29.11.21

KeSEMaT Pembicara Bincang Mangrove: Suara Lintas Generasi WRI Indonesia

Jakarta - KeSEMaTBLOG. KeSEMaT kembali berbagi pengalaman mangrovingnya dalam mengelola kawasan mangrove dan pesisir di Indonesia, kali ini dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) Bincang Mangrove: Suara Lintas Generasi yang diselenggarakan oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia. Kegiatan ini, dilaksanakan secara daring, mulai pukul 08.30 - 12.00 WIB. (29/7/21).

WRI Indonesia beranggapan bahwa kampanye menyuarakan kelestarian lingkungan hidup selalu ada dalam tiap generasi. Rentang generasi memiliki cara berbeda untuk mengekspresikan sikap mereka. Keterlibatan dalam isu lingkungan maupun pola menumbuhkan kepedulian pun kian beragam.

Untuk itulah, FGD ini bertujuan untuk lebih mengetahui kiprah lintas generasi menyuarakan isu lingkungan.

Selain KeSEMaT, terdapat beberapa pembicara lainnya, yaitu Komisi VII DPR RI, Carbon Ethics, Musisi dan Aktivis Lingkungan dan Departemen Antropologi, FISIP UI, yang masing-masing mempresentasikan materi mengenai: Suara dari Parlemen, Restorasi Mangrove Bersama Masyarakat Pesisir, Menanam Mangrove: Mencintai Laut dan Mangrove dalam Perspektif Antropologi Lingkungan. KeSEMaT sendiri membawakan narasi mengenai Mangrove is Lifestyle (MIL): Mencintai Mangrove dengan Aksi.

Sdr. Ghifar Naufal Aslam (Presiden), selaku perwakilan dari KeSEMaT menjelaskan mengenai upaya pelestarian mangrove yang dilakukan oleh KeSEMaT, mulai dari akar rumput hingga keterlibatan KeSEMaT dalam pengaturan regulasi mangrove di konsorsium Kelompok Kerja Mangrove Kota hingga Nasional bahkan internasional di ASEAN.  

"Bagi kami, revolusi mental dari para muda dengan menggaungkan konsep MIL sangatlah penting," jelas Presiden. "Dengan menerapkan pola hidup sebagai Mangrover di keseharian kita, maka pola pikir kita akan berubah sehingga kita akan dapat menjaga hutan mangrove dengan sendirinya," jelasnya lebih lanjut.

Sdr. Ghifar menambahkan bahwa dengan MIL, KeSEMaT berhasil menciptakan 20-an brand mangrove, mendirikan perusahaan bernama KeMANGI, memiliki relawan mangrove di 12 kota di Indonesia bernama KeMANGTEER, mempunyai yayasan mangrove bernama IKAMaT bahkan menginisiasi komunitas alumni yang kedepan direncanakan akan diwadahi dalam bentuk koperasi, yaitu KeAMaT. 

"Kami juga mencoba memberdayakan istri-istri nelayan di Semarang dan para nelayan di sana, dengan membentuk tiga warga binaan yang mengolah jajanan, batik dan kopi mangrove," jelas Sdr. Ghifar. "Upaya ini kami lakukan, dengan harapan agar mereka mampu berdikari dengan memanfaatkan mangrove dari segi ekonomi secara bijak, dengan mengolah produk-produk non kayu yang berdaya jual tinggi," terangnya. 

FGD yang merupakan sesi terakhir dari keseluruhan agenda daring yang diadakan oleh WRI Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Lahan Basah ini berlangsung dengan baik dan lancar, yang diakhiri dengan beberapa rekomendasi dan kesimpulan untuk upaya tindak lanjut di masa mendatang. (AP/ADM).

No comments:

Post a Comment