28.4.18

KeSEMaT, IKAMaT dan PT KIK Kerja Sama Proyek Rehabilitasi Mangrove di Kendal

Semarang - KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 8 Maret 2018, KeSEMaT mendapat kunjungan dari PT Kawasan Industri Kendal (KIK). Tujuan dari kunjungan tersebut guna membahas tentang proyek kerja sama Pengamanan Pantai dari Laju Abrasi dan Penanaman Mangrove antara KeSEMaT dengan PT. KIK. KeSEMaT bersama salah satu afiliasi-nya, yaitu Yayasan IKAMaT diminta untuk melakukan poyek perencanaan pembangunan konstruksi Hybrid Engineering (HE) dan rehabilitasi mangrove pada lahan seluas 105 ha di pesisir Kendal, khususnya di area kerja PT KIK.

Dalam kesempatan ini, KeSEMaT yang diwakili oleh Sdr. Bifa A. Manuhuwa (Presiden) dan Sdr. Bachtiar Eka Budianto (MENPORSI) berdiskusi dengan Bpk. Bambang Sutedjo (PT KIK), yang membahas rancangan konstruksi bangunan HE dan rencana pembuatan green belt di Kantor KeSEMaT.

“Kami memiliki lahan non-sellable seluas 105 ha di bagian pesisir pantai Kendal, namun seiring berjalannya waktu, lahan tersebut terus tergerus oleh ombak sehingga terjadi abrasi yang sangat parah,” terang Bpk. Bambang. “Kami melihat KeSEMaT sudah pernah mengerjakan hal serupa di Demak untuk atasi abrasi pantai, sehingga kami datang ke sini untuk mengajak kerja sama,” tambahnya.

PT KIK juga memperlihatkan peta lahan pesisir yang terkena dampak abrasi tersebut dan meminta pihak KeSEMaT dan IKAMaT untuk melakukan survei lapangan agar mengetahui kondisinya secara langsung.

Selanjutnya, pada tanggal 14 Maret 2018, pihak KeSEMaT dan IKAMaT yang diwakili oleh Sdr. Bifa, Sdr. Bachtiar, Bpk. Muhammad Faisal R. (Dirut IKAMaT) dan Bpk. Bagus Rahmatullah D. A. (Manajer Pemetaan Mangrove IKAMaT) melakukan survei lapangan di Kawasan Pesisir PT KIK.

Dari hasil survei lapangan, dapat diketahui bahwa memang telah terjadi abrasi yang sangat parah di kawasan pesisir Kendal. Di sekitar lokasi, juga terdapat konstruksi HE dari bambu dan eksisting jenis mangrove Avicennia marina.

“Setelah melihat kondisi lapangan yang seperti ini, maka perlu diadakan riset terlebih dahulu, yang meliputi aspek ekologi, oseanografi, pemetaan dan permodelan oseanografi, yang tujuannya agar dapat menghasilkan output berupa peta, arahan rehabilitasi dan penanggulangan laju abrasi melalui konstruksi Alat Pemecah Ombak (APO),” terang Dirut IKAMaT. “Riset kami rencanakan akan dilakukan kurang lebih selama 16 minggu,” tambahnya.

Pada pertemuan selanjutnya, pihak KeSEMaT dan IKAMaT juga mulai membuat Rancangan Anggaran Biaya (RAB) proyek, timeline pengerjaan proyek, desain konstruksi APO dan tahapan lainnya yang harus dilakukan selama pengerjaan proyek.

“Melihat besarnya nilai proyek tersebut, maka diperlukan banyak expert yang handal dibidangnya, guna membantu dalam hal riset dan pengerjaan proyek kerja sama KeSEMaT, IKAMaT dan PT KIK ini, seperti para akademisi, peneliti, sarjana teknik sipil dan lain-lain. Kami berencana akan meng-hire para tenaga ahli tersebut,” kata Presiden.

Sampai dengan artikel ini ditulis, pihak KeSEMaT, IKAMaT dan pihak PT KIK masih terus melakukan diskusi dan koordinasi penyampaian project planning hingga tercapainya realisasi proyek. (BAM/KIK/ADM).