21.3.11

Kisah Sedih Mangrove di Pantai Timur Sumatera Selatan

Palembang – KeSEMaTBLOG. Adalah Bapak M. Ikhsan S. H., salah satu Anggota dari Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT), yang selama tiga hari telah melakukan kunjungan bersama dengan Rekan-rekan kerjanya di Sumatera Selatan (SUMSEL), beberapa waktu yang lalu. Ada oleh-oleh cerita yang sangat menyedihkan mengenai kondisi mangrove di Pantai Timur SUMSEL, yang kawasan mangrovenya juga mengalami degradasi dan reklamasi, layaknya area kerja kami di Pesisir Utara Jawa.

Dengan keempat buah fotonya yang dikirimkan kepada kami, sang Mantan Presiden KeSEMaT ini, menjelaskan detail dan informasi dari masing-masing foto dengan tujuan untuk mengingatkan kita, akan pentingnya pelestarian mangrove untuk daya dukung lingkungan di sekitarnya, juga demi menjaga keberlangsungan bumi dan generasi kita di masa datang. Selamat membaca.

Hari Pertama. Sabtu, 26 Februari 2011
Foto ini (dua foto bagian bawah) kami ambil bersama dengan Bapak Alberto A. Tatibun yang berasal dari Kupang, ketika kami jalan-jalan di pesisir Pantai Timur, SUMSEL, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Penduduk setempat menyebut alat keruk ini sebagai Excavator. Kami sudah sering melihat alat berwarna kuning ini di pesisir Pantai Utara Jawa. Dan, kali ini kami melihatnya lagi di Pesisir Pantai Timur, SUMSEL. Menurut kami, memang sudah sepantasnya alat ini dinamai dengan Excavator, karena seperti para koruptor, sifat tamaknya yang dengan seenaknya mencerabut dan mengeruk bibit-bibit mangrove, telah mengakibatkan matinya ribuan propagul dan bibit mangrove yang ada di kawasan pesisir kita. Semoga saja, kedepan tidak ada lagi Excavator yang akan merampas kehidupan bibit mangrove kita. Amin.

Hari Kedua. Minggu, 27 Februari 2011
Foto ini (atas bagian kiri) kami ambil bersama dengan Bapak Martson Budiman Panjaitan (Alumni IPB Bogor) dan Bapak Dominggus B. Mabilehi (Alumni Universitas Nusa Cendana Kupang), ketika jalan-jalan di Bantaran Sungai Menang, Palembang, SUMSEL. Bantaran sungai yang kami susuri kurang lebih sepanjang 5 km, namun anehnya, kami hanya menjumpai 3 buah batang pohon mangrove saja, dari jenis Rhizophora apiculata. Sungguh tragis! Kami hanya berharap, semoga saja nasib penduduk di sini tidak akan serupa dengan nasib Saudara-saudaranya di Desa Bedono, Jawa Tengah, dimana warganya telah direlokasi ke lokasi yang lebih aman, gara-gara desanya tenggelam oleh hantaman ombak laut, sebagai akibat dari hilangnya mangrove di pesisir mereka.

Hari Ketiga. Sabtu, 5 Maret 2011
Foto ini (atas kanan) kami ambil bersama dengan Bapak Ary Wicaksono (Alumni UNDIP Semarang) ketika jalan-jalan di Bantaran Sungai Menang, Palembang, SUMSEL. Foto memperlihatkan bahwa Avicennia telah ditanam pada substrat yang berlumpur, kering dan tidak terkena pasang surut air laut. Hal ini tentu saja tidak baik, karena akan mengganggu pertumbuhan bibit Avicennia yang ditanam, mengingat secara alami, Avicennia tumbuh di substrat berpasir dengan pola penggenangan pasang surut yang tinggi. Untuk itulah, menurut kami, sudah seharusnya penyuluhan tentang teknik penanaman mangrove yang benar dan apa arti penting mangrove terhadap lingkungan dan masyarakat, mulai dilakukan di daerah ini.

Dari hasil jalan-jalan kami ini, kami berharap, semoga saja kedepan KeSEMaT terus bisa eksis dan selalu menjadi pelopor bagi penyelamatan mangrove yang ada di negeri kita tercinta ini, INDONESIA. Mari bersama kita dukung KeSEMaT dan bekerja bersama sebagai MANGROVER, untuk menyelamatkan hutan mangrove yang merupakan titipan anak cucu kita, demi masa depan yang lebih baik. Terima kasih KeSEMaT, karena telah menginspirasi kami untuk terus berjuang dalam menyelamatkan mangrove kita. Semangat MANGROVER!