M. P. 2001. The Identification, Conservation, and Management of Estuarine and Marine Nurseries for Fish and Invertebrates. BioScience, 51(8), 633–641.
Dahlgren, C. P., Kellison, G. T., Adams, A. J., Gillanders, B. M., Kendall, M. S., Layman, C. A., Ley, J. A., Nagelkerken, I., & Serafy, J. E. 2006. Marine Nurseries and Effective Juvenile Habitats: Concepts and Applications. Marine Ecology Progress Series, 312, 291–295.
Rejeki, S., Irwani, & Hisyam, D. 2013. Struktur Komunitas Ikan pada Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak. Buletin Oseanografi Marina, 2(2), 78–86.
Pribadi, R., et al. 2013. Komunitas Ikan di Perairan Kawasan Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa, Jepara. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences, 18(1).
Redjeki, S. 2013. Komposisi dan Kelimpahan Ikan di Ekosistem Mangrove di Kedungmalang, Jepara. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences.
Jansen, et al. 2025. A Baseline of Fish Species Richness Through eDNA Metabarcoding in an Understudied Tropical Mangrove Coast of Java, Indonesia. Environmental DNA.
Rossouw, E. I., von der Heyden, S., & Peer, N. 2025. Aquatic eDNA Outperforms Sedimentary eDNA for the Detection of Estuarine Fish Communities in Subtropical Coastal Vegetated Ecosystems. Journal of Fish Biology, 107(2), 520–534.
(Sumber gambar: Nuraini Putri Ratnasari/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar