11.5.16

Dua KeSEMaTER Teliti Kondisi Mangrove di Maluku Barat Daya

Maluku - KeSEMaTBLOG. Selama April 2016 yang lalu, dua orang KeSEMaTER, yaitu Sdr. Abdul Majid al Hanif (KeSEMaT XIV) dan Sdr. Aditya Sukma Bahari (KeSEMaT XII) berkesempatan mangroving mengikuti Ekspedisi Serambi Tanah Air yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia di pulau-pulau terdepan Indonesia, yaitu di Maluku Barat Daya.

Pada ekspedisi kali ini, para KeSEMaTER melakukan survei dan juga menganalisis data vegetasi mangrove di Pulau Lirang yang merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Barat Daya.

Selain mengambil data mangrove lapangan, mereka juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pelajar SMK di sana, mengenai arti pentingnya ekosistem mangrove untuk kehidupan mereka.

"Pengalaman sebagai Ketua KeSEMaT Goes To School (KGTS) sangat membantu penguasaan materi mangrove saya, yang kemudian saya informasikan kepada Adik-adik pelajar SMK di sini. Kondisi mangrove di Jawa jauh berbeda dengan kondisi mangrove di sini, dan mereka harus tahu agar tidak terjadi penebangan dan kerusakan mangrove yang kini melanda sebagian besar pesisir Jawa," jelas Sdr. Majid.

Kearifan lokal
"Ternyata, di pulau terluar Indonesia ini, mempunyai kearifan lokal yang unik, khususnya mengenai mangrove yang biasa mereka sebut dengan Mangi-mangi," lanjut Sdr. Majid yang merupakan Duta Mangrove KeSEMaT Putra (DUMATRA) 2014.

Sdr. Majid menambahkan bahwa di Pulau Lirang, masyarakat maupun pendatang dilarang memetik mangrove, apalagi menebangnya.

"Apabila ini dilanggar, maka biasanya akan langsung terjadi hujan lebat dan kenaikan muka air laut yang drastis. Ini kata salah satu tuan tanah di sana. Warga sekitar percaya bahwa alam mereka dijaga oleh Tuhan dan nenek moyang mereka. Untuk itulah, masyarakat Lirang sangat ramah terhadap pendatang atau orang yang bertamu di pulau mereka," terangnya lebih lanjut.

Kebiasaan mengkonsumsi Penyu
Satu hal yang masih kurang dari masyarakat Lirang adalah kebiasaan mereka yang masih mengkonsumsi Penyu secara rutin.

"Apabila ini tidak dibatasi, maka ditakutkan populasi Penyu akan berkurang, padahal keberadaannya menjadi penyeimbang bagi ekosistem mangrove dan lautan yang ada di sini," jelas Sdr. Majid yang khawatir dengan kondisi yang ada.

Selain mangrove, survei ini juga mengambil data mengenai lamun, daerah penangkapan ikan, hidrografi laut, dan data penunjang lainnya, untuk observasi lebih lanjut.

"Senang sekali, kami kembali dipercaya untuk membantu pemerintah, dalam hal ini KKP untuk melakukan penelitian mangrove di Maluku Barat Daya. Saya sudah mendapatkan data di beberapa titik mengenai kondisi mangrove terkini di Lirang," kata Sdr. Majid lebih lanjut.

"Dengan adanya survei ini, maka diharapkan akan dapat membantu pemerintah dalam memetakan pulau pulau kecil di Indonesia, terutama pulau pulau terluar Indonesia," pungkasnya. (ASB).