24.8.26

KeSEMaTER Main Padel: Merawat Kebersamaan di Tengah Padatnya Gerakan Mangrove

Semarang – KeSEMaTBLOG. KeSEMaTER main padel bersama pada Minggu malam, 23 Agustus 2026, bukan sekadar untuk mengikuti olahraga yang sedang berkembang di kalangan anak muda. Di tengah padatnya program kerja, pendidikan organisasi, dan aktivitas konservasi mangrove, sekitar 15 KeSEMaTER memilih mengambil jeda selama dua jam untuk kembali bertemu sebagai teman, rekan satu organisasi, sekaligus keluarga besar yang selama ini bertumbuh bersama di KeSEMaT.

Kegiatan berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB di Laparaga Sriwijaya Padel, Semarang, dan dikoordinasikan oleh Sdr. Samsul Ma’arif (Presiden) bersama Sdr. Abdurrahman Al Faqih (Staf MENPORSI), yang juga mengoordinasikan rekan-rekan satu angkatan dalam kegiatan tersebut. Suasananya jauh dari agenda formal organisasi. Tidak ada materi di ruang kelas, tidak ada laporan kegiatan yang harus diselesaikan, dan tidak ada lumpur mangrove yang harus diterobos malam itu. Yang ada adalah raket, bola, lapangan, tawa, serta kesempatan untuk kembali menikmati kebersamaan.

Namun, justru dari suasana sederhana tersebut terdapat satu bagian penting dalam perjalanan sebuah organisasi: manusia yang berada di balik seluruh program dan gerakan mangrove juga perlu dirawat.

KeSEMaTER Main Padel setelah Melewati Agenda yang Padat

Beberapa waktu terakhir menjadi periode yang cukup padat bagi KeSEMaTER. Berbagai program datang dalam jarak waktu yang berdekatan, mulai dari KeSEMaTHUNT KeSEMaTOUR (KHKT), berbagai agenda lanjutan KHKT, hingga Mangrove Merdeka (MMK) 2026. Di antara agenda tersebut, KeSEMaTER juga menjalani rangkaian pendidikan dan penguatan internal kabinet melalui Diklat Kabinet (DIKNET), KeSEMaTHURSDAY (KTD), serta berbagai kegiatan kaderisasi dan pembelajaran organisasi lainnya.

Rangkaian tersebut membutuhkan tidak hanya tenaga, tetapi juga konsentrasi, disiplin waktu, kemampuan bekerja dalam tim, dan kesiapan mental. Ada hari-hari ketika KeSEMaTER harus menyiapkan kegiatan, menyusun konsep, melakukan koordinasi, turun ke lapangan, menjalankan acara, melakukan evaluasi, kemudian kembali mempersiapkan agenda berikutnya.

Padat, tentu saja. Melelahkan, juga tidak dapat dipungkiri. Namun, seluruh proses tersebut tetap menjadi bagian yang menyenangkan karena di sanalah pengalaman berorganisasi benar-benar terbentuk.

KeSEMaT sejak awal tidak hanya menjadi ruang untuk mempelajari mangrove sebagai ekosistem pesisir. Organisasi ini juga menjadi tempat belajar mengenai sikap, etika, tanggung jawab, kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, ketahanan mental, hingga bagaimana menghargai orang lain dalam sebuah tim. Pengetahuan mangrove dan pembentukan karakter organisasi berjalan beriringan karena pada akhirnya konservasi tidak pernah dijalankan oleh ilmu pengetahuan saja, tetapi oleh manusia yang mampu bekerja bersama.

Belajar Mangrove, Belajar Menjadi Manusia Organisasi

Di balik agenda yang terlihat publik, terdapat proses pembelajaran yang cukup panjang. KeSEMaTER dituntut terus meningkatkan kemampuan mengenai mangrove, mulai dari identifikasi jenis, ekologi mangrove, pemetaan, monitoring vegetasi, morfometri, hidrologi, herbivory, rehabilitasi, hingga berbagai metode pengamatan dan analisis ekosistem pesisir.

Pembelajaran tersebut tidak selalu ringan. Pengetahuan lapangan harus bertemu dengan teori, sementara kemampuan teknis harus dilengkapi dengan keterampilan berorganisasi. Seorang KeSEMaTER dapat berada di kelas mempelajari karakter vegetasi pada satu kesempatan, kemudian pada kesempatan lain harus menjadi panitia, berbicara dengan peserta, bekerja bersama masyarakat, mengelola sebuah acara, atau turun langsung ke kawasan mangrove.

Karena itu, menjaga kualitas hubungan antarmanusia menjadi sama pentingnya dengan menjaga kualitas program. Sebuah organisasi dapat memiliki program yang baik dan pengetahuan yang kuat, tetapi keberlanjutannya tetap sangat bergantung pada orang-orang yang merasa terhubung satu sama lain.

Padel pada malam itu menjadi salah satu ruang kecil untuk merawat hubungan tersebut.

Dua Jam Tanpa Target Program Kerja

Pukul 20.00 WIB, sekitar 15 KeSEMaTER mulai memenuhi lapangan. Permainan berlangsung bergantian, membuat anggota yang sudah mengenal padel maupun yang masih beradaptasi dengan permainan dapat sama-sama menikmati pertandingan.

Tidak semuanya harus dimainkan dengan serius. Ada pukulan yang tepat, ada bola yang gagal dikembalikan, ada strategi yang berjalan, dan tentu saja ada banyak momen yang justru memancing tawa. Dalam suasana seperti itu, sekat antara jabatan, bidang kerja, atau kepanitiaan menjadi jauh lebih cair.

Dua jam tersebut menjadi ruang bonding yang sederhana, tetapi penting. Setelah sebelumnya lebih sering bertemu karena jadwal rapat, kepanitiaan, pendidikan, atau program mangrove, malam itu KeSEMaTER bertemu karena satu alasan yang lebih sederhana: ingin menghabiskan waktu bersama.

Sdr. Samsul menilai ruang informal seperti ini penting untuk menjaga energi anggota setelah menjalani berbagai agenda yang cukup intens dalam beberapa waktu terakhir.

“KeSEMaT memang bergerak dengan program, pendidikan, dan berbagai kegiatan mangrove yang cukup padat. Namun, di balik semuanya ada KeSEMaTER yang juga perlu memiliki ruang untuk menikmati kebersamaan. Padel malam ini menjadi salah satu cara sederhana untuk kembali bertemu, tertawa, dan menjaga rasa kekeluargaan setelah bersama-sama melewati banyak agenda,” ujar Presiden.

Baginya, kekompakan bukan sesuatu yang hanya diperlukan ketika sebuah program sedang berjalan. Hubungan yang dibangun di luar kegiatan formal justru dapat menjadi modal penting ketika anggota kembali harus bekerja bersama menghadapi agenda organisasi berikutnya.

Dari Lapangan Padel ke Meja Makan

Kebersamaan tidak berakhir ketika permainan selesai pada pukul 22.00 WIB. Setelah meninggalkan lapangan, rombongan melanjutkan malam dengan makan bersama di Mie Gacoan kawasan Setiabudi, Semarang.

Suasana yang sebelumnya ramai oleh pertandingan berubah menjadi percakapan santai di meja makan. Tidak ada susunan acara dan tidak ada pembagian tugas. Obrolan berkembang secara alami, mulai dari kejadian selama bermain padel, pengalaman menjalankan program, cerita keseharian, hingga berbagai candaan yang muncul di antara KeSEMaTer.

Justru di meja makan seperti inilah sebuah organisasi sering menemukan sisi manusianya. Anggota tidak lagi hanya mengenal satu sama lain berdasarkan jabatan atau tanggung jawab dalam program, tetapi mengenal karakter, cerita, kebiasaan, dan kehidupan orang-orang yang selama ini berdiri di samping mereka ketika organisasi sedang sibuk.

Sdr. Abiburahman, Staf MENPORSI, yang turut mengoordinasikan kegiatan bersama rekan-rekan angkatannya, melihat kegiatan tersebut sebagai momentum untuk menjaga komunikasi dan kedekatan setelah seluruh anggota disibukkan dengan agenda masing-masing.

“Beberapa minggu terakhir kami bertemu terus, tetapi kebanyakan dalam konteks program dan tanggung jawab organisasi. Jadi, kegiatan seperti ini terasa berbeda karena kami bisa benar-benar berkumpul sebagai teman. Harapannya, setelah energi kembali terisi dan hubungan semakin dekat, kami juga semakin nyaman ketika harus bekerja bersama lagi di KeSEMaT,” kata Sdr. Abiburahman.

Mangrove Selalu Memiliki Cerita tentang Manusia

Padel dan mangrove mungkin terlihat sebagai dua hal yang tidak memiliki hubungan langsung. Namun, bagi KeSEMaT, keduanya bertemu pada satu titik penting: manusia.

Mangrove dapat dipelajari melalui struktur vegetasi, zonasi, regenerasi alami, hidrologi, pemetaan, hingga berbagai parameter ekologis. Rehabilitasi dapat dirancang menggunakan metode yang semakin berkembang dan data yang semakin rinci. Namun, di balik penelitian, pendidikan, penanaman, pemantauan, dan kampanye mangrove selalu ada manusia yang menjalankannya.

Ada orang-orang yang belajar bersama, salah bersama, memperbaiki kesalahan bersama, kelelahan bersama, kemudian kembali menemukan energi untuk bergerak bersama.

KeSEMaT memahami bahwa membangun kapasitas KeSEMaTER tidak cukup hanya dengan memenuhi kepala mereka dengan pengetahuan mangrove. Organisasi juga harus menyediakan ruang untuk membangun kepercayaan, solidaritas, empati, komunikasi, dan rasa memiliki. Sebab, orang-orang yang kuat secara pengetahuan tetapi tidak mampu bekerja bersama akan kesulitan membangun gerakan yang berkelanjutan.

Sebaliknya, hubungan yang sehat dapat membuat proses belajar yang berat terasa lebih ringan. Agenda yang padat dapat dilewati dengan lebih menyenangkan ketika setiap orang mengetahui bahwa di sampingnya terdapat teman-teman yang siap membantu.

Merawat KeSEMaTER untuk Merawat Mangrove

Malam semakin larut ketika kebersamaan di Setiabudi akhirnya harus diakhiri. Tidak ada seremoni penutupan ataupun kesimpulan panjang. KeSEMaTER kembali ke aktivitas masing-masing dengan tubuh yang mungkin lebih lelah setelah dua jam bermain padel, tetapi dengan suasana yang lebih ringan setelah dapat berbagi waktu di luar rutinitas organisasi.

Esok hari, pembelajaran mangrove tetap menunggu. Program kerja akan kembali berjalan, materi akan kembali dipelajari, kawasan mangrove akan kembali didatangi, dan tanggung jawab organisasi akan terus berlanjut.

Namun, malam 23 Agustus 2026 meninggalkan pengingat sederhana bahwa perjalanan KeSEMaT tidak hanya dibangun melalui berapa banyak program yang berhasil dilaksanakan atau berapa banyak pengetahuan mangrove yang berhasil dikuasai. Perjalanan itu juga dibangun dari hubungan antarmanusia yang tumbuh di antara seluruh proses tersebut.

Karena sebelum berbicara mengenai gerakan mangrove yang kuat, ada orang-orang yang harus terlebih dahulu tumbuh menjadi tim yang kuat.

Dan terkadang, merawat tim tidak memerlukan sebuah kegiatan besar. Cukup satu lapangan padel, dua jam bermain bersama, satu meja makan setelahnya, serta kesempatan untuk kembali mengingat bahwa KeSEMaT bukan hanya tempat belajar mangrove, tetapi juga tempat KeSEMaTER bertumbuh sebagai manusia dan keluarga.

Keseluruhan kegiatan KeSEMaT Family Day (KFD) yang merupakan salah satu program kerja Departemen Pengembangan Organisasi (DEPORSI) berlangsung dengan baik, lancar, dan penuh suasana kekeluargaan. Melalui KFD, KeSEMaTER tidak hanya memiliki ruang untuk berolahraga dan melepas penat setelah menjalani berbagai agenda organisasi yang padat, tetapi juga mempererat silaturahmi, membangun kekompakan, dan menjaga rasa kekeluargaan antaranggotanya. Rangkaian kegiatan malam itu kemudian ditutup dengan foto bersama sebagai penanda kebersamaan KeSEMaTER yang terus dirawat di tengah semangat belajar, berorganisasi, dan bergerak untuk mangrove. (ADM).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar