29.7.26

Rahasia Karbon Mangrove Tersimpan di Bawah Lumpur Pesisir

Semarang - KeSEMaTBLOG. Karbon mangrove dalam tanah merupakan salah satu cadangan karbon terbesar dan paling sering diabaikan dalam pembahasan mengenai ekosistem mangrove. Ketika masyarakat melihat hutan mangrove, perhatian biasanya langsung tertuju pada batang, cabang, akar, dan daun yang tumbuh di atas permukaan tanah.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Pohon mangrove memang menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam jaringan tumbuhan. Namun, apabila penghitungan karbon hanya dilakukan berdasarkan jumlah pohon atau ukuran batang, sebagian besar kekayaan karbon ekosistem mangrove berisiko tidak tercatat.

Di bawah tegakan mangrove terdapat lapisan lumpur dan sedimen yang dapat menyimpan bahan organik selama puluhan, ratusan, bahkan lebih lama selama kondisi ekologisnya tetap mendukung. Serasah daun, akar mati, kayu, organisme, dan material organik yang terbawa dari daratan maupun laut secara perlahan terakumulasi di dalam sedimen.

Kondisi tanah yang jenuh air dan miskin oksigen memperlambat proses penguraian bahan organik. Akibatnya, karbon tidak segera kembali ke atmosfer, tetapi tertahan dan tersimpan di bawah permukaan.

Penelitian pada kawasan Indo-Pasifik menunjukkan bahwa ekosistem mangrove memiliki rata-rata cadangan sekitar 1.023 megagram karbon per hektare. Tanah yang kaya bahan organik ditemukan pada kedalaman sekitar 0,5 meter hingga lebih dari 3 meter dan menyumbang sekitar 49–98 persen dari total simpanan karbon ekosistem pada lokasi yang diteliti.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan mangrove sebagai ekosistem karbon biru tidak hanya berdiri tegak dalam bentuk pohon. Sebagian kekuatan terbesarnya justru tersembunyi di bawah lumpur pesisir.

Apa yang Dimaksud dengan Karbon Mangrove?

Karbon mangrove adalah karbon yang tersimpan dalam berbagai komponen ekosistem mangrove. Komponen tersebut tidak hanya mencakup pohon hidup, tetapi juga akar, tumbuhan bawah, kayu mati, serasah, serta tanah dan sedimen.

Dalam kajian karbon ekosistem, simpanan tersebut umumnya dibagi menjadi beberapa kelompok atau carbon pools.

Karbon Biomassa Atas Permukaan

Karbon biomassa atas permukaan atau aboveground biomass carbon tersimpan dalam bagian tumbuhan yang berada di atas tanah, seperti:

  • batang;
  • cabang;
  • ranting;
  • kulit pohon;
  • daun; dan
  • tumbuhan bawah.

Pengukuran karbon biomassa atas permukaan biasanya dilakukan dengan mengukur diameter batang, tinggi pohon, jenis mangrove, dan kerapatan tegakan. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam persamaan alometrik untuk memperkirakan biomassa.

Pohon dengan diameter besar umumnya memiliki biomassa lebih tinggi daripada bibit atau pohon muda. Namun, ukuran pohon bukan satu-satunya faktor penentu. Jenis mangrove, bentuk pertumbuhan, kondisi lokasi, umur tegakan, dan tekanan lingkungan juga memengaruhi jumlah biomassa.

Karbon Biomassa Bawah Permukaan

Karbon biomassa bawah permukaan atau belowground biomass carbon terutama tersimpan dalam jaringan akar hidup.

Mangrove memiliki sistem perakaran yang kompleks. Beberapa jenis membentuk akar tunjang, akar napas, akar lutut, atau struktur perakaran lain yang membantu tumbuhan bertahan dalam kondisi tanah berlumpur, salinitas tinggi, dan pasang surut.

Bagian akar yang terlihat di atas lumpur hanya merupakan sebagian dari keseluruhan sistem perakaran. Di bawah permukaan, akar menjalar, tumbuh, mati, dan terurai secara perlahan. Proses tersebut memberikan masukan bahan organik secara terus-menerus ke dalam tanah.

Akar mangrove juga membantu memerangkap sedimen, memperlambat aliran air, dan mempertahankan kestabilan permukaan tanah. Oleh karena itu, fungsi akar tidak dapat dipisahkan dari proses penyimpanan karbon dalam sedimen.

Karbon dalam Kayu Mati dan Serasah

Kayu mati dan serasah merupakan bagian penting dari siklus karbon mangrove. Daun yang gugur, cabang yang patah, batang yang mati, dan sisa organisme akan mengalami proses penguraian.

Sebagian bahan tersebut dimanfaatkan oleh kepiting, moluska, mikroorganisme, dan organisme pengurai lainnya. Sebagian lainnya terkubur bersama sedimen dan masuk ke dalam cadangan karbon tanah.

Serasah bukan sekadar sampah alami. Dalam ekosistem mangrove, serasah merupakan sumber energi bagi jaring-jaring makanan sekaligus salah satu jalur masuknya karbon ke dalam tanah.

Karbon Organik Tanah dan Sedimen

Karbon organik tanah merupakan komponen yang dapat mendominasi cadangan karbon ekosistem mangrove.

Karbon ini berasal dari berbagai sumber, antara lain:

  • akar mangrove yang mati;
  • serasah daun dan kayu;
  • sisa organisme;
  • bahan organik dari sungai;
  • partikel organik dari laut;
  • vegetasi pesisir lainnya; dan
  • sedimen yang terbawa pasang surut.

Karbon yang dihasilkan langsung oleh ekosistem setempat disebut karbon autochthonous. Sementara itu, karbon yang berasal dari luar lokasi dan kemudian terperangkap dalam sedimen disebut karbon allochthonous.

Kajian global menunjukkan bahwa sedimen mangrove dapat mengandung campuran karbon organik yang berasal dari mangrove itu sendiri serta material yang dibawa dari ekosistem daratan dan perairan. Pemisahan sumber karbon tersebut penting, terutama ketika hasil pengukuran akan digunakan sebagai dasar pengalokasian kredit karbon.

Mengapa Karbon Mangrove Banyak Tersimpan di Dalam Tanah?

Kemampuan mangrove menyimpan karbon di bawah permukaan berkaitan erat dengan kondisi ekologis wilayah pesisir.

Tanah Mangrove Selalu atau Berkala Tergenang

Tanah mangrove dipengaruhi oleh pasang surut. Pada banyak lokasi, pori-pori tanah dipenuhi air sehingga pertukaran oksigen menjadi terbatas.

Kondisi miskin oksigen atau anaerob memperlambat aktivitas mikroorganisme tertentu yang menguraikan bahan organik. Penguraian tetap terjadi, tetapi kecepatannya dapat lebih lambat dibandingkan tanah kering yang kaya oksigen.

Karena proses penguraian berlangsung lambat, sebagian karbon organik dapat tertahan dalam sedimen untuk waktu yang panjang.

Mangrove Terus Menghasilkan Bahan Organik

Mangrove menghasilkan daun, ranting, akar, bunga, buah, dan bagian tumbuhan lainnya. Material tersebut secara berkala jatuh, mati, terurai, atau tertimbun di dalam tanah.

Akar juga memberikan kontribusi langsung melalui pertumbuhan dan kematian jaringan di bawah permukaan. Dengan demikian, tanah mangrove menerima masukan karbon organik dari atas sekaligus dari dalam tanah.

Akar Mangrove Memerangkap Sedimen

Sistem perakaran mangrove dapat mengurangi kecepatan arus dan membantu mengendapkan partikel yang terbawa air.

Sedimen yang mengendap dapat mengandung lumpur, mineral, sisa organisme, dan bahan organik. Lapisan baru kemudian menutupi lapisan lama. Apabila proses tersebut berlangsung terus-menerus, karbon dapat terkubur semakin dalam.

Sedimen Mangrove Dapat Terbentuk Sangat Dalam

Tanah mangrove tidak selalu berupa lapisan tipis di sekitar akar. Pada lokasi tertentu, sedimen kaya bahan organik dapat mencapai kedalaman beberapa meter.

Hal tersebut menjelaskan mengapa penilaian karbon yang hanya mengambil contoh tanah sangat dangkal dapat menghasilkan perkiraan yang tidak lengkap. Kedalaman pengambilan sampel harus disesuaikan dengan tujuan kajian, karakter lokasi, metodologi, dan standar yang digunakan.

Karbon Mangrove Tidak Dapat Dihitung Hanya dari Jumlah Pohon

Salah satu miskonsepsi paling umum dalam program lingkungan adalah anggapan bahwa jumlah pohon dapat langsung diterjemahkan menjadi jumlah karbon.

Misalnya, sebuah program menanam 10.000 bibit mangrove. Angka tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa program telah menyerap sejumlah tertentu karbon.

Cara berpikir tersebut bermasalah karena jumlah bibit bukanlah jumlah pohon hidup, jumlah biomassa, ataupun jumlah karbon ekosistem.

Bibit yang Ditanam Belum Tentu Bertahan Hidup

Bibit mangrove menghadapi tekanan berupa gelombang, arus, sedimentasi, abrasi, sampah, hama, perubahan salinitas, gangguan manusia, dan ketidaksesuaian habitat.

Sebagian bibit dapat mati pada bulan-bulan pertama. Sebagian lainnya bertahan, tetapi mengalami pertumbuhan lambat. Ada pula lokasi yang secara ekologis tidak sesuai untuk jenis yang ditanam.

Menghitung karbon berdasarkan jumlah awal bibit tanpa memantau tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhannya dapat menghasilkan klaim yang berlebihan.

Dua Pohon Tidak Selalu Menyimpan Karbon yang Sama

Pohon mangrove dengan diameter batang 3 sentimeter tidak memiliki biomassa yang sama dengan pohon berdiameter 30 sentimeter.

Bahkan dua pohon dengan diameter serupa dapat memiliki biomassa berbeda apabila berasal dari jenis, bentuk pertumbuhan, atau kondisi ekologis yang berbeda.

Oleh karena itu, pengukuran biomassa membutuhkan data lapangan dan persamaan yang sesuai. Jumlah pohon hanya salah satu informasi dasar, bukan hasil akhir penghitungan karbon.

Karbon Tanah Tidak Ditentukan oleh Jumlah Pohon Saat Ini

Suatu lokasi dapat memiliki tegakan yang tidak terlalu rapat, tetapi menyimpan lapisan tanah organik yang dalam. Sebaliknya, lokasi dengan banyak bibit baru belum tentu memiliki cadangan karbon tanah tinggi.

Cadangan karbon tanah dibentuk oleh sejarah ekologis yang panjang. Kedalaman sedimen, sumber bahan organik, hidrologi, pasang surut, erosi, sedimentasi, dan penggunaan lahan masa lalu semuanya dapat memengaruhi jumlah karbon.

Jumlah pohon yang terlihat saat ini tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan sejarah karbon yang tersimpan di bawahnya.

Mengapa Sedimen Mangrove Dapat Menyimpan Karbon dalam Waktu Lama?

Penyimpanan karbon dalam sedimen mangrove berlangsung melalui proses pengendapan, penguburan, dan perlambatan dekomposisi.

Ketika bahan organik jatuh ke permukaan tanah, sebagian akan terurai dan kembali ke lingkungan. Namun, sebagian lainnya masuk ke dalam sedimen.

Lapisan sedimen baru dapat menutup bahan organik tersebut. Semakin dalam bahan organik terkubur, semakin terbatas hubungannya dengan oksigen dan proses penguraian cepat.

Dalam kondisi ekosistem yang stabil, karbon yang terkubur dapat bertahan dalam waktu panjang. Inilah yang membedakan fungsi karbon mangrove dengan penyimpanan karbon yang hanya berada dalam jaringan tumbuhan hidup.

Karbon pada batang dan daun akan kembali ke lingkungan ketika tumbuhan mati, terbakar, ditebang, atau terurai. Karbon tanah juga dapat terlepas, tetapi selama sedimen tetap jenuh air, tidak terganggu, dan terlindungi, sebagian besar cadangannya dapat dipertahankan.

Karena itu, perlindungan ekosistem mangrove bukan hanya menjaga pohon yang berdiri. Perlindungan juga berarti menjaga tanah, hidrologi, elevasi, konektivitas pasang surut, dan proses sedimentasi yang menopang penyimpanan karbon.

Apa yang Terjadi Ketika Mangrove Dibuka?

Pembukaan mangrove tidak hanya menghilangkan batang dan daun. Pembukaan dapat mengubah seluruh sistem ekologis yang selama ini mempertahankan karbon di dalam tanah.

Karbon Biomassa Hilang

Ketika pohon ditebang, karbon dalam batang, cabang, daun, dan akar dapat dilepaskan melalui pembakaran, pembusukan, atau pemanfaatan kayu.

Namun, kehilangan biomassa baru merupakan bagian awal dari dampak karbon.

Tanah Mengalami Pengeringan

Pembukaan mangrove untuk tambak, pembangunan, pertanian, atau penggunaan lain sering disertai penggalian saluran, pembuatan tanggul, atau perubahan aliran pasang surut.

Ketika tanah yang sebelumnya jenuh air menjadi lebih kering, oksigen dapat masuk lebih jauh ke dalam sedimen. Kondisi tersebut mempercepat penguraian bahan organik.

Karbon yang sebelumnya tersimpan relatif stabil kemudian dapat teroksidasi dan dilepaskan sebagai gas rumah kaca.

Sedimen Mengalami Erosi

Hilangnya akar membuat sedimen lebih rentan terhadap arus dan gelombang. Lapisan tanah kaya karbon dapat terkikis dan terbawa ke perairan.

Nasib karbon yang tererosi tidak selalu sama. Sebagian dapat mengendap kembali, sebagian terurai, dan sebagian memasuki sistem perairan. Namun, dari sudut pandang lokasi awal, erosi berarti hilangnya cadangan karbon yang sebelumnya tersimpan.

Perubahan Hidrologi Memicu Kerusakan Jangka Panjang

Hidrologi mengatur frekuensi genangan, salinitas, pengendapan sedimen, pertukaran unsur hara, dan kondisi kimia tanah.

Kerusakan hidrologi dapat terjadi meskipun sebagian pohon masih berdiri. Tanggul, saluran, jalan, sedimentasi berlebihan, atau terputusnya aliran pasang surut dapat mengubah kondisi tanah dan menurunkan kemampuan ekosistem menyimpan karbon.

Dengan demikian, penilaian karbon tidak seharusnya hanya bertanya, “Berapa pohon yang ditebang?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang terjadi pada tanah dan sistem hidrologinya?”

Konversi Mangrove Dapat Melepaskan Karbon Tanah dalam Jumlah Besar

Penelitian mengenai konversi mangrove menjadi tambak udang di Brasil menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan tersebut menyebabkan hilangnya sekitar 58–82 persen cadangan karbon ekosistem pada lokasi yang diteliti.

Potensi emisi rata-rata dari konversi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1.390 megagram setara karbon dioksida per hektare. Sekitar 81 persen emisi berasal dari kehilangan karbon tanah, sementara tanah pada kedalaman lebih dari 100 sentimeter menyumbang sekitar sepertiga kehilangan karbon ekosistem.

Angka tersebut tidak boleh diterapkan secara langsung ke semua lokasi mangrove karena karakter setiap estuari berbeda. Akan tetapi, hasil penelitian itu memperlihatkan satu pelajaran penting: kerusakan tanah mangrove dapat menghasilkan dampak emisi yang jauh lebih besar daripada kehilangan pohon yang terlihat di permukaan.

Penelitian di Thailand juga menemukan bahwa konversi mangrove menjadi tambak dapat menghilangkan hingga sekitar 70 persen karbon ekosistem. Bahkan beberapa tambak yang telah ditinggalkan masih memiliki tanah mangrove sedalam lebih dari 2,5 meter dan cadangan karbon besar yang tersisa di bawah permukaan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa riwayat penggunaan lahan dan kondisi tanah harus diperiksa sebelum membuat kesimpulan mengenai cadangan atau potensi pemulihan karbon suatu kawasan.

Pentingnya Pengambilan Sampel Tanah Mangrove

Pengambilan sampel tanah merupakan bagian penting dalam pengukuran karbon mangrove. Tanpa data tanah, penilaian hanya menangkap sebagian dari total cadangan karbon ekosistem.

Apa yang Diukur dari Sampel Tanah?

Pengukuran karbon tanah umumnya membutuhkan beberapa data utama, antara lain:

  • kedalaman tanah;
  • ketebalan lapisan sampel;
  • massa jenis tanah atau bulk density;
  • persentase karbon organik;
  • karakter sedimen;
  • lokasi dan jumlah titik sampel; serta
  • kondisi penggunaan lahan.

Kandungan karbon per satuan luas tidak dapat dihitung hanya dengan mengetahui persentase karbon. Data massa jenis dan ketebalan lapisan juga diperlukan.

Secara sederhana, tanah dengan persentase karbon tinggi belum tentu memiliki cadangan karbon terbesar apabila massa jenis atau ketebalannya rendah. Sebaliknya, tanah dengan persentase karbon sedang dapat menyimpan jumlah karbon besar apabila lapisannya tebal.

Mengapa Satu Sampel Tidak Cukup?

Kondisi tanah mangrove dapat berubah dalam jarak yang relatif pendek. Bagian tepi laut, tengah tegakan, sekitar sungai, bekas tambak, dan sisi daratan dapat memiliki kedalaman serta kandungan karbon berbeda.

Satu titik sampel tidak selalu dapat mewakili seluruh kawasan. Oleh karena itu, rancangan pengambilan sampel perlu mempertimbangkan variasi ekologis dan penggunaan lahan.

Jumlah titik, pola penempatan, pembagian strata, serta kedalaman sampel harus dirancang sebelum survei dilakukan.

Kedalaman Sampel Memengaruhi Hasil

Apabila pengukuran hanya dilakukan pada lapisan 0–30 sentimeter, hasilnya hanya mewakili karbon pada kedalaman tersebut.

Data itu tidak dapat serta-merta dianggap sebagai total karbon tanah hingga kedalaman 1 meter atau lebih. Perkiraan untuk lapisan yang tidak diukur harus menggunakan metode dan asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pedoman IPCC untuk lahan basah pesisir memberikan kerangka penghitungan emisi dan serapan gas rumah kaca dari mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun yang dikelola. Pedoman tersebut menegaskan pentingnya kategori penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, serta faktor emisi yang sesuai.

Analisis Laboratorium Harus Jelas

Sampel tanah perlu dianalisis menggunakan metode laboratorium yang sesuai. Metode yang digunakan harus dicatat karena perbedaan pendekatan dapat memengaruhi hasil.

Pelaporan yang baik seharusnya menjelaskan:

  • metode pengambilan sampel;
  • kedalaman sampel;
  • jumlah titik;
  • metode analisis karbon;
  • cara menghitung massa jenis;
  • persamaan yang digunakan;
  • satuan hasil;
  • tingkat ketidakpastian; dan
  • batasan penelitian.

Keterbukaan metodologi memungkinkan hasil diuji, dibandingkan, dan diverifikasi.

Perbedaan Cadangan Karbon dan Penyerapan Karbon

Istilah cadangan karbon dan penyerapan karbon sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya berbeda.

Cadangan Karbon

Cadangan karbon atau carbon stock adalah jumlah karbon yang tersimpan pada suatu waktu dalam biomassa, kayu mati, serasah, dan tanah.

Cadangan karbon menggambarkan isi “gudang karbon” pada saat pengukuran dilakukan.

Penyerapan atau Sekuestrasi Karbon

Penyerapan karbon atau carbon sequestration merupakan proses bertambahnya karbon yang tersimpan dalam periode tertentu.

Untuk mengetahui penyerapan karbon, pengukuran biasanya memerlukan data perubahan dari waktu ke waktu. Pengukuran satu kali lebih tepat digunakan untuk memperkirakan cadangan karbon, bukan langsung menyatakan laju penyerapan tahunan.

Emisi yang Dihindari

Perlindungan mangrove dapat mencegah pelepasan karbon yang akan terjadi apabila ekosistem dibuka atau terdegradasi.

Manfaat tersebut disebut emisi yang dihindari atau avoided emissions. Konsep ini berbeda dari penyerapan baru melalui pertumbuhan vegetasi atau akumulasi sedimen.

Ketiga konsep tersebut harus dibedakan agar komunikasi publik dan klaim karbon tidak menyesatkan.

Mengapa Klaim Karbon Mangrove Harus Dilakukan dengan Hati-Hati?

Meningkatnya perhatian terhadap blue carbon, target emisi, ESG, dan pasar karbon membuat mangrove sering dipromosikan sebagai solusi iklim.

Perhatian tersebut dapat mendukung konservasi apabila dilandasi data yang baik. Namun, perhatian yang sama juga dapat mendorong klaim berlebihan apabila karbon diperlakukan sekadar sebagai alat pemasaran.

Klaim Berdasarkan Jumlah Bibit

Pernyataan seperti “satu bibit setara dengan sejumlah kilogram karbon” sering mengabaikan umur, pertumbuhan, kematian, jenis, lokasi, kondisi tanah, dan periode penghitungan.

Bibit yang baru ditanam belum memiliki biomassa besar. Potensi penyimpanan karbon di masa depan juga tidak sama dengan karbon yang telah tersimpan saat ini.

Menggunakan Faktor Umum tanpa Verifikasi Lokasi

Nilai rata-rata dari penelitian global atau nasional tidak selalu dapat digunakan untuk menyatakan cadangan karbon suatu proyek secara pasti.

Mangrove pada estuari berlumpur, pulau kecil, pesisir terbuka, tambak terbengkalai, atau kawasan delta dapat memiliki karakter karbon berbeda.

Faktor umum dapat digunakan pada tingkat tertentu sesuai metodologi, tetapi penggunaannya harus dijelaskan sebagai perkiraan beserta tingkat ketidakpastiannya.

Mengabaikan Karbon Tanah

Proyek yang hanya mengukur diameter pohon mungkin dapat memperkirakan karbon biomassa, tetapi belum mengukur total karbon ekosistem.

Apabila laporan kemudian menyebut hasil tersebut sebagai “total karbon mangrove”, klaim tersebut berpotensi menyesatkan.

Menyamakan Penanaman dengan Kredit Karbon

Kegiatan menanam mangrove tidak otomatis menghasilkan kredit karbon.

Proyek karbon membutuhkan persyaratan tambahan, antara lain:

  • batas wilayah yang jelas;
  • kondisi dasar atau baseline;
  • prinsip tambahan atau additionality;
  • metodologi yang diakui;
  • pengukuran dan pemantauan;
  • pengelolaan risiko kebocoran;
  • ketahanan atau permanence;
  • validasi;
  • verifikasi; dan
  • pencatatan yang mencegah penghitungan ganda.

Tanpa unsur tersebut, kegiatan lebih tepat disebut program penanaman, rehabilitasi, atau kontribusi lingkungan, bukan kredit karbon terverifikasi.

Mengabaikan Risiko Pembalikan

Karbon yang tersimpan dapat kembali terlepas apabila kawasan dibuka, terbakar, tererosi, mengalami perubahan hidrologi, atau kehilangan perlindungan.

Proyek karbon harus mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Klaim jangka panjang membutuhkan pengelolaan jangka panjang, bukan sekadar kegiatan satu hari.

Pengukuran Karbon Mangrove Harus Berbasis Ekosistem

Pendekatan yang kredibel tidak menilai karbon hanya melalui pohon. Pengukuran perlu memandang mangrove sebagai satu kesatuan ekosistem.

Menentukan Batas dan Kondisi Lokasi

Sebelum pengukuran, batas kawasan, tipe habitat, riwayat penggunaan lahan, kondisi hidrologi, elevasi, dan tingkat gangguan perlu dipahami.

Pemetaan dapat membantu membagi kawasan menjadi beberapa strata yang relatif seragam.

Mengukur Struktur Tegakan

Data vegetasi dapat mencakup:

  • jenis mangrove;
  • diameter batang;
  • tinggi pohon;
  • kerapatan;
  • kondisi pohon;
  • regenerasi alami; dan
  • kayu mati.

Data tersebut digunakan untuk memperkirakan biomassa dan memahami kondisi ekologis tegakan.

Mengukur Karbon Bawah Permukaan

Pengukuran bawah permukaan mencakup biomassa akar dan karbon tanah.

Karena pengukuran akar secara langsung sulit dan merusak, biomassa akar sering diperkirakan menggunakan persamaan atau rasio tertentu. Sementara itu, karbon tanah memerlukan pengambilan sampel lapangan.

Menghitung Ketidakpastian

Setiap pengukuran memiliki ketidakpastian. Variasi alami, kesalahan alat, persamaan alometrik, jumlah sampel, kedalaman tanah, dan analisis laboratorium dapat memengaruhi hasil.

Laporan yang kredibel tidak menyembunyikan ketidakpastian. Sebaliknya, ketidakpastian dihitung dan dijelaskan sebagai bagian dari integritas ilmiah.

Melakukan Pemantauan Berkala

Cadangan karbon dapat berubah seiring pertumbuhan pohon, regenerasi, sedimentasi, kematian, erosi, dan perubahan penggunaan lahan.

Pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui arah perubahan tersebut. Pemantauan juga membantu mengidentifikasi ancaman sebelum kerusakan menjadi lebih besar.

Metode penilaian karbon biru telah dikembangkan untuk mengukur cadangan karbon pada biomassa dan tanah mangrove serta memperkirakan kehilangan karbon akibat degradasi atau konversi.

Konservasi Mangrove Dewasa Lebih Penting daripada Sekadar Menanam Bibit

Karena sebagian besar karbon dapat tersimpan di dalam tanah, perlindungan mangrove yang sudah ada harus menjadi prioritas.

Mangrove dewasa memiliki:

  • biomassa yang telah terbentuk;
  • sistem akar yang kompleks;
  • tanah kaya karbon;
  • fungsi habitat;
  • pohon induk penghasil propagul;
  • struktur tegakan yang beragam; dan
  • proses ekologis yang telah berlangsung lama.

Menebang mangrove dewasa kemudian menanam bibit di lokasi lain tidak menghasilkan pertukaran yang setara.

Bibit baru membutuhkan waktu untuk membentuk biomassa. Tanah pada lokasi baru juga belum tentu memiliki kedalaman, sejarah akumulasi, hidrologi, dan cadangan karbon yang sama dengan hutan yang hilang.

Ribuan bibit tidak dapat langsung menggantikan karbon tanah, kompleksitas habitat, dan fungsi ekologis mangrove dewasa.

Rehabilitasi Mangrove Harus Memulihkan Tanah dan Hidrologi

Rehabilitasi mangrove bukan sekadar memasukkan bibit ke dalam lumpur.

Apabila hidrologi rusak, elevasi tidak sesuai, pasang surut terputus, atau sedimen terus tererosi, penanaman dapat gagal meskipun jumlah bibit sangat besar.

Pendekatan rehabilitasi ekologis perlu memahami penyebab kerusakan terlebih dahulu.

Memulihkan Aliran Pasang Surut

Saluran, tanggul, jalan, dan struktur lain dapat mengubah distribusi air. Pemulihan konektivitas pasang surut dapat membantu mengembalikan kondisi tanah yang dibutuhkan mangrove.

Menghentikan Gangguan

Pada lokasi tertentu, regenerasi alami dapat berlangsung apabila penebangan, penggembalaan, pembuangan limbah, atau gangguan lain dihentikan.

Dalam kondisi tersebut, tidak menanam dapat menjadi keputusan rehabilitasi yang lebih tepat daripada memaksakan bibit.

Melindungi Sumber Benih

Tegakan mangrove di sekitar lokasi merupakan sumber propagul. Menjaga pohon induk dan jalur penyebaran propagul dapat memperkuat regenerasi alami.

Menanam Hanya Ketika Diperlukan

Penanaman dapat dilakukan apabila regenerasi alami tidak memadai dan penyebab kegagalan telah dipahami.

Jenis, jarak tanam, musim, elevasi, salinitas, dan dinamika sedimen perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi.

Pemulihan karbon tanah tidak terjadi hanya karena bibit ditanam. Pemulihan bergantung pada pulihnya proses ekologis yang memungkinkan bahan organik kembali terakumulasi dan terlindungi dalam sedimen.

Karbon Mangrove Tidak Boleh Menghapus Nilai Ekologis Lainnya

Mangrove memang penting bagi mitigasi perubahan iklim. Namun, menilai mangrove hanya berdasarkan ton karbon juga merupakan penyederhanaan.

Ekosistem mangrove mendukung:

  • habitat ikan, udang, kepiting, dan moluska;
  • tempat mencari makan dan berkembang biak;
  • perlindungan pesisir;
  • pengendalian erosi;
  • penyaringan sedimen dan polutan;
  • siklus unsur hara;
  • mata pencaharian masyarakat;
  • pendidikan dan penelitian;
  • nilai budaya; serta
  • konektivitas dengan sungai, lamun, terumbu karang, dan laut.

Karbon merupakan salah satu fungsi penting, bukan satu-satunya alasan mangrove harus dilindungi.

Proyek yang mengejar karbon tetapi merusak dataran lumpur, mengganggu akses masyarakat, menanam jenis yang tidak sesuai, atau mengabaikan biodiversitas tidak dapat disebut sebagai pemulihan ekosistem yang utuh.

Mencegah Greenwashing dalam Program Karbon Mangrove

Greenwashing dapat terjadi ketika perusahaan atau lembaga menyampaikan citra lingkungan yang lebih baik daripada dampak nyata programnya.

Dalam konteks mangrove, beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • hanya menampilkan jumlah bibit;
  • tidak menyebut tingkat kelangsungan hidup;
  • tidak menjelaskan lokasi dan luasan;
  • tidak memiliki data awal;
  • tidak melakukan pemantauan;
  • menggunakan istilah kredit karbon tanpa verifikasi;
  • tidak mengukur tanah;
  • tidak menjelaskan metodologi;
  • mengabaikan masyarakat lokal;
  • tidak menjelaskan risiko kerusakan; dan
  • menyamakan dokumentasi penanaman dengan keberhasilan rehabilitasi.

Klaim karbon yang bertanggung jawab harus menjelaskan apa yang benar-benar diukur dan apa yang masih berupa perkiraan.

Apabila hanya karbon biomassa yang dihitung, laporan harus menyebutnya sebagai karbon biomassa. Apabila tanah belum diukur, laporan tidak boleh menyatakan bahwa hasilnya mewakili total karbon ekosistem.

Transparansi bukan kelemahan. Transparansi merupakan dasar kepercayaan.

Pertanyaan yang Harus Diajukan Sebelum Memercayai Klaim Karbon Mangrove

Masyarakat, perusahaan, pemerintah, dan calon mitra dapat mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

Apa yang Diukur?

Apakah pengukuran mencakup batang dan daun saja, atau juga akar, kayu mati, serasah, dan tanah?

Berapa Kedalaman Tanah yang Diukur?

Apakah sampel hanya diambil pada lapisan permukaan atau hingga kedalaman tertentu?

Berapa Jumlah Titik Sampel?

Apakah sampel cukup mewakili variasi kondisi lokasi?

Metode Apa yang Digunakan?

Apakah persamaan alometrik, analisis laboratorium, dan standar penghitungan disebutkan dengan jelas?

Apakah Angka Menunjukkan Cadangan atau Penyerapan?

Apakah pengukuran dilakukan satu kali atau dibandingkan antarperiode?

Apakah Ada Kondisi Dasar?

Tanpa baseline, sulit menentukan perubahan yang benar-benar disebabkan oleh proyek.

Apakah Hasilnya Diverifikasi?

Verifikasi independen penting apabila klaim digunakan untuk kredit, kompensasi, atau pelaporan emisi.

Siapa yang Menjaga Kawasan?

Keberlanjutan proyek bergantung pada pengelolaan, perlindungan, hak atas lahan, dan dukungan masyarakat.

Perlindungan Tanah Mangrove Adalah Perlindungan Iklim

Selama ini, kampanye mangrove sering berpusat pada kegiatan menanam. Padahal, mencegah kerusakan hutan yang sudah ada dapat memberikan manfaat iklim yang sangat besar.

Kajian mengenai potensi emisi masa depan menunjukkan bahwa kehilangan mangrove dapat menyebabkan pelepasan karbon yang besar sekaligus menghilangkan potensi penyerapan karbon tanah pada masa mendatang. Wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk kawasan dengan risiko emisi tinggi karena konversi mangrove untuk pertanian dan akuakultur.

Melindungi mangrove berarti menjaga karbon yang sudah tersimpan selama bertahun-tahun. Perlindungan juga mempertahankan proses akumulasi karbon baru, fungsi habitat, perlindungan pantai, dan mata pencaharian masyarakat.

Karena itu, urutan tindakan yang lebih bertanggung jawab adalah:

melindungi mangrove yang masih baik, menghentikan penyebab kerusakan, memulihkan hidrologi, mendukung regenerasi alami, kemudian melakukan penanaman apabila benar-benar diperlukan.

Kesimpulan

Karbon mangrove tidak hanya berada pada batang, cabang, daun, atau akar yang terlihat. Sebagian besar cadangan karbon ekosistem mangrove dapat tersimpan di dalam tanah dan sedimen pesisir.

Kondisi tanah yang jenuh air, minim oksigen, kaya bahan organik, dan terus menerima endapan memungkinkan karbon bertahan dalam waktu yang panjang.

Namun, cadangan tersebut dapat terlepas ketika mangrove dibuka, dikeringkan, digali, tererosi, atau mengalami perubahan hidrologi.

Itulah sebabnya penghitungan karbon mangrove tidak dapat hanya berdasarkan jumlah pohon. Pengukuran yang kredibel harus mempertimbangkan biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, kayu mati, serasah, tanah, kedalaman sedimen, penggunaan lahan, dan ketidakpastian.

Penanaman bibit merupakan kegiatan yang dapat mendukung rehabilitasi, tetapi bukan bukti otomatis bahwa karbon telah terserap atau bahwa kredit karbon telah terbentuk.

Rahasia terbesar karbon mangrove memang tidak selalu terlihat dari permukaan. Ia tersimpan di bawah akar, di antara butiran sedimen, dan di dalam lapisan lumpur pesisir yang terbentuk melalui proses ekologis panjang.

Menjaga mangrove berarti menjaga pohonnya. Namun, lebih dari itu, menjaga mangrove berarti melindungi tanah, air, pasang surut, biodiversitas, masyarakat pesisir, dan seluruh proses yang memungkinkan ekosistem tersebut terus hidup. (ADM).

Referensi Utama

Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., dan Kanninen, M. 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience.

Howard, J., Hoyt, S., Isensee, K., Pidgeon, E., dan Telszewski, M. 2014. Coastal Blue Carbon: Methods for Assessing Carbon Stocks and Emissions Factors in Mangroves, Tidal Salt Marshes, and Seagrass Meadows.

IPCC. 2013. 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands.

Kauffman, J. B., Bernardino, A. F., Ferreira, T. O., Bolton, N. W., Gomes, L. E. O., dan Nobrega, G. N. 2018. Shrimp ponds lead to massive loss of soil carbon and greenhouse gas emissions in northeastern Brazilian mangroves.

Adame, M. F., Connolly, R. M., Turschwell, M. P., dan rekan-rekan. 2021. Future carbon emissions from global mangrove forest loss.

No comments:

Post a Comment