Semarang – KeSEMaTBLOG. Mangrove Health Index (MHI) merupakan indeks yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kesehatan struktur komunitas mangrove melalui penggabungan beberapa parameter vegetasi ke dalam satu nilai. Dalam metode MHI yang dikembangkan untuk monitoring mangrove di Indonesia, parameter utama yang digunakan adalah persentase tutupan kanopi, diameter rata-rata tegakan, dan kerapatan pancang.
Penggunaan satu indeks menjadi penting karena kondisi mangrove tidak selalu dapat dijelaskan hanya dari satu parameter. Kawasan dengan tutupan kanopi tinggi belum tentu memiliki regenerasi yang baik. Sebaliknya, kawasan yang memiliki banyak individu muda belum tentu mempunyai struktur tegakan dewasa yang berkembang dengan baik.Metode MHI mengubah tiga parameter tersebut menjadi skor terstandar, kemudian menggabungkannya menjadi nilai antara 0 hingga 100. Semakin tinggi nilai MHI, semakin baik kondisi struktur komunitas mangrove berdasarkan parameter yang digunakan dalam indeks tersebut. Metode ini dikembangkan dari data monitoring COREMAP-CTI dan kemudian dituangkan dalam panduan monitoring serta pelatihan Mangrove Health Index di Indonesia.
Namun, satu hal perlu dipahami sejak awal: MHI bukan ukuran tunggal untuk seluruh aspek kesehatan ekosistem mangrove. Nilai ini terutama menggambarkan kondisi struktur vegetasi mangrove, sehingga interpretasinya tetap perlu dilengkapi dengan informasi hidrologi, sedimentasi, kualitas lingkungan, biodiversitas, gangguan, dan perubahan tapak apabila tujuan kajian adalah menilai kondisi ekosistem secara menyeluruh.
Apa yang Dimaksud dengan Mangrove Health Index?
Mangrove Health Index atau MHI adalah indeks kuantitatif yang mengintegrasikan sejumlah karakter struktur komunitas mangrove menjadi satu nilai kesehatan.
Metode MHI Indonesia menggunakan tiga komponen utama:
- tutupan kanopi mangrove (canopy cover);
- diameter rata-rata tegakan; dan
- kerapatan atau jumlah pancang (sapling density).
Ketiga parameter tersebut dipilih karena mewakili aspek struktur tegakan yang berbeda.
Tutupan kanopi menunjukkan perkembangan bagian atas tegakan. Diameter menggambarkan ukuran dan perkembangan batang. Sementara itu, keberadaan pancang memberi informasi mengenai komponen regenerasi atau tegakan muda yang telah berkembang melampaui tingkat semai.
Panduan analisis MHI menjelaskan bahwa kombinasi persentase tutupan kanopi, diameter rata-rata, dan kerapatan pancang dikembangkan menjadi satu metrik berdasarkan analisis data dari berbagai plot monitoring COREMAP-CTI.
Mengapa Mangrove Health Index Diperlukan?
Sebelum MHI digunakan, kondisi mangrove antara lain dapat dinilai berdasarkan parameter seperti kerapatan pohon dan persentase tutupan kanopi.
Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004, misalnya, kriteria baku kerusakan mangrove menggunakan tutupan dan kerapatan sebagai indikator.
Permasalahan dapat muncul ketika dua indikator memberikan hasil kategori yang berbeda.
Sebagai contoh, suatu kawasan dapat memiliki:
kerapatan rendah tetapi tutupan kanopi sedang, atau
kerapatan tinggi tetapi tutupan kanopi belum tinggi.
Artinya, satu tegakan dapat memperoleh interpretasi berbeda tergantung parameter yang digunakan.
Panduan MHI menunjukkan contoh kondisi seperti ini dan menjelaskan kebutuhan terhadap satu nilai yang menggabungkan beberapa parameter komunitas sehingga interpretasinya lebih terintegrasi.
Namun, MHI tidak dimaksudkan untuk menghapus kegunaan parameter aslinya.
Dalam monitoring yang baik, nilai:
- tutupan kanopi;
- DBH;
- kerapatan;
- regenerasi;
- komposisi jenis; dan
- parameter lingkungan
tetap penting untuk dilaporkan.
MHI berfungsi sebagai ringkasan kondisi, bukan pengganti seluruh data lapangan.
Tiga Parameter Utama Mangrove Health Index
1. Tutupan Kanopi Mangrove
Parameter pertama adalah persentase tutupan kanopi, disimbolkan sebagai C.
Tutupan kanopi menunjukkan proporsi bidang pandang yang tertutup oleh tajuk vegetasi mangrove.
