28.3.11

Dusun Pandansari, Pencetus Masyarakat Pecinta dan Penjaga Mangrove di Brebes, Jawa Tengah

Brebes – KeSEMaTBLOG. Adalah Sdr. Niharul Annas (MENWIRA) yang telah membuat reportase mangrove yang sangat menarik mengenai keberadaan “Polisi Mangrove” di sebuah desa kecil di Brebes, Jawa Tengah. Reportasenya yang singkat dan padat ini, menginformasikan mengenai usaha yang luar biasa dari masyarakat setempat, yang dilakukan secara swadaya, dalam rangka melestarikan mangrovenya dan membangun kembali desanya. Semoga saja, dari artikel ini, kita bisa menarik kesimpulan dan mendapatkan pelajaran berharga mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap mangrove, yang dengan setia telah melindungi kehidupan kita. Selamat membaca.

Pada tanggal 27 Maret 2011, beberapa KeSEMaTER telah berkunjung ke Dusun Pandansari yang terletak di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes Jawa Tengah. KeSEMaTER yang terdiri dari Sdr. Oky Yuripa Pradana (DP), Sdri. Aurora Hanifa (IKAMaT), Sdr. Niharul Annas (MENWIRA) dan Sdr. Yuniar Andri Sulistyanto (MENKOMSI) ingin mengetahui keadaan mangrove yang ada di daerah tersebut dan bermaksud untuk bertukar pikiran dengan petani mangrove serta warga sekitar Dusun Pandansari. Sampai di Dusun Pandansari, para KeSEMaTER disambut dengan hangat oleh Ketua Kelompok Mangrove, Bapak Rusjan dan Bapak Mashadi. Acara pagi itu, langsung diadakan pertemuan dengan Kelompok Mangrove Dusun Pandansari, untuk mempersingkat waktu kunjungan.

Kelompok Mangrove ini mulai terbentuk dari tahun 80-an karena prihatin akan tingkat abrasi yang sangat tinggi sehingga mengakibatkan hilangnya lahan pertambakan milik warga seluas ratusan hektar. “Mangrove ini sengaja kami tanam untuk mengurangi abrasi, karena sudah ratusan hektar lahan tambak milik warga hilang karena abrasi,” tutur Bapak Mashadi. Ternyata di Dusun Pandansari ini bukan hanya terdapat kelompok mangrove atau kelompok tani mangrove saja, tapi juga ada Satuan Tugas Jaga Segara (SATGAS GARA) yang khusus bertugas untuk memantau mangrove. “Kami juga memiliki SATGAS GARA, yang khusus bertugas untuk memantau mangrove atau lebih mudahnya, ya polisi mangrove, seperti itu,” tambah Bapak Mashadi selaku juru bicara dari Kelompok Mangrove Dusun Pandansari.

Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan oleh Kelompok Mangrove dan SATGAS GARA Dusun Pandansari ini sebagian besar adalah swadaya dari masyarakat sendiri. “Kami ini masih swadaya, walau sudah mulai banyak yang tahu dan mulai membantu,” tegas Pak Rusjan selaku Ketua Kelompok Mangrove dan SATGAS GARA. SATGAS GARA ini akan menangkap siapa saja yang merusak ekosistem mangrove sesuai dengan Peraturan Desa (PERDES) yang ada dan sesuai dengan Pasal 35 UU No 27 Th. 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

Kelompok Mangrove di Dusun Pandansari ini memiliki tujuan yang lebih luas lagi selain untuk melestarikan mangrove dan mengurangi abrasi, yaitu ingin membangun sebuah desa yang mandiri. “Kami ingin membuat Dusun Pandansari ini menjadi desa yang mandiri. Pertama, ingin agar Dusun Pandansari bisa berdiri sendiri menjadi Desa Pandansari, yang kedua, kita ingin berdayakan semua warga untuk membangun desa sehingga bisa berswasembada pangan, memiliki kekhasan daerah, makanan khas atau tradisi khas daerah, serta untuk jangka panjangnya adalah ingin membuat desa ekowisata. Itu semua kami canangkan supaya kita menjadi desa yang mandiri,” tambah Pak Mashadi.

Dari hasil kunjungan ini, kami menjadi mengerti bahwa kami ternyata tidak sendiri. Masyarakat Dusun Pandansari telah menjadi Pencetus Masyarakat Pecinta dan Penjaga Mangrove di Brebes, Jawa Tengah. Untuk itulah, kami menghimbau kepada kita semua, untuk terus bersatu padu dalam melestarikan mangrove kita, demi masa depan yang lebih baik. Ayo, mulai sekarang kita lestarikan mangrove agar anak cucu kita masih bisa menyongsong masa depan yang lebih cerah. Salam MANGROVER!