15.3.11

Mangrove dan Tsunami : Tentang Tsunami Jepang

Kulonprogo - KeSEMaTBLOG. Bapak Isna Bahtiar, salah satu Anggota Ikatan Alumni KeSEMaT, yang saat ini mengabdikan dirinya di Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengirimkan artikelnya yang sangat menarik, berkenaan dengan adanya gempa bumi dan tsunami yang sampai dengan artikel ini diturunkan, telah menyebabkan ribuan orang tewas dan kurang lebih sepuluh ribu lainnya dikabarkan hilang. Berikut ini adalah artikel lengkapnya, semoga saja bisa menambah informasi dan pengetahuan kita bersama tentang manfaat mangrove dalam turut meredam dahsyatnya kekuatan gelombang tsunami. Selamat membaca.

Berita yang mengejutkan, telah terjadi di Hari Jumat (11 Maret 2011) kemarin, ketika Jepang mendapatkan satu serangan bencana terbesar dalam 142 tahun terakhir, yaitu gempa bumi dan tsunami (lihat gambar di atas). Berita ini tak hanya mengejutkan tetapi juga menyedihkan, karena kabar terakhir yang kami dengar dari beberapa media massa, tentang kerugian baik material dan korban jiwa, terus saja bertambah. Apabila kita tinjau balik kejadian tujuh tahun lalu, yaitu tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan episentrum di Samudera Hindia, maka tsunami juga-lah telah mengakibatkan luluh lantaknya pemukiman penduduk akibat terjangan ombak di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Indonesia.

Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari kejadian ini, baik positif maupun negatif. Satu hal positif yang bisa kita ambil hikmahnya adalah mulai berpalingnya manusia kepada mangrove. Pemerintah, LSM, akademisi bahkan masyarakat umum yang sebelumnya acuh terhadap mangrove, kini mulai berpaling ke mangrove sebagai “jalan keluar terakhir” demi memilimalisir dampak tsunami yang sangat merusak. Berpalingnya banyak orang kepada mangrove ini bukannya tanpa alasan. Setidaknya, mangrove mempunyai tiga peran penting yaitu dalam aspek ekonomi, ekologis dan fisik dalam melindungi lingkungan di sekitarnya.

Fungsi ekonomi adalah pendapatan baik langsung atau tidak langsung dari mangrove seperti ekoturisme, perkayuan atau perikanan. Beberapa sumber manyatakan bahwa fungsi ekonomi ini adalah sebagai fungsi sumberdaya. Selanjutnya, mangrove sebagai ekosistem mempunyai peranan sangat penting dalam sistem ekologi di kawasan pesisir. Banyak ahli menyatakan bahwa mangrove berperan sebagai tempat mencari makan, pemijahan, perawatan dan tumbuh kembang benih ikan. Dalam sistem ekologi, kawasan mangrove juga berperan dalam ekspor nutrien, yaitu sebagai penghasil bahan nutrisi bagi konsumer tingkat tropik pertama dalam rantai makanan. Fungsi fisik merupakan hal yang berbeda dibandingkan dengan kedua fungsi di atas. Terminologi fisik mengisyaratkan pada fungsinya sebagai pelindung. Fungsi ini antara lain adalah sebagai pencegah abrasi dan erosi, menahan badai serta mencegah intrusi air laut ke daratan. Pada fungsinya dalam hal fisik ini pula, mangrove dapat berperan dalam hal menghambat pergerakan tsunami.

Tsunami pada dasarnya merupakan pergerakan massa air laut ke daratan berupa arus dan gelombang air yang sangat kuat. Mangrove dapat menjadi penghambat energi yang cukup efektif dalam meredam kuat energi kelajuannya. Jika kami boleh membuat analogi, maka tsunami ibaratnya mengguyur air ke kepala kita. Kepala dengan rambut pendek - panjang tentu akan lebih banyak mampu meredam laju air bila dibandingkan dengan kepala yang gundul. Sebagai bahan pertimbangan pembaca, ketinggian mangrove rata-rata pada kawasan mangrove alami di Teluk Bintuni, Papua Barat adalah 10 m. Ketinggian ini adalah cukup, untuk membendung ketinggian gelombang tsunami antara 10-15 m. Pun demikian, kepala dengan rambut pendek, tentu saja akan lebih baik dalam mencegah derasnya guyuran air daripada kepala plontos, bukan (?). Wallahu’alam bishowwab . . .