Nilainya dinyatakan dalam persen.
Sebagai contoh:
- C = 40% berarti sekitar 40% bidang pengamatan tertutup kanopi;
- C = 70% berarti tutupan kanopi sekitar 70%; dan
- C = 90% menunjukkan kanopi yang relatif sangat rapat.
Dalam metode monitoring mangrove yang menjadi dasar MHI, tutupan kanopi dapat diukur menggunakan fotografi hemisferis (hemispherical photography).
Kamera diarahkan ke atas untuk mengambil citra antara tajuk dan langit. Citra kemudian dianalisis untuk memisahkan piksel yang merepresentasikan vegetasi dan langit.
Salah satu metode analisis menggunakan perangkat lunak ImageJ. Persentase tutupan diperoleh dari proporsi piksel kanopi terhadap keseluruhan piksel yang dianalisis. Metode ini digunakan dalam panduan monitoring MHI dan berbagai penelitian mangrove berikutnya.
Mengapa Tutupan Kanopi Penting?
Kanopi memberikan informasi mengenai struktur bagian atas tegakan.
Tajuk yang berkembang dapat berkaitan dengan:
- ukuran dan umur tegakan;
- tingkat keterbukaan hutan;
- kerusakan kanopi;
- penebangan;
- mortalitas;
- regenerasi celah; dan
- dinamika struktur tegakan.
Namun, kanopi tinggi tidak otomatis berarti seluruh ekosistem sehat.
Tegakan tua dengan kanopi sangat rapat dapat memiliki regenerasi rendah. Sebaliknya, kawasan yang sedang mengalami regenerasi alami dapat memiliki kanopi yang belum rapat tetapi menunjukkan perkembangan ekologis yang positif.
Karena itu, MHI tidak menggunakan tutupan kanopi sebagai satu-satunya parameter.
2. Diameter Tegakan Mangrove
Parameter kedua adalah diameter rata-rata batang, yang pada formula umumnya disimbolkan sebagai D atau dalam berbagai publikasi dituliskan sebagai DBH.
DBH merupakan singkatan dari Diameter at Breast Height.
Diameter memberikan informasi mengenai struktur ukuran tegakan.
Secara umum, semakin besar diameter rata-rata pohon dan pancang dalam suatu komunitas, semakin berkembang struktur tegakan tersebut.
Diameter dapat diperoleh secara langsung menggunakan alat pengukur diameter atau melalui pengukuran keliling batang.
Apabila yang diukur adalah keliling batang atau Circumference at Breast Height (CBH), diameter dapat dihitung:
DBH = CBH / π
dengan:
DBH = diameter batang (cm)
CBH = keliling batang (cm)
π ≈ 3,1416
Sebagai contoh, apabila keliling batang 62,83 cm:
DBH = 62,83 / 3,1416 = 20 cm
Pada mangrove, pengukuran diameter membutuhkan konsistensi khusus karena beberapa jenis memiliki akar tunjang, akar papan, percabangan rendah, atau bentuk batang tidak teratur.
Karena itu, posisi pengukuran harus mengikuti protokol monitoring yang digunakan dan dicatat secara konsisten agar data antarperiode dapat dibandingkan.
Mengapa Diameter Digunakan?
Diameter merupakan salah satu indikator perkembangan struktur tegakan.
Kawasan yang didominasi batang sangat kecil akan memberikan gambaran berbeda dari kawasan dengan kombinasi pancang dan pohon berdiameter besar.
Namun, diameter juga tidak boleh ditafsirkan sendirian.
Hutan mangrove alami yang sedang mengalami regenerasi dapat mempunyai diameter rata-rata lebih kecil tetapi tetap memiliki dinamika ekologi yang baik.
MHI karena itu menggunakan diameter bersama tutupan kanopi dan pancang.
3. Kerapatan Pancang
Parameter ketiga adalah kerapatan pancang, disimbolkan sebagai Nsp.
Sapling atau pancang merupakan tingkatan pertumbuhan setelah semai dan sebelum mencapai kategori pohon menurut definisi diameter yang digunakan dalam protokol monitoring.
Keberadaan pancang penting karena menunjukkan bahwa generasi muda mangrove telah mampu berkembang melewati fase awal pertumbuhan.
Dalam panduan analisis MHI, data kerapatan vegetasi dinyatakan dalam individu per 100 m², dan pengamatan MHI banyak menggunakan plot berukuran 10 m × 10 m atau 100 m².
Hal ini penting ketika menghitung MHI.
Jangan langsung memasukkan angka kerapatan per hektare ke dalam rumus Nsp apabila protokol yang digunakan mensyaratkan jumlah atau kerapatan pancang per 100 m².
Satuan harus terlebih dahulu disesuaikan dengan metode MHI yang digunakan.
Sebagai contoh:
30 pancang dalam plot 10 × 10 m berarti:
Nsp = 30 individu/100 m²
Jika dikonversi menjadi hektare:
30 × 100 = 3.000 individu/ha
Namun, nilai yang dimasukkan ke persamaan MHI harus tetap mengikuti satuan yang ditetapkan dalam protokol.
Kesalahan satuan dapat menghasilkan nilai MHI yang sama sekali tidak valid.
Rumus Mangrove Health Index
Perhitungan MHI dilakukan dalam dua tahap.
Pertama, setiap parameter diubah menjadi skor 0–10.
Kedua, ketiga skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversi menjadi skala 0–100.
Rumus yang digunakan dalam panduan MHI adalah sebagai berikut.
Skor Tutupan Kanopi
Sc = 0,25 × C − 13,06
Keterangan:
Sc = skor tutupan kanopi
C = persentase tutupan kanopi (%)
Skor Diameter
SD = 0,45 × D + 1,42
Keterangan:
SD = skor diameter
D = diameter rata-rata tegakan, dalam cm
Dalam sejumlah publikasi, simbol ini juga dituliskan sebagai Sdbh karena parameter yang digunakan berasal dari diameter batang.
Skor Pancang
SNsp = 0,13 × Nsp + 4,10
Keterangan:
SNsp = skor kerapatan pancang
Nsp = jumlah atau kerapatan pancang sesuai satuan yang digunakan dalam protokol MHI
Rumus Akhir MHI
Setelah ketiga skor diperoleh:
MHI = [(Sc + SD + SNsp) / 3] × 10
Dengan demikian, nilai akhir MHI berada pada skala:
0–100
Aturan Penting: Skor Minimum dan Maksimum
Ini adalah bagian yang sangat penting dan sering terlewat ketika MHI dihitung secara manual.
Setiap skor parameter dibatasi antara 0 dan 10.
Artinya:
Jika skor < 0 → gunakan skor 0
dan
Jika skor > 10 → gunakan skor 10
Aturan pembatasan tersebut tercantum dalam panduan analisis MHI.
Jangan memasukkan skor negatif atau skor di atas 10 langsung ke formula akhir.
Sebagai contoh, jika perhitungan Sc menghasilkan:
−2,5
maka:
Sc = 0
Jika perhitungan SNsp menghasilkan:
12,4
maka:
SNsp = 10
Pembatasan tersebut memastikan setiap komponen mempunyai skala yang sama sebelum digabungkan.
Cara Menghitung Mangrove Health Index
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh perhitungan lengkap.
Misalkan hasil monitoring pada satu plot mangrove menunjukkan:
Tutupan kanopi (C) = 80%
Diameter rata-rata (D) = 15 cm
Pancang (Nsp) = 25 individu/100 m²
Langkah 1. Menghitung Skor Tutupan Kanopi
Rumus:
Sc = 0,25 × C − 13,06
Masukkan C = 80:
Sc = (0,25 × 80) − 13,06
Sc = 20 − 13,06
Sc = 6,94
Jadi:
Sc = 6,94
Langkah 2. Menghitung Skor Diameter
Rumus:
SD = 0,45 × D + 1,42
Masukkan D = 15:
SD = (0,45 × 15) + 1,42
SD = 6,75 + 1,42
SD = 8,17
Jadi:
SD = 8,17
Langkah 3. Menghitung Skor Pancang
Rumus:
SNsp = 0,13 × Nsp + 4,10
Masukkan Nsp = 25:
SNsp = (0,13 × 25) + 4,10
SNsp = 3,25 + 4,10
SNsp = 7,35
Jadi:
SNsp = 7,35
Semua skor masih berada pada rentang 0–10 sehingga tidak memerlukan koreksi.
Langkah 4. Menghitung MHI
Rumus:
MHI = [(Sc + SD + SNsp) / 3] × 10
Masukkan nilai:
MHI = [(6,94 + 8,17 + 7,35) / 3] × 10
MHI = (22,46 / 3) × 10
MHI = 7,4867 × 10
MHI = 74,87
Dengan demikian:
MHI = 74,87%
Nilai tersebut termasuk kategori baik/excellent berdasarkan klasifikasi MHI.
Kategori Nilai Mangrove Health Index
Panduan MHI membagi kondisi mangrove menjadi tiga kelas utama.
MHI < 33,33
Kategori: Buruk (Poor)
Nilai rendah menunjukkan bahwa kombinasi tutupan kanopi, diameter tegakan, dan kerapatan pancang menghasilkan skor kesehatan struktur komunitas yang rendah.
33,33 ≤ MHI < 66,67
Kategori: Sedang (Moderate)
Tegakan memiliki kondisi struktural menengah berdasarkan kombinasi ketiga parameter.
MHI ≥ 66,67
Kategori: Baik/Sangat Baik (Excellent)
Kombinasi parameter menunjukkan kondisi struktur komunitas mangrove yang relatif baik.
Kategori ini masih digunakan dalam berbagai penelitian MHI di Indonesia, termasuk studi-studi terbaru yang menggunakan formula yang sama untuk menilai kesehatan mangrove.
Contoh Mengapa Skor Harus Dibatasi Maksimum 10
Misalkan terdapat tegakan dengan:
Nsp = 60 individu/100 m²
Maka:
SNsp = (0,13 × 60) + 4,10
SNsp = 7,8 + 4,1
SNsp = 11,9
Karena nilai lebih besar dari 10, maka skor yang digunakan adalah:
SNsp = 10
Bukan 11,9.
Hal yang sama berlaku pada tutupan kanopi dan diameter.
Dengan demikian, satu parameter yang sangat tinggi tidak dapat mendominasi indeks tanpa batas.
Kapan Mangrove Health Index Sebaiknya Digunakan?
MHI sangat berguna untuk beberapa kebutuhan.
Monitoring Kondisi Tegakan
Pengukuran pada plot yang sama secara berkala dapat membantu melihat apakah terjadi perubahan pada:
- tutupan kanopi;
- ukuran tegakan;
- regenerasi pancang; dan
- nilai kesehatan struktur komunitas.
Apabila metode pengambilan data konsisten, perubahan MHI dapat digunakan untuk mendukung evaluasi kondisi tegakan dari waktu ke waktu.
Membandingkan Beberapa Lokasi
MHI juga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi struktur komunitas antara beberapa stasiun atau kawasan.
Misalnya:
Stasiun A = MHI 78
Stasiun B = MHI 59
Stasiun C = MHI 31
Nilai tersebut memberikan gambaran awal bahwa kondisi struktural Stasiun A lebih baik berdasarkan parameter MHI.
Namun, penyebab perbedaan tetap perlu dianalisis dari data komponennya.
Jangan berhenti pada angka akhir.
Menentukan Prioritas Monitoring dan Pengelolaan
Lokasi dengan MHI rendah dapat diprioritaskan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah tutupan kanopinya rendah?
Apakah diameter rata-ratanya kecil?
Apakah tidak ada regenerasi pancang?
Apakah terjadi penebangan?
Apakah hidrologinya terganggu?
Apakah terjadi abrasi?
Apakah lokasi sebenarnya merupakan tegakan muda yang sedang berkembang?
MHI menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibaca lebih lanjut, tetapi tidak selalu menjelaskan penyebabnya.
MHI Bukan Survival Rate
Mangrove Health Index tidak sama dengan Survival Rate (SR) atau persentase kelulushidupan mangrove.
Survival Rate umumnya digunakan untuk mengevaluasi berapa individu hasil penanaman yang masih hidup setelah periode tertentu.
Secara sederhana:
SR = (Jumlah individu hidup / Jumlah individu awal) × 100%
MHI berbeda.
MHI menilai struktur komunitas berdasarkan:
kanopi + diameter + pancang.
Artinya, suatu lokasi hasil rehabilitasi dapat mempunyai Survival Rate tinggi tetapi belum memiliki MHI tinggi apabila tanaman masih sangat muda, diameter kecil, dan kanopinya belum berkembang.
Sebaliknya, MHI tinggi tidak menunjukkan berapa persen bibit hasil penanaman tertentu yang masih hidup.
Karena itu:
SR menjawab pertanyaan “berapa yang masih hidup?”
sedangkan
MHI menjawab pertanyaan “bagaimana kondisi struktur komunitas mangrove berdasarkan parameter MHI?”
Keduanya dapat saling melengkapi, tetapi tidak dapat saling menggantikan.
Apakah MHI Cocok untuk Bibit Mangrove yang Baru Ditanam?
Tidak selalu.
Metode MHI dikembangkan dari struktur komunitas yang melibatkan pancang dan pohon, termasuk diameter serta tutupan kanopi.
Bibit hasil penanaman yang masih berada pada fase awal belum memiliki struktur tegakan seperti komunitas mangrove yang telah berkembang.
Pada tahap awal rehabilitasi, indikator seperti:
- jumlah individu hidup;
- persentase kelulushidupan;
- tinggi;
- pertumbuhan tinggi;
- jumlah daun;
- kondisi batang;
- kerusakan;
- sedimentasi;
- erosi;
- keberadaan propagul alami; dan
- regenerasi alami
dapat lebih informatif.
MHI menjadi semakin relevan ketika vegetasi telah berkembang menjadi struktur komunitas yang sesuai dengan kategori pengukuran metode tersebut.
Dengan demikian, jangan memaksakan satu indeks untuk semua tahap rehabilitasi.
MHI Tidak Sama dengan Kesehatan Ekosistem Secara Keseluruhan
Sebuah tegakan dapat memperoleh MHI tinggi karena:
- kanopinya rapat;
- diameter besar; dan
- jumlah pancangnya baik.
Namun, masih mungkin terdapat masalah seperti:
- saluran pasang surut terputus;
- sampah dalam jumlah besar;
- pencemaran;
- abrasi;
- perubahan sedimentasi;
- rendahnya keanekaragaman habitat;
- gangguan antropogenik;
- ekspansi pembangunan; atau
- terputusnya konektivitas dengan ekosistem lain.
Ketiga parameter MHI tidak secara langsung mengukur semua aspek tersebut.
Karena itu, pernyataan:
“MHI tinggi berarti seluruh ekosistem pasti sehat”
terlalu luas.
Pernyataan yang lebih tepat adalah:
“MHI tinggi menunjukkan kondisi struktur komunitas mangrove yang baik berdasarkan kombinasi tutupan kanopi, diameter, dan kerapatan pancang dalam metode MHI.”
Perbedaan ini penting terutama dalam laporan ilmiah.
Mengapa Pancang Digunakan, Bukan Hanya Pohon?
Regenerasi merupakan bagian penting dari keberlanjutan tegakan.
Sebuah hutan dapat memiliki banyak pohon dewasa, tetapi apabila tidak terdapat generasi berikutnya, struktur tersebut dapat mengalami masalah pada masa depan.
Pancang menunjukkan bahwa sebagian individu muda telah berhasil melewati fase semai dan berkembang menuju kelas ukuran berikutnya.
Karena itu, parameter Nsp memberikan dimensi regenerasi pada indeks.
Namun, MHI tidak berarti telah mengukur seluruh proses regenerasi.
Data semai, propagul, mortalitas, rekrutmen, dan perubahan kelas ukuran tetap sangat berguna untuk analisis ekologi yang lebih lengkap.
Cara Mengukur Tutupan Kanopi untuk MHI
Metode hemispherical photography dapat digunakan secara sistematis dalam plot.
Prinsip umumnya adalah:
- menentukan titik pengambilan foto;
- kamera diarahkan tegak ke atas;
- mengambil citra kanopi;
- memisahkan area tajuk dan langit pada citra;
- menghitung proporsi piksel; dan
- memperoleh persentase tutupan.
Panduan MHI menggunakan analisis citra dengan ImageJ sebagai salah satu metode untuk menghasilkan persentase tutupan secara lebih terukur dibandingkan estimasi visual semata.
Pada penelitian tertentu, beberapa foto diambil dalam satu plot agar kondisi kanopi lebih representatif.
Hal yang harus dijaga adalah konsistensi teknik.
Perubahan:
- tinggi kamera;
- arah kamera;
- pencahayaan ekstrem;
- pengaturan threshold;
- jumlah titik;
- posisi foto
dapat memengaruhi hasil.
Karena itu, protokol yang sama sebaiknya digunakan pada monitoring berikutnya.
Cara Mengukur Diameter dengan Benar
Diameter harus dicatat menggunakan metode yang konsisten.
Untuk batang normal, posisi pengukuran mengikuti ketentuan DBH yang digunakan dalam protokol.
Namun, mangrove mempunyai morfologi yang lebih kompleks dibandingkan banyak pohon daratan.
Rhizophora, misalnya, memiliki akar tunjang.
Jenis lain dapat memiliki:
- batang bercabang rendah;
- akar papan;
- pembengkakan batang;
- batang miring; atau
- banyak batang.
Karena itu, pengukuran harus mengikuti aturan khusus untuk bentuk batang tersebut dan tidak dilakukan sembarangan pada bagian yang menggembung.
Jika monitoring dilakukan berulang, posisi pengukuran sebisa mungkin dibuat konsisten agar perubahan diameter yang tercatat benar-benar merepresentasikan pertumbuhan.
Pohon, Pancang, dan Semai Harus Dibedakan
Kesalahan klasifikasi kelas pertumbuhan dapat memengaruhi MHI.
Dalam survei vegetasi mangrove, individu biasanya dibagi ke dalam kelas seperti:
pohon (tree),
pancang (sapling), dan
semai (seedling).
Kriteria harus mengikuti protokol monitoring yang digunakan.
Jangan sampai individu yang sebenarnya masih kategori semai dimasukkan sebagai pancang hanya agar nilai Nsp meningkat.
Demikian pula, data pohon dan pancang tidak boleh tercampur tanpa mengikuti metode analisis.
Standarisasi kelas ukuran sangat penting agar MHI antarplot dan antarwaktu dapat dibandingkan secara sahih.
Kesalahan Umum Menghitung Mangrove Health Index
1. Memasukkan Kerapatan per Hektare Langsung ke Rumus Nsp
Ini dapat menghasilkan skor sangat tinggi dan keliru.
Pastikan satuan mengikuti protokol MHI.
2. Tidak Membatasi Skor pada 0–10
Skor negatif harus menjadi 0.
Skor di atas 10 harus menjadi 10.
3. Menggunakan Persentase Kanopi dalam Bentuk Desimal
Jika tutupan adalah 80%, masukkan:
C = 80
bukan:
C = 0,8
4. Menggunakan Keliling sebagai Diameter
CBH dan DBH bukan parameter yang sama.
Keliling perlu dikonversi terlebih dahulu:
DBH = CBH / π
5. Menjumlahkan Skor Tanpa Membaginya Tiga
MHI merupakan rata-rata tiga skor, kemudian dikalikan 10.
6. Menggunakan Bibit Baru sebagai Pancang
Klasifikasi pertumbuhan harus mengikuti protokol.
7. Mengambil Kanopi Secara Visual Tanpa Metode Konsisten
Perkiraan visual dapat menghasilkan subjektivitas tinggi.
8. Melaporkan MHI Tanpa Data Penyusunnya
Nilai akhir saja tidak cukup.
Laporan sebaiknya tetap menyajikan:
C, D, Nsp, Sc, SD, SNsp, dan MHI.
Dengan demikian, pembaca dapat melihat komponen mana yang menyebabkan nilai tinggi atau rendah.
Format Tabel Perhitungan MHI
Untuk laporan monitoring, hasil dapat disusun seperti berikut:
| Plot | C (%) | D (cm) | Nsp (ind/100 m²) | Sc | SD | SNsp | MHI (%) | Kategori |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Plot 1 | 80 | 15 | 25 | 6,94 | 8,17 | 7,35 | 74,87 | Baik/Excellent |
| Plot 2 | ... | ... | ... | ... | ... | ... | ... | ... |
| Plot 3 | ... | ... | ... | ... | ... | ... | ... | ... |
Format ini lebih transparan dibandingkan hanya menampilkan nilai akhir.
Cara Membaca MHI yang Sama dengan Struktur Berbeda
Dua plot dapat memperoleh MHI hampir sama tetapi memiliki kondisi berbeda.
Misalnya:
Plot A
kanopi sangat rapat, diameter besar, pancang sedikit.
Plot B
kanopi lebih terbuka, diameter lebih kecil, tetapi pancang sangat banyak.
Karena ketiga komponen dirata-ratakan, nilai akhirnya dapat mendekati satu sama lain.
Artinya, MHI harus dibaca bersama skor komponennya.
Inilah alasan mengapa laporan sebaiknya tidak hanya menampilkan angka MHI.
Analisis yang lebih baik menjelaskan:
Nilai MHI sedang pada plot ini terutama dipengaruhi oleh rendahnya skor regenerasi pancang meskipun tutupan kanopi dan diameter tegakan relatif tinggi.
Interpretasi seperti ini jauh lebih informatif.
MHI untuk Monitoring Jangka Panjang
Salah satu kegunaan terbesar MHI adalah monitoring secara berulang.
Misalnya satu plot diperiksa pada:
tahun ke-0,
tahun ke-1,
tahun ke-3,
tahun ke-5, dan seterusnya.
Perubahan dapat dianalisis sebagai berikut:
MHI 48 → 57 → 68 → 74
Secara umum hal tersebut menunjukkan peningkatan kombinasi struktur komunitas.
Namun, analisis harus memeriksa parameter penyusunnya.
Apakah peningkatan terjadi karena:
kanopi bertambah?
diameter membesar?
pancang meningkat?
atau kombinasi semuanya?
Sebaliknya, apabila:
MHI 76 → 63 → 48
perlu diperiksa apakah terjadi kehilangan kanopi, kematian tegakan, penurunan regenerasi, penebangan, abrasi, atau tekanan lainnya.
Monitoring berulang membuat MHI lebih bernilai dibandingkan satu kali pengukuran tanpa konteks waktu.
MHI dan Penginderaan Jauh
Perkembangan metode MHI juga membuka kemungkinan integrasi data lapangan dengan penginderaan jauh.
Penelitian telah menggunakan hubungan antara MHI lapangan dan indeks vegetasi dari citra Sentinel-2 untuk membantu menginterpolasi distribusi kondisi kesehatan mangrove pada wilayah yang lebih luas.
Beberapa indeks citra yang dapat diuji antara lain:
- NDVI;
- EVI;
- SAVI;
- MVI;
- GCI; dan
- indeks vegetasi lainnya.
Namun, citra satelit tidak menggantikan data lapangan.
Model harus dikalibrasi dan divalidasi menggunakan data MHI dari plot.
Dengan demikian, pendekatannya adalah:
data lapangan → perhitungan MHI → hubungan dengan citra → pemetaan spasial → validasi lapangan.
Bukan sekadar melihat citra hijau kemudian menentukan nilai kesehatan.
MHI Tidak Sama dengan NDVI
NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index merupakan indeks spektral berdasarkan reflektansi cahaya merah dan inframerah dekat.
MHI adalah indeks struktur komunitas berbasis data lapangan.
Karena itu:
NDVI ≠ MHI
NDVI dapat membantu menggambarkan karakter vegetasi dari citra.
MHI menggabungkan parameter lapangan seperti kanopi, diameter, dan pancang.
Hubungan statistik dapat dibangun di antara keduanya untuk pemetaan, tetapi keduanya tetap merupakan indikator berbeda.
MHI dan Karbon Mangrove
Nilai MHI juga tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi stok karbon.
Diameter memang menjadi salah satu parameter MHI sekaligus variabel yang sering digunakan dalam persamaan alometrik biomassa.
Namun, MHI bukan rumus karbon.
Kajian tertentu bahkan menemukan bahwa hubungan antara stok karbon biomassa dengan MHI tidak selalu signifikan, yang menunjukkan bahwa indeks kesehatan struktur dan besarnya stok karbon merupakan dua informasi yang berbeda.
Untuk menghitung karbon diperlukan metode tersendiri, misalnya:
- inventarisasi biomassa;
- persamaan alometrik;
- densitas kayu;
- biomassa bawah tanah;
- karbon tanah; dan
- faktor konversi karbon.
Jangan mengubah nilai MHI 80 menjadi klaim bahwa mangrove memiliki “80% stok karbon”.
Interpretasi tersebut tidak benar.
MHI dalam Rehabilitasi Mangrove
Dalam konteks rehabilitasi, MHI dapat digunakan ketika tegakan sudah cukup berkembang untuk memenuhi struktur pengukuran.
Namun, keberhasilan rehabilitasi tetap tidak boleh ditentukan hanya oleh MHI.
Pendekatan Ecological Mangrove Restoration (EMR) dan Community-Based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR) menempatkan proses ekologis sebagai dasar pemulihan.
Karena itu, indikator lain tetap perlu diperhatikan, seperti:
- hidrologi;
- elevasi;
- regenerasi alami;
- sedimentasi;
- erosi;
- kondisi saluran;
- komposisi spesies;
- gangguan;
- keterlibatan masyarakat; dan
- keberlanjutan pengelolaan.
MHI dapat menjadi salah satu indikator vegetasi, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pemulihan ekosistem.
Keterbatasan Mangrove Health Index
Setiap indeks adalah penyederhanaan realitas.
MHI memiliki keunggulan karena dapat merangkum tiga parameter menjadi satu nilai yang relatif mudah dibandingkan.
Namun, keterbatasannya harus dipahami.
Tidak Mengukur Biodiversitas Secara Langsung
MHI tidak memasukkan jumlah spesies sebagai salah satu komponen rumus.
Kawasan monodominan dan kawasan dengan banyak spesies secara teoritis dapat memiliki nilai MHI yang serupa apabila nilai C, D, dan Nsp sama.
Tidak Mengukur Hidrologi
Tidak ada variabel frekuensi genangan atau konektivitas pasang dalam formula.
Tidak Mengukur Sampah dan Pencemaran
Sampah dapat dicatat dalam monitoring, tetapi bukan komponen matematis utama formula MHI ini.
Tidak Mengukur Fauna
Keberadaan ikan, kepiting, moluska, burung, dan fauna lain tidak masuk langsung dalam formula.
Tidak Mengukur Survival Rate
Kelulushidupan hasil penanaman membutuhkan indikator tersendiri.
Sangat Bergantung pada Ketepatan Data Lapangan
Kesalahan mengukur kanopi, diameter, atau pancang langsung memengaruhi nilai indeks.
Karena itu, nilai MHI presisi secara matematis belum tentu akurat secara ekologis jika data lapangannya buruk.
MHI Sebagai Alat Baca, Bukan Sekadar Angka
Kesalahan terbesar dalam menggunakan indeks adalah terlalu fokus pada nilai akhir.
Misalnya:
MHI = 72,4
Angka tersebut belum cukup.
Pertanyaan berikutnya seharusnya:
Mengapa 72,4?
Bagaimana nilai kanopinya?
Berapa diameter rata-ratanya?
Bagaimana regenerasi pancangnya?
Jenis apa yang mendominasi?
Apakah nilai tersebut meningkat atau menurun dari monitoring sebelumnya?
Bagaimana kondisi hidrologinya?
Apakah terdapat gangguan?
Ketika pertanyaan tersebut dijawab, MHI berubah dari angka administratif menjadi alat analisis ekologis.
Kesimpulan
Mangrove Health Index (MHI) merupakan metode untuk menilai kondisi struktur komunitas mangrove dengan menggabungkan tiga parameter utama, yaitu persentase tutupan kanopi (C), diameter rata-rata tegakan (D), dan kerapatan pancang (Nsp).
Setiap parameter diubah menjadi skor:
Sc = 0,25C − 13,06
SD = 0,45D + 1,42
SNsp = 0,13Nsp + 4,10
Setiap skor dibatasi pada rentang 0–10, kemudian dihitung:
MHI = [(Sc + SD + SNsp) / 3] × 10
Nilai akhir kemudian dikategorikan menjadi:
MHI < 33,33 = buruk
33,33 ≤ MHI < 66,67 = sedang
MHI ≥ 66,67 = baik/excellent
Metode tersebut memberikan cara yang lebih terintegrasi untuk membaca kondisi struktur tegakan dibandingkan hanya menggunakan satu indikator. Namun, MHI bukan ukuran seluruh kesehatan ekosistem mangrove.
Hidrologi, sedimentasi, komposisi jenis, biodiversitas, kualitas lingkungan, perubahan garis pantai, regenerasi alami, tekanan manusia, dan proses ekologis lainnya tetap perlu dianalisis.
Bagi KeSEMaT, penggunaan MHI perlu ditempatkan dalam kerangka monitoring berbasis ilmu pengetahuan: mengukur dengan metode yang benar, menghitung secara transparan, membandingkan secara konsisten, kemudian membaca angka tersebut bersama kondisi ekologis tapak.
Karena pada akhirnya, kesehatan mangrove bukan hanya tentang mendapatkan nilai indeks yang tinggi, tetapi memastikan bahwa ekosistem mampu mempertahankan struktur, regenerasi, fungsi, dan proses ekologisnya dari waktu ke waktu. (ADM).
Daftar Pustaka
Dharmawan, I. W. E., & Pramudji. (2014). Panduan Monitoring Status Ekosistem Mangrove. Jakarta: Sarana Komunikasi Utama.
Dharmawan, I. W. E., & Pramudji. (2017). Panduan Pemantauan Komunitas Mangrove, Edisi 2. Media Sains Nasional.
Dharmawan, I. W. E., Suyarso, Ulumuddin, Y. I., Prayudha, B., & Pramudji. (2020). Panduan Monitoring Struktur Komunitas Mangrove di Indonesia. Bogor: Media Sains Nasional.
Dharmawan, I. W. E., Suyarso, Ulumuddin, Y. I., Prayudha, B., & Pramudji. (2020). Manual for Mangrove Community Structure Monitoring and Research in Indonesia. Makassar: NAS Media Pustaka.
Dharmawan, I. W. E. (2020). Field Survey and Data Collection: A Guidebook for Mangrove Health Index (MHI) Training. Makassar: NAS Media Pustaka.
Dharmawan, I. W. E., & Ulumuddin, Y. I. (2021). Mangrove Community Structure Data Analysis: A Guidebook for Mangrove Health Index (MHI) Training. Makassar: NAS Media Pustaka.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.
Nurdiansah, D., & Dharmawan, I. W. E. (2021). Pengembangan metode pemetaan kondisi mangrove berbasis Mangrove Health Index dan penginderaan jauh. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.
Giesen, W., Wulffraat, S., Zieren, M., & Scholten, L. (2006). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: FAO Regional Office for Asia and the Pacific & Wetlands International.
(Sumber gambar: CEphoto, Uwe Aranas/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0, dipotong ke rasio 4:3)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar