22.10.10

Reportase Hasil Pemantauan Kondisi Mangrove KeSEMaT, KKMD Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Batang, Pekalongan dan Kota Pekalongan Jawa Tengah

Pekalongan – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 20 Oktober 2010, mulai pukul 06.00 WIB – 22.00 WIB, kembali KeSEMaT, Kelompok Kerja Mangrove Daerah Jawa Tengah (KKMD JATENG) dan Pemerintah Provinsi JATENG, mengadakan program pemantauan pengelolaan mangrove di tiga lokasi, yaitu di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Lokasi pertama, yaitu Kabupaten Pekalongan, kabupaten ini memiliki garis pantai 17,65 km dan mempunyai karakteristik substrat berpasir sehingga dalam area ini hanya dijumpai golongan mangrove asosiasi, seperti cemara laut, ketapang, waru dan lain-lain. Sementara itu, ekosistem mangrove mayor maupun mangrove minor-asli yang tumbuh secara alami, tidak bisa ditemukan di lokasi ini.

Mangrove yang ditemukan merupakan hasil dari penanaman mangrove yang dilakukan oleh Balai Lingkungan Hidup (BLH) mulai dari tahun 2005 - 2007 melalui program GERHAN, seluas 625 Ha. Wilayah penanamannya berada di tambak-tambak warga, yang berada di belakang garis pantai. KKMD di Kabupaten Pekalongan telah terbentuk dan dinilai telah berjalan dengan baik, yang salah satu kegiatannya adalah berupa sinkronisasi data mangrove antar SKPD terkait, walaupun memang dirasa masih kurang optimal. KKMD Kabupaten Pekalongan terbentuk karena tindak lanjut dari kegiatan Ayo Tanam Mangrove (ATM) inisiasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta. Untuk mendukung kegiatan KKMD ini, maka telah diterbitkan :
1. Perda. Kabupaten Pekalongan No. 17 tahun 2009 tentang rencana zonasi wilayah pesisir.
2. Perda. Kabupaten Pekalongan No. 16 tahun 2009 tentang pengelolaan wilayah pesisir.
3. Perbup. Kabupaten Pekalongan No. 50 tahun 2007 tentang rencana strategi wilayah pesisir Kabupaten. Pekalongan tahun 2007 – 2027.

Selanjutnya, untuk pemantauan di Kota Pekalongan, kota ini memiliki garis pantai 6,15 km dengan karakteristik substrat berpasir. Vegetasi mangrove lebih banyak ditemukan di pematang tambak dan pesisir pantai, serta beberapa pematang-pematang sungai. Vegetasi mangrove ini merupakan hasil dari penanaman yang dilaksanakan oleh Balai Lingkungan Hidup (BLH) dan Dinas Pertanian, Peternakan dan Kelautan (DPPK) dengan sistem tersendiri, yaitu masyarakat menyediakan bibit mangrove sendiri dan dinas memfasilitasi jasa tanam dan peliharanya. Hal ini, bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi mangrove di Kota Pekalongan. KKMD di Kota Pekalongan telah terbentuk dan berjalan dengan baik. Data vegetasi mangrove juga telah sama antar SKPD dan untuk mendukung kegiatan KKMD ini, juga telah diterbitkan SK Walikota.

Pemantauan terakhir, yaitu pemantauan di Kabupaten Batang. Kabupaten Batang memiliki garis pantai 38,75 km dengan karakteristik substrat berupa pasir (70%) serta lumpur (30%). Vegetasi mangrove ditemukan di pematang tambak dan pesisir pantai, serta beberapa pematang-pematang sungai. Abrasi pantai di Kabupaten Batang cukup besar, yaitu di kawasan pantai Cigandul dimana panjangnya mencapai 5 km, yang kemungkinan diakibatkan pembangunan dermaga batubara Kasepuhan. Proyek percontohan dilaksanakan di Cigandul untuk uji penanganan abrasi dengan menggunakan bahan beton yang di dalamnya ditanami dengan mangrove. KKMD di Kabupaten. Batang telah terbentuk dan telah diterbitkan juga SK Bupati serta UU 27 tentang konservasi yang masih dalam tahap revisi.