27.10.11

Kampanyekan Mangrove, KeSEMaT Buat Baner Batik Mangrove

Semarang – KeSEMaTBLOG. Di samping ini adalah salah satu KeSEMaTER, yaitu Sdri. Icha, yang sedang duduk di samping baner-mangrove terbaru kami, yaitu Batik Mangrove (TIKROVE). Bertujuan untuk membantu mengkampanyekan tikrove ke komunitas yang lebih luas lagi, tikrove yang berhasil diciptakan dan dipopulerkan oleh Ibu Lulut, peraih Kalpataru 2011 dari Surabaya, sejatinya telah melanglang buana ke beberapa negara. Namun demikian, agaknya di Indonesia, terutama di Semarang, belum banyak yang tahu apalagi mengerti mengenai proses pembuatannya yang ternyata zero cost.

Menurut Ibu Lulut, sebagai bahan utama membatik, pewarna tikrove didapatkan dari daun-daun berbagai jenis mangrove yang telah berjatuhan ke tanah. Jadi, dalam mendapatkan bahannya, maka tidak membutuhkan biaya sama sekali karena mendaur ulang “limbah” organik. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan keuletan dalam merebus selama kurang lebih satu minggu sehingga didapatkan pewarna tikrove yang berkualitas.

Seperti yang telah kami tuliskan di baner tikrove di atas, maka walaupun zero cost, tapi tikrove ternyata mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir sehingga mandiri dan sejahtera. Hal ini terbukti di Rungkut Surabaya, dan beberapa lokasi hasil binaan Ibu Lulut lainnya, yang masyarakatnya mampu menghasilkan tikrove berkualitas tinggi dengan harga jual ratusan hingga jutaan rupiah.

Tak hanya membuat baner tikrove saja, setiap kali ada tamu dan mitra kerja yang berkunjung ke kantor kami, kami juga tak hentinya mengkampanyekan tikrove sebagai salah satu alternatif mata pencaharian warga pesisir yang ramah mangrove. Maka, sumbangsih kecil kami ini, semoga saja bisa lebih mempopulerkan mangrove ke masyarakat Semarang, Indonesia dan dunia, sehingga masa depan mangrove dan warga pesisir kita akan bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Amin. Semangat MANGROVER!