Pendekatan tersebut dikenal sebagai Community-Based Ecological Mangrove Restoration (CBEMR). Secara sederhana, CBEMR merupakan pengembangan pendekatan Ecological Mangrove Restoration (EMR) dengan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan proses pemulihan ekosistem mangrove.
Jika EMR menekankan pentingnya memahami ekologi, hidrologi, elevasi, regenerasi alami, dan kesesuaian tapak, maka CBEMR memastikan bahwa proses ekologis tersebut berjalan bersama dengan pengetahuan lokal, kebutuhan masyarakat, kelembagaan, kesepakatan sosial, serta tata kelola kawasan.
Dengan demikian, CBEMR bukan metode penanaman mangrove berbasis masyarakat. CBEMR adalah pendekatan restorasi ekosistem mangrove yang menggabungkan dasar ilmu ekologi dengan partisipasi masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.
Apa Itu Community-Based Ecological Mangrove Restoration?
Community-Based Ecological Mangrove Restoration atau CBEMR merupakan pendekatan restorasi mangrove yang mengintegrasikan prinsip-prinsip restorasi ekologis dengan keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Dalam pendekatan ini, tujuan utama tidak semata-mata menghasilkan sebanyak mungkin mangrove yang ditanam, tetapi memulihkan kondisi lingkungan sehingga ekosistem mangrove dapat berkembang secara alami sekaligus memberikan manfaat ekologis dan sosial secara berkelanjutan.
Masyarakat dilibatkan sejak tahap awal untuk memahami sejarah kawasan, kondisi penggunaan lahan, perubahan lingkungan, pola pasang surut, sumber gangguan, kepemilikan atau penguasaan lahan, pemanfaatan sumber daya pesisir, hingga kemungkinan konflik yang dapat memengaruhi proses restorasi.
Pendekatan ini penting karena kawasan mangrove hampir selalu berada dalam sistem sosial-ekologis yang kompleks. Di sekitarnya dapat terdapat tambak, permukiman, sungai, kawasan penangkapan ikan, lahan milik masyarakat, infrastruktur pesisir, hingga berbagai kepentingan ekonomi.
Restorasi yang hanya mempertimbangkan kondisi biofisik tanpa memahami masyarakat berisiko menghadapi permasalahan setelah kegiatan selesai. Sebaliknya, program yang hanya mengutamakan partisipasi masyarakat tetapi mengabaikan kondisi ekologis juga dapat menghasilkan intervensi yang tidak sesuai dengan karakter lokasi.
CBEMR berusaha mempertemukan kedua aspek tersebut.
Hubungan antara EMR dan CBEMR
CBEMR tidak berdiri terpisah dari Ecological Mangrove Restoration. Pendekatan ini justru berkembang dari prinsip dasar EMR.
Dalam EMR, sebelum melakukan intervensi diperlukan pemahaman terhadap beberapa komponen utama, antara lain ekologi spesies mangrove, hidrologi, elevasi, pola pasang surut, sejarah perubahan kawasan, regenerasi alami, serta penyebab kerusakan ekosistem.
CBEMR menggunakan dasar ekologis yang sama, kemudian memperkuatnya dengan pendekatan berbasis masyarakat.
Dengan demikian, hubungan keduanya dapat dipahami sebagai berikut:
EMR menjawab bagaimana proses ekologis mangrove harus dipulihkan, sedangkan CBEMR memperluasnya dengan menjawab siapa yang terlibat, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana keberlanjutan pengelolaan kawasan dapat dijaga bersama masyarakat.
Perbedaan ini penting karena keberhasilan restorasi mangrove tidak cukup diukur dari keberhasilan biologis vegetasi. Restorasi juga perlu mempertimbangkan penerimaan masyarakat, keberlanjutan pengelolaan, keamanan kawasan, serta kemampuan masyarakat untuk mempertahankan fungsi ekosistem setelah program berakhir.
Mengapa CBEMR Penting dalam Restorasi Mangrove?
Ekosistem mangrove merupakan bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir. Kawasan ini dapat berkaitan dengan perikanan, tambak, pencarian hasil perairan, perlindungan pantai, jalur perahu, ekowisata, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Karena itu, perubahan terhadap kawasan mangrove dapat memengaruhi masyarakat secara langsung.
Program restorasi yang tidak memahami konteks tersebut dapat menghadapi berbagai persoalan. Masyarakat mungkin tidak mengetahui tujuan program, lokasi penanaman dapat berkonflik dengan aktivitas ekonomi, tanaman dapat dianggap mengganggu tambak atau jalur perahu, hingga muncul persoalan mengenai kepemilikan dan pemanfaatan lahan.
Melalui CBEMR, masyarakat memperoleh ruang untuk ikut memahami masalah, mengidentifikasi penyebab kerusakan, menentukan pilihan intervensi, serta terlibat dalam pemantauan setelah kegiatan berlangsung.
Partisipasi tersebut sekaligus membantu membangun rasa memiliki terhadap proses restorasi.
Namun, keterlibatan masyarakat bukan berarti seluruh keputusan ekologis ditentukan berdasarkan preferensi sosial semata. Intervensi tetap harus mempertimbangkan ilmu pengetahuan dan kesesuaian ekologis.
CBEMR bekerja ketika pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal saling melengkapi.
Prinsip Utama CBEMR
1. Memahami Ekosistem Sebelum Melakukan Intervensi
Prinsip pertama CBEMR sama dengan EMR: restorasi harus dimulai dengan memahami ekosistem.
Setiap lokasi memiliki kondisi yang berbeda. Pola pasang surut, elevasi, salinitas, substrat, sedimentasi, energi gelombang, aliran sungai, serta sejarah penggunaan lahan dapat menentukan apakah mangrove mampu tumbuh dan berkembang.
Karena itu, penanaman tidak boleh menjadi respons otomatis terhadap setiap kawasan mangrove yang mengalami degradasi.
Pada beberapa lokasi, masalah utama mungkin bukan kekurangan bibit, tetapi terputusnya konektivitas hidrologi akibat tanggul, saluran, jalan, sedimentasi, atau perubahan penggunaan lahan.
Jika penyebab tersebut tidak diperbaiki, penanaman berulang kali dapat tetap mengalami kegagalan.
2. Mengidentifikasi Penyebab Kerusakan
Restorasi yang baik berusaha memperbaiki penyebab kerusakan, bukan hanya gejala yang terlihat.
Apabila kawasan kehilangan mangrove, pertanyaan pertama bukanlah berapa bibit yang harus ditanam, melainkan mengapa mangrove menghilang atau tidak mampu beregenerasi secara alami.
Penyebabnya dapat berupa perubahan hidrologi, konversi lahan, abrasi, pembangunan infrastruktur, tekanan pemanfaatan, aktivitas budidaya, pencemaran, hingga perubahan dinamika sedimentasi.
Informasi masyarakat lokal sering kali sangat penting dalam tahap ini karena mereka dapat memiliki pengetahuan mengenai perubahan garis pantai, aliran air, penggunaan lahan, kejadian ekstrem, dan sejarah kawasan selama bertahun-tahun.
3. Melibatkan Masyarakat Sejak Tahap Awal
CBEMR tidak menempatkan masyarakat hanya sebagai tenaga penanam.
Masyarakat sebaiknya terlibat sejak identifikasi lokasi, pengumpulan informasi, diskusi permasalahan, perencanaan intervensi, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi.
Pelibatan sejak awal membuat masyarakat memahami alasan suatu tindakan dilakukan.
Sebagai contoh, masyarakat dapat memahami mengapa suatu lokasi tidak perlu ditanami meskipun terlihat kosong apabila kondisi tersebut sebenarnya merupakan dataran lumpur alami atau lokasi dengan regenerasi alami yang sedang berkembang.
4. Menghargai Pengetahuan Lokal
Masyarakat pesisir memiliki pengalaman yang sering kali tidak dapat diperoleh hanya melalui survei singkat.
Mereka dapat mengetahui lokasi yang dahulu memiliki mangrove, arah aliran air, musim gelombang tinggi, perubahan salinitas, titik abrasi, jalur masuk air pasang, lokasi penangkapan ikan, hingga wilayah yang secara sosial memiliki potensi konflik.
Pengetahuan tersebut perlu dikombinasikan dengan pengukuran dan analisis ilmiah.
CBEMR tidak mempertentangkan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan, tetapi menggunakan keduanya untuk memperoleh pemahaman tapak yang lebih menyeluruh.
5. Memprioritaskan Regenerasi Alami
Salah satu prinsip penting restorasi ekologis adalah memberikan kesempatan kepada alam untuk melakukan pemulihan apabila kondisi lingkungan telah sesuai.
Propagul mangrove dapat tersebar secara alami melalui air. Jika hidrologi, elevasi, sumber propagul, dan kondisi substrat mendukung, mangrove dapat beregenerasi tanpa penanaman intensif.
Karena itu, CBEMR memprioritaskan pemulihan proses ekologis terlebih dahulu.
Penanaman dilakukan apabila regenerasi alami tidak memadai atau diperlukan untuk membantu mempercepat pemulihan pada lokasi tertentu.
6. Menanam Hanya Ketika Diperlukan
Dalam banyak kegiatan rehabilitasi mangrove, jumlah bibit yang ditanam sering menjadi indikator utama keberhasilan.
CBEMR menggunakan cara pandang yang berbeda.
Penanaman merupakan salah satu alat restorasi, bukan tujuan restorasi itu sendiri.
Jika penanaman memang diperlukan, jenis mangrove harus dipilih berdasarkan kondisi ekologis lokasi. Pemilihan tidak hanya didasarkan pada ketersediaan bibit atau kemudahan pembibitan.
Jenis yang tumbuh pada suatu lokasi referensi dapat menjadi salah satu petunjuk penting dalam menentukan spesies yang sesuai.
7. Memperhatikan Kepentingan dan Mata Pencaharian Masyarakat
Restorasi mangrove tidak berlangsung dalam ruang kosong.
Kawasan pesisir dapat digunakan masyarakat untuk budidaya, penangkapan ikan, pengumpulan hasil laut, transportasi, atau kegiatan ekonomi lainnya.
Karena itu, perencanaan CBEMR perlu memahami bagaimana intervensi dapat memengaruhi mata pencaharian dan akses masyarakat terhadap sumber daya.
Diskusi mengenai zonasi, hak akses, pengelolaan, serta pembagian manfaat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
8. Memperkuat Kelembagaan Lokal
Keberlanjutan restorasi membutuhkan pihak yang menjaga proses setelah program selesai.
Kelompok masyarakat, organisasi lokal, pemerintah desa, kelompok pembudidaya, kelompok pengawas, organisasi pemuda, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memiliki peran dalam pengelolaan kawasan.
CBEMR karena itu tidak hanya berorientasi pada vegetasi, tetapi juga dapat membantu memperkuat kelembagaan dan tata kelola lokal.
9. Melakukan Pemantauan dan Pembelajaran Adaptif
Restorasi mangrove merupakan proses jangka panjang.
Setelah intervensi dilakukan, perkembangan kawasan harus dipantau untuk melihat apakah kondisi ekosistem benar-benar bergerak menuju pemulihan.
Pemantauan dapat mencakup regenerasi alami, kelulushidupan vegetasi, pertumbuhan, perubahan tutupan, hidrologi, sedimentasi, gangguan kawasan, hingga keterlibatan masyarakat.
Hasil pemantauan kemudian digunakan untuk menentukan apakah strategi perlu dipertahankan, diperbaiki, atau diubah.
Pendekatan ini dikenal sebagai pengelolaan adaptif.
Tahapan Community-Based Ecological Mangrove Restoration
Pelaksanaan CBEMR dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi, tetapi secara umum prosesnya mengikuti rangkaian tahapan yang saling berkaitan.
Tahap 1. Memahami Sejarah Ekologi dan Sosial Kawasan
Restorasi dimulai dengan memahami bagaimana kawasan berubah dari waktu ke waktu.
Informasi dapat dikumpulkan melalui citra satelit, peta historis, dokumen, wawancara masyarakat, survei lapangan, serta diskusi dengan pemangku kepentingan.
Pertanyaan penting antara lain:
- Apakah kawasan sebelumnya merupakan mangrove?
- Kapan perubahan mulai terjadi?
- Apa penyebab utama kerusakan?
- Bagaimana masyarakat menggunakan kawasan tersebut?
- Bagaimana perubahan garis pantai dan hidrologinya?
- Siapa yang memiliki atau mengelola lahan?
- Apakah terdapat konflik atau kepentingan tertentu?
Tahap ini membantu mencegah kesalahan dalam menentukan kondisi ekosistem yang ingin dipulihkan.
Tahap 2. Membangun Keterlibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan
Masyarakat dan pihak terkait perlu dikenali sejak awal.
Pemetaan pemangku kepentingan dapat mencakup masyarakat lokal, pemilik atau penggarap lahan, kelompok nelayan, pembudidaya tambak, pemerintah desa, pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta.
Proses komunikasi sebaiknya tidak hanya berupa sosialisasi satu arah.
CBEMR membutuhkan dialog, sehingga masyarakat memiliki kesempatan menyampaikan pengetahuan, kebutuhan, kekhawatiran, serta pandangannya terhadap rencana restorasi.
Tahap 3. Mengkaji Kondisi Ekologi Mangrove
Tahap berikutnya adalah mengidentifikasi kondisi biofisik kawasan.
Kajian dapat mencakup:
- kondisi vegetasi mangrove;
- komposisi dan struktur jenis;
- keberadaan regenerasi alami;
- kondisi substrat;
- salinitas;
- sedimentasi dan erosi;
- karakteristik hidrologi;
- pasang surut;
- elevasi;
- konektivitas badan air;
- sumber propagul; dan
- gangguan terhadap kawasan.
Data tersebut menjadi dasar untuk memahami faktor yang membatasi pertumbuhan mangrove.
Tahap 4. Menentukan Ekosistem Referensi
Lokasi mangrove yang masih sehat di sekitar kawasan dapat digunakan sebagai ekosistem referensi.
Kawasan referensi membantu memahami jenis mangrove yang secara alami tumbuh pada kondisi tertentu, elevasi yang sesuai, pola zonasi, struktur vegetasi, serta hubungan kawasan dengan pasang surut.
Tujuannya bukan menyalin kondisi referensi secara persis, tetapi memperoleh gambaran mengenai arah pemulihan ekologis yang realistis.
Tahap 5. Mengidentifikasi Hambatan terhadap Regenerasi Alami
Setelah kondisi kawasan dipahami, perlu ditentukan mengapa mangrove belum mampu pulih secara alami.
Hambatan dapat berupa saluran air yang terputus, tanggul yang menghalangi pasang surut, elevasi yang berubah, tekanan gelombang tinggi, tidak adanya sumber propagul, aktivitas manusia, ternak, sampah, atau gangguan lainnya.
Tahap ini merupakan titik penting dalam CBEMR karena jenis intervensi ditentukan berdasarkan hambatan yang ditemukan.
Tahap 6. Merancang Intervensi Restorasi Bersama Masyarakat
Intervensi tidak harus selalu berupa penanaman.
Pilihan tindakan dapat berupa pemulihan hidrologi, pembukaan kembali saluran air, pengaturan akses, pengurangan tekanan, perlindungan regenerasi alami, pengelolaan sedimentasi, penataan kawasan, atau penanaman terbatas.
Masyarakat dilibatkan dalam menentukan solusi yang memungkinkan secara ekologis sekaligus dapat diterima secara sosial.
Pada tahap ini juga perlu dibahas pembagian peran, tanggung jawab, mekanisme pengelolaan, serta rencana pemantauan.
Tahap 7. Memulihkan Kondisi Hidrologi
Hidrologi merupakan salah satu faktor paling penting dalam ekosistem mangrove.
Perubahan aliran pasang surut dapat menyebabkan suatu lokasi terlalu sering tergenang, terlalu kering, memiliki salinitas yang tidak sesuai, atau kehilangan suplai propagul.
Karena itu, apabila gangguan hidrologi menjadi penyebab utama degradasi, pemulihan konektivitas air harus diprioritaskan sebelum penanaman.
Intervensi dapat berupa perbaikan saluran, pembukaan penghalang tertentu, atau rekayasa sederhana lain yang membantu mengembalikan pola genangan mendekati kondisi alami.
Setiap intervensi hidrologi harus direncanakan dengan hati-hati karena perubahan aliran air dapat memengaruhi kawasan lain di sekitarnya.
Tahap 8. Memfasilitasi Regenerasi Alami
Setelah kondisi lingkungan diperbaiki, kawasan perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan regenerasinya.
Propagul dari tegakan mangrove di sekitar lokasi dapat masuk bersama pasang surut dan tumbuh secara alami.
Regenerasi alami memiliki keuntungan karena individu mangrove yang tumbuh telah melalui proses seleksi kondisi lingkungan secara alami.
Jika regenerasi berlangsung dengan baik, penanaman tambahan dapat diminimalkan.
Tahap 9. Melakukan Penanaman Jika Diperlukan
Penanaman dapat dilakukan apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa regenerasi alami tidak mencukupi.
Pemilihan jenis harus menyesuaikan elevasi, hidrologi, substrat, salinitas, energi gelombang, serta zonasi alami mangrove.
Penanaman juga sebaiknya tidak menggunakan satu jenis secara seragam pada seluruh kawasan apabila kondisi tapaknya berbeda.
Prinsip pentingnya adalah menanam jenis yang tepat pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat.
Tahap 10. Melakukan Pemantauan Bersama
Pemantauan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari CBEMR.
Masyarakat dapat dilibatkan dalam pengamatan sederhana maupun sistem pemantauan yang lebih terstruktur.
Indikator dapat mencakup:
- jumlah regenerasi alami;
- persentase kelulushidupan;
- pertumbuhan tinggi dan diameter;
- kondisi kesehatan vegetasi;
- perubahan tutupan mangrove;
- kondisi hidrologi;
- sedimentasi dan erosi;
- gangguan manusia;
- perubahan penggunaan kawasan; dan
- keterlibatan masyarakat.
Pemantauan sebaiknya dilakukan secara berkala sehingga perubahan kondisi dapat diketahui sejak dini.
Tahap 11. Evaluasi dan Pengelolaan Adaptif
Hasil pemantauan kemudian digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi.
Apabila regenerasi alami berkembang dengan baik, intervensi tambahan mungkin tidak diperlukan.
Sebaliknya, apabila terjadi kegagalan, penyebabnya perlu dianalisis sebelum dilakukan tindakan berikutnya.
Pendekatan adaptif menghindari kebiasaan mengulangi metode yang sama tanpa memahami penyebab kegagalan.
Peran Masyarakat dalam CBEMR
Dalam pendekatan CBEMR, masyarakat dapat memiliki berbagai peran sesuai kondisi lokal.
Masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan mengenai sejarah kawasan, membantu survei lokasi, mengidentifikasi jalur air, melakukan pembibitan apabila diperlukan, membantu pemulihan hidrologi, menjaga kawasan, melakukan pemantauan, serta terlibat dalam pengambilan keputusan.
Keterlibatan tersebut juga dapat berkembang menjadi kegiatan pengelolaan berkelanjutan seperti pendidikan lingkungan, ekowisata, perikanan berkelanjutan, pemanfaatan hasil non-kayu, atau usaha ekonomi yang mendukung perlindungan ekosistem.
Namun, pendekatan berbasis masyarakat tidak boleh dimaknai sebagai memindahkan seluruh tanggung jawab restorasi kepada masyarakat.
Pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya tetap memiliki peran masing-masing.
CBEMR justru mendorong kolaborasi antarpihak dengan masyarakat sebagai salah satu aktor utama dalam pengelolaan kawasan.
CBEMR Bukan Sekadar Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat
Salah satu kesalahpahaman yang perlu dihindari adalah menganggap setiap kegiatan penanaman yang melibatkan masyarakat otomatis merupakan CBEMR.
Kegiatan penanaman massal dapat memiliki manfaat edukasi dan membangun kepedulian, tetapi belum tentu merupakan restorasi ekologis.
Sebuah program dapat disebut menerapkan prinsip CBEMR apabila keputusan restorasi didasarkan pada pemahaman ekologis kawasan sekaligus proses partisipatif yang bermakna.
Artinya, masyarakat tidak hanya hadir ketika bibit ditanam.
Mereka terlibat dalam memahami masalah, menentukan pilihan, melaksanakan intervensi, mengevaluasi hasil, serta menjaga kawasan dalam jangka panjang.
Indikator Keberhasilan CBEMR
Keberhasilan CBEMR tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang berhasil ditanam.
Indikator ekologis dapat mencakup kembalinya regenerasi alami, meningkatnya tutupan vegetasi, membaiknya konektivitas hidrologi, berkembangnya struktur vegetasi, berkurangnya tekanan terhadap kawasan, serta pulihnya fungsi habitat.
Sementara itu, indikator sosial dapat meliputi keterlibatan masyarakat, meningkatnya kapasitas kelompok lokal, terbentuknya mekanisme pengelolaan, berkurangnya konflik, serta berkembangnya manfaat ekonomi yang tidak merusak ekosistem.
Dalam jangka panjang, keberhasilan terbesar adalah ketika kawasan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada intervensi proyek untuk mempertahankan proses pemulihannya.
Tantangan Penerapan CBEMR
Penerapan CBEMR membutuhkan proses yang relatif panjang dibandingkan kegiatan penanaman satu kali.
Dialog dengan masyarakat membutuhkan waktu. Persoalan kepemilikan lahan dapat kompleks. Kepentingan antaraktor dapat berbeda. Perubahan hidrologi juga dapat membutuhkan kajian teknis yang mendalam.
Selain itu, hasil restorasi ekologis sering kali tidak dapat terlihat dalam waktu singkat.
Program membutuhkan komitmen pemantauan jangka panjang, pembelajaran, dan kemampuan menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi lapangan.
Namun, proses tersebut justru menjadi investasi penting untuk mengurangi risiko kegagalan intervensi.
CBEMR dalam Konteks Rehabilitasi Mangrove Indonesia
Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang sangat luas dengan kondisi sosial dan ekologis yang beragam. Pada banyak wilayah, mangrove berada berdampingan dengan tambak, desa pesisir, kawasan perikanan, infrastruktur, serta berbagai bentuk pemanfaatan ruang lainnya.
Karena itu, pendekatan restorasi tidak dapat dilakukan dengan metode yang sama di setiap lokasi.
CBEMR memberikan kerangka yang relevan untuk memastikan bahwa kegiatan rehabilitasi tidak sekadar mengejar target penanaman, tetapi mempertimbangkan proses ekologis dan tata kelola sosial kawasan.
Penerapannya dapat mendukung perubahan paradigma dari menanam mangrove menuju memulihkan ekosistem mangrove.
Dari Menanam Mangrove Menuju Memulihkan Ekosistem
Restorasi mangrove yang berkelanjutan membutuhkan perubahan cara pandang.
Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon yang dapat dipulihkan dengan memasukkan sebanyak mungkin bibit ke dalam suatu kawasan. Mangrove merupakan ekosistem dinamis yang dibentuk oleh air, pasang surut, sedimentasi, elevasi, vegetasi, fauna, serta interaksi manusia dengan lingkungan pesisir.
Community-Based Ecological Mangrove Restoration menempatkan seluruh komponen tersebut dalam satu kerangka pemulihan.
Ekologi memberikan dasar untuk menentukan apa yang harus dipulihkan dan bagaimana proses tersebut dilakukan, sedangkan keterlibatan masyarakat membantu memastikan siapa yang menjaga proses tersebut dan bagaimana keberlanjutannya dipertahankan.
Karena itu, CBEMR seharusnya tidak dimulai dengan pertanyaan, “Berapa banyak mangrove yang akan ditanam?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang menghambat ekosistem ini pulih, dan bagaimana masyarakat bersama para pemangku kepentingan dapat membantu mengembalikan proses ekologisnya?”
Ketika pertanyaan tersebut menjadi dasar perencanaan, rehabilitasi mangrove dapat bergerak melampaui kegiatan penanaman menuju tujuan yang lebih besar: memulihkan ekosistem pesisir yang sehat, berfungsi, adaptif, dan mampu memberikan manfaat bagi manusia serta keanekaragaman hayati dalam jangka panjang. (ADM).
Daftar Pustaka
Bosire, J. O., Dahdouh-Guebas, F., Walton, M., Crona, B. I., Lewis III, R. R., Field, C., Kairo, J. G., & Koedam, N. (2008). Functionality of restored mangroves: A review. Aquatic Botany, 89(2), 251–259.
Lewis III, R. R. (2005). Ecological engineering for successful management and restoration of mangrove forests. Ecological Engineering, 24(4), 403–418.
Lewis III, R. R., & Brown, B. (2014). Ecological Mangrove Rehabilitation: A Field Manual for Practitioners. Mangrove Action Project.
Primavera, J. H., & Esteban, J. M. A. (2008). A review of mangrove rehabilitation in the Philippines: Successes, failures and future prospects. Wetlands Ecology and Management, 16, 345–358.
RomaƱach, S. S., DeAngelis, D. L., Koh, H. L., Li, Y., Teh, S. Y., Barizan, R. S. R., & Zhai, L. (2018). Conservation and restoration of mangroves: Global status, perspectives, and prognosis. Ocean & Coastal Management, 154, 72–82.
(Sumber gambar: Adnankasogi/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, dipotong ke rasio 4:3)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar