22.10.10

Hasil Kunjungan Kerja dan Monitoring Mangrove KeSEMaT, KKMD Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kawasan Mangrove Jepara, Demak dan Kota Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 19 Oktober 2010, KeSEMaT yang merupakan Pengurus Harian Kelompok Kerja Mangrove Daerah Jawa Tengah (KKMD JATENG) yang diwakili oleh Bapak Sapto Pamungkas (Programme Campaigner) dan Sdr. Abdul Rohman Zaky (IKAMaT), bersama dengan Bapak Syafrudin (KKMD JATENG), Bapak Meswari (DISHUT JATENG), Bapak Jamal (DISLUTKAN JATENG) dan Bapak Hermawan (BLH JATENG), telah melakukan kunjungan kerja ke beberapa instansi lingkungan di Kabupaten Jepara, Demak dan Kota Semarang yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan mangrove yang ada di daerah pesisirnya, masing-masing.

Kunjungan kerja ini, sekaligus juga untuk melakukan monitoring, mengenai kondisi kawasan mangrove di Jepara, Demak dan Kota Semarang dan membagi secara gratis buku Panduan Praktis Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Indonesia dan Beragam Produk Olahan Mangrove yang ditulis oleh KeSEMaT ke berbagai dinas lingkungan terkait di ketiga daerah tersebut.

Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini adalah bahwa pada masing-masing daerah, didapatkan sejumlah permasalahan mangrove yang berbeda-beda, berkaitan dengan kondisi mangrove yang ada. Hal ini disebabkan, masing-masing daerah memiliki karakteristik alam dan budaya yang berbeda-beda, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi pola pikir masyarakatnya.


Misalnya, di Kabupaten Jepara, menurut Bapak Basuki (BLH Jepara), permasalahan yang ada di daerahnya adalah karena kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap ekosistem mangrove, minimnya dana yang tersedia untuk pelestarian ekosistem mangrove, belum terbentuknya KKMD Jepara dan peraturan desa yang masih lemah terhadap pelestarian mangrove. Hal tersebut, telah mengakibatkan kondisi mangrove di Kabupaten Jepara, semakin hari semakin menurun sehingga mengakibatkan produktivitas ikan tangkapan juga mengalami penurunan.

Sementara itu, di Kabupaten Demak, menurut BLH Demak, permasalahan yang ada ditimbulkan oleh sejumlah gejala alam, yaitu turunnya permukaan tanah (10 cm/tahun) dan naiknya permukaan laut. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad Pemerintah Daerah (PEMDA) Demak untuk menuntaskan permasalahan ini. Sejumlah upaya yang telah dilakukan oleh PEMDA Demak, yaitu dilakukannya kerjasama dengan OISCA (sebuah LSM dari Jepang) untuk pengelolaan mangrove, monitoring yang berkelanjutan dan pendampingan kepada masyarakat di desa-desa yang tertimpa bencana alam karena abrasi di daerah pesisirnya.

Selanjutnya, kondisi pengelolaan ekosistem mangrove di Kota Semarang, setidaknya telah mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah kelompok-kelompok masyarakat yang peduli terhadap mangrove. Di Kelurahan Tapak, Semarang Barat, terdapat kelompok pemuda PRENJAK yang dipimpin oleh Bapak Saur.


Menurutnya, kondisi pengelolaan ekosistem mangrove di kawasannya, saat ini telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Segala upaya yang telah dilakukannya beserta kelompoknya yang dimulai sejak tahun 2007 telah membuahkan hasil. Semua itu, tidak lepas dari bimbingan dan petunjuk dari KeSEMaT, Yayasan BINTARI dan FoE Jepang, yang memang telah mendampingi masyarakat Tapak selama kurang lebih tiga tahun terakhir, ini. Hal ini, dapat dibuktikan dengan makin hijau dan lebatnya kawasan mangrove di kawasan pesisir Tapak.

Hasil dari kegiatan ini, akan dirangkum dan direkomendasikan oleh KeSEMaT, KKMD JATENG dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, untuk menyusun RAPERDA Pengelolaan Pesisir Jawa Tengah, yang akan segera dibuat untuk melakukan penyelamatan terhadap kawasan pesisir Jawa Tengah, yang kondisinya semakin hari semakin mengkhawatirkan karena terkena tekanan lahan.