30.5.16

KeSEMaT dan IKAMaT Berikan Pelatihan Membatik Mangrove Kepada Warga Pesisir Jepara dan Demak

Jepara - KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 25 Mei 2016, mulai dari pagi hingga sore hari, KeSEMaT dan IKAMaT memberikan pelatihan cara membatik mangrove kepada warga pesisir Jepara dan Demak. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Ali Poernomo BBPBAP Jepara atas inisiasi dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan dikuti oleh kurang lebih 40 orang dari kedua desa pesisir.

"Bersama KeSEMaT, selama dua hari, kami memberikan pelatihan batik juga olahan makanan. Hari ini, kami berbagi ilmu teknik membuat pewarna batik mangrove sekaligus cara mencanting dan memasarkannya," jelas Sdr. Hari Prayogi selaku Direksi Yayasan IKAMaT.

Sebagai informasi, Jepara dan Demak merupakan kawasan pesisir yang hutan mangrovenya banyak mengalami tekanan lahan. Penebangan hutan mangrove untuk pelebaran area pertambakan juga pemukiman dan peruntukan lainnya, banyak ditemukan di kedua kota di pesisir Pantura Jawa, ini.

"Senang sekali, saya dapat mewakili KeSEMaT dan mempresentasikan mengenai pemanfaatan hutan mangrove secara bijak di acara ini. Sebenarnya, peserta pelatihan sudah banyak yang tahu mengenai mangrove, mengingat keseharian mereka yang hidup berdampingan dengan mangrove, namun belum banyak yang mengerti bagaimana cara yang baik dan benar dalam memanfaatkannya," jelas Sdr. Audy Ramadhani (DP) selepas memberikan materinya.

"Kegiatan ini bagus sekali, untuk membekali warga pesisir di kedua desa pesisir agar mampu mandiri dan berdikari, seperti warga binaan kami di Semarang yang memproduksi Mas Jamang dan Batik Bakau, dua produk mangrove kreatif yang sukses meningkatkan mata pencaharian mereka," tambahnya.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yang diawali dengan pemberian materi di ruangan yang dilanjutkan dengan praktik langsung di hari keduanya.

"Materi yang diberikan kami sesuaikan dengan kondisi masyarakat pesisir setempat. Selain rehabilitasi mangrove, kami juga menyampaikan mengenai pengalaman kami di lapangan selama mengelola kawasan mangrove di berbagai kota di Indonesia. Terkadang, teori tak sejalan dengan praktik berkenaan adanya kearifan lokal di masing-masing wilayah pesisir," pungkas Sdr. Hari. (AH